Dul

Dul
144. Bukan Karena Jarak



“Kita keliling komplek sambil pelan-pelan Pakdhe jelasin fungsi bagian dalam mobil. Dul duduk di sebelah Pakdhe biar lebih jelas dengar dan lihat penjelasannya. Dua kali putaran, kita ubah posisi. Dul yang bawa, Pakdhe duduk di jok penumpang. Gimana?” Matahari sudah melorot ke ufuk barat, Heru membuka kacamata hitam dan menyelipkannya di atas sun visor. “Kalau setuju semuanya naik,” sambung Heru.


Dul dan Mima serentak bergerak naik. Dul duduk di sebelah Heru dan Mima memilih duduk persis di belakang pengemudi.


“Seperti yang kalian tau … mobil Pakdhe ini bisa dibilang sebagai mobil antik dengan transmisi manual. Pabrikan mobil ini udah bangkrut dan sekarang para kolektor otomotif sedang berlomba-lomba kepengin punya. Mobil ini awalnya dulu cuma diproduksi untuk keperluan militer tentara Amerika. Kemudian dibuat versi untuk masyarakat sipil. Dan inilah dia. Pakdhe bakal jelasin soal transmisinya dulu, ya.”


Dul dan Mima mengangguk-angguk. Meski tidak ikut belajar hari itu, Mima terlihat tekun mendengarkan. Sedangkan Dul, berhasil mengingat semua yang dikatakan Heru dalam sepuluh menit pertama.


“Memang udah seharusnya begitu. Pakdhe enggak heran kalau Dul lebih cepat belajar. Kita bisa tukar posisi sebentar lagi. Pakdhe enggak mau kebanyao teori,” kata Heru.


“Eh, tunggu…tunggu. Apa enggak terlalu cepat? Pakdhe yakin? Bisa didengar sekali lagi hafalannya Mas Dul udah bener atau enggak? Kenapa aku jadi deg-degan?”


“Mima tenang. Mas Dul ini pangkatnya udah Letda. Ujian masuk AAU dulu lebih sulit, masa Mima ragu Mas Dul menghafal hal sedikit begini. Ayo, Dul udah bisa mulai bawa sendiri. Kita masih di dalam komplek.” Heru menepikan mobil dan turun sama sigapnya dengan Dul.


Mima duduk di belakang pengemudi sambil menepuk-nepuk dadanya. “Hati-hati, Mas. Segera kasih aba-aba kalau enggak bisa. Jangan tunggu sampai nabrak,” katanya sambil menepuk-nepuk bahu Dul dari belakang.


“Iya, aman. Mima yang santai, dong. Mas jadi ikutan grogi karena Mima enggak bisa diem. Ayo, Mima mundur ke belakang. Pakai sabuk pengaman. Kalau bisa lilit ke badan Mima biar aman.” Dul mulai mengomel.


“Dih, Mas! Kalau ngomel gini mirip banget sama Ibu. Ya, kan, Pakdhe? Ckckck, ternyata Mas Dul bisa cerewet juga. Apa Mbak Nisa tau kalau Mas Dul bisa bawel gini?” Mima bergeser ke tengah. Melongokkan kepalanya dari tengah jok untuk melihat Dul di belakang kemudi.


“Oh, iya … Nisanya mana? Belum ada ketemu lagi? Dengar dari Ibu, Nisa juga sudah selesai sarjana kedokterannya. Kapan wisudanya? Enggak sekalian lamaran aja?”


“Pssst! Pakdhe …. Soal Mbak Nisa kita skip dulu. Kayanya Mas Dul dan Mbak Nisa sama-sama sedang enggak enak hati.” Mima bergeser ke belakang Heru untuk berbisik dari bagian belakang jok.


“Jangan sok tau,” gerutu Dul ketika menyesuaikan posisi jok agar kakinya lebih nyaman.


“Aku liat Mbak Nisa enggak ada pegang-pegang Mas Dul. Biasanya kalau lagi baikan, Mbak Nisa suka pegang ujung baju Mas kalau jalan deketan. Kemarin jarak berdirinya aja lumayan jauh. Emang lagi berantem, kan?”


“Enggak lagi berantem. Enggak ada yang berantem,” tegas Dul.


“Oh, itu namanya Annisa yang sedang enggak enak hati. Jangan diganggu, dikasih waktu dulu. Mungkin ada sesuatu yang masih ragu mau dia ceritakan. Koplingnya injak dalam, rem juga diinjak, lalu masuk persneling satu, dan angkat injakan kaki pelan-pelan.” Heru memberi perintah pada Dul sesuai teori yang sudah ia berikan.


Mima kembali mundur dan bergeser ke belakang Dul. Wajahnya khawatir seakan-akan mobil itu tak cukup aman buatnya.


“Mmmm …. Biasanya kalau gitu karena apa, ya?” tanya Dul.


“Karena kalau injakan kaki kita di kopling dan di rem dilepaskan tiba-tiba, mesinnya bisa langsung mati. Tersendat-sendat dulu sebelumnya,” jelas Heru.


“Mmmm … maksud aku, kenapa tiap wanita enggak enak hati harus dikasih waktu buat cerita? Kenapa enggak bisa langsung ngobrol aja apa yang salah. Kenapa ragu? Apa karena belum bisa percaya?” Dul mulai melepaskan pedal kopling dan rem sesuai petunjuk Heru. Pelan tapi pasti mobil mulai berjalan normal. Helaan napas lega Mima terdengar dari belakang.


