Dul

Dul
156. Dari Cerpen 'ANAK IBU' (1)



PS. Buat yang sudah membaca, harap kembali dibaca sampai selesai karena versi cerpen dilanjut menjadi bagian part.


******


Dul sedang duduk di bangku kecil dari kardus yang dipadatkan dan dibungkus ketat dengan plastik. Di tangannya tergenggam sebuah mainan robot yang sebelah kakinya tak ada. Mainan robot itu masih cukup bagus. Ibunya memungut dari pembuangan sampah dan sudah mencucinya sampai bersih.


Di kejauhan, ibunya masih menunduk mencakari gunungan sampah dengan sebuah keranjang di punggungnya. Matahari cukup terik. Ibunya tak memberinya izin untuk membantu. Kata ibunya, usia lima tahun itu harus dipergunakan untuk bermain, bukan membantu orang tua mencari nafkah.


Suara sepatu boot karet ibunya yang menginjak sampah kering terdengar mendekat. Dul mendongak, “Udah selesai, Bu?” tanyanya.


Ibunya mengusap peluh dan mengangguk tersenyum. “Dapetnya enggak banyak, tapi cukup buat masak hari ini dan jajan kamu besok pagi.”


Dul ikut bahagia melihat segurat senyum letih, namun sangat cantik di wajah ibunya. Kata Mbah Wedok, ibunya masih sangat muda saat melahirkannya ke dunia. Pernikahan orang tuanya hanya bertahan sebentar saja. Ibunya dipaksa putus sekolah dan menikahi laki-laki yang tak dicintainya.


Alasan yang belum dimengerti Dul sampai detik itu. Sama dengan alasan kenapa bapaknya selalu memaki dan memukuli ibunya tiap datang memberi selembar dua lembar lima puluh ribu untuk jajannya.


“Siang ini mau makan apa? Kalau nunggu Ibu masak, kayanya enggak keburu. Kamu pasti udah laper.”


“Beli nasi juga enggak apa-apa. Pakai ayam goreng boleh, Bu?” Dul memandang wajah ibunya. Sedetik kemudian dia melonjak senang. Ibunya mengangguk menyetujui.


“Ibu beresin ini dulu. Hari ini, Mbok Jum yang biasa jadi temen Ibu mulung sampah, pergi bawa suaminya berobat. Kalau udah pergi, meski sebentar, pasti enggak ada penghasilan hari ini. Jadi, Ibu mau naruh ini. Di sini.”


Dul melihat ibunya mengacungkan selembar sepuluh ribu dan meletakkannya di bawah keset kaki rumah kardus Mbok Jum.


“Uang Ibu banyak, ya?” tanya Dul.


“Banyak. Dibanding kemarin. Hari ini Ibu punya empat puluh ribu. Kemarin cuma dua puluh lima ribu. Banyak atau sedikit tergantung kita mensyukurinya. Ayo, kita ke pengepul dulu. Dari sana kita pergi ke warung nasi.”


Dul bangkit dari bangku kardusnya dan meraih tangan ibunya yang terulur. Bersama-sama mereka menyusuri gang-gang sempit untuk memotong jalan agar lebih dekat ke pengepul. Ibunya membawa karung plastik besar berisi kaleng minuman yang akan dijual. Bagi mereka, kaleng-kaleng minuman bekas itu, adalah harta yang sangat berharga untuk mengisi sejengkal perut.


Walau terik matahari menyengat dan keringat mulai membasahi dahi dan punggungnya, Dul cukup bahagia. Siang itu dia akan makan siang bersama ibunya. Itu adalah kesempatan yang langka.


Selama ini ibunya memilih menyewa sepetak kamar dan hidup terpisah darinya karena ulah sang bapak. Ibunya merasa lebih aman karena bapaknya tak bisa menemui dan memukul saat mabuk. Dul tak mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi saat ia melihat ibunya lebih tenang, tidak luka-luka, itu sudah membuatnya cukup bahagia.


“Mereka sedang apa, Bu?” tanya Dul saat ia dan ibunya melintasi tepian sungai dan melihat kerumunan anak-anak saling berebutan sesuatu dari kotak.


“Kenapa mesti hari Jumat? Memangnya hari lain enggak ada yang sedekah?” tanya Dul lagi, mendongak memandang wajah ibunya.


