Dul

Dul
077. Merangkai Hari



Katanya masa SMA masa mencari jati diri. Pergi sekolah berdandan rapi dan wangi. Berjalan menegakkan tubuh dan menegap-negapkan langkah kaki. Bergaya apik agar terlihat bak anak masa kini. Meski siangnya tetap bau matahari.


"Benci kali aku pelajaran matematika. Gak kelen tengok putih semua mataku mengerjakan soal tadi?" Robin membereskan tasnya sambil bersungut-sungut.


"Sependapat. Aku rasa jarang banget orang yang suka matematika selain waktu ngitung duit yang keliatan." Putra ikut menimpali.


Dul memutari tubuhnya menghadap ke belakang. "Jadi, gimana? Apa kita masukin usulan buat menghapus matematika dari kurikulum?" tanya Dul, memandang Robin.


"Kalo memang bisa, udah lama ditelepon mamakku Menteri Pendidikan. Sayangnya enggak bisa," sahut Robin.


Gantian Nina yang menoleh ke sebelahnya. "Jadi, gimana? Kamu jadi pinjem catatanku?" tanya Nina, memandang Dul.


"Catatanku udah beres. Tadi Robin yang belum sempat catat semua. Bin, ini catatan Nina. Tulisannya rapi banget. Bulatan item mata kamu enggak akan ngilang kalau baca ini." Dul meraih catatan matematika Nina dan menyodorkannya pada Robin.


Sedetik wajah Robin terlihat bingung, detik berikutnya ia menangkap maksud Dul dan segera menyimpan catatan itu. Wajah Nina menunjukkan sedikit keterkejutan. Namun, kembali berubah seperti biasa.


"Langsung pulang? Atau kita nongkrong di warung Mamak si Putra? Uang jajanku masih ada sisa buat sepiring ketoprak. Cemana?" Robin lagi-lagi memandang Dul.


"Boleh. Tapi jangan lama-lama, ya. Kalau siang gini Ibra masih tidur bareng ibuku. Enggak ada yang diajakin main," kata Dul.


"Si Mima cerewet gak mau kau ajak main sama-sama?" Robin berdiri menyampirkan tasnya.


"Enak aja ngatain adikku cerewet. Meski memang bener, tetep enggak didenger." Dul terkekeh. "Ayo, Put. Ibumu hari ini dagang, kan?"


"Dagang. Semoga jam segini udah sisa sedikit, ya. Kalau sisa banyak kasian aku," sahut Putra yang giliran berdiri keluar dari sudut kursinya.


"Kok, kau pula yang kasian?" Robin berdiri menunggu teman-temannya di dekat meja guru.


"Kalau dagangan enggak habis, ibuku enggak masak. Makan pagi, siang, malam diganti ketoprak. Saking seringnya makan ketoprak, makan menu apa pun rasanya udah seperti ketoprak buatku," jelas Putra.


Nina membereskan tasnya berlama-lama. Tak ada orang lain di kelas itu selain mereka. Semuanya sudah pergi menghambur keluar. Sebagian besar mencari jalan menuju rumah masing-masing. Sebagian lagi masih tertinggal di sekolah untuk mengikuti macam-macam kegiatan ekstrakurikuler. Atau juga jam pelajaran tambahan bagi murid tahun terakhir.


"Kamu mau ikut ke warung ibunya Putra? Kita mau makan siang di sana. Udah lama enggak ke sana." Tersisa Dul berdiri menunggui Nina. Sejak tadi ia memperhatikan Nina seperti ingin mengatakan sesuatu. Mungkin gadis itu ingin ikut bersama mereka tapi sungkan mengatakan lebih dulu. Begitulah pikiran Dul. Ternyata pikiran Dul itu tak salah.


"Mau...aku juga udah laper," sambut Nina, tersenyum manis seraya membetulkan letak kacamatanya.


