
“Bener yang dibilang Robin barusan. Memang sesederhana itu, kan? Kalau ragu segera ke dokter? Atau kita tanya Dokter Annisa biar tenang? Bagaimana?” Putra memandang kedua temannya meminta persetujuan.
Yoseph menggeleng cepat. “Tidak perlu. Besok Yoseph akan bawa istri ke dokter kandungan. Mendengar hipotesa Robin semuanya menjadi semakin jelas.”
“Aku senang sebentar lagi kawanku bakal menimang anak. Yoseph, terus si Dul. Terus lanjut kau, Put. Aku jangan taon ini-lah. Udah berkurang budgetku buat pigi ke acara kawinan kelen. Biar kelen aja dulu yang punya anak. Didik anak kelen bagus-bagus. Jangan kayak cewek yang kita tengok kemarin. Gigi berpagar, hidung berpaku, tinggal dibeton aja yang belum.” Robin bicara dengan suara rendah karena tak ingin terdengar Nathalia dan Wahyuni yang sedang bercakap-cakap.
“Duma datang jam berapa? Kenapa lama banget? Kamu enggak putus lagi sama Duma, kan?” Putra memandang Robin dengan sorot curiga. Sedikit khawatir kalau sahabatnya itu kembali menjomlo.
“Aku dan Duma masih sama-sama. Udahlah. Malas aku cari cewek lain lagi. Mau di mana lagi cari cewek? Kerja pigi pagi pulang malam. Kanan-kiri tetangga udah sepuh semua. Keliling rumah adanya pohon pisang. Udahlah. Duma aja.” Robin terkekeh-kekeh menanggapi Putra yang sedang memandangnya prihatin.
“Syukurlah … aku udah kepengin kita bisa kumpul sama-sama bareng anak-istri. Malah aku kira Dul yang belakangan nikah. Ternyata aku ikut dibalap.” Putra ikut memandang Dul ke pelaminan.
“Kata-katanya kalo orang gak banyak cakap dan pendiam bisa lama jumpa jodohnya. Tapi rupanya itu gak berlaku buat orang ganteng. Mau diam aja pun si Dul pasti tetap banyak cewek yang naksir. Ckckck.” Robin kembali menimpali.
“Saya ingat salah satu kenangan lucu sewaktu bersama Dul di kelas. Saya dihukum menyanyi karena terlambat masuk untuk kesekian kalinya. Guru berbisik ke saya, kalau saya boleh duduk kalau ada kawan-kawan tepuk-tangan. Sengaja guru itu berbisik agar kawan tidak dengar. Bayangkan, kawan-kawan …. Saya bernyanyi dengan bungkusan keripik dan suara tidak bagus. Genre lagu saya pun tidak jelas. Dangdut, rock, fantasi, horor, semua digabungkan. Tidak ada yang bertepuk tangan selain Dul. Dia tepuk tangan dan tersenyum bangga pada saya. Karena Dul saya diperbolehkan duduk. Sampai sekarang saya bertanya-tanya. Apa saat itu Dul hanya menghargai saya atau dia memang menyukai lagu yang saya nyanyikan.” Sekelumit cerita akan kenangan masa lalu bersama Dul mengalir dari mulut Yoseph.
“Kaset lagu si Yoseph udah beredar, Put. Pengedarnya juga udah ditangkap. Jangan kau cari lagi.” Robin mengusap-usap bahu Yoseph yang hanya tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya ketika Robin mengatakan itu.
“Muda berkelana, tua bercerita.” Putra bicara dengan setengah menerawang.
“Kenanganku sama Dul banyak kali. Dari kecil pula kami sama-sama. Bekawan jadi tetangga sampai jadi kawan di sekolah. Kalo soal huru-hara di kelas, ada satu cerita yang kuingat.” Jeda kalimat Robin membuat semua orang di sekitarnya memusatkan perhatian. “Waktu itu jam pelajaran kosong. Entah ke mana gurunya. Semua orang di kelas bising kali. Aku juga bising tapi karena capek bising aku ketiduran. Saking nyenyaknya aku tidur, sampai termimpi-mimpi. Bergetar-getar badanku tidur di kelas. Kurasa lama kali aku tidur. Sampai guru jam pelajaran berikutnya masuk ke kelas. Aku didatangi guru. Udah mau marah kali guru itu karena dibangunkannya aku gak bangun juga. Untung si Dul datang. Dul basahi mukaku pake air minum. Dibilangnya ke guru mau bawa aku ke UKS karena kuatir aku sakit. Sepanjang jalan ke UKS, Dul nanya kenapa aku bergetar waktu tidur. Kubilanglah aku mimpi jadi parutan kelapa. Langsung ditinggalkannya aku.” Robin tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul lengan Putra.
Setelah tawa akibat cerita Robin mereda, giliran Putra mengernyitkan dahinya. “Aku ada cerita soal zaman masih SMP ….” Putra lalu berhenti cukup lama menjeda cerita. Ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Seakan ingin menambah kesan dramatis pada ceritanya.
