Dul

Dul
139. Terkejut dan Mengejutkan



Dua jam kemudian acara yang disebut Robin sebagai silaturahmi kejutan itu akhirnya selesai setelah Lova berpamitan lebih dulu. Pandangan mereka semua tertuju ke tempat yang sama. Mengikuti Lova menuju pintu keluar. Setelah gadis itu menghilang, Robin adalah orang yang mengembuskan napasnya paling berat dan panjang.


“Ah ... lega kali aku. Kau pun!” Robin menepuk lengan Dul. “Kenapa enggak kau bilang mau bawa cewek ke sini? Jangan salahkan aku yang mau mengenalkan cewek buat Dul. Dia ini enggak pernah ngaku punya cewek. Diam aja. Makanya kami kasian. Ya, kan, Put?” Robin riuh sekali menjelaskan duduk persoalan pada Annisa seraya meminta pembelaan dari Putra.


Untungnya Annisa tidak menganggap kejadian siang itu adalah hal yang tidak perlu dipermasalahkan. Karena Dul sebelumnya sudah memberitahu, “Kayanya Robin dan Putra mau ngenalin cewe. Dari kemarin-kemarin Robin terlalu repot dan lebih banyak tanya. Pertanyaannya aneh-aneh.”


Annisa mengerti. Itu sebabnya melihat Lova yang merupakan mantan pacar Dul berada di satu meja, Annisa langsung mengerti duduk persoalannya. Gadis itu bangkit dari kursi kemudian berbisik di telinga Dul. “Aku ke toilet sebentar.”


Dul mengangguk kemudian ikut bangkit. “Ayo, ke kasir. Biar Kak Abdullah yang bayarin.” Ia menepuk-nepuk pundak Robin dan merangkul bahu Putra. Ketiganya beriringan ke meja kasir.


“Jangan pegang-pegang. Aku masih palak sama kau.” Robin berusaha menonjok perut Dul yang seketika menghindar.


(*Palak \= kesal)


“Sudahlah, Bin. Dul enggak usah jodoh-jodohin. Diam-diam Dul kayanya malah lebih ahli dari kita. Dul bukan kaya kamu yang baru sekali ngantar cewe, langsung bayangin tenda nikahan mau pakai warna apa.” Putra mencolek bahu Robin dari belakang.


“Ck! Udah pintar kali muncung kau, ya Put.!”


“Jadi, gimana? Acaranya selesai, kan? Aku mau pulang,” ujar Dul.


“Langsung mau pulang-pulang aja kau. Udah berdebar kami waktu nampak si Annisa datang. Berarti ... udah lama jugalah kau tipu aku sama si Putra, ya. Yang kami kira kau betah kali menjomlo. Rupanya kau yang duluan laku.” Robin menyilangkan tangan di dadanya.


“Enggak ada maksud apa-apa, Bin.” Dul tertawa kecil.


“Aku percaya Dul enggak ada maksud apa-apa menyembunyikan hubungannya dengan Annisa. Dul pasti enggak mau kita langsung sibuk cari pasangan. Dul itu enggak pernah pamer. Aku percaya. Enggak kayak kamu, Bin. Tangan kanan memberi, tangan kiri insta story.” Putra mencibir.


“Enggak kepikiran mau kerja kantoran?” Dul menanyakan pertanyaan pada Robin yang ia sudah tahu jawabannya. Robin akan menjawab dengan nada tinggi, tapi perhatian kawannya itu soal menyembunyikan status berpacaran pasti akan teralihkan.


“Ngapain aku kerja kantoran? Enggak kau tengok syarat kerja sekarang makin aneh-aneh? Harus berpenampilan menariklah, jadi ... yang tidak menarik mau kerja apa? Mampu bekerja di bawah tekanan ... belum apa-apa udah mau menekan aja kerja orang itu. Mampu mengoperasikan ini-itu, bisa mengendarai tank tempur, menguasai empat elemen, juga bersedia di tempatkan di alam lain. Ah ... enggaklah. Enak jadi pengusaha.”


Mereka bertiga berdiri di dekat kasir cafe. Annisa tertawa dari belakang mereka. Ternyata gadis itu ikut mendengar perkataan Robin.


“Robin ada-ada saja,” kata Annisa. Ia langsung berjalan ke sebelah Dul yang mengangkat tangan menunggunya. Dul langsung merangkul bahu Annisa dan gadis itu melingkarkan tangan di pinggang Dul. Membuat Robin dan Putra bertukar pandang.


“Pulang sekarang?” Annisa mendongak memandang Dul.


“Ayo, boleh,” sahut Dul.


“Mau cepat-cepat saja, bah.” Wajah Robin kembali jutek. “Cerita-cerita soal cemana kau sama Nisa bisa main cewek. Penasaran kali aku,” tukas Robin.


