Dul

Dul
063. Sebuah Pertimbangan



Bara sudah jauh-jauh hari mempersiapkan nama untuk Ibrahim, putra bungsu yang memang direncanakannya tetap akan menjadi anak bungsu. Baginya, tiga orang anak saja sudah cukup. Dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.


Ketegangan dalam keluarganya akhir-akhir ini membuat Bara ekstra memperhatikan perubahan pada Dul. Terlebih saat ia mendapati kebenaran perkataan Dijah soal status Dul yang merupakan 'anak ibu'. Dul sudah mengetahui hal itu dan Bara menebak kalau remaja laki-laki itu tak akan bertanya atau membahas hal itu pada siapa pun. Termasuk Dijah. Setidaknya untuk saat-saat itu.


Ketika suasana rumah sudah kembali tenang, suatu sore Bara menjemput Pak Wirya untuk mengajaknya membicarakan masalah Dul. Mereka duduk di restoran masakan khas Indonesia klasik yang dulu sering mereka datangi.


"Kapan terakhir kali kita makan di sini, Ra? Sepertinya sudah lama enggak ke sini," Pak Wirya mengedarkan pandangannya ke penjuru restoran yang baru mereka masuki. "Sudah banyak berubah," sambungnya.


"Kapan, ya ...." Bara ikut berpikