Dul

Dul
089. Kabar Dari Annisa



Ternyata apa yang dikatakan Bara sebelumnya benar. Annisa memang berbelok ke apotek. Dul bisa melihat Annisa dengan rambut panjang dan lurusnya berdiri membelakangi jalan. Gadis itu sedang berbicara dengan seorang wanita di balik steling kaca.


“Ayo, turun Dul. Jangan sampai Nisa keburu selesai.” Heru menundukkan kepala untuk mengawasi Annisa. “Kami semua tunggu di sini. Jangan malu diliatin. Sesama lelaki harus saling mengerti. Lagian Ayah juga mendukung. Ya, kan, Yah?” Heru menjawil lengan Bara di sebelahnya.


“Karena penasaran itu enggak enak,” jawab Bara yang kini ikut memandang keluar jendela.


“Aku turun sekarang,” kata Dul, cepat-cepat keluar mobil dan setengah berlari mendatangi apotek.


Tiga pasang mata mengamati Dul yang baru saja tiba di sebelah Annisa. Keduanya berdiri bersisian.


“Memangnya Nisa ini enggak sekelas sama Dul, Bin?” tanya Bara yang mulai penasaran.


“Jawab yang benar, Bin. Ini yang nanya wartawan senior. Kamu sebagai narasumber harus kredibel.” Heru ikut menoleh ke belakang memandang Robin.


“Makjang,” gumam Robin, menegakkan duduknya. “Okelah …. Maafkan aku, ya Dul.” Robin memandang keluar jendela.


Heru terkekeh-kekeh, sedangkan Bara menahan senyum memandang Robin yang sudah menyiapkan raut seriusnya.


“Nama lengkapnya Annisa, Ayah Bara, Pakdhe,” Robin memandang Bara dan Heru bergantian, “dulu Annisa ini kawan sekelas Dul dan Putra waktu jaman SMP. Aku gak kenal. Tapi, situasinya sama kali kayak sekarang. Annisa murid pindahan. Katanya, Annisa ini cuek kali. Gak pernah punya kawan perempuan di sekolah. Datang ke sekolah cuma untuk belajar….”


“Memangnya kamu datang ke sekolah enggak cuma untuk belajar?” Heru tertawa kecil.


“Ih, enggaklah pula. Belajar rajin kali pun, aku gak pande-pande. Jadi, ngapain aku rajin-rajin kali? Gak ada bedanya. Makanya mamakku pun dah malas masukkan aku ikut bimbingan belajar. Katanya bagus dia beli beras dua goni,” cetus Robin.


“Berarti yang pinter ibu kamu,” jawab Heru lagi, menahan tawanya.


“Oke, next, Bin." Bara melirik sebal pada Heru. Kakak sepupunya malah terkikik.


“Maaf, Ayah Bara. Aku suka gagal pokus kalo disela. Oke, lanjut. Dul naik kelas tiga SMP, Annisa tiba-tiba pindah sekolah lagi. Gak tau ke mana. Jadi, selama ini aku pun cuma dengar-dengar aja cerita soal si Annisa ini. Belum kenal orangnya. Baru beberapa hari ini aja aku liat. Ternyata memang manis. Pantaslah si Dul penasaran. Kalo gak manis, mau lenyap pun si Annisa tiba-tiba dari sebelahnya, si Dul pasti gak sadar.”


Heru tak bisa menahan tawanya. Kali ini ia tertawa terbahak-bahak. Begitu pula Bara yang ikut tertawa kecil mendengarkan penuturan paling jujur dari seorang remaja laki-laki.


“Kamu bener, Bin. Tapi sebaiknya jangan ada perempuan yang denger itu, ya.” Heru mengangguk-angguk dengan sisa tawanya.


Sementara itu, beberapa saat yang lalu, napas Dul masih sedikit terengah saat tiba di sebelah Annisa.


“Mbak, ada susu….”


“Dul?” Annisa menoleh dan memandang Dul seakan baru bertemu pertama kali.


“Eh, hai … keb-kebetulan ketemu di sini. Rumah kamu dekat sini?” Dul berputar mengedarkan pandangan ke luar apotek.


“Iya. Deket sini. Rumah ketiga di jalan sebelah sana.” Annisa menunjuk ke arah mobil Heru terparkir. “Kamu juga tinggal dekat sini?”


“Oh, enggak…enggak. Aku diminta ayahku turun buat beli susu adikku yang bungsu. Ayahku nunggu di mobil,” jawab Dul. Kali ini jawabannya lebih percaya diri.


“Oh, kebetulan lewat, ya.” Annisa mengangguk sekilas dan kembali memperhatikan wanita di depannya yang menunduk mencoret-coret kertas resep. “Udah ada semua, kan, Mbak?” tanya Annisa pada wanita itu.