Heru tertawa geli karena hal yang dimaksudkannya ternyata berbeda dengan apa yang dibicarakan Dul. “Mungkin intuisi Pakdhe soal anak muda udah mulai berkurang. Bisa-bisanya Pakdhe enggak nyambung.” Heru kembali terkekeh-kekeh.


“Ini enggak ngebut. Yang ngebut siapa, sih? Begini dibilang ngebut.” Dul kembali membalas Mima dengan omelan.


“Jawaban yang tadi masih perlu dijawab? Pakdhe khawatir bakal lupa kalau enggak dijawab sekarang.” Heru ikut menyela perdebatan kakak-adik di dekatnya.


“Boleh.” Pelan-pelan Dul mulai mengemudi dengan santai.


“Pakdhe rasa bukan Annisa enggak percaya dengan kamu makanya belum ngomong. Pikiran-pikiran, dugaan-dugaan orang lain jelas enggak bisa kita samakan seperti kita. Bisa aja Annisa malah khawatir dikira wanita yang suka ngeluh. Atau khawatir dikira sebagai wanita lemah. Atau bisa jadi ada masalah yang masih malu dia diceritakan. Jadi, tunggu aja. Kalau hatinya udah lebih enak, pasti langsung ngomong tanpa ditanya.”


Dalam hati, Dul mengaminkan semua hal yang dikatakan Heru. Beberapa hari sebelum kembali berangkat pendidikan, ia berusaha meyakinkan diri kalau hubungannya bersama Annisa akan baik-baik saja. Tak munafik ada kekhawatiran di hatinya soal papa Annisa yang menolak hubungan mereka. Dul galau karena hal itu.


“Mas…Mas, pelan, Mas! Ada anak-anak di depan. Itu sedan hitam di depan juga ikutan ngerem. Mas Dul juga harus ngerem. Ada anak-anak main bola. Eh, itu Banyu!” Mima membuka kaca mobil di sisi kanan. “Hush! Banyu! Bumi! Minggir! Jangan main bola di jalan! Minggir!” Mima menjulurkan kepala dan menepuk-nepuk bagian samping mobil.


“Mima, mobil Pakdhe ada klaksonnya. Mima enggak perlu teriak-teriak.” Heru melongok ke depan. Memperhatikan pengemudi sedan hitam yang baru turun dari mobil. “Itu adik Tini? Itu adik Tini, kan?” Heru menunjuk ke bagian depan rumah Tini, tempat di mana Dayat sedang bicara pada dua anak laki-laki yang tak lain adalah Banyu dan Bumi. Dua anak laki-laki Tini.


“Iya. Itu Paklik Dayat yang pernah aku tanya ke Ibu,” jelas Mima, menumpukan lengannya di jendela mobil yang terbuka lebar. Dayat mengerling ke arah mereka.


“Dayat dulu pacarnya banyak,” ucap Heru sangat pelan, sambil mengangguk pada Dayat yang langsung melepaskan kacamata hitamnya. Dayat tersenyum dan mengangguk pada Heru.


“Playboy juga? Sama kaya Pakdhe? Apa playboy begitu masih bisa berubah?” Mima bicara dari sela-sela giginya.


“Cuma sedikit aja yang bisa berubah. Pakdhe termasuk di antara yang sedikit itu. Insaf dan menikah dengan Budhe Fifi. Sebelum ketemu dengan yang pas, Pakdhe enggak lelah mencari yang pas. Kerjanya Dayat apa? Pengacara?”


“Yang pas,” ulang Mima, mengangguk-angguk.


“Selamat sore, Pakdhe Heru …,” sapa Dayat dengan sopan. “Sepertinya Dul ketemu guru mengemudi yang sangat cakap. Terbukti di hari pertama belajar, Dul langsung mahir. Bisa jadi ini karena Dul udah cukup umur. Pelajaran mengemudi yang disampaikan melalui teori dan praktik bisa langsung diaplikasikan. Pentingnya usia yang cukup untuk memahami segala sesuatu.” Dayat melemparkan senyum pada Mima yang sontak cemberut.


“Oh, bisa jadi. Dul memang bakal langsung buat SIM. Udah lebih dari cukup umur.” Heru membalas senyum Dayat dengan tawa kecil.


Dayat tersenyum simpul pada Mima. “Pasti Mima juga setuju dengan apa yang Paklik bilang, kan?”


Sontak Mima mendengkus. Ia tak pernah berpikir kalau adik Tini yang dinilainya cukup tampan dan necis beberapa hari lalu kini bisa menjadi sosok yang begitu menyebalkan. Dayat baru saja menggagalkan rencananya yang akan meminta Heru untuk mengajarkan menyetir sesudah giliran Dul selesai.


Dan tanpa Heru dan Mima sadari, keadaan mobil yang sedang berhenti di depan rumah Tini, membuat Dul sempat membuka ponselnya yang sejak tadi bergetar pendek-pendek.


‘Hai, Mas Dul lagi apa? Seminggu ke depan kayanya aku sibuk banget. Acara besok kita undur aja, ya.’


Dul menarik napas panjang saat membaca isi pesan Annisa.


To be continued