“Aku lebih penasaran gimana Kak Robin pacaran selama ini. Ya, enggak?” Dul mencolek lengan Annisa dengan maksud menyindir. Percakapan soal Kak Andre bersama Lova tadi sedikit masih membekas di hati Dul. Kekasihnya itu terlihat sangat bersemangat saat menceritakan pria lain di dekatnya.


“Jangan kau panggil gitu, Dul. Aku ini abang-abang, bukan kakak-kakak.”


“Kita ke mana?” tanya Annisa seraya merapikan tas.


“Pulang ke rumahku, ya. Masih sore, tadi Ibu masak banyak dan aku diminta bawa kamu ke rumah.” Dul menjawab sambil satu tangannya menyetop taksi biru yang melintas.


Awalnya perjalanan menuju rumah Dul itu terasa biasa saja bagi Annisa, tapi semuanya sedikit beda ketika ia menyadari bahwa Dul agak lebih banyak diam dari biasanya.


“Mas Dul kenapa dari tadi banyak diam? Apa ini masih soal ‘Kak Andre’?” Tebakan Annisa memang langsung tertuju ke pembicaraan itu. Soalnya beberapa kali Dul melakukan penekanan terhadap kata ‘Kak’ diiringi dengan tawa sumbang kekasihnya itu.


“Sebegitu detilnya merhatiin pakaian sang senior. Inget, enggak ketemuan sebelumnya aku pakai baju apa?”


“Duh, bisa bawel juga ternyata,” sahut Annisa. “Ketemuan yang sebelumnya Mas Dul pakai jeans dan kaus oblong warna putih. Gimana? Enggak salah, kan?” Annisa memeluk lengan Dul dan meletakkan dagu di bahu kekasihnya itu.


Mau tak mau Dul harus meregangkan senyumnya untuk Annisa. Pelukan di lengannya itu hanya pelukan sederhana. Tapi merupakan hal langka dalam hubungan mereka yang lebih sering berjauhan ketimbang berdekatan. Pertemuan yang tergolong jarang itu selalu hadir bak hadiah besar untuk keduanya.


“Memangnya Ibu masak apa?” Annisa mengeratkan pelukannya.


“Mmmm ... masak banyak pokoknya.” Dul tak sanggup kalau harus merinci menu yang disebutkan ibunya pagi tadi di bawah kepakan bulu mata Annisa yang begitu dekat dengan telinganya.


Annisa tertawa kecil, lalu mengembus telinga Dul sampai kekasihnya itu membuat ekspresi bergidik.


Sore hari di kediaman keluarga Bara Wirya terlihat lengang. Dul menggandeng tangan Annisa sejak menuruni taksi. Sengaja berhenti tidak terlalu dekat dengan pagar agar bisa sedikit berlama-lama menggenggam tangan kekasihnya.


“Ibu masak banyak dalam rangka apa?” tanya Annisa dengan suara pelan.


Dul memasukkan tangannya ke celah pagar untuk membuka pengait dari dalam. “Enggak dalam rangka apa-apa. Cuma makan malam keluarga kaya biasa. Ayah, Ibu, Mima, Ibra, kamu, aku.”


Dul mengulum senyum. Ia sudah membayangkan bisa duduk berdekatan di sofa sambil menonton televisi. Biasanya mereka akan memutar film dan menontonnya bersama usai makan malam. Percakapan-percakapan kecil, juga sentuhan-sentuhan sederhana di sepanjang acara keluarga itu selalu membuat hati Dul merasa lebih hangat. Kadang-kadang ia bisa mencuri waktu sedetik untuk mengecup pipi Annisa saat mereka secara kebetulan tinggal berdua saja. Belum apa-apa, Dul merasa kedua pipinya memanas.


“Mmmm ... makan malam bersama seperti biasa,” lirih Annisa. Ia juga sudah membayangkan kalau malam itu akan ikut menimbrung percakapan keluarga kekasihnya yang selalu hangat dan ceria. Ia bisa berdekatan dengan Dul lebih lama.


Bayangan kemesraan itu masih mengambang di kepala keduanya. Tangan mereka pun masih bertautan di depan pintu rumah yang tertutup. Namun sepertinya Dul tidak mengantongi agenda lengkap hari itu. Menu masakan yang banyak itu bukan hanya untuk keluarga kecil mereka.


“Ehem! Permisi Mas dan Mbak .... yang punya rumah ada?”


Dul dan Annisa bagai disetrum. Keduanya serentak melepaskan gandengan tangan dan menoleh ke belakang. Kepala Heru menyembul dari luar pagar dengan satu tangannya yang ikut merogoh pengait.


“Apa cuma Pakdhe yang belum tau kalau rumah ini udah bertambah penghuninya?”


**To Be Continued **