Dul

Dul
161. Hari Bahagia Itu



Selain dua mobil yang ditumpangi keluarga besar Satyadarma, ternyata ada satu mobil lagi yang menyusul di belakang.


“Lebih cepat sedikit lagi, Bin. Laju mobil ini terlalu lamban. Kita akan ketinggalan momen-momen penting kalau begini caranya.” Yoseph mengetuk-ngetuk tongkat persneling dengan raut tak sabar.


“Benar yang dibilang Yoseph barusan. Kita bakal telat. Ini momen-momen krusial,” tambah Putra dengan satu tangan berpegangan di atas pintu pickup.


“Heboh kali muncung kelen, ya. Kalau pickup ini bisa melewati Hummer Pakdhe, pasti besok Pakdhe jual Hummer kemudian beli pickup. Gak bisa kelen selo aja? Daripada merepet mending badan kau mundur sikit, Put. Habis semua spion itu kau tutup.” Robin mencondongkan tubuhnya menepuk-nepuk lengan Putra yang menghalangi penglihatannya ke spion.


“Kira-kira Abdullah atau Robin yang lebih dulu menikah? Saya penasaran," ucap Yoseph dengan tatapan mengawasi lalu lintas padat di depan mereka.


“Bah! Kenapa penasaran sama aku dan Dul? Putra juga belum menikah,” kata Robin.


“Tapi Putra akan menikah dalam jangka waktu dekat. Bulan depan itu sangat dekat. Saya penasaran dengan kisah cinta Robin dan Abdullah. Apalagi Robin kembali lagi bersama Duma. Yoseph senang.” Yoseph yang duduk di tengah tertawa kecil seraya menepuk lengan Robin yang sedang menyetir.


“Selama balik sama Duma bukan termasuk ke dalam dosa besar, aku bakal memperjuangkannya.” Robin terkekeh-kekeh.


“Senang banget yang udah enggak jomlo. Pasti bakal punya banyak cerita kalau udah balikan sama Duma.” Putra mencibir.


“Jomlo itu tau banyak ilmu teori. Prakteknya aja yang entah kapan. Jangan sepele kau, Put.”


“Yang penting aku ikut senang kamu udah balikan sama Duma. Kalian sebenarnya cocok.” Putra memandang Robin yang senyumnya langsung mengembang. Paham betul karena kalau kawannya itu sebenarnya sangat menyukai Duma.


“Aku pun senang balikan sama si Duma. Yang penting udah kusampaikan sama dia. Hubungan kami baru pacaran, belum suami istri. Jadi, kubilang sama Duma, ‘Kau jangan berlagak kayak Tuhan. Harus melakukan perintahnya dan menjauhi larangannya.’”Robin lalu tertawa terbahak-bahak.


“Puji syukur Duma selalu diberi kesabaran. Itu mobil Pakdhe sudah terlihat. Akhirnya pickup ini menunjukkan kemampuannya. Injak gas, Bin!” seru Yoseph.


Robin sampai menggigit bibir bawahnya karena keriuhan berkendara pagi itu. Sambil membelokkan setir menghindari kendaraan lain, Robin sesekali menyentak setir. “Injak gas…injak gas kau bilang, Seph. Kalau nabrak, kepalaku yang diinjak orang.”


“Akhirnya … kita nyampe juga,” seru Putra.


“Idenya Robin ikut menyusul ke kampus Annisa memang luar biasa. Kita tetap bisa menyaksikan momen sakral Abdullah.” Yoseph mulai merapikan pakaiannya.


“Sebenarnya ini bukan ideku. Kita di sini berkat informasi dari Mima Cantik. Katanya kita harus mendukung Mas-nya biar cepat menikah. Mari kita ikut parkir ke sebelah mobil Pakdhe. Sekali-kali Hummer bersanding dengan pickup.” Robin membawa pickupnya melewati portal gedung serbaguna kampus dan terus melaju mengikuti mobil Heru.


Ketika tiga mobil sudah berada di parkiran, tak perlu waktu lama bagi semua orang untuk turun.


Mima turun dengan buket bunga dalam dekapannya. Ibra sibuk dengan sebuah karton tebal berwarna putih bertuliskan ‘Happy Congraduation dr. Annisa Inayah Abbas Sp.PD’, Dijah terlihat sibuk merapikan pakaian Dul. Menepuki debu yang sebenarnya tak ada dan meluruskan letak kerah seragam putranya itu. “Udah ganteng, Mas Dul-nya Ibu. Semoga semuanya lancar,” ucap Dijah.


