Dul

Dul
058. Soal Cita-cita



Dari cerita-cerita Bara, Dul mendengar kalau Bara dan Sukma, anak-anak Pak Wirya dan Bu Yanti bukanlah anak-anak yang terlahir dengan otak cemerlang. Mereka bukan tipe orang yang akan mudah mengerti pelajaran tanpa belajar. IQ mereka biasa-biasa saja. Yang membuat hasil belajar mereka memuaskan adalah belajar dan latihan dengan rutin. Konsisten terus-menerus. Begitulah kata Bara pada Dul.


Itu sebabnya, Dul mengikuti semua hal yang sudah disusun Bara untuknya. Ia sedikit khawatir mengecewakan. Walau semua anggota keluarga berkali-kali mengatakan, apa pun hasilnya tak jadi soal. Yang penting ia sudah berusaha.


Dul menghabiskan sisa roti dalam kotak bekalnya di perjalanan. Pikirannya kali ini tidak berkelana terlalu jauh. Ia sedang membaca semua nama papan reklame yang mereka lewati. Mengerling Bara di sebelahnya yang sangat ganteng untuk ukuran seorang ayah menunggui anaknya di sekolah. Pantas ibunya begitu ngotot untuk selalu mengekori ayahnya akhir-akhir ini.


Mobil Bara menepi di luar pagar sekolah. Bangunan yang kemungkinan menjadi rumah keduanya selama tiga tahun ke depan terlihat sangat luas. Dul menutup kotak bekal dan meletakkannya ke jok belakang.


“Jangan buru-buru ngerjain soalnya. Dibaca bener-bener. Ayah sabar nunggu. Kasi hasil terbaik untuk ayah ibu. Nanti kalo udah keluar, langsung ke mobil aja. Oke?”


“Iya, doain aku ya...aku deg-degan,” ucap Dul.


“Pasti. Enggak kamu minta juga, Ayah Ibu pasti doain. Ya udah, sana masuk,” pinta Bara.


“Aku mau nyampein pesan Ibu,” Dul melihat warung-warung kecil dan pedagang gerobak di seberang sekolah yang dipenuhi oleh ibu-ibu, “Ayah di mobil aja. Pesannya udah sampai, ya.” Dul menahan senyumnya.


Bara tertawa kecil. “Kalau Ayah duduk di warung bakal diadukan kayaknya."


Dul menyandang ranselnya diantarkan Baea sampai di pintu gerbang. Tes itu akan memakan waktu dua jam. Namun, peserta tes tetap bisa keluar lebih awal jika mampu menyelesaikan soal lebih cepat. Dul memutuskan untuk berhati-hati menjawab semuanya.


Wajahnya datar saja saat melihat model soal yang sudah puluhan kali diuji coba Bara padanya. Beberapa malam terakhir mereka sering tidur lewat tengah malam demi membahas soal-soal itu. Tak lupa ditemani ibunya yang berbaring di ranjang sambil terkantuk-kantuk, kadang malah sampai tertidur dan mendengkur halus. Biasa Bara mengusap wajah Dijah sambil tertawa kalau dengkurannya semakin keras. Wujud kemesraan itu sangat menghangatkan hati Dul. Ia bahagia karena ibunya dibahagiakan.


Ketika bunyi bel pertanda waktu tes berakhir, Dul melangkah keluar cepat-cepat menuju mobil Bara terparkir. Ternyata Bara sedang bertelepon di luar mobil membelakangi arah kedatangannya. Ketika pria itu berbalik, telepon itu pun langsung diakhiri.


“Gimana tesnya?” tanya Bara.


“Ada yang mudah dan enggak ada yang terlalu sulit. Semuanya bisa dijawab. Tapi…enggak tau bener atau enggak.” Dul meringis.


“Ya udah, yang penting udah berusaha. Kita semua sama-sama mengeluarkan usaha kita sampai di titik ini. Sampai hari ini, semua keluarga juga ikut mendoakan. Grup keluarga juga semuanya titip salam. Coba cek di handphone.”


“Ayah berdiri di luar dari tadi?” Pertanyaan Dul mengalihkan perkataan Bara.


“Enggak berdiri, tapi duduk sama ibu-ibu di sana,” jawab Bara, terkekeh.


Dul ikut tertawa. Walau selalu meledek semua permintaan-permintaan aneh ibunya karena cemburu, ayahnya selalu menepati tanpa janji-janji. Ayahnya itu membahagiakan ibunya dengan cara yang cukup sederhana. Tidak duduk di dekat ibu-ibu.


“Kita makan siang berdua, ya? Kita duduk dan ngobrol di tempat yang adem.”


“Ayah bukannya lagi banyak kerjaan?” Dul memutari mobil dan masuk ke sisi penumpang.


“Pekerjaan di kantor itu bakalan selalu ada. Walau udah dikerjain setiap hari, pasti akan muncul yang lainnya. Sibuk itu pertanda bagus. Artinya Pakdhe mengurus perusahaan dengan bener.”


“Jadi, berdua aja? Pakdhe enggak ikut?” tanya Dul, memakai seat belt-nya.


“Hari ini Ayah ngasi kesempatan buat Pakdhe ngurus perusahaan. Kita berdua aja,” ujar Bara.


