Dul

Dul
046. Siapa Aku Sebenarnya



Dul menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang berurai air mata. Sejenak ia lupa sedang berada di mana. Mengabaikan kehadiran Pak Wirya, Heru, bahkan Robin yang pasti menatapnya dengan heran. Bara berdiri tegak di depannya. Tangan Bara sempat terangkat sedikit seakan ingin menyentuhnya. Namun, urung karena langkah kakinya sedikit beringsut ke belakang. Mungkin Bara khawatir ia akan kembali lari meninggalkan tempat itu.


"Ibu yang bilang bapakku bukan ayah. Bapakku penjahat. Aku malu. Kenapa bapakku harus penjahat dan dipenjara? Kenapa bapakku enggak boleh Ayah aja?" Dul memberanikan diri untuk mendongak menatap Bara.


"Sekarang, Ayah adalah Ayah kamu. Kita hidup bersama beberapa tahun belakangan ini sebagai sebuah keluarga dan kita bahagia. Dul ...." Bara mendekati Dul dan menyentuh bahunya perlahan. "Ini bukan soal siapa bapak kamu. Penjahat atau bukan, atau apa pun profesinya. Ini soal kamu, Dul. Kamu adalah orang yang berbeda dengan apa yang kamu sebut tadi. Bagi Ayah, bagi Ibu, juga bagi kami semua, kamu adalah Abdullah yang punya hak untuk dirinya sendiri. Dul bebas menjadi diri Dul sendiri. Menjalani cita-cita Dul, juga semua kebahagiaan yang memang udah sepantasnya untuk Dul. Dul adalah Dul, bukan orang lain." Bara menyelami sorot mata Dul yang tak lepas memandangnya.


Dul tergugu. Sorot mata Bara yang teduh membuatnya seketika bisu. Tak ada kemiripan di antara mereka berdua. Berbeda dengan Mima yang bisa dikatakan adalah jiplakan sempurna rupa Bara. Ikal rambutnya yang kecokelatan, bola mata yang berwarna cokelat gelap, juga kulit kuning langsat dan pipi yang bersemu merah tiap mereka kepanasan. Ia dan Bara tak ada kemiripan.


"Ayah memang bukan ayah kandungku. Temenku pernah ada yang ngomong. Kita enggak mirip. Aku beda," ucap Dul.


"Wajah ganteng kamu adalah hadiah dari Ibu. Wanita yang Ayah cintai dan mati-matian Ayah rebut hatinya. Melihat wajah kamu, akan selalu membuat Ayah ingat dengan wanita kuat dan tegar yang berusaha membahagiakan putranya. Ayah mencintai Ibu, Dul. Ayah tau kamu juga pasti mencintai Ibu, kan?" Untaian kata-kata Bara sangat lembut dan jelas. Menyusup ke telinga Dul seiring dengan embusan angin malam yang menyapu wajah mereka.


Dul mengangguk perlahan menyetujui perkataan Bara. Ia memang mencintai ibunya. Tak ada alasan untuk tidak mencintai wanita yang sudah banyak melalui kesulitan untuk memberikan banyak hal baik padanya. Ia bahkan bisa mengatakan pada setiap orang di dunia ini kalau ia mencintai ibunya lebih dari siapa pun.


"Kalau kamu mencintai Ibu sama besar seperti Ayah, itu artinya kita sepakat enggak akan buat Ibu kepikiran soal kamu malam ini, kan?" Bara kali ini meletakkan satu tangannya yang lain menyentuh bahu Dul.


Dul kembali mengangguk, tapi tatapannya belum turun. Ia masih menatap Bara. Ada hal yang masih ingin ditanyakannya. "Aku marah kalau ada yang ngomong aku bukan anak Ayah. Apalagi kita memang enggak mirip." Usai mengucapkan kegelisahan hatinya, Dul menunduk.


