Dul

Dul
105. Sudah Pria Dewasa



“Kalau untuk seleksi administrasi dan verifikasi aja, sih, Ayah optimis kamu berhasil ngelewatinnya.” Bara duduk di depan televisi sambil menukar-nukar channel.


“Tapi tetap aja deg-degan,” sahut Dul.


“Iya, Ibu dari kemarin mimpi itu terus. Udah pengumuman, terus Mas Dul enggak lulus administrasi. Ibu nangis-nangis,” timpal Dijah yang baru datang dari dapur.


“Ibunya malah nambahin beban pikiran anak,” kata Bara, mencubit pelan pipi Dijah yang duduk di dekatnya menyodorkan gorengan.


“Namanya cemas,” sahut Dijah, menepuk paha Bara dengan cukup keras.


“Pengumumannya besok. Tengah malam nanti websitenya bisa down kalau banyak yang visit.”


“Kalau gitu Mas harus ikut mantengin. Kali ini kita juga wajib dapat berita paling cepat. Biar aku enggak mimpi-mimpi lagi, Mas.” Dijah cemberut memandang Bara.


“Ini masih seleksi administrasi, Jah. Tesnya masih panjang. Kalau kamu mimpi-mimpi terus sepanjang Dul tes, yang repot Mas juga. Tidurnya enggak nyenyak, bisa terlambat bangun pagi. Terus sarapan kita semua bisa terancam.” Bara menjawil pipi Dijah yang seketika cemberut. Wanita itu kembali memukul paha Bara sebagai ganti jawabannya.


“Memangnya ada berapa tes lagi?” tanya Dijah.


“Masih banyak, Bu,” jawab Dul.


“Ibu enggak sabaran,” celetuk Mima. Murid kelas enam SD itu menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan sebungkus snack Kentang goreng di tangannya.


“Kan, sama kaya Mima,” timpal Dijah. Mima tak menjawab. Hanya mengerucutkan bibir pada ibunya.


“Seleksi tingkat daerahnya masih ada delapan tahap lagi, Bu.” Dul meringis.


“Astaga … itu masih daerah? Kalau ditotal semua berapa tahapan lagi?” Dijah menegakkan tubuh.k


“Di tingkat pusat juga masih ada delapan lagi. Jadi … seleksi administrasi ini belum ada apa-apanya, Bu. Masih terlalu awal,” kata Dul.


Dijah bersandar lemas ke bahu Bara. “Ibu kira enggak sebanyak itu,” jawab Dijah lesu.


“Dul pasti bisa. Jangan lesu gitu. Kita harus optimis buat Dul. Malam nanti kita lihat pengumuman seleksi administrasi-nya sama-sama.”


Setelah malam hari raya dan malam tahun baru, melihat pengumuman kelulusan administrasi Dul menjadi hal berikutnya yang membuat keluarga Bara terjaga hingga lewat tengah malam. Bahkan Ibrahim yang belum sepenuhnya mengerti maksud ibunya belum menyuruhnya tidur malam itu, duduk tegak dengan wajah ceria di antara Dul dan Mima.


“Gimana hasilnya? Udah keliatan belum?” tanya Dijah tak sabar beberapa menit kemudian.


Dul dan Bara tidak menjawab. Keduanya diam menantikan layar website yang sedang berputar lambat membuka laman web.


“Lama, ya …,” seru Dijah lagi dari sofa.


Dul dan Bara bertukar pandang saat mendengar seruan Dijah yang sejak tadi hanya menambah gelisah. Meski Bara memang optimis Dul pasti lulus tahap seleksi administrasi, entah kenapa seruan-seruan Dijah dari ruang keluarga membuatnya ikut berdebar.


“Ibu …!” teriak Dul.


“Jangan teriak. Ibu di belakang kamu.” Tiba-tiba Dijah muncul di belakang Dul dan Bara. Keduanya tersentak.


“Kapan masuknya?” tanya Bara, memandang pintu kamar Dul yang setengah terbuka.


“Ya, barusan. Gimana? Lulus, ya?” Dijah menunduk dan meletakkan dagunya di bahu Dul. “Bagus, Nak. Ibu bahagia. Sekarang Ibu bisa tidur.” Dijah mengacak rambut Dul dan memeluk pinggang Bara sebentar, lalu berlalu dari kamar putranya.


“Ibra dan Mima udah tidur?” tanya Bara.


“Udah. Ketiduran di sofa. Mas angkat ke kamar, ya. Aku ngantuk banget,” seru Dijah.


Malam itu Bara berbaring di sebelah Dijah dengan pikiran menembus masa depan anak-anaknya. Untuk mengirim Dul masuk ke asrama AAU, mereka butuh lebih dari sekedar keberuntungan. Dul harus bisa melewati semua tahapan seleksi dengan mulus.


“Mikirin apa?” tanya Dijah, berbalik dan memeluk perut Bara dengan mata terpejam.


“Ternyata kita udah tua, ya, Jah …. Dul udah delapan belas tahun. Dul sekarang remaja yang beranjak dewasa. Enggak terasa …. Awal ngajak Dul naik ke boncengan motor Mas waktu itu dia masih lima tahun. Mas waktu itu 28 tahun dan belum selesai S2. Setiap hari diomelin sama Ibu dan ditanyain terus kapan wisuda. Akhirnya yang bisa bikin Mas wisuda itu kamu.” Bara terkekeh seraya membalas pelukan Dijah.


