Dul

Dul
125. Kencan Keluarga



“Kita naik taksi, ya. Udah aku panggil,” kata Dul, seraya menunjukkan ponsel di tangannya.


“Abdullah ke sini cuma jemput aku aja? Harusnya aku bisa datang sendiri.”


“Harus dijemput. Karena aku yang ajak. Apalagi tadi Ayah tanya kamu ke rumah naik apa. Belum apa-apa Ibu yang jawab kalau aku yang bakal jemput kamu. Jadi, memang harusnya begini. Ayo, itu taksinya.”


Sebuah taksi mendekati tepi jalan dan Dul hanya bisa mengibaskan tangannya membiarkan Annisa mendahului langkah. Ia membuka pintu bagian penumpang dan menunggu Annisa masuk lebih dulu. Taksi melaju ke tujuan dengan mereka yang belum memulai sepatah pun obrolan.


Mereka sibuk melihat ke kanan-kiri jalan. Jelas terlihat keduanya berpura-pura sibuk. Bahan obrolan berjejalan di kepala, namun tak bisa menemukan kata yang tepat sebagai pembuka. Sepasang tangan mereka terletak canggung di pangkuan masing-masing.


“Ehem.” Dul melirik Annisa, kemudian melirik supir taksi di belakang kemudi. “Kalau weekend gini biasanya ke mana?”


“Kayanya kemarin aku udah jawab. Aku enggak ke mana-mana karena udah capek kerja. Biasanya cuma di kamar aja tidur-tiduran.” Annisa mengatupkan mulutnya menahan senyum karena melihat wajah Dul langsung memerah.


“Oh, iya. Kemarin aku udah nanya. Ehem.” Dul kembali berdeham kecil.


“Kalau Abdullah … tiap liburan semester pasti pulang, ya? Enam bulan sekali?” tanya Annisa.


“Iya. Benar. Tiap liburan semester pasti pulang.”


“Masih sering ketemu dengan Robin dan Putra?”


Mendengar nama Robin dan Putra disebut, Dul seperti mendapat energi baru dalam topik percakapan. Kenapa ia tidak ingat untuk menceritakan soal sahabat-sahabatnya itu sebagai bahan obrolan? Dul sedikit menggeser duduknya untuk bisa melihat wajah Annisa.


“Robin sekarang udah jadi agen gas dan galon air minum bermerek. Kalau Putra, sekarang buka usaha sambal kemasan sama-sama dengan Yoseph. Tau Yoseph, enggak?” tanya Dul.


Annisa mengernyitkan alisnya. “Yang mana, ya?”


“Pedagang keripik paling gigih di SMA kita dulu,” cetus Dul.


“Ah, iya. Baru ingat. Yang kalau ke mana-mana bawa plastik dan masuk ke kelas-kelas. Promosinya paling lucu. Ada slogan yang paling sering dia bilang. Itu ….” Annisa berusaha mengingat-ingat.


“Perut memang tidak kenyang, tapi hati sudah pasti senang. Keripik Mama Yoseph seribu rupiah saja?” Dul yang memang hafal luar kepala langsung mengatakan itu.


“Nah, iya!” seru Annisa, menepuk pelan tangan Dul. “Ternyata masih ingat aja,” sambungnya lagi, menepuk-nepuk punggung tangan Dul.


Dul ikut tertawa, namun matanya berpindah memandang tangan Annisa. Melihat kalau Dul menyadari sentuhannya itu, Annisa terdiam dan menarik tangannya. Namun, dalam gemblengan kemiliteran selama dua tahun, Dul mengalami peningkatan pesat dalam soal gerak refleksnya. Secepat kilat ia menangkap tangan Annisa dan menggenggamnya. “Enggak apa-apa, kan?” tanya Dul, menggenggam tangan Annisa di atas lututnya.


Annisa lagi-lagi mengatupkan mulutnya dan mengangguk. Ia mengerling sedetik tangan Dul yang sedang menggenggamnya. Tadi, taksi itu cukup dingin. Tapi beberapa menit saja, telapak tangannya mulai berkeringat. Tangan Dul mungkin terlalu hangat untuk tangannya yang dingin.


Sisa perjalanan itu mereka menghabiskannya dalam diam dan tangan yang tergenggam. Desakan rasa di dalam dada hanya mampu hadir dalam sentuhan sederhana. Meski terlihat semuanya masih mampu diredam, tapi rasa itu semakin jelas meski sempat tertunda.


“Kita udah sampai. Itu rumahku,” kata Dul, menunjuk tiga rumah di depan taksi yang mulai melambat. “Kita berhenti di depan, ya, Pak. Pagar hitam.” Dul memberi petunjuk. Ia memandang tangannya dan Annisa yang masih menaut. Sayang pembayaran taksi itu berupa uang tunai. Andai dibayar menggunakan kartu kredit atau uang elektronik, ia mungkin tak akan melepaskan tangan Annisa.


“Ini benar-benar enggak apa-apa, kan? Teman wanita datang ke rumah…atau memang udah biasa? Maksudku…keluarga Abdullah udah biasa kalau….”


“Belum. Belum terbiasa. Ini pertama kali aku bawa teman wanita ke rumah. Benar-benar pertama kali. Karena itu juga aku jadi … gugup. Adik perempuanku, Mima maksudnya. Mima agak ceriwis. Kamu jangan kaget,” kata Dul di depan pagar.


“Pasti lucu. Aku enggak pernah punya adik dan enggak punya keponakan perempuan. Mima kelas berapa?”


