Dul

Dul
123. Untung Masih Wangi



“Ehem!” Dul melepaskan tangan dari wajah Annisa sambil membasahi bibirnya. Rasa lembut dan dingin bibir Annisa masih tertinggal. Ia mencecapnya sedetik. Keduanya melemparkan pandangan ke sembarang tempat. Annisa sedikit mendongak melihat pohon mangga yang menyembul dari balik pagar. Dul merapikan rambut dan kembali memakai topinya.


Sejurus kemudian keduanya kembali bertatapan. Bayangan gelap dari pohon mangga menyembunyikan rona merah wajah mereka.


“Besok aku hubungi.” Dul dan Annisa mengucapkan kalimat yang sama di waktu bersamaan. Keduanya bertukar pandang, lalu tertawa kecil.


“Kamu masuk sekarang,” ucap Dul, melangkah menuju pagar dan memasukkan tangannya melalui lubang untuk membuka pengait. “Besok kita ngobrol lebih banyak lagi.”


“Abdullah hati-hati di jalan. Pakai taksi resmi, ya.” Annisa melangkah masuk. Namun, ia melihat wajah Dul yang terlihat bimbang. “Ada apa? Kayanya ada yang mau ditanya?”


“Selama ini … di kampus kamu…maksudnya …. Teman dekat kamu? Mmmm…udah dua tahun kuliah. Mungkin kamu….”


“Enggak sempat. Aku enggak punya teman dekat. Aku terlalu sibuk hidup. Bangun pagi pergi ke kampus, pulang kadang sore, beres-beres terus siap-siap ke warung nasi goreng. Sebelum di warung nasi goreng, aku pernah kerja di SPBU sebentar. Sebelumnya juga pernah di minimarket. Bukan cuma nabung buat beli-beli yang aku mau, tapi … kalau aku kerja, aku jadi punya teman dan enggak kesepian.”


Kali ini Dul mengangguk lebih mantap. “Oke, enggak ada teman dekat,” tegas Dul.


“Sampai detik ini … baru Abdullah yang cium aku. Kalau memang sungkan mau nanya langsung. Itu sekedar informasi,” kata Annisa, mengangkat alisnya dan merapatkan pintu pagar. “Selamat malam,” sambungnya dengan wajah menahan senyum.


Dul ikut menahan senyum. Ia lalu mengatupkan mulutnya seraya mengangguk. Setelah memastikan Annisa menutup pintu pagar, ia memutar tubuhnya dan membuka topi untuk dilemparkannya sedetik ke udara.


“Yes,” katanya sambil memakai topi kembali. Ia lalu bersiul sambil berjalan. Sesekali kakinya menendang kerikil.


Di dalam mobil ….


“Ya ampun, Mas …. Dul sesenang itu. Kira-kira mereka ngobrolin apa? Annisa ngomong apa sampai Dul senyumnya kaya gitu? Astaga … Dul udah besar, Nak.” Dijah menepuk-nepuk lengan Bara dengan tatapan tertuju pada Dul yang sedang menelepon di dekat pos polisi.


“Enggak tau ngomongin apa. Tapi dari ekspresi Dul, Annisa kayanya belum punya pacar.” Bara memandang Dijah.


“Serius, Mas? Mas, kok, tau? Pengalaman banget ini ….”


PLAKK


Dijah menepuk lengan Bara. “Pasti Mas begitu juga dulu.” Dijah mendengkus.


“Ya, iya. Mas dulu juga begitu. Namanya juga laki-laki normal jatuh cinta.”


“Ck, bikin kesel,” kata Dijah.


“Ternyata kamu benar-benar udah jadi ibu-ibu banget, ya. Mau tau, dikasi tau. Udah tau, kesel sendiri.” Bara mencubit pelan pipi Dijah. “Mending enggak usah tau semua. Mas juga malu.” Bara melihat Dul menaiki taksi.


“Malu kenapa?” tanya Dijah.


“Malu karena pernah begitu. Meski kalau diinget tetap bikin senyum-senyum sendiri … tapi tetap aja malu kalau harus membicarakan kesalahan masa lalu. Muda itu memang masa di mana tiap orang sering enggak bijaksana. Itu artinya kita semua cuma manusia biasa. Tapi untuk Dul … Mas yakin dia bisa lebih bijaksana dari Mas sewaktu seusianya. Dul adalah anak yang lebih dulu sadar soal dunia sekeliling dibanding anak seusianya. Dul itu beda. Spesial,” ucap Bara, memencet hidung Dijah.


Dijah melihat Dul membuka pintu taksi. “Udah naik.” Dijah menunjuk taksi biru yang perlahan melaju meninggalkan tepi jalan.


“Dul udah naik taksi. Kita pulang sekarang. Jangan lupa nanti alasannya kamu tiba-tiba kepengin makan nasi goreng.” Bara melajukan mobil mengikuti ke mana taksi yang ditumpangi Dul berbelok.


“Tadi kayanya ngomong sama Mima mau beli bakso mercon.” Dijah berpikir-pikir.