“Hari lain ada yang sedekah, tapi enggak sebanyak hari Jumat. Karena katanya hari Jumat lebih baik,” sahut ibunya, memandang ke kerumunan anak-anak yang kini sudah duduk berpisah dan tekun dengan nasi bungkus di tangan masing-masing.


“Kalau yang sedekah di hari lain juga banyak, pasti enggak perlu rebutan,” ucap Dul, masih memandang anak-anak pedagang asongan, pengamen dan badut berkostum tokoh kartun.


“Ada yang sedekah hari Jumat aja terkadang masih ada yang ngomong sedekah itu malah memanjakan. Meski enggak semua, tapi memang benar. Yang enggak mampu makan lauk enak di hari biasa, dimanjakan di hari Jumat.” Ibunya tertawa sumbang. “Ayo, jalannya lebih cepat. Ibu ikut laper liat mereka makan.” Ibunya mempercepat langkah sambil menggandengnya.


Mereka tiba di pengepul dan ibunya mengeluarkan semua hasil pungutan hari itu dengan cekatan. Dul diminta duduk di sebuah timbangan besar tua yang tak terpakai. Ia memperhatikan cara ibunya bernegosiasi mempertahankan keyakinannya bahwa hasil pungutannya hari itu berharga lebih mahal lima ribu rupiah dari yang ditawarkan agen pengepul. Berdalih sudah langganan, agen pengepul itu mengangsurkannya dua lembar pecahan dua puluh ribu. Ibunya tersenyum sumringah.


“Ayo, kita bisa makan pakai lauk ayam,” kata ibunya seraya menjejalkan yang ke kantong celana.


Walau terik matahari semakin menyengat tepat di atas kepalanya, Dul melangkahkan kaki dengan riang. Lauk ayam goreng sudah membayang di benaknya. Keluar dari jalanan kecil mereka langsung tiba di tepi jalan raya. Ibunya melambaikan tangan pada angkutan umum yang melintas. Angkot sedikit padat. Dan demi menghemat ongkos, ia duduk di pangkuan ibunya. Angkot itu membawa mereka langsung ke dekat gang rumah Mbah Lanang dan Mbah Wedok, orang tua kandung ibunya.


“Kita makan ayam goreng dan sebelum ibu antar kamu pulang, kita belanja jajan di mini market," terang ibunya.


Dul mengangguk menyetujui rencana ibunya. Mereka menuju ke gerai ayam goreng ternama yang tak jauh dari gang rumah Mbah. Gerai ayam goreng itu terletak di dalam SPBU besar, persis di sebelah kantor polisi.


“Bu, lihat itu. Mereka sepertinya baru dapat nasi sedekah,” kata Dul, menunjuk tiga orang pengamen anak-anak yang masing-masing memegang kotak nasi. Ketiganya berbicara sambil tertawa-tawa.


“Iya, mereka juga baru dapat sedekah nasi tepat di jam makan siang. Benar-benar suatu kemewahan,” sambut ibunya.


“Kalau sudah besar dan punya uang sendiri, aku mau bagi-bagi nasi, Bu.” Dul mendongak memandang ibunya.


“Kalau Ibu ada rejeki, Ibu juga mau bagi-bagi nasi. Di dekat tempat pembuangan sampah, banyak anak-anak yang enggak pernah makan ayam. Makanya, kalau Ibu masih bisa beliin kamu ayam goreng bermerek, kamu wajib bersyukur.”


Siang itu mereka duduk berhadapan di meja terluar gerai ayam goreng. Ibunya membeli satu paket yang berisi dua potong ayam goreng dan setangkup nasi. Berdua mereka meresapi kelezatan dari rezeki yang mereka peroleh hari itu. Dul memakan menu lengkap, dan ibunya bersikeras bahwa ianya sudah cukup kenyang dengan sepotong ayam goreng.


“Jajanan ini disimpan untuk beberapa hari, ya. Mungkin dua hari ke depan Ibu nggak sempat jenguk kamu ke rumah Mbah. Ada acara kampanye di lapangan besar. Ibu mau dagang air mineral. Kalau datang malem-malem, Ibu khawatir ketemu Bapak kamu. Kamu enggak apa-apa, kan, Dul?” ibunya menatap dan mengusap dahinya yang berpeluh.


“Enggak apa-apa. Jangan sampai Ibu ketemu Bapak. Nanti dipukul lagi,” kata Dul.


To be continued