
"Kalau kampanye pemilihan Ketua Osis nanti, udah tau bakal buat program baru apa?" Lova bertanya soal pemilihan Ketua Osis akan datang, namun tatapannya mengikuti ke mana gerak pena Dul di kertas.
"Belum, sih. Masih tahun depan, kan? Aku lagi mikirin nilai buat masuk ke kelas mana. IPA atau IPS," jawab Dul, melirik Lova sekilas sambil terus mencatat.
"Rencananya?" tanya Lova, menggeser duduknya ke samping. Kini lututnya beradu dengan kaki Dul.
Dul menatap papan tulis berlama-lama. Konsentrasinya berpindah hanya karena sentuhan kecil itu. Tiba-tiba, Lova menyentuh tangan kirinya yang tergeletak menutupi sebagian buku.
"Hei, aku nanya ... kira-kira kamu masuk IPA atau IPS," tangannya mengguncang lengan Dul.
Karena bukunya bergeser, Dul menahan tangan Lova dan memindahkan posisinya. Ia kini menggenggam tangan gadis itu. "IPA, kayanya IPA. Aku suka pelajaran kimia dan matematika. Fisika enggak terlalu, tapi aku masih bisa," jelas Dul. Tangannya masih menyentuh tangan Lova.
Keduanya sadar akan sentuhan itu, tapi tak ingin membahasnya. Meski Lova merentangkan tangannya dan balas menggenggam tangan Dul, gadis itu melanjutkan obrolannya seperti biasa saja.
"Kalau masuk IPA, barisan kelasnya di seberang kelas III. Semoga deketan, ya." Lova mengulum senyumnya.
Doa Lova siang itu terkabul. Kenaikan kelas berikutnya saat pembagian kelas, Dul menempati kelas tepat berseberangan dengan kelas Lova. Hanya dipisahkan dengan deretan taman yang bertuliskan, 'Jangan Diinjak'. Keduanya sering saling pandang dari jendela berkaca nako dengan tirai satin biru.
Sedangkan Robin, Putra dan Yoseph, mereka bertemu kembali di kelas IPS. Dul yang paham betul akan teman-temannya, tak bertanya lagi soal alasan pemilihan kelas itu.
Namun, sebagian teman-teman mereka masih mempertanyakan kenapa mereka berpisah di kelas dua. Banyak yang menyayangkannya.
"Padahal kalian kompak sekali. Saya suka melihat persahabatan kalian," kata Yoseph suatu pagi di kelas 2 IPS 3.
"Sahabat, sih, sahabat. Tapi kalo aku harus ternganga di kelas gak tau mau ngapain, pening juga Seph. Guru IPA pun pasti bingung kalo aku tiba-tiba muncul di kelas IPA. Sementara selama ini dah tau kali orang itu kalo aku ini LANA CELUP." Robin terkekeh-kekeh.
"Apa itu, Bin? Nama penyakit?" Yoseph memang baru mendengarnya kali itu.
"Lambat Nangkap Cepat Lupa. Bahasa Robin itu, Seph. Aku juga baru tau selama berteman dengan dia. Perbendaharaan kata kamu juga pasti banyak nambah nantinya."
"Untung kita masih banyak yang sekelas. Nina dan Yani memang calon-calon sekretaris CEO," kata Robin, melemparkan pandangan pada Nina dan Yani yang kini menjadi teman duduk semeja.
"Ke kelas Dul, yuk. Banyak cewe-cewe gabungan kelas lain yang belum kita kenal. Ini kesempatan kita," kata Putra.
"Ayolah. Kau gak ikut, Seph?" Robin berdiri menunggu Yoseph.
"Mumpung belum bel masuk, Yoseph mau mengunjungi kelas-kelas pelanggan lama. Time is money." Yoseph mengangkat plastik berukuran sedang yang sudah diisi jumlah keripik yang sudah ditargetkannya akan habis pagi itu.
"Masih pagi udah disuruhnya rahang dan gigi orang kerja keras ngunyah keripik. Macam-macam aja si Yoseph ini." Robin berdecak mengiringi langkah Yoseph yang meninggalkan kelas.
Dul adalah murid di 3 IPA 2. Salah satu dari dua kelas IPA unggulan yang berada di sekolah itu. Pencapaiannya itu jelas membuat Bara senang. Di rumah, Dul tak henti mendapat pujian. Bahkan Bu Yanti mengatakan kalau hasil yang dicapai Dul lebih baik dari Bara semasa duduk di masa SMA.
Pak Wirya sempat mengatakan, "Artinya Bara harus bangga. Anaknya mendapat hasil yang melampaui dirinya dulu. Berarti ada peningkatan. Tapi seandainya tidak ada peningkatan atau malah kurang, orang tua juga harus legowo karena hasil akademik tidak menjamin masa depan bahagia."
