
“Udah selesai, kan? Aku laper.”
Suara Ibra membuat Dul tersentak. Pandangannya sempat bersirobok sedetik dengan Annisa. Namun gadis itu cepat-cepat mengalihkan pandangan. Ternyata apa yang didengarnya tadi benar, pikir Dul.
Penyematan wing itu sudah selesai. Pertanda kariernya sebagai penerbang tempur TNI AU sudah dimulai. Semua harusnya berjalan lancar dan ia bisa meninggalkan Jogja dengan langkah ringan menuju daerah penempatannya yang baru. Nyatanya … semua tidak semudah itu. Sejak dulu semuanya memang tidak pernah semudah itu, pikirnya.
“Kita kembali ke hotel, ya. Makan di hotel aja. Ibra udah laper.” Bara menggandeng Ibra untuk menenangkan bungsunya yang mulai bosan.
“Boleh… boleh. Ibra mungkin ngantuk. Pagi tadi bangunnya cepat banget,” sahut Annisa dengan wajah yang diusahakannya tampak ceria.
Di antara kejadian yang tidak akan dilupakannya seumur hidup, kejadian hari itu adalah termasuk salah satunya. Dijah menatap muram semua wajah anggota keluarganya hari itu. Ia dan Bara berusaha keras agar semuanya baik-baik saja. Hal itu sekaligus menjadi keyakinan mereka sendiri bahwa semuanya memang baik-baik saja.
Mereka tidak lama di Jogja. Sehari sebelum kepulangan, Dul sudah bisa bergabung bersama keluarga. Ia mengambil satu kamar tambahan di hotel yang ia peruntukkan bagi dirinya sendiri dan Ibra. Benar saja, Ibra melompat kegirangan ketika mengetahui Dul sudah ‘lepas’ dari asrama.
“Malam nanti kita cerita-cerita ya, Mas.” Ibra masih menggelayuti Dul yang masih mengenakan ranselnya.
“Kita cerita sampai pagi,” sahut Dul tertawa kecil. Ia harus tertawa. Di lobi hotel sedang ada ayah dan ibunya. Mima yang juga sedang murung tidak ia masukkan ke dalam hitungan. Gadis itu bagai terkurung dalam pikirannya sendiri. Seringnya melamun.
Tawa selanjutnya yang terdengar adalah tawa anggota keluarga yang nyaris bersamaan. Annisa pun ikut tersenyum hangat saat melihat kebersamaan Dul dan Ibra. Rasa iri yang dinilainya tak pantas menyusup di dada. Andai semua kakak laki-lakinya dulu bisa sepeduli dan sehangat itu padanya. Nisa menghela napas pendek.
"Ayah, Ibu ... Nisa ke kamar duluan, ya. Mau beres-beres koper," kata Annisa.
"Oh, iya. Ibu juga belum beres-beres koper. Untung Nisa ngingetin," sahut Dijah dengan mimik terkejut yang dibuat-buat. "Ayo, Mas. Bantu aku beres-beres. Mima dan Ibra juga bantu Ibu," kata Dijah.
"Memangnya Ibu bawa pakaian seberapa banyak sampai mesti kita semuanya bantu?" Mima memang mengerucutkan mulutnya. Tapi ia menggandeng Ibra agar melepaskan Dul. Ia paham ibunya ingin Dul dan Annisa bicara berdua saja. Perjalanan ke Jogja itu setidaknya harus membawa sedikit cerita.
Sejak mengatakan hendak membereskan bawaannya dan mendengar jawaban Dijah, Annisa dan Dul diam seperti terhipnotis. Keduanya seakan memang menunggu ditinggalkan hanya berdua.
"Bisa bicara berdua aja?" tanya Dul, ketika punggung empat orang sudah lenyap ke dalam lift.
"Ngomong di mana? Di lobi hotel ini?" Annisa mengedarkan pandangannya ke hamparan lobi.
Suara musik instrumen piano yang mengalun lamat-lamat ditambah beberapa tamu yang menempati sofa lobi tanpa bicara, membuat keadaan di lobi hotel itu sangat lengang. Setiap kalimat yang mereka ucapkan pasti akan terdengar dengan sangat jelas.