Robin menyenggol bahunya. “Cepatlah cerita. Lama kali …. Anda sopan kami curiga. Ayo, cepat cerita.” Robin mendengkus, lalu menyentil jari Putra yang menaut di atas meja.
“Waktu itu kami baru aja pulang sekolah. Sepertinya masih SMP karena aku ingat perasaanku waktu itu. Aku murung karena ada kegiatan ekstrakurikuler yang kepengin kuikuti tapi ibuku enggak ada uang buat beli perlengkapannya. Kalau enggak salah waktu itu mau beli kaus oblong seragam organisasi buat dipakai pertemuan akhir minggu. Dul mendatangiku dan ngasih uang tabungannya selama seminggu. Aku agak heran. Kenapa dia sampai ngasih uangnya ke aku. Ternyata alasannya sederhana di awal. Katanya, dia enggak mau aku keliatan beda dari anak-anak yang orang tuanya lebih mampu. Jadi, biar aku bisa beli seragam yang sama. Nampak sama … gitu.”
“Terus? Kenapa pula alasannya sederhana di awal? Di awal repot kali rupanya?” Robin tidak sabar menunggu Putra yang menjeda ceritanya begitu dramatis.
“Sesudah uang di tanganku, kami pergi membayar uang kaus seragam ke bendahara organisasi. Lalu, Dul mengajakku makan siang sebelum dia dijemput. Waktu itu kami belum terlalu dekat. Tapi entah kenapa tiba-tiba aku bisa bercerita gitu aja ke Dul. Aku hampir menangis waktu cerita soal teman-teman yang dulu selalu ada di saat aku senang dan semuanya menghilang sewaktu aku butuh bantuan. Dul menepuk-nepuk bahuku. Dia bilang, ‘Kata Akung-ku jangan salahkan orang-orang yang hadir di saat hidup kita terasa mudah dan bahagia. Karena beberapa orang memang hanya melintas dalam hidup kita di waktu-waktu tertentu aja. Bersabar sedikit. Pasti ada orang yang datang di waktu kamu kesulitan.’” Putra memandang Robin dan Yoseph bergantian. “Itu kali pertama aku dengar soal Akung. Sejak saat itu aku jadi fans berat Akung.”
“Benar…benar banget,” sambut Putra.
“Itu si Duma datang,” seru Robin tiba-tiba. “Kalo udah datang si Duma, berarti bisalah si Wahyuni cakap-cakap. Dari tadi diam aja dia kutengok.” Robin sengaja bicara lebih keras dari biasanya. Karena memang benar adanya. Sejak tadi Wahyuni; calon istri Putra hanya diam menyimak semua cerita mereka.
Mereka semua memperhatikan Duma yang berjalan mendekati meja seraya melambaikan tangan di kejauhan. Gadis itu memberikan kode menunjuk meja dan pelaminan bergantian. Ternyata dari kejauhan Dul memanggil mereka.
“Kebetulan Duma sudah datang. Sepertinya Abdullah memberikan kode pada kita untuk berfoto bersama. Annisa juga sudah melambai-lambai. Cepat kita ke sana,” kata Yoseph, berdiri dari kursinya dengan satu tangan menggandeng sang istri.
Semuanya berdiri nyaris serentak. Berpasang-pasangan menuju pelaminan melewati meja-meja tamu VIP lainnya. Tiba di dekat meja berisi Mima dan teman-teman kampusnya, Robin berseru. “Mima cantik! Hari ini jadi seksi sibuk, ya? Gak ada kau sapa abang-abangmu ini.”
Mima melambai-lambai dan menunjuk semua temannya di meja.
Sapaan Robin pada Mima ternyata membuat seseorang yang baru datang ikut kesal. “Mima cantik…Mima cantik …. Kurasa gak ada sopannya Abang sama aku, ya? Aku yang Abang gandeng, tapi cewek lain yang Abang bilang cantik.” Duma mendengkus keras di sebelah Robin.
“Duma … Duma …. Jangan kau cemburu masalah sepele kayak gitu aja. Abang cuma menyerukan fakta. Memang cantik si Mima. Kau boleh marah kalau Abang mengada-ada. Apa kau rela Abang disebut gila karena menyebut Mima tidak cantik?”
“Aku cantik, enggak?” Duma menghentikan langkahnya.
“Kau tidak jelek,” jawab Robin.
“Aku enggak jelek, tapi aku juga enggak cantik. Apa istimewanya aku dibanding Mima?” Kekesalan Duma tak main-main. Ia membuat tubuhnya kaku agar Robin tak bisa menyeretnya ke pelaminan.
“Kaulah yang paling istimewa. Karena kau mau sama Abang. Ayo kita berpoto bersama Abdullah si pilot pesawat tempur. Jangan kau merajuk-merajuk. Kalau kau merajuk, Abang seret kau ke meja Mamak Abang di sebelah sana. Mau kau? Biar Mamak aja yang merayu kau.” Robin menunjukkan meja tempat berkumpulnya mantan penghuni kos kandang ayam.
*****
“Yat! Kamu dari mana aja? Duduk sini!” Tini berseru ketika melihat Dayat melintas dengan sebuah piring di tangannya.
To be continued