Di sisi lain, Heru membantu Fifi dan Sukma merapikan balon-balon metalik berwarna-warni. “Udah rapi dan udah cukup banyak. Annisa pasti jadi pusat perhatian,” ujar Heru.


“Menurutku malah terlalu ramai, Mas. Balonnya kebanyakan.” Sukma mencoba menyusun balon agar balon itu tidak melambai terlalu mencolok.


“Wanita itu sebenarnya suka jadi pusat perhatian. Bilangnya, ‘Apa, sih? Bikin malu aja.’ Tapi suka diliatin dan diromantisin. Iya, kan?” Heru mencolek pipi Fifi.


“Sudah selesai beres-beresnya? Ayo, jangan lama-lama.” Bu Yanti bicara sambil mengalungkan pegangan tas ke sikunya. “Yah, apa mungkin berhasil? Ibu deg-degan. Kalau Annisa enggak mau gimana? Kalau Annisanya mau tapi papanya enggak bolehin gimana?” Wajah Bu Yanti memang terlihat cemas tak dibuat-buat.


“Ngomongnya jangan terlalu keras. Jangan menularkan pesimistis ke orang lain. Lihat gaya Dul di sebelah sana. Tubuhnya tinggi melebihi Bara. Tegap berisi, gagah dengan seragam angkatan udara dan pangkat letnan satu. Menolak seorang pria begitu untuk dijadikan menantu perlu alasan lebih kuat. Kita lihat sama-sama. Ayah yakin Dul pasti bisa.” Pak Wirya mengajukan lengannya untuk dirangkul Bu Yanti.


Sambil melingkarkan tangannya di lengan Pak Wirya, Bu Yanti berbisik, “Tapi rencana Ayah ini bikin deg-degan. Bara dan Heru langsung setuju. Bikin perempuan enggak tenang.”


“Semua pasti beres. Kita siap-siap punya cicit.” Pak Wirya tersenyum jumawa.


******


Detak jantungnya mungkin bisa didengar orang lain saking gugupnya. Annisa meremaas tisu di genggamannya hingga berupa serpihan. Kepalanya terus menerus menoleh ke sepasang pintu besar yang sudah tertutup. Sembari mengembalikan pandangan ke podium, tatapan Annisa singgah pada Papa dan ibu sambungnya.


Teringat dengan apa yang dikatakannya kemarin di pesan singkat. Ia tidak akan mau bertemu Dul lagi kalau kekasihnya itu tidak datang ke wisuda magisternya. Dan kekhawatiran Annisa hari itu hanya satu. Akankah seorang Abdullah mau melakukan hal menantang untuk datang? Ia semakin resah ketika pintu hall sudah ditutup.


Sambutan demi kata sambutan lewat begitu saja di telinga Annisa. Satu persatu nama lulusan di tiap fakultas sudah dibacakan sampai pada MC menyebutkan pendidikan spesialis kedokteran. Annisa meluruskan punggung dan menoleh ke pintu masuk untuk terakhir kali sebelum bersiap naik ke podium.


“Nama kita sebentar lagi dipanggil,” bisik seorang gadis di sebelah Annisa. Gadis yang berasal dari Bandung dan belakangan dekat dengan Annisa.


Annisa mengangguk. “Sebentar lagi. Aku makin gugup,” katanya seraya merapikan toga. Bukan gugup dipanggil ke podium, tapi gugup kalau harus menerima kenyataan bahwa Dul bisa saja tidak datang karena tidak mau membuat keributan.


“Dari spesialis penyakit dalam. Dokter Annisa Inayah Abbas….”


Suara MC yang menyebutkan namanya dan kenyataan bahwa Dul belum muncul di sana membuat lutut Annisa semakin lemas. Air matanya bisa tumpah setiap saat. Ia naik ke podium dan mengucapkan, “Terima kasih, Pak, Bu.” pada setiap orang yang menjabat tangannya. Hatinya sedih bukan kepalang.


“Jahat banget, sih,” ucap Annisa ketika melangkah kembali ke kursinya. Sebelum benar-benar duduk ia sempat membalas lambaian tangan dari tempat papa dan ibu sambungnya duduk. Ia baru menyadari Ariz Ghazali Abbas; bocah laki-laki enam tahum yang merupakan adik kandungnya dari lain ibu tak terlihat hari itu. Ariz biasa selalu menyapa dengan ramah dan ceria seberapa pun juteknya dia. “Hari ini semua kompak enggak datang,” lirihnya.


To be continued