Dul

Dul
167. Kisah Di Dalam Kisah



Beberapa menit sebelum upacara pedang pora dimulai.


Annisa meremaas tangan Dul dengan sorot mata tertuju pada gerombolan ibu-ibu yang tidak ia kenali sama sekali. “Itu siapa?” tanya Annisa.


Senyum Dul merekah ketika memandang ke tempat yang sama. “Itu keluarga besar ibu kos di Magetan. Mereka udah seperti keluarga kedua.” Dul melambai ketika seorang wanita paruh baya melambai padanya. “Itu yang punya kos-kosan. Suaminya udah meninggal dan mewariskan rumah besar yang dijadikan kos-kosan. Penghuni kosnya rata-rata orang Lanud.”


“Baik banget sampai mau datang jauh-jauh ke sini.” Annisa ikut tersenyum dan membalas lambaian wanita paruh baya yang sedang diceritakan Dul.


“Kami semua menyebutnya Ibu Kos Magetan. Wanita supel dan teman ngobrol yang asyik. Beliau memang udah janji bakal datang dengan keluarga besarnya.” Dul kembali melambai pada dua orang pria yang duduk tak jauh dari ibu kosnya. Dua pria itu adalah anak laki-laki pemilik kos yang sering mengobrol dengannya.


“Enggak ada drama naksir anak ibu kos?” Annisa kembali meremaas tangan Dul.


“Kepenginnya, sih, ada drama gitu. Tapi sayang anak ibu kosnya cowo semua.” Dul tertawa.


Kali ini Annisa tidak meremaas tangan Dul. Melainkan menggunakan tangannya yang lain untuk mengarahkan cubitan ke pinggang suaminya. Dul dengan cepat menangkap tangan Annisa dan menggenggamnya sebentar. Sedetik tadi ia sempat berpikir hendak mencium tangan istrinya itu. Namun, sadar akan sekeliling mereka yang sangat ramai dan perhatian yang tertuju pada mereka, Dul mengurungkan niatnya.


“Enggak boleh judes-judes sama suaminya.” Dul berbisik di telinga Annisa yang kemudian diikuti dengan cibiran wanita itu.


“Udah pinter aja ngomong gitu. Padahal belum sejam yang lalu.” Annisa sedikit tersipu karena bisikan mesra Dul.


“Aku orangnya cepat belajar,” kata Dul. “Jangan lupa … suaminya ini peraih Adhi Makayasa,” tambah Dul.


“Iya, deh …. Siapa yang enggak tau sama Mas Abdullah si Komandan Praspa paling ganteng dan berprestasi.” Annisa merasa ucapannya tidak salah. Dul memang Komandan Praspa di tahun kelulusannya. Pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu pun memang paling ganteng baginya.


“Makasih,” sahut Dul. “Sebelum kita jalan di lorong itu, aku mau kamu lihat ke sebelah kiri. Lihat ibu-ibu yang ikut pakai seragam hijau, kan? Mereka semua dari PIA Ardhya Garini Skuadron 14 Lanud Iswahjudi. Sekarang kamu udah jadi bagian dari mereka.”


“Bakal sering ada kegiatan ya? Aku kepengin jadi ibu rumah tangga tapi aku juga kepengin jadi dokter yang berdedikasi.” Annisa memandang ke tempat yang sama dengan Dul. “Aku juga mau punya seragam biru ibu-ibu Ardhya Garini. Kalau gitu aku melamar kerja di rumah sakit swasta biar tetap ikutan kegiatan ibu-ibu di kesatuan.”


“Kamu bisa jadi semuanya yang penting tetap ada di dekat aku.”


“Kita tetap pakai ‘aku dan kamu’?”


“Mas dan Nisa aja. Gimana?” Dul yang biasa jarang tersenyum hari itu tak henti-hentinya mengulas senyum.


“Boleh, Mas,” sahut Annisa, mengeratkan pegangannya di lengan Dul yang tegap berisi.


******


Tini tersentak ketika pundaknya terasa ditepuk. “Dari mana aja? Baru dateng?”


Dayat duduk di sebelah Tini dengan pakaian yang berbeda dari yang lain. “Aku, kan, udah bilang tadi masih ada urusan. Yang penting sekarang aku udah nyampe di sini.” Dayat menyilangkan kakinya dan mengeluarkan ponsel dari balik jas.


