Dul

Dul
095. Berbaikan



Hubungan Dul dan Lova seminggu ke depan mengalami perubahan signifikan. Gadis itu tak lagi menyambangi kelas Dul di jam istirahat ataupun usai jam belajar. Adegan saling melemparkan tatapan melalui jendela nako pun bisa dihitung dengan jari. Kalau hal itu terjadi, kebanyakan Lova akan melengos dan Dul akan kembali menatap papan tulis dengan wajah datar.


Sekali waktu Dul sedang berbicara dengan para teman-teman OSIS-nya di lorong sekolah, Lova memilih jalan memutar untuk menghindari Dul. Genting hubungannya bersama Lova, tak ada diceritakan Dul pada siapa pun termasuk dua sahabatnya. Baginya, itu bukanlah hal untuk dibagi, juga ia menganggap kalau fase keributan itu adalah hal yang biasa. Sementara itu ia ingin menikmati waktunya sendiri dan membiarkan Lova yang sudah duduk di kelas tiga SMA, berkonsentrasi untuk ujian akhirnya.


Namun, cerita soal Lova yang uring-uringan itu ternyata tak bisa disimpan lebih lama. Robin dan Putra mengendus gelagat Dul yang lain dari biasanya.


“Bin, apa kamu rasa Dul dan Kak Lova udah putus? Belakangan aku enggak lihat mereka sama-sama lagi. Biasa tiap istirahat, Kak Lova pasti datang ke kelas Dul buat ngobrol. Makan bareng di kantin, atau ke sekretariat OSIS sama-sama. Dul juga enggak pernah nyebut-nyebut nama Kak Lova lagi buat alasan. Biasanya jam pulang sekolah Dul sesekali ngomong, ‘aku nunggu Lova dijemput dulu, kalian duluan aja.’ Sekarang enggak pernah lagi,” beber Putra suatu siang di warung ketoprak.


“Ngeri pengamatan kau, ya. Jelas kalilah kalo orang itu lagi ada jarak,” kata Robin.


“Ada jarak gimana?”


“Itu ada pohon yang daunnya bisa dibikin minyak,” sahut Robin.


“Jangan bercanda. Aku serius,” kata Putra.


“Ya betul yang kau bilang itu. Si Lova merajok, si Dul tak mau membujuk. Itu ajanya masalahnya. Cewek ini kadang sok-sokan ngasi waktu buat cowoknya merenung. Merenungkan kalo gak ada dia cemana perasaannya. Apa si Dul sedih atau galau. Padahal si Dul biasa aja. Dul pula dites-tes sama dia. Cocok jadi agen CIA kawan kita yang satu itu. Mau tebalek-balek pun kita, mukanya tetap gitu aja.”


“Tapi wanita ini memang maunya dimengerti tanpa mereka harus menjelaskan apa pun. Laki-lakinya yang harus peka,” Putra bicara setengah menerawang.


“Romi Rapael pun kurasa gak tau isi hati ceweknya dulu. Macam mana pula mau dimengerti tapi gak cakap apa yang mau dimengerti. Berat kali itu, ah.”


“Itu Dul dateng,” kata Putra, memandang ke jalan.


“Udah siap rapatnya?” seru Robin dari bangku panjang.


Dul mengangguk dengan wajah meringis karena cahaya matahari. Ia lalu menghempaskan dirinya di sebelah Robin. “Capek. Pulang, yuk,” ajak Dul, memandang Robin. Hanya mereka berdua yang masih berpakaian sekolah. Sedangkan Putra sudah mengganti kemejanya dengan kaus oblong.


“Tunggulah sebentar. Kami mau cakap-cakap sebentar sama kau,” kata Robin.


“Ngomongin apa? Setiap hari ketemu, kok. Sok serius,” kata Dul, menyenggol lutut Robin dengan lututnya.


“Ceritalah kau kalo ada apa-apa. Jangan diam-diam aja. Kami, kan, mau dengar juga pengalaman bercinta kau, Dul.” Robin merangkul bahu Dul.


Dul menjauhkan tubuhnya untuk memandang Robin, “Pengalaman bercinta apa, sih? Masih sekolah udah ngomongin bercinta…bercinta. Nanti aku adukan ke ibumu. Mau?” Dul terkekeh-kekeh memandang raut Robin yang seketika berubah.


“Kak Lova … kami mau nanya soal Kak Lova sama kau. Dah putus kau sama dia?” tanya Robin.


“Putus? Enggak ngerti juga, sih. Tapi kayanya dia lagi mau sendiri sekarang-sekarang ini. Jadi, aku biarin aja. Lagian anak kelas tiga sedang sibuk pelajaran tambahan,” jawab Dul.


“Bukan karena Annisa?” Akhirnya Putra bersuara.


“Memangnya kenapa dengan Annisa? Dia baik-baik aja. Tapi … dibanding sebelum ibunya meninggal, Annisa sekarang malah makin sulit diajak ngomong.” Dul mengangkat bahunya.


