Dul

Dul
091. Cerita Annisa



Sepuluh orang murid berjalan menyusuri jalanan yang dipenuhi papan bunga dukacita. Mobil Bara tidak bisa parkir terlalu dekat karena banyaknya mobil pelayat. Dul celingukan mencari di mana gerangan Annisa berada. Apa gadis itu di sebelah jenazah ibunya? Sakit apa ibunya Annisa? Berapa saudara kandung yang dimiliki Annisa? Dul kembali mengulang-ulang semua pertanyaan yang sudah ia lontarkan dalam pikirannya sepanjang perjalanan.


"Adik-adik temannya Icha, ya?" tanya seorang pria paruh bara.


"Benar, Om. Kami dari sekolah Annisa," jawab Dul yang berada di posisi paling depan.


"Saya Om-nya Icha. Adik almarhumah mamanya. Icha di dalam di sebelah mamanya. Mama Icha belum dikebumikan karena sedang menunggu kakak laki-lakinya yang sulung tiba. Ayo...ayo, masuk aja." Pria itu mengantarkan Dul dan teman-temannya sampai tiba di depan pintu.


Ruang tamu rumah Annisa cukup besar. Di sana, Dul dengan mudah menemukan Annisa. Beberapa saat Dul tak menyadari keberadaan teman-temannya. Ia berdiri membeku melihat Annisa yang setengah berbaring mendekap ibunya yang ditutupi kain panjang. Rambutnya yang hitam terlihat menutupi wajah.


"Ayo, kita ke dekat Nisa aja," ajak Yani, mendahului Dul.


Awalnya, Dul mengira kalau Annisa tertidur. Tapi, Semakin langkah Dul mendekati kasur di mana ibu Nisa dibaringkan, ia melihat kalau tangan gadis itu bergerak mengusap-usap tangan ibunya.


Samar-samar Dul mendengar suara lirih Annisa yang berkata, "Mama ... kenapa tinggalin Icha ... Icha udah rawat Mama ...."


Dul menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering. Sejenak ia mengingat-ingat bagaimana caranya menghibur orang yang sedang bersedih? Dul berdecak pelan. Ia tidak tahu caranya. Pikirannya kemudian memikirkan apa yang ingin ia terima dari orang lain saat ia sedang bersedih? Apa yang dulu dilakukan Bara ketika ia merasa sendiri?


Ah, aku baru ingat. Dulu Ayah cukup datang ketemu aku, aku udah seneng.


"Dul, duduk kau. Dah cukup lama kami nengok ini," bisik Robin, menepuk bokong Dul yang masih berdiri di depan mereka.


Dul tersadar dan menoleh ke belakang. "Maaf," katanya, cepat-cepat membuka ranselnya dan ikut duduk. Posisinya paling depan dan di sebelahnya duduk dua orang murid perempuan dari kelasnya.


Dul menoleh ke belakang sekilas. Robin duduk di sebelah Yani dengan wajah tegang. Sedangkan Yani yang duduk di dekat pelayat lain, sepertinya sedang sibuk mewawancarai pelayat itu untuk mengorek informasi soal Annisa dan ibunya. Dul sedikit senang karena Yani benar-benar menjalankan tugas sebagai sekretaris OSIS dengan sangat baik. Gadis itu memang supel dan dan selalu berani.


"Put," panggil Dul. Temannya yang bertubuh semok itu mengangkat wajah dan sedikit tersipu.


"Aku jadi bayangin kalau ibuku yang meninggal. Aku belum bisa nyenengin, masih banyak ngabisin uang. Ibuku bangun setiap hari jam dua pagi. Pasti kurang tidur," ucap Putra dengan suara tercekat. Matanya kembali basah.


Mendengar itu, Dul langsung memalingkan wajah. Tidak lucu kalau mereka berdua berpelukan di sana dan saling menangisi hal yang mereka bayangkan. Hari ini mereka harusnya menghibur Annisa.


Dul perlahan menggeser duduknya ke depan. Sedikit demi sedikit ia semakin mendekati Annisa.


"Nisa," panggil Dul.


Gadis itu menghentikan usapan tangannya pada sang ibu, lalu menegakkan kepala dan menoleh ke arah Dul. Annisa merapikan lembaran rambutnya yang menempel di wajah karena air mata. Wajahnya sangat sembab dan terlihat pucat.


"Abdullah," sapa Annisa. Suaranya parau. Nyaris tak terdengar.


"Aku datang sama teman-teman," Dul menoleh sekilas ke belakang untuk menunjukkan temannya yang lain.


"Baik banget," sahut Annisa, memaksakan seulas senyuman yang tak disetujui sorot matanya. "Mamaku udah enggak ada, Dul .... Padahal aku udah kasi semua waktuku. Tapi Mama pergi juga. Bertahun-tahun ... bertahun-tahun, Dul ...." Annisa kembali menoleh memandang jenazah almarhumah ibunya. Gadis itu meletakkan punggung tangannya di pipi wanita yang melahirkannya itu dari balik kerudung putih menerawang. "Tapi ... kata orang-orang Mama sekarang udah enggak sakit lagi. Ya, kan, Ma? Mama enggak sakit lagi?" Annisa mengusap pipi ibunya.


Dul merasa dadanya penuh. Ia tak sanggup mengatakan apa pun. Hanya diam menatap tangan Annisa yang gemetar saat berada di pipi ibunya.


"Mama enggak sakit lagi tapi ninggalin Icha yang sakit hati. Icha sendirian, Ma .... Icha enggak ada teman ngobrol lagi. Padahal Icha udah bilang ... Icha enggak apa-apa. Icha enggak capek," kata Annisa. Ia lalu kembali menoleh pada Dul. "Mama bilang enggak mau terus ngerepotin aku, Dul .... Padahal aku enggak ngerasa direpotin. Sekarang aku enggak punya Mama lagi," tambahnya pelan. Annisa kembali menunduk dan memeluk ibunya.


To Be Continued