Keluarga Putra mendiami sepetak rumah yang bagian depannya terdapat warung ketoprak di mana ibunya berdagang. Ayahnya adalah pengemudi ojek daring yang berangkat subuh dan pulang tengah malam. Putra hanya memiliki satu saudara laki-laki yang duduk di bangku SMP. Tubuh mereka tak jauh berbeda. Saat Robin bertanya soal masalah kesuburan semua anggota keluarga mereka selain ayahnya, Putra menjawab kalau mereka semua penganut 'Hati senang walaupun tak punya uang'.


Karena mendengar hal itu, Robin ikut menambahi kalau Ayah Putra mungkin tidak berperasaan yang sama karena nyata ayahnya bertubuh paling kecil.


Warung ibu Putra terlihat sepi siang itu. Hanya ada dua orang siswa kelas 3 SMA yang makan di sana karena akan mengikuti jam pelajaran tambahan pukul tiga sore.


Lokasi favorit Dul di tempat itu adalah bangku panjang yang menyandari dinding rumah. Dari posisi itu dia bebas melihat siapa-siapa yang melintas untuk menuju halte yang terletak di luar jalan. Ditambah dengan komentar jujur Robin serta Putra yang bicara sambil menoleh ke arah ibunya, aktifitas memperhatikan siswa-siswi lain tak pernah membosankan. Sedangkan Nina, siang itu banyak tersipu dan tersenyum untuk topik-topik pembicaraan yang dirasanya sedikit absurd.


"Udah setengah tahun lebih sekolah di tempat yang sama, kelas yang sama, bahkan meja yang sama, aku enggak pernah tau nama panjang Robin. Memangnya siapa, sih? Sok misterius," kesal Putra, meletakkan dua piring ketoprak yang baru selesai diracik ibunya ke hadapan Dul dan Robin.


"Masa, sih, enggak tau," sahut Dul.


"Iya. Bukannya bisa diliat atau dengar kalau guru lagi absen?" Nina ikut menimpali. Ia menyingkirkan buku pelajaran yang dibukanya untuk menerima ketoprak yang diantarkan Putra.


"Memangnya kamu tau nama lengkap Robin?" Putra balik bertanya pada Nina. Anak perempuan itu menggeleng. "Enggak tau juga, sih," kata Nina mulai mengaduk makanannya.


"Kalo aku kasi tau jangan palak kau, ya," ujar Robin, bertukar pandang dengan Dul seraya terkekeh-kekeh.


(Palak : kesal)


Putra mengambil tempat duduk di sebelah Nina, menghadap ke arah Robin dan Dul yang menyandari dinding. Di hadapannya tersaji sepiring nasi, telur balado dan sayuran ketoprak yang disiram bumbu.


"Robin LS .... Mau nebak juga enggak ada bayangan," gumam Putra.


"Gimana, ya ...." Putra tercenung. "Entah kenapa memang agak kesel," sahut Putra.


Semuanya bertukar pandang, lalu tertawa terbahak-bahak. Ibu Putra ikut tertawa mendengar guyonan remaja yang memang kerap didengarnya. Sudah tak mengherankan lagi. Karena dagangan sudah tersisa sedikit, wanita itu mulai membereskan steling kaca dan pergi masuk ke rumah.


"Pulang nanti naik apa, Dul?" tanya Nina.


"Tadi Pakdhe-ku kirim pesan, nanya aku udah pulang atau belum. Karena aku masih di sini katanya kalau pulang bisa bareng. Ayahku sedang seminar di luar kota, Pakdhe-ku ini rumahnya deketan dengan rumahku," jelas Dul.


Nina mengangguk-angguk. Robin melirik reaksi gadis itu dan sedikit merasa ada perbedaan di raut wajahnya. Dul melihat raut wajah Robin dan mengerti apa yang dipikirkan temannya. Sedang Putra masih berkonsentrasi menghabiskan makan siangnya.