Bakal sekolah Dul yang baru berada di daerah yang kiri-kanannya banyak café dan restoran unik. Mereka tak perlu berkendara lama untuk menemukan salah satunya yang paling menarik. Pilihan itu jatuh pada sebuah café berbentuk rumah tua berwarna putih yang halamannya luas. Dari luar, café itu terlihat sangat teduh.


“Ayah makan? Aku mau makan, udah laper,” tukas Dul, mengambil menu yang disodorkan seorang pelayan pada mereka.


“Ayah juga mau makan,” sahut Bara.


Menu makan siang mereka hari itu sangat membumi. Setelah pagi tadi memakan roti panggang sebagai sarapan, siang itu mereka memilih menu yang sama. Nasi goreng kampung. Walau sering makan nasi goreng di rumah, entah kenapa nasi goreng restoran selalu beda. Itu kata Dijah. Namun, Bara yang lebih menyukai masakan rumah, akan selalu membantah hal itu.


“Ibu selalu melarang Ayah duduk di tempat yang banyak ibu-ibunya. Padahal, dulu Ayah pernah gabung sama ibu-ibu waktu nganterin kamu pentas seni. Masih inget enggak?” Bara tersenyum mengingat hal itu.


Dul ikut tersenyum Tentu saja dia ingat. Itu kali pertama ia memanggil Bara dengan sebutan Ayah. “Ibu-ibu dengan banyak makanan,” cetus Dul.


“Bener, kita akan selalu hidup nyaman selama ibu-ibu masih ada di dunia.” Bara terkekeh sebentar, lalu melanjutkan, “Jadi … cita-citanya masih sama? Pilot?” tanya Bara.


Dul mengatupkan bibirnya dan mengangguk pelan. “Pilot pesawat tempur, Yah. Aku mau pakai seragam tentara,” ucap Dul.


“Kalau gitu … sesudah SMA kamu masuk akademi, Dul. Kita harus lebih kerja keras lagi agar kamu bisa tiba di sana. Asal kamu mau dengerin Ayah yang pastinya bakal lebih bawel lagi.”


“Ayah enggak bawel,” tukas Dul.


Pelayan datang dan menurunkan dua gelas minuman dingin yang mereka pesan. Dul melirik Bara yang dahinya mengernyit. Ada sesuatu yang akan disampaikan pria itu.


“Ayah minta maaf kalau selama menjadi orang tua belum bisa sempurna. Karena seperti kata Akung, jadi orang tua itu enggak ada sekolahnya. Sekolahnya … ya setiap hari. Setiap hari selalu belajar. Selama ini, Ayah dan Ibu masih belajar. Kalau ada sesuatu yang enggak sesuai dengan apa yang kamu inginkan, kamu harus katakan. Kita bicarakan sama-sama. Pesan Ayah untuk kamu enggak banyak, Dul. Jadi anak yang bahagia.”


“Aku udah bahagia. Aku seneng jadi anak Ayah. Ibu juga sekarang makin cantik, walau agak gemuk,” Dul memandang Bara dan mereka tertawa kecil. “Ibu sekarang lebih sering ketawa dan jarang melamun. Sibuk masak cemilan buat aku dan Mima. Dulu aku jarang makan masakan Ibu,” tutur Dul.


“Ayah seneng dengernya,” sambut Bara.


“Aku mau jadi pilot biar Ayah Ibu bangga,” kata Dul kemudian.


Bara mengangguk dan mengangkat ibu jarinya ke arah Dul. “Ayah jadi teringat kata-kata Akung dulu. Sewaktu SMP Ayah ikut olimpiade matematika dan kalah. Ayah sedih banget. Ngerasa gagal buat bangga Akung. Tapi Akung santai aja. Kata Akung, keberuntungan itu enggak cuma sekedar menang kompetisi atau sayembara berhadiah. Bisa jadi keberuntungan itu datang dalam bentuk yang lain. Misalnya, punya Ayah seperti Akung.” Bara tertawa.


“Memang beruntung. Aku juga ngerasa beruntung punya Akung kayak Akung,” kata Dul.


“Dulu, Ayah mengabaikan perkataan Akung itu. Sekarang, Ayah sadar itu semua benar. Ayah merasa beruntung punya Ayah seperti Akung. Akung yang enggak pernah maksa Ayah untuk menjadi seperti apa. Jadi … wujudkan cita-cita kamu, sesuai apa yang kamu mau. Selama itu baik, kami semua pasti mendukung. Terutama Ayah.”


Dul mengangguk. Ia percaya dengan semua hal yang disampaikan Bara padanya. Laki-laki itu pasti akan selalu ada untuknya.


“Mendaki mimpi-mimpi. Sampai di puncak satunya, kita bersiap mendaki puncak yang lain. Sekarang, Ayah tiba di puncak salah satu kebahagiaan Ayah. Dan Ayah bersiap untuk mendaki puncak kebahagiaan lainnya bersama keluarga kecil Ayah,” ucap Bara, memandang teduh raut wajah Dul yang sangat mirip dengan wanita yang dicintainya.


******


“Dy …. Ini yang kamu minta. Memangnya mau nulis apa?” Kakak laki-laki Fredy menyodorkan lima lembar kertas HVS dan sebuah pena pada adiknya.


“Enggak tau. Mau coret-coret aja,” jawab Fredy.


To Be Continued