Dul

Dul
143. Afirmasi Positif



“Annisa duduk di sini. Cepat…cepat. Yang lain udah mulai makan.” Dijah menjemput Annisa yang mematung di pintu tengah dan mengantarkannya ke sebelah Dul. “Kalau ada telepon bisa disambung nanti. Sekarang makan. Ini piringnya diisi.” Dijah meletakkan piring ke depan Annisa dan mengisinya dengan nasi.


“Makasih, Bu,” ucap Annisa, lalu berdeham kecil agar suaranya keluar dari kerongkongan. Usai mendengar ucapan ayahnya di telepon, Annisa merasa kerongkongannya kering. “Maaf terlambat bergabung, Akung, Uti, Pakdhe….”


“Enggak apa-apa. Tadi aku udah bilang kamu terima telepon. Sekarang makan. Mau lauk yang mana?” Dul menyentuh pundak Annisa. Mencegah gadis itu agar tidak terus mengangguk pada semua orang di meja makan.


“Aku pakai lauk yang mana aja, Mas Dul,” sahut Annisa bercanda. Sudut matanya menanti Dul yang pasti memandang dia karena sebutan barusan.


“Kalau udah manggil Mas berarti ada sesuatu yang kamu enggak mau kalau aku sampai tau.” Dul menyendokkan semur ayam dan capcay ke piring Annisa.


“Enggak ada apa-apa. Semuanya aman terkendali.” Tangannya menjawil tangan Dul di bawah meja.


Dul membiarkan hal itu bukan karena yakin bahwa semuanya aman terkendali. Tapi lebih karena suasana saat itu mengharuskan mereka terlihat ceria. Meski keceriaan Annisa tak bisa menyembunyikan sorot sedih di matanya. Sampai waktu yang berlalu terasa begitu cepat buat Dul. Ia terlampau sibuk bicara dengan Pak Wirya dan Bu Yanti, sampai Annisa harus menjawilnya lagi saat berpapasan di selasar rumah.


“Udah malem, aku mau pulang,” bisik Annisa.


Dul spontan melihat jam di pergelangan tangannya. “Maaf…maaf. Aku antar sekarang. Sebentar aku cuci tangan dulu. Sesudahnya kita permisi ke Ayah Ibu.”


Annisa menahan lengan Dul. “Aku pulang sendiri aja enggak apa-apa, kok. Masih ada Akung Uti, aku enggak enak ….”


“Kalau kamu enggak diantar, aku yang bakal kena omel Ibu. Aku juga enggak akan biarkan kamu pulang sendiri. Apa pun ceritanya.”


Annisa merasa tak bisa lagi membantah. Sepuluh menit kemudian ia sudah memakai tasnya dan pamit pada semua orang tua di sana.


“Mau pakai mobil Pakdhe? Parkirnya di luar. Kamu enggak usah repot keluarin mobil Ayah dari garasi.” Heru menyodorkan kunci Hummer yang selalu dibanggakan karena katanya ia selalu tampak lebih gagah saat mengendarainya.


Dul menggeleng lemah.


“Kok, enggak mau? Jangan sungkan. Apa takut Ayah marah?” Heru terlihat kecewa.


“Aku enggak bisa nyetir, Pakdhe …,” bisik Dul pelan.


Heru terbelalak. “Wah … gimana ini calon pilot pesawat tempur masa enggak bisa nyetir? Aku baru nyadar, lho, Ra …. Kenapa Dul enggak bisa nyetir?” Heru kembali mengulang pertanyaannya. Wajahnya memang terlihat tak percaya.


“Mau kapan belajarnya? Kemarin masih pendidikan. Terus tiap pulang kami jarang ketemu dalam waktu lama. Aku yang kerja, Dul yang sibuk—pokoknya sebelum masuk SEKBANG, aku jamin Dul udah bisa nyetir. Malam ini antar Annisa pakai taksi aja.” Bara tak meneruskan kalau selama ia sibuk bekerja, Dul juga sibuk ke sana kemari bersama Annisa.


Jadilah malam itu Dul tetap mengantar Annisa dengan taksi seperti biasa. Hening perjalanan pulang kali itu terasa berbeda. Tak hanya badan yang letih karena hampir seharian di luar rumah, tapi pikiran keduanya sama letih memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak harus mereka pikirkan saat itu. Annisa memikirkan maksud ucapan papanya, sementara Dul memikirkan kapan Annisa membahas soal percakapan telepon bersama papanya tadi.


Keletihan itu menghantarkan mereka ke sebuah perpisahan yang canggung. Saling mengangguk di depan pagar dan melambai seraya masing-masing menjauh. Istirahat yang cukup adalah opsi bagi mereka untuk pertemuan berikutnya yang diharap akan lebih ceria.


******


“Mas Dul dua minggu lagi udah harus berangkat ke Jogja. Ayah juga mau keluar kota dan harus menyelesaikan pekerjaan sebelum Mas Dul berangkat. Jadi ….” Bara menyampirkan ransel ke bahunya. “Jadi Pakdhe Heru yang menyanggupi jadi tutor Mas Dul buat belajar nyetir. Mulai nanti sore sama Mima juga.”