“Kalau ada acara resepsi begini harusnya kamu lebih sering dateng biar ada kenalan cewe-cewe yang bener. Jangan kelayapan terus. Lihat itu Dul.” Tini menunjuk Dul dan Annisa yang sedang mendengarkan aba-aba dari petugas wedding organizer.


Dayat melihat Dul sesuai instruksi Tini. “Udah aku lihat. Terus ada apa?”


Tini menghela napas jengkel. “Itu perumpamaan, Yat. Memangnya kamu enggak pernah mikir untuk hidup berkeluarga? Punya istri, punya anak. Enggak usah pikirin soal asih lagi. Istri enggak punya ilmu kebatinan aja bisa bikin suami kalang kabut apalagi kalau kamu punya istri ada ilmunya. Kamu baru mangap mau ngomong dia udah tau isi kepalamu.”


“Asih cantik. Tapi atasan kamu sendiri yang bilang kalau bisa jangan sama Asih, kan? Bener Pak Dean ngomong gitu?”


Dayat mengangguk. “Bener. Pak Dean mengatakan bahwa udah sepatutnya kaum pria mengembalikan kekuasaan ke tempat yang semestinya. Katanya Asih enggak cocok denganku karena Asih udah terlalu banyak tau.”


Tini kemudian terkikik-kikik. “Alesan bosmu itu, lho. Mengembalikan kekuasaan kaum pria ke tempat yang semestinya?” Tini kembali tertawa. “Bosmu ngomong gitu mungkin karena udah kehilangan kekuasaannya di rumah. Makanya dia enggak mau kamu seperti dia. Lagaknya si cerewet itu … ckckck. Aku kira semakin tua cerewetnya bakal ilang. Taunya malah menjadi-jadi.”


“Dulu aku juga berpikir begitu soal kamu.” Dayat memandang sekumpulan orang yang menarik perhatiannya. Tini baru saja akan menepuk lengan Dayat, namun terhenti karena pria itu melanjutkan, “Istrinya Dul orang Sumatera? Dialek dan bahasa keluarganya beda,” kata Dayat. Ia ingin mengalihkan topik obrolan soal berumah tangga yang selalu dimulai Tini setiap mereka memperoleh kartu undangan dari siapa pun. Biasanya ia tidak pernah hadir, tapi berhubung yang menikah adalah Dul yang hubungan kekerabatannya melebihi saudara mereka, Dayat ikut hadir meski tidak memakai seragam berwarna hijau. Ia datang dengan setelan jas yang biasa ia kenakan untuk pesta-pesta cocktail.


Tini ikut melongok ke tempat yang baru ditunjukkan Dul. “Oh … yang di sebelah sana itu keluarganya almarhumah Mama Annisa, kalau yang sebelah sana keluarganya Papa Annisa. Dijah sempat cerita kalau dua keluarga itu udah lama banget enggak saling berhubungan. Papanya Annisa menikah enggak lama setelah istrinya meninggal. Mungkin keluarga almarhumah istrinya yang dulu masih berduka. Memang agak aneh menurutku. Kenapa harus terlalu cepat? Apa enggak mikirin perasaan saudaranya yang lain? Atau perasaan anak-anaknya?”


“Suara kamu jangan terlalu semangat kalau ngomongin orang.” Dayat bicara dengan mulut yang nyaris tak terbuka. “Kalau mau nikah dengan seseorang kenapa yang dipikirin perasaan orang lain? Yang pertama dipikir itu perasaan calonnya. Mau dinikahi apa enggak? Bukannya gitu? Gimana kalau udah ngeributin perasaan orang ternyata calonnya enggak mau?"


Tini berpikir-pikir. “Kenapa jadi mumet tiap abis ngomong sama kamu?”


Kakak beradik itu diam sejenak memperhatikan keluarga Papa Annisa yang duduk tak jauh dari keluarga ibunya. Suasana kaku bertahun-tahun ternyata bisa dileburkan dengan hari bahagia Annisa yang mungkin sudah lama mereka tunggu-tunggu. Keluarga papa-mama Annisa seakan lebur dalam suasana reuni yang saling bertanya kabar satu sama lain.