Semakinlah Dul merasa bangga. Ia merasa memiliki sesuatu yang bisa ia banggakan dari dirinya. Tak pelak, hal itu juga ikut menambah rasa percaya diri ke mana kakinya melangkah di sekolah itu.
"Put, tengoklah itu si Dul. Duduknya dekat jendela. Bosan dia nengok papan tulis, tinggal disibakkannya aja kain jendela itu. Bisa tengok-tengokan si Dul sama si Lova."
"Jangan lupakan soal pohon yang berada di tengah kelas mereka," sahut Putra.
"Ah, perkara pohon gelengnya itu. Sebentar lagi pemilihan Ketua Osis. Bisa dibuatnya program buat menebangi pohon-pohon yang menghalangi gairah belajar karena tak bisa saling menatap."
"Dul!" seru Robin dari luar. Dul duduk di barisan nomor dua dari belakang. Tepat di sebelah kaca nako yang bertirai biru.
Dul langsung tersenyum lebar dan bangkit dari duduknya. "Gimana? Kelas IPS asyik enggak?" tanya Dul.
Robin menggeleng. "Yang asyik itu cuma kelas kosong," jawab Robin. "Pelajaran yang paling aku sukai dari dulu dan satu-satunya cuma pelajaran olahraga. Gak ada pula kelas khusus atlet. Kalo ada, aku pasti pilih itu."
"Pemilihan Ketua Osis minggu depan. Istirahat jam pertama nanti, aku bakal ikut rapat dengan anak Paskibra. Membahas program dan strategi," jelas Dul di ambang pintu.
Putra mengangguk. "Memang udah saatnya kita punya teman yang bisa menyalurkan aspirasi kita. Aku titip masukan, Dul." Putra menepuk pundak Dul.
"Ayo...ayo, apa itu?" Dul bersemangat.
"Tolong dibuat budget khusus untuk snack di ruang UKS untuk murid. Siswa-siswa yang sakit saat upacara itu bisa jadi enggak sarapan dari rumah." Wajah Putra benar-benar serius saat bicara.
Dul menghela napas, "Baik, Put. Nanti aku sampaikan," jawab Dul.
"Put, rajin kali si Dul ini, ya .... Dah bisa dia jadi brand ambassador Sinar Dunia." Gantian Robin memijat bahu Dul. Mereka bertiga tertawa-tawa di depan pintu kelas Dul.
"Permisi ...." Seorang gadis teman sekelas Dul berdiri di depan pintu. Menunggu Putra yang berdiri di tengah menghalangi jalan.
“Oh, maaf,” kata Putra, menggeser tubuhnya dengan gerakan lambat.
“Maaf, Dek, ya …. Mari Abang bantu menyingkirkan Abang yang besar kali ini. Diganggunya pula adik cantik mau lewat,” kata Robin, menyeret lengan Putra agar cepat berpindah tempat.
“Makasih, Bang,” kata gadis itu.
“Aih, Makjang …. Manis kali jawabannya. Lemas lututku,” sambut Robin. Gadis yang digoda Robin terkikik seraya berlalu dari pintu. “Dul … siapa namanya itu? Kok, manis kutengok.”
“Udah beralih lagi,” Dul mendengkus. “Namanya Tiur,” jawab Dul.
“Dari namanya aja … kurasa memang udah ditakdirkan kami jumpa pagi ini. Sampaikan salam dari Bang Robin. Jangan lupa sebut nama lengkapku. Robin Luhut Situmorang. Biar bergetar hatinya langsung.”
“Halah …. Yang ini mau tak liat tahannya berapa lama.” Putra ikut mendengkus. Lalu ketiganya tertawa terkekeh-kekeh.
Istirahat pertama pukul sepuluh pagi, Lova menyeberangi taman seraya memperhatikan guru piket yang sedang membelakangi deretan rumput yang tidak boleh diinjak. Sembari tertawa kecil, ia meraih tangan Dul untuk naik ke undakan kelas.
“Ayo, kita rapat ke sekretariat,” ajak Lova.
Dul mengangguk. Keduanya berjalan sambil bercakap-cakap soal apa saja yang akan dibahas nanti. Lova yang merasa lucu mendengar cerita Dul soal Robin pagi tadi, tertawa seraya memegangi ujung kemeja Dul.
Senyum Dul masih mengembang dengan manisnya saat tatapannya bertumbuk dengan seseorang yang belum dilupakannya.
Seorang murid perempuan berambut panjang mengenakan ransel berwarna kuning dan sedang berdiri di hadapan guru piket. Tatapan murid perempuan itu berpindah pada Lova, lalu kembali menatap Dul.
“Annisa …,” gumam Dul. Tawanya langsung sirna.
To Be Continued