"Kamu mirip Ibu. Itu udah jelas. Kalau Ayah enggak bisa menyaingi soal itu, kamu bisa mirip Ayah dengan cara yang lain. Gimana kalau mirip dengan gigihnya Ayah? Rajinnya? Atau ... pesonanya?" Bara mengulum senyum. Mencoba menguraikan suasana di antara mereka.


"Kalau pesonanya itu pasti mirip Pakdhe," potong Heru yang berjalan mendekati mereka.


Dul dan Bara menoleh pada Heru dan Pak Wirya yang berjalan mendekat.


"Besok hari sabtu, ya? Malam ini Akung bisa nginep di rumah buat nemenin Dul dan Mima. Ayah dan Ibu di rumah sakit dulu. Gimana? Mau, kan? Pasti mau. Biasa kalau Akung ngomong bakal ngasi kuliah tambahan, mahasiswa Akung senangnya luar biasa. Dul juga pasti gitu," ujar Pak Wirya, berjalan ke sebelah Dul dan merangkul pundak bocah itu.


"Kita pulang sekarang? Udah kenyang, Pakdhe ngantuk," tukas Heru.


"Lihat tuh. Robin udah dijemput bapaknya." Heru menunjuk mulut jalan dan melihat Robin melambaikan tangan. "Tenang ... bakso porsi anak-anak yang banyak cekernya itu udah Pakdhe bayar. Robin enggak jadi keluar duit. Katanya lumayan buat tambahan jajannya besok." Heru tersenyum sumringah melihat wajah Dul yang lega mendengar nasib Robin malam itu berakhir dengan baik.


"Sebelum pulang ke rumah aku mau lihat Ibu," ucap Dul.


"Iya. Sebelum pulang kita jenguk Ibu dulu." Pak Wirya menepuk-nepuk pelan pundak Dul seraya berjalan menuju mobil Heru.


Malam itu, semuanya belum selesai begitu saja. Masih ada ganjalan soal seseorang yang berada di balik jeruji dan ingin bertemu dengannya. Dul malu. Ia harus kembali malam itu. Kebodohannya yang pergi begitu saja menuruti emosinya tadi, ternyata merepotkan banyak orang. Di mobil ia duduk diam di sebelah Pak Wirya. Heru mengantarkan mereka ke dekat SPBU untuk berpindah ke mobil Bara. Malam itu sudah agak larut untuk datang ke rumah sakit. Tapi Bara dan Pak Wirya menuruti kemauannya tanpa keberatan. Wajah kedua pria itu sama lelahnya. Dul semakin merasa bersalah dan merepotkan.


"Akung ... aku minta maaf udah ngerepotin Akung." Suara Dul sangat pelan. Nyaris bagai sebuah cicitan. "Minta maaf sama Ayah juga," sambung Dul lagi.


"Akung terima maafnya. Tapi ini belum merepotkan. Akung merasa diajak jalan-jalan malam. Jarang-jarang Ayah kamu dan Pakdhe ngajak Akung makan bakso. Biasa mereka keluar selalu berdua. Malam ini, karena kamu, Akung jadi diajak nongkrong." Pak Wirya terkekeh-kekeh. Sedangkan Bara mencibir memandang ayahnya.


"Ayah juga terima maafnya. Ayah minta maaf juga ... mungkin Ayah belum benar cara penyampaiannya. Sebagai orang tua...."


"Menjadi orang tua itu memang pelajaran yang enggak ada habis-habisnya. Habisnya ya...kalau udah pergi meninggalkan dunia." Pak Wirya menoleh pada Bara.


"Aku juga memang masih belajar," ucap Bara.


Pak Wirya menatap jalanan. "Orang tua dan anak adalah hubungan yang lebih dari seumur hidup. Lebih dari sekedar tanggung jawab di dunia ini," gumam Pak Wirya.


Dul duduk diam mencermati perkataan dua pria di depannya. Malam itu, ia memeluk ibunya yang bersimbah air mata di ranjang rumah sakit.


To Be Continued