“Karena dia tau kau masih becewek sama si Lova. Makanya dia gak mau mengganggu konsentrasi gita cinta masa remajamu.” Robin kembali merangkul Dul.


"Enggak ngerti. Aku enggak ngerti soal Annisa," kata Dul dengan nada muram. "Udah, ah." Dul bangkit dari bangku.


“Kami cuma ketemu di sekolah, memangnya bisa ngapain?” Dul balik bertanya.


“Yah, banyaklah Dul. Menyapu halaman, menanam pohon taman, membersihkan kamar mandi siswa. Kayak gitu pun masih kau tanya,” kata Robin.


“Aku enggak ada ngapa-ngapain, Bin. Cuma pernah megang tangannya Lova. Mana tanganmu?” Dul menengadahkan tangannya pada Robin. Tak sadar, Robin menuruti Dul meletakkan tangannya di atas tangan Dul. “Nah … begini rasanya kira-kira. Sama aja, kan?”


“Ah,” Robin menepiskan tangan Dul, “bedalah, beda. Apa pula sama. Pasti ada getarannya. Kok, jadi jijik pula aku pegang-pegangan sama kau.” Robin menyeka tangannya ke seragam Dul. Mereka bertiga lalu tertawa terbahak-bahak.


Minggu ketiga Lova menjalankan aksi merajuk tak dibujuk, akhirnya gadis itu mendatangi Dul seusai jam belajar. Wajahnya cemberut, tapi sorot matanya bersahabat.


“Ke mana aja?” tanya Dul, mengulum senyum.


“Healing,” jawab Lova, terkekeh seraya duduk di kursi sebelah Dul. “Bener-bener ya kamu …. Sama sekali enggak mau dateng duluan,” sambungnya.


“Karena aku pikir kamu memang perlu waktu sendiri. Aku liat kamu juga sibuk dengan pelajaran tambahan.” Dul memasukkan semua bukunya ke ransel, lalu menyampirkannya ke bahu.


“Aku pikir kamu udah jadian dengan anak baru itu. Aku sering liat kamu merhatiin dia. Jangan bohong kamu,” kata Lova.


Dul berdiri dari kursinya. “Aku enggak ada alasan buat bohong sama kamu. Atau sama siapa pun, aku enggak harus bohong. Kamu udah dijemput? Biar bareng jalan ke depan. Hari ini aku dijemput ayahku,” jelas Dul.


Lova ikut bangkit dari kursi. “Mmm…selalu sensi tiap aku ngomongin anak baru itu," kata Lova.


"Jangan bawa-bawa dia. Dia enggak pernah ganggu kamu. Atau ganggu aku," jawab Dul.


"Ngomel, deh ...." Lova menyenggol lengan Dul. " Mmm...akhir minggu ini kamu ke mana? Main ke rumahku, yuk,” ajak Lova.


Dul diam memandang lorong sekolah yang tersisa beberapa murid saja. “Ke rumah kamu?” ulang Dul, mengulur jawabannya. “Bareng-bareng temenku boleh? Robin? Putra?” tanya Dul. Kalau ada sahabat-sahabatnya ia pasti tak akan kehabisan bahan pembicaraan. Mereka bisa beralasan kerja kelompok seandainya orang tua Lova bertanya alasan mereka datang.


“Bawa temen kamu? Enggak usah, dong. Masa, sih, pacaran bawa-bawa temen.” Lova mencebikkan bibirnya.


“Aku sendiri? Mau ngapain?” Suara Dul meninggi karena heran. Lalu, teringat perkataan Robin, ‘Mau bertamulah. Masa mau jual keripik?’ Dul mengatupkan mulut menahan tawa.


“Ditanya mau ngapain … ngobrol, makan, minum. Kalau ngobrol pulang sekolah selalu buru-buru. Apalagi kalau Mama yang jemput aku. Bakal heboh nelfon terus kalau aku keluar pagarnya lama. Ayo, dong ….” Lova melingkarkan tangannya di lengan Dul dan mencebik manja.


“Mmmm….” Dul berpikir keras apa yang akan dilakukannya di rumah Lova. Sendirian. Berdua. Bertemu orang tua gadis itu. Lalu, apa lagi?


“Atau aku aja yang ke rumah kamu? Aku bisa main dengan adik perempuan kamu. Namanya Mima, kan? Sekarang dia kelas lima SD, kan?” Lova semakin mengeratkan pelukannya di lengan Dul.


“Jangan… jangan, jangan ke rumahku. Aku aja yang ke rumah kamu. Oke, Sabtu nanti, kan?” Dul meringis dan melepaskan tangan Lova sebelum mencapai pagar sekolah. Ia khawatir Bara telah tiba dan melihat adegan itu.


“Oke. Bener Sabtu, ya. Awas aja kalau enggak jadi. Itu mamaku. Aku duluan, ya!” kata Lova, mencubit pelan lengan Dul lalu berlari menuju SUV berwarna putih.


To Be Continued