"Boleh," sahut Annisa, berjalan mendahului Dul menuju pintu kaca yang terletak di sebelah deretan resepsionis. Pintu itu membawanya ke sebuah tangga manual. Taman dan kolam renang itu terletak di bawah. Ia harus pelan-pelan menuruni tangga untuk mencapai tempat yang Dul maksud.
Selama berjalan santai menuju taman, sempat terlintas keinginan Annisa bahwa Dul akan menggandeng atau bahkan merangkulnya seperti biasa. Tapi ternyata Abdullah tetaplah Abdullah, pikirnya. Dul yang selalu sopan dan tak akan melakukan sesuatu tanpa aba-aba. Apalagi dalam keadaan mereka sedang dingin seperti saat itu. Mendekatinya dalam jarak dekat pun, Dul mungkin tak berani.
Bersama-sama mereka menuruni tangga dan berbelok menuju taman di dekat kolam renang. Beberapa payung pantai dengan kursi-kursi besi terhampar di dekat mereka. Dul mendekati salah satunya. "Duduk di sini," ucap Dul, memegang lengan Annisa dan membawanya ke salah satu kursi.
Sentuhan itu membuat Annisa terhenyak sejenak. Beberapa detik ia lupa apa yang akan dikatakannya dalam pembukaan obrolan mereka.
"Ke mana aja selama ini? Semua pesanku enggak pernah dibalas." Dul tak tahan untuk menanyakan hal itu lebih dulu. Jarak yang jauh dan dinding asrama tak memungkinkan ia untuk berpacaran seperti layaknya teman-teman seusia mereka.
"Menurut kamu buat apa aku baca dan balas pesan-pesan kamu? Secara teknis kita enggak punya hubungan lagi. Kita bukan sepasang manusia yang punya kewajiban untuk saling bertukar kabar."
Dul menggeser kursi lebih mendekat dan hampir sejajar dengan Annisa. Tadinya mereka berdua bisa dengan mudah memandang wajah satu sama lain, tapi hal itu malah membuat Dul merasa mereka seperti pengacara dan jaksa yang melempar argumen.
"Aku udah minta maaf karena enggak datang ke wisuda kamu, Nisa .... Aku mau dan sangat ingin hadir. Tapi aku enggak bisa mengabaikan ucapan Papa kamu. Bagaimana juga Papa kamu adalah orang tua. Harus didengar," tegas Dul, memandang wajah Annisa. Gadis itu memalingkan wajahnya ke tempat yang berlawanan.
"Aku juga tau kalau mendengarkan orang tua adalah hal yang harus kita lakukan. Tapi bukan berarti kamu enggak mempertimbangkan permintaan aku." Annisa berputar memandang Dul. "Aku yang minta kamu datang ke wisudaku. Seperti aku yang datang ke acara kelulusan kamu. Aku minta dan kamu penuhi. Sesederhana itu."
"Tapi Papa kamu enggak mau aku ada di sana...."
"Ya kamu harus usaha. Tunjukin ke Papa kalau kamu serius sama aku. Kamu datang dan ada di sana untuk aku."
"Wisuda itu cuma untuk dua orang, Nisa. Papa kamu bawa Mama kamu juga."
"Wanita itu bukan mamaku!" Annisa memandang Dul dengan berang. "Aku udah bilang enggak peduli dengan wanita yang harus aku panggil Mama. Dia bukan mamaku. Mamaku udah enggak ada, Abdullah. Mamaku udah meninggal dan setiap bulan aku selalu jenguk Mama di sana. Kalau Papa memaksa aku untuk mengakui wanita itu sebagai mamaku, kamu jangan gitu, Abdullah. Kamu jangan ikut paksa aku agar menyebut wanita itu sebagai Mama ...." Annisa tidak sesegukan. Tidak terisak. Tapi air matanya sudah membasahi pipi.
"Aku dianggap menjadi orang yang mengambil kamu dari keluarga. Aku enggak mau hubungan kita dimulai dengan perselisihan. Aku mau Papa kamu menganggap aku sebagai pria dewasa yang menyayangi anaknya. Bukan sebagai pria yang mengambil anak perempuannya dengan paksa. Kalau aku ngotot atau memaksakan diri buat hadir di acara wisuda kamu, Papa kamu pasti semakin berang, Nisa. Papa kamu pasti semakin enggak suka denganku. Aku bakal semakin sulit masuk ke keluarga kamu."
To be continued