Baru saja bel berbunyi sekali, seseorang sudah membuka pengait pagar besi. Kemudian wajah Mima muncul di pintu. Pandangannya berpindah dengan cepat antara Dul dan Annisa. Lalu ….


“Ibu …! Mas Dul udah dateng sama pacarnya!” teriak Mima.


Dul melotot dan membekap mulut Mima. Cepat-cepat ia menyeret adik perempuannya itu ke dalam rumah. Annisa tertawa seraya kembali mengaitkan pintu pagar.


“Kenapa harus teriak-teriak gitu? Pakai ngomong kata pacar. Anak kecil udah lancar banget ngomong pacar.” Dul memencet hidung Mima.


“Jadi, mau aku sebut apa? Memangnya Mas enggak mau kalau Mbak Nisa jadi pacar Mas Dul? Kalau enggak mau, aku bisa perbaiki kalimat tadi.


“Udah…udah. Jangan teriak-teriak lagi. Ibu mana?” bisik Dul pada Mima.


“Ibu di ruang makan. Ini dilepasin dulu,” kata Mima, melepaskan tangan Dul yang masih berada di hidungnya.


“Ya udah, Mas langsung ke dalam aja.”


“Mas … tiba-tiba aku jadi sedih.” Mima mendongak menatap Dul dengan mulut mengerucut.


“Sedih kenapa?”


Mima lalu memeluk Dul dengan erat. “Sebentar lagi aku enggak bisa meluk-meluk, Mas. Mas udah punya pacar. Kalau udah punya pacar, Mas pasti menikah. Menikah dan pergi dari rumah terus bakal lupa sama aku. Aku dan Ibra akan dilupain. Kami bakal—”


Dul melepaskan pelukan Mima dan meletakkan punggung tangannya di dahi gadis kecil itu. “Mima enggak lagi sakit, kan?”


“Ck, enggak.” Mima kembali melepaskan tangan Dul dari dahinya. “Eh, ada Mbak Nisa. Ayo, kita ke dalam. Nanti Mbak Nisa duduknya di sebelah aku aja. Jangan di sebelah Mas Dul. Kalau duduk sebelah-sebelahan enggak bisa saling pandang.” Mima tertawa terkekeh-kekeh seraya menyeret Annisa ke ruang makan.


Dul menghela napas panjang lalu ikut menyusul ke ruang makan. Seperti biasa yang selalu mereka lakukan untuk semua anggota keluarga yang mana pun. Tidak ada yang menganggap kedatangan Annisa terlalu aneh hingga perlu ditanya macam-macam. Dijah santai menyiapkan piring-piring mengitari meja. Bara duduk santai meladeni Ibrahim bicara soal gambar gugusan planet yang ditunjukkannya. Mbok Jum terlihat sedang membelakangi meja makan dan berkutat dengan buah semangka.


“Ibu … ini Mbak Nisa udah nyampe,” kata Mima.


“Udah lama banget enggak ketemu. Nisa makin cantik, ya ….” Dijah mendekati Annisa yang menuju ke arahnya. “Dilihat dari dekat memang makin cantik. Mas, ini Nisa.”


Bara tersenyum dibarengi dengan lirikannya pada Dul. Baru saja pagi tadi Dijah mengatakan sudah salah bicara pada Dul. Dan barusan Dijah kembali mengatakan kalau Annisa memang makin cantik kalau dilihat dari dekat. Bara menggeleng samar. Dijah memang sudah menjadi ibu-ibu seutuhnya. Ia sudah berhasil mengubah sosok Dijah yang dingin dan tanpa ekspresi itu, menjadi sosok istri dan ibu yang hangat.


“Udah ngumpul semua, kan? Kita makan dulu, ya. Ayah udah laper,” kata Bara usai acara menjabat tangan dengan Annisa. “Ayo, Mas Dul silakan direview masakan Ibu yang mana yang harus dicoba lebih dulu sama Nisa.”


Mbok Jum mendekati meja dengan mangkuk berisi potongan semangka. “Soto Betawi ini yang masak ibunya Mas Dul. Kalau ayam balado ini, yang masak Mbok Jum. Mas Dul sukanya soto Betawi. Kalau mau belajar masaknya, sama ibunya Mas Dul langsung. Neng Nisa sering main-main ke sini meski Mas Dul enggak di rumah. Sebentar lagi ibunya Mas Dul bakal sering sendirian di rumah. Mbok harus pulang ke Kalimantan. Ibunya Dul enggak ada temen. Ibra juga pasti kesepian.” Mbok Jum berdiri menyiapkan makan siang Ibrahim dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


Dijah mengusap-ngusap punggung Mbok Jum dengan lembut. “Nanti aku enggak sendirian. Nisa pasti sering ke sini. Ya, kan, Nisa? Mau main ke sini buat temenin Ibu meski Mas Dul lagi di asrama?” Dijah memandang Annisa yang menatap Mbok Jum dengan mata memerah. Rupanya gadis itu ikut terharu dengan perkataan Mbok Jum.


“Iya, Bu. Nanti Nisa sering ke sini. Nisa bakal belajar masak dari Ibunya Mas Dul. Bakal sering main juga sama Ibra. Biar Mbok enggak kepikiran,” kata Nisa.


“Main samaku juga, Mbak. Ajarin aku bikin rambut kaya gini.” Mima menyentuh ujung rambut Annisa.


Annisa tertawa kecil sembari membelai rambut Mima. “Rambut Mima ikalnya udah asli. Lebih cantik,” kata Annisa.


To Be Continued