"Tapi aku enggak setiap hari dijemput, kok. Biasa naik angkot atau naik ojek. Kan, udah gede," tambah Dul lagi berniat mencairkan suasana. Ia tak tahu rumah Nina di mana. Mau menawarkan pulang bersama pun, ia tak enak pada Heru. Rasanya tak mungkin menawarkan tumpangan sementara ia sendiri juga menumpang. Dul meringis dalam hati.


Mereka membicarakan tugas biologi yang minggu itu harus dikumpulkan. Dul mengeluarkan kamus IPA milik Annisa yang ternyata masih berguna. Tiap ingin mengetahui istilah-istilah baru dalam mata pelajaran yang berhubungan dengan IPA, Dul selalu teringat akan kamus itu.


"Kamus bersejarah," tukas Putra, melirik kamus di tangan Dul. "Karena kamus ini aku jadi tau seorang Abdullah itu bagaimana," tambahnya lagi.


"Memangnya kekmana?" Robin memandang penasaran pada Putra.


"Abdullah punya penyakit gagap," cetus Putra dengan raut serius.


"Ah, masak sih ... cem betol aja," sahut Robin tak percaya.


Putra sedang asyik menikmati ekspresi wajah Robin yang bingung. Jarang-jarang ia bisa membuat Robin memiliki sesuatu yang tidak diketahuinya soal Dul. Dua orang siswi SMA menghampiri steling kaca dan celingak-celinguk mencari sesuatu.


"Aku bilang juga apa. Kan, aku liat sendiri dia beloknya ke sini," bisik salah seorang siswi yang baru datang.


"Mau beli apa, Mbak? Ketoprak, ya? Berapa? Bungkus atau makan di sini?" Putra berdiri menghampiri calon pembelinya.


"Ditanyanya pula mau beli apa. Nanti dijawab cewek-cewek itu mau beli sparepart mobil bingung dia. Udah besar kali tulisan ketoprak di depan steling itu." Robin terkekeh-kekeh berbisik pada Dul.


Nina mengulum senyumnya karena mendengar ucapan Robin. Tak lupa, Nina mengerling reaksi Dul. Dan tampaknya Dul tidak cukup peka soal itu. Ia asyik menyendok bumbu ketoprak hingga ke dasar piringnya.


"Mmmm ... mau beli ketoprak. Bungkus aja," jawab gadis satunya lagi.


"Oh, aku baru ngeh. Mbak ini siswa kelas dua yang sedang latihan paskibraka, ya?" tanya Putra.


"Iya, bener," jawab gadis itu.


"Dua bungkus aja?" tanya Putra lagi.


Gadis itu mengangguk pada Putra. Lalu, ia menoleh pada Dul yang menunduk di atas piringnya. "Kalau mau ngobrol sebentar dengan Abdullah bisa?" tanya gadis itu.


Robin langsung menepuk pundak Dul di sebelahnya. "Dul, kakak kelas mau ngobrol sama kamu," ujar Robin.


"Hah?" Dul mendongak karena terkejut. "Ngobrol...gimana?" Dul balik bertanya. Di bagian bawah bibirnya berselemak bumbu ketoprak yang gagal masuk ke mulut.


"Nah, ini yang aku bilang tadi. Penyakit gagapnya kambuh," kata Putra, berjalan menghampiri pintu rumah hendak memanggil ibunya.


Robin menyenggol bahu Dul. "Berdirilah kau jumpain kakak cantik itu sebentar. Sana, Kak. Bawa aja dia," pinta Robin.


"Hah? Ke mana?" Dul menatap dua kakak kelas yang terkikik-kikik di depannya. Tangannya kali ini kembali naik ke kepala untuk menyugar rambut.


"Tapi...sebentar," Robin menarik dua lembar tisu dan menyeka mulut Dul yang belepotan dan menjejalkan tisu bekasnya ke tangan Dul.


To Be Continued