“Sudah. Hari ini lengkap. Kan, saya memang sudah janji,” jawab wanita itu tersenyum.


"Soalnya memang mendesak. Biasanya beli di apotek kota lain," jawab Annisa. Wajahnya terlihat lega.


“Sebentar, aku langsung ambil.” Dul melesat ke rak susu dan mencari merek yang biasa diminum Ibra. Hanya dua menit, Dul langsung bisa menemukan susu yang ia cari dan sudah kembali ke sebelah Annisa. Ia melupakan saran memperpanjang percakapan soal minyak telon. “Baru pindah ke kota ini lagi? Sebelumnya di mana?” tanya Dul.


“Sebelumnya di Semarang,” jawab Annisa, mengerling Dul sekilas. Tangannya merogoh saku rok seragam dan mengeluarkan uang pecahan seratus ribu cukup banyak. “Ini, Mbak. Coba dihitung dulu.” Ia menyodorkannya pada wanita di seberang.


Wanita di seberang steling kaca menghitung uang, kemudian mengangguk setelah memastikan kecukupan jumlahnya. “Lain kali bisa langsung ke sini aja. Stoknya dijamin ada," kata wanita itu.


“Iya, siap,” jawab Annisa. “Eh, pesanan kamu udah?” tanyanya pada Dul.


“Oh, udah nih.” Dul mengangsurkan uang untuk membayar susunya. Saat wanita di hadapan mereka sedang mengemas susu kaleng dan pergi ke mesin kasir, Dul cepat-cepat kembali memperhatikan Annisa. “Kenapa pulang sekolah sejak dulu selalu buru-buru? Kamus IPA kamu masih ada di aku. Masih inget enggak?”


Annisa meringis. Gadis itu menunduk memandang plastik obat yang dipegangnya. “Kamus IPA?” Annisa tertawa kecil. “Inget, kok. Itu kenang-kenangan dari aku buat kamu. Dulu,” ucapnya lagi.


“Kenapa selalu buru-buru?” ulang Dul. Ia ingin mendapat jawaban dari kemisteriusan Annisa selama ini. Nyatanya, jawaban gadis itu tetap diplomatis dan tak menjelaskan apa pun.


“Aku memang enggak bisa main sebebas kalian. Tapi aku menikmatinya. Umm … ngomong-ngomong … cewe yang kemarin itu pacar kamu, ya?”


Dul terdiam. Ternyata Annisa bisa bicara banyak juga, pikirnya.


Harus menjawab apa? Apa Lova memang pacar aku?


“Ternyata Abdullah yang dulu udah berubah,” jawab Annisa. “Aku kira kamu enggak bakal pacar-pacaran sampai tamat SMA.” Annisa terkekeh.


“Bukan yang gimana-gimana juga,” jawab Dul.


“Selamat, deh, buat Abdullah….”


“Kalau kamu?” potong Dul. Entah Annisa mengerti atau tidak apa yang ditanyakannya, tapi Dul berharap gadis itu memahami maksudnya.


“Sekarang-sekarang ini ada yang lebih penting buatku,” jawab Annisa. “Aku duluan, ya. Ini udah kelamaan sebenarnya.”


Tanpa mendengarkan apa jawaban Dul, Annisa pergi meninggalkan apotek. Dul hanya berdiri memandangi kibasan rambut Annisa yang berbelok ke kanan dan menghilang.


“Eh, cemana? Dah ada cowoknya?” Robin adalah orang pertama yang melontarkan pertanyaan saat Dul kembali masuk ke mobil. Status Annisa jomblo atau tidak adalah sesuatu yang penting buat Robin.


Sedangkan Heru yang memikirkan soal acara akhir minggu langsung bertanya, “Gimana? Udah tau rumahnya di mana?”


Lalu Bara, sosok laki-laki yang disayangi Dul, juga ikut bertanya. “Nisa tadi beli obat untuk siapa, Dul?”


Pertanyaan Bara terdengar mengejutkan bagi Dul. “Aku…lupa tanya, Yah.” Dul seketika membuat raut kecewa.


Kekecewaan Dul hari itu kemudian berubah menjadi penyesalan baginya. Tepat saat ia baru saja dilantik menjadi Ketua Osis setelah memenangkan lebih dari 60% suara, Dul mendapat kabar dari Ketua Osis sebelumnya.


“Abdullah, tugas pertama sebagai Ketua Osis baru adalah menggalang dana duka cita. Ibu dari teman sekelas kamu yang murid pindahan itu baru meninggal dunia pagi tadi. Aku baru dengar dari guru BK. Gimana? Ada yang tau di mana rumahnya? Harus ada utusan yang ikut melayat,” kata kakak kelas Dul itu.


“Aku, Kak. Aku tau rumahnya,” jawab Dul.


Nisa … apa itu obat untuk ibu kamu?


To Be Continued