Tadinya, Bara ingin berangkat sendiri melihat Dul bersama siapa dan sedang apa. Sudah hampir tengah malam dan mereka suami istri sama-sama belum bisa tidur. Lebih tepatnya tak mungkin bisa tidur kalau anak yang tidak dilihat selama lebih dari lima bulan datang tapi belum tiba di rumah. Setidaknya mereka harus tahu di mana Dul berada.


Bara hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk mencari di sekitar tempat yang lokasinya dibagikan oleh Dul. Saat melihat Dul duduk sendiri di satu meja dengan pandangan terus mengikuti seorang gadis yang tak asing lagi, Bara memutuskan menunggu Dul. Putra mereka itu pasti akan pulang sendirian lewat tengah malam. Status Dul yang masih mahasiswa sekolah kedinasan, membuat Bara merasa perlu memastikan Dul untuk tidak terlibat suatu hal yang tidak diinginkan. Teringat kalau dulu dirinya sendiri pernah jadi korban pengeroyokan tengah malam.


“Kasihan Annisa, ya Jah …. Kayanya memang terjadi sesuatu dengan keluarganya.”


“Hidup itu memang selalu penuh kejutan, Mas. Kaya aku yang rasanya baru kemarin mulung Mbok Jum di panas-panasan, terus ada laki-laki naik motor merah yang maksa ngajak pacaran. Meski sebel juga karena kesannya maksa, tapi aku aku seneng ada yang merhatiin. Tapi kalau dipikir-pikir lagi … mungkin aku bukan sebel didekati. Aku cuma malu. Jadi … kurang lebih aku paham perasaan Nisa. Kalau memang Dul suka, aku enggak mau rewel, Mas. Semoga Nisa juga mau sama Dul. Aku lebih khawatir kalau anakku ditolak.” Dijah memandang Bara dengan wajah sedikit cemberut.


“Mas optimis Dul enggak akan ditolak. Kita pura-pura enggak tahu aja, Jah. Tunggu sampai Dul ngomong sendiri.”


“Itu Dul udah berhenti taksinya.”


Mereka sudah tiba di depan pagar rumah. Dijah cepat-cepat turun membuka pengait pagar. Wajahnya sengaja dibuat seberang mungkin.


“Ibu kira Mas udah sampai di rumah. Tau gitu Ibu sama Ayah nongkrong lebih lama.” Dijah membuka pagar lebar-lebar. Dul menyongsong ibunya setelah membayar supir taksi.


“Memangnya dari mana? Yang bukain pintu siapa? Mima belum tidur?” tanya Dul.


“Makan bakso mercon." Dijah terkekeh. "Kunci dari dalam dicabut, Ibu bawa kunci,” jelas Dijah.


“Tumben Mima enggak minta ikut,” kata Dul. Ia menggeser tubuh Dijah ke samping dan menggantikan ibunya menutup pagar setelah mobil Bara masuk.


“Udah cemberut juga, tapi Ibu bilang kamu bakal sampai rumah. Taunya malah barengan.” Dijah melirik Bara yang baru keluar dari mobil. “Mmmm … Mas Dul baru ketemu siapa? Robin dan Putra?” tanya Dijah.


Dul seakan tersadar dari euforia pertemuannya dengan Annisa tadi. Beberapa detik ia hanya berdiri memandang Dijah. Tatapan ibunya sejak dulu selalu membuatnya lemah. Namun, saat itu Dul ragu mengatakan soal pertemuannya. Sudah lewat tengah malam dan ia masih bersama seorang gadis. Annisa bisa dinilai tidak baik. Sedang untuk menjelaskannya saat itu juga, mereka semua pasti sama lelahnya. Bara yang ikut berdiri di depan Dul semakin membuat rikuh Serma Taruna itu.


Akhirnya Dul hanya mengangguk lemah. “Tadi memang ketemuan sama Putra dan Robin. Yoseph juga,” jawabnya.


“Oooo,” gumam Dijah, mengangguk-angguk. “Ayo, peluk Ibu sekarang. Kamu baru sampai rumah belum kasih salam sama Ibu dan Ayah.” Dijah merentangkan tangannya. Dul lalu segera maju memeluk ibunya.


“Aku kangen Ibu,” ucap Dul.


"Ibu juga kangen." Dijah menepuk-nepuk punggung Dul dan menenggelamkan wajah di pelukan itu. Setelah merasa cukup, ia melepaskan Dul dan memandangnya dari ujung sepatu sampai topi yang belum dilepaskan putranya.


“Kayanya Ibu memang kangen banget, Mas,” kata Bara.


Dijah kembali mengangguk memandang Dul. “Jam berapa keluar asrama tadi?” tanyanya.


“Tengah hari selesai upacara pembubaran,” jawab Dul.


“Dari tengah hari? Untung masih wangi,” ucap Dijah kalem. Kemudian meninggalkan Dul dan Bara di teras.


Dul mengangkat lengan dan menciumnya satu persatu. “Memang masih wangi, kan? Memangnya kenapa, sih?” Dul memandang heran pintu yang baru terbuka. “Ibu kenapa, Yah?”


“Enggak tau. Pokoknya kata Ibu untung masih wangi. Kalau Ibu ngomong gitu, berarti kamu memang masih wangi. Aman. Ayo, kita masuk.”


To Be Continued