“Aku udah ngantuk jadi melek lagi karena Mas cerita soal sejarah,” ucap Dijah dengan suara parau. “Memang enggak terasa, ya. Terlebih aku, Mas. Aku enggak inget gimana masa kecil Dul. Kadang setiap berpikir soal itu … aku ngerasa bersalah.” Dijah memejamkan mata.


“Enggak apa-apa. Kita enggak bisa perbaiki masa lalu. Tapi kita bisa usahakan yang terbaik untuk masa depan Dul. Khususnya untuk tes Samapta. Walau Dul selalu ngomong dia akan usaha dan terima apa pun hasilnya nanti, tapi tetap aja namanya manusia pasti ada kecewanya. Mas juga dulu gitu.”


Dijah membuka mata dan mendongak melihat dagu Bara. “Jadi, gimana? Ayah mau bantu ngawasin Dul latihan fisik. Dul pasti jadi lebih disiplin kalau Akungnya yang bantu liat.”


“Enggak cukup dengan itu aja,” ucap Bara. “Nanti kalau hasil tes psikologinya keluar, Mas bakal ngobrol dan cari tau ke Mas Heru.”


Kegiatan Dul belakangan itu tak banyak. Setelah berhasil melewati tes kesehatan, Dul kembali resah menunggu hasil tes psikologinya keluar. Hari berjalan terasa sangat lambat. Sehari-hari ia hanya hilir mudik dari depan ke belakang. Bangun pagi menyiram tanaman, menyapu halaman, membuang sampah dan menantikan jawaban pesan Annisa. Benar-benar hari yang lambat.


Sampai suatu sore, Robin yang memang terlihat semakin santai dengan hidupnya, datang bertamu ke rumah keluarga Bara di suatu sore.


“Capek kali aku nge-chat aku. Dah balasnya lama, sepatah-sepatah kata pula. Gak sabar aku nunggunya,” kata Robin setibanya di teras rumah.


“Lagi males pegang handphone,” jawab Dul lesu.


“Pasti karna Annisa gak balas-balas pesan kau, kan? Udahlah … memang lagi mau konsentrasi sama sekolahnya. Gak usah kau ganggu dulu. Kau sekarang tinggal nunggu hasil pengumuman apa?” tanya Robin.


“Nunggu hasil tes psikologi,” jawab Dul.


“Ya udahlah. Jangan pula karena nunggu hasil tes psikologi malah psikologi kau yang terganggu. Mending kita makan ke simpang. Cakap-cakap di café seberang jalan aja. Lebih bebas. Kalo di sini aku agak cemas cakap kita didengar sama—”


“Hayooo … mau ngomongin apa? Pasti mau ngomongin cewe, kan? Siapa? Siapa?” Mima tiba-tiba muncul dari dalam rumah mengagetkan Dul dan Robin yang duduk di teras.


“Inilah yang aku maksud. Ayolah kita pigi. Ke depan aja.” Robin berdiri menyeret lengan Dul agar bangkit dari kursi.


Mima berdiri di depan pintu seraya mencibir. “Gaya banget mau ngobrol aja mesti ke café,” kata Mima.


“Inilah yang namanya udah abang-abang itu …. Dah dewasa kami, Dek Mima. Udah memasuki dunia pria.” Robin merangkul pundak Dul sambil terkekeh-kekeh.


“Mau makan di seberang jalan?” tanya Dul saat mereka beriringan di jalan komplek.


“Iyalah. Biar bebas kita membahas hal-hal penting seputar pria,” cetus Robin dengan suara keras yang tak bisa disembunyikan.


“Belum sepenuhnya jadi pria kalau kita masih gini-gini aja, Bin.” Dul masih terbawa suasana murung. Sedang bercerita soal apa pun, seseru apa pun, pikirannya selalu kembali pada pesan-pesannya yang seolah diabaikan Annisa.


“Ya udah jadi prialah kita. Kau tengok bentuk leherku sekarang?” Robin mendongak mengusap lehernya yang semakin memperlihatkan tonjolan maskulin khas pria. “Dengan suara berat dan melankolis kayak gini, kujamin cewe-cewe langsung termimpi-mimpi. Gini-gini kita udah bisa bereproduksi, Dul.” Robin berdecak bangga.


“Psst … psst,” panggil seseorang dari balik pagar saat Dul dan Robin berjalan melewati rumah tetangga menuju jalan raya.


Dul dan Robin menoleh ke tempat yang sama. Dan terkesiap saat melihat wajah Tini Suketi berjinjit dari balik pagar rumahnya.


“Ckckck … yang baru tamat SMA udah ngomongin bereproduksi. Cewe-cewe, suara berat … ckckck …. Waktu memang enggak terasa berjalan, ya. Rasanya baru kemarin aku nyebokin kamu pakai kaki, Bin. Nanti cewe-cewe itu bisa wawancarai jempol kaki Bu Tini kamu ini kalau mau nanya gimana masa lalu kamu.” Tini tertawa terbahak-bahak dengan gulungan handuk di kepalanya.


Robin berdiri setengah terperangah. “Gak ada jalan lain selain jalan ini kalo mau ke rumah kau, Dul?”


To Be Continued