“Aku lihat papan bunga Mbak Evi di luar. Kapan mereka pulang? Aku kangen.” Dayat masih memandang ke sekumpulan orang tua yang sedang bersapa dengan riang.


“Makanya kamu nikah dan resepsi begini. Biar Evi pulang sekeluarga. Kalau anak udah sekolah semuanya enggak bisa segampang itu ngambil cuti. Apalagi sekolah di Jepang itu beda dengan di sini. Setiap Evi aku minta pulang ke Indonesia, katanya nunggu tabungan cukup buat buka usaha. Aku rasa mereka sekeluarga memang betah tinggal di Osaka. Jadi … kamu udah ada pacar, Yat? Evi sering tanya. Dia khawatir kamu enggak suka perempuan. Kamu normal, kan, Yat?” Tini memandang penampilan adik bungsunya yang necis luar biasa. Rambut yang tersisir tegak, setelan jas mahal, sepatu yang mengilap hingga bisa digunakan untuk bercermin. Demi apa pun Tini tidak akan rela kalau adiknya terus melajang.


Dayat tidak membalas pandangan Tini. “Jangan lihat aku dengan tatapan seperti itu. Di sebelah sana teman-teman Mbak Tini baru datang. Itu Mak Robin, kan?” Dayat mengembuskan napas lega. Ia tidak perlu repot-repot mencari topik pembicaraan lain karena rombongan teman-teman kakaknya dari kos-kosan Kandang Ayam hadir dengan segala kehebohannya. Topik ‘Kapan Nikah?’ sesegera mungkin ia hindari.


“Mak! Mak! Duduk sini, Mak!” Tini melambai-lambai pada Mak Robin dan menepuk sandaran kursi yang ditempati Dayat.


“Duduk di tempatku?” Dayat sudah menebak kalau kedatangan Mak Robin pasti membuatnya terusir dari tempat itu.


“Kalau udah tau itu harusnya enggak perlu nanya. Mas Wibi udah ngalah duduk di sebelah sana sama Bapak. Kamu juga harusnya ngalah.” Tini terus melambai pada Mak Robin.


“Woi, Tini! Dari tadi kutengok-tengok tempat ini nyari kau. Lama baru dapat. Kalau biasanya orang tambah umur makin menua, kalau kau kurasa makin menyusut.” Mak Robin terkekeh-kekeh menempati kursi yang baru ditinggalkan Dayat. “Boy! Sebelum duduk ke sini, kau panggil dulu si Asti. Hari ini dia harus memutuskan mau masuk rombongan karyawan di Heru atau rombongan Kandang Ayam.”


“Asti! Asti! Cepat ke sini! Hampir dimulai. Biar kita semua duduknya dekat-dekat.” Boy berteriak memanggil Asti yang langsung menoleh pada seruan pertama.


Tak jauh dari tempat Tini berkumpul dengan sahabat-sahabatnya, Dayat berdiri celingak-celinguk mencari kursi kosong. Perhatian semua orang tengah tertuju pada sekumpulan TNI AU muda yang membawa pedang tipis dan berbaris manis.


Dayat mundur beberapa langkah karena berniat menjauh dari deretan kursi yang ditempati Tini dan kawan-kawannya. Ketika hendak memutar tubuh, tiba-tiba tangannya dicengkeram seseorang dan dibawa menjauh dari tempat itu. Ia dipaksa mengikuti langkah kaki yang mengenakan sandal bertali dan terhimpit di balik kain panjang. Dayat sedikit terkejut, tapi sudah menduga siapa yang berani melakukan itu padanya.


“Datengnya telat dan sekarang mau langsung pergi? Duduk di sini dan jangan ke mana-mana.”


Dayat terhenyak di sebuah kursi yang terletak di meja VIP bagian paling belakang. Ia duduk diam tak berkutik karena perintah seorang gadis berambut cokelat ikal yang sejak tadi sibuk ke sana kemari.


“Aku bakal sering ngeliat ke sini. Awas kalau ngilang," pesan gadis itu.


Dayat tak sempat menjawab karena seorang petugas wedding organizer dengan walkie talkie melambai dan berseru pada gadis itu. “Mbak Mima! Silakan ke sebelah sana. Upacara pedang pora dimulai!”


To be continued