“Mima belajar nyetir juga? Masih di bawah umur. Nanti malah kenapa-napa.” Dul mengiringi langkah Bara ke teras.


“Mima belum belajar nyetir. Cuma ikut aja buat jagain Mas Dul katanya.” Bara terkekeh karena ucapannya sendiri.


“Buat jagain Mas Dul,” ulang Dul.


“Ayah juga enggak percaya. Mima ikut diajak Pakdhe Heru. Mungkin biar Mima bisa ngeramein. Pakdhe Heru enggak bisa konsentrasi dalam hal apa pun kalau sekelilingnya enggak rame. Sama siapa pun yang penting harus rame. Ya, udah …. Tunggu sore.”


“Kenapa aku enggak diajak?” Ibrahim muncul dalam gandengan Dijah.


“Ibra enggak usah ikut. Cuma latihan nyetir. Mending temani Ibu di rumah,” potong Dijah.


“Lagian Ibra masih kecil. Nanti Ibra enggak ngerti percakapan orang dewasa,” seru Mima dari dalam mobil.


“Punya anak perempuan cuma satu, setiap hari cita-citanya mau cepat dewasa,” omel Dijah.


“Cita-citaku jadi dokter, Bu. Kaya Mbak Nisa! Ibu enggak usah khawatir,” tambah Mima lagi.


“Semakin kamu ngomong gitu Ibu semakin khawatir.”


“Kalau khawatir aku jadi dokter, aku bisa jadi fashion stylist, designer. Atau … aku kuliah hukum aja? Atau bisa jadi sekretaris? Masih banyak profesi yang membutuhkan wanita-wanita cantik. Pokoknya Ibu ….”


Dijah menggeleng disertai lambaian meminta Bara segera pergi. “Cepat, Yah. Nanti Ibra terlambat. Dengerin Mima ngomong enggak akan selesai sampai sore.”


Bara terkekeh-kekeh setelah mencium pipi Dijah. Ia harus cepat-cepat masuk ke mobil demi menenangkan Mima yang setiap hari berganti cita-cita.


Sore yang ditunggu datang dengan cepat. Mima sudah memakai jeans dan atasan yang membentuk tubuhnya ditambah sebuah sling bag kecil berwarna untuk menemani Dul sore itu.


“Aku udah cantik, kan?” tanya Mima ketika tiba di teras dan melihat Dul duduk di kursi.


“Cantik, kok.” Dul menjawab bahkan tanpa melihat.


“Padahal belum diliat, tapi jawabannya cepet banget,” gerutu Mima.


“Dari sebelum Mima nanya itu, Mas udah lihat Mima datang. Lagian yang namanya wanita cantik itu akan selalu cantik pakai apa pun. Masa nanya tiap waktu. Memangnya Mima insecure?”


“Bukan insecure. Tapi yang namanya wanita itu selalu perlu pengakuan. Kalau kata Akung, afirmasi, Mas … afirmasi. Pengakuan. Sama kaya perasaan cinta, sayang. Perlu sesekali diucapkan. Kata Akung gitu. Jangan-jangan Mas enggak pernah ngomong sayang dan cinta ke Mbak Nisa?” Mima memandang Dul dengan penuh selidik.


“Ya, pernah,” jawab Dul langsung.


“Kok, aku rasanya enggak yakin, ya?” Mima menggaruk dagu. “Apa perlu sore ini Mas belajar mengungkapkan perasaan sekaligus belajar nyetir?”


“Mima …,” tegur Dul.


“Oke, kalau gitu. Belajar keduanya. Aku kirim pesan dulu ke Pakdhe. Sebentar lagi Pakdhe pasti nyampe buat jemput kita.” Mima mengetikkan sesuatu di ponselnya kemudian pergi ke pagar dan membukanya lebar-lebar. “Ayo, Mas. Pakdhe udah deket.”


“Bu … aku dan Mima pergi dulu ya!” Dul berseru saja meski tipis kemungkinan Dijah mendengarnya.


Benar yang dikatakan Mima, sebegitu pagar dibuka mobil Heru terlihat mendekat. Mima melambai-lambai seperti menyetop taksi hingga mobil Hummer hitam berhenti dan kaca bagian pengemudi terbuka. Memunculkan sosok berkacamata hitam, bercambang dan berlesung pipi ketika tersenyum. “Hai …,” sapa Heru.


“Hai, Pakdhe …. Sore ini Pakdhe keliatan ganteng banget,” kata Mima.


“Hai, Mima …. Sore ini Mima juga keliatan cantik banget,” sambut Heru.


Dul mengernyit memandang gelagat aneh dua orang di depannya. Mima mendekat, kemudian berbisik di telinganya. “Aku dan Pakdhe sedang praktek afirmasi positif. Pelajaran udah dimulai, Mas. Ayo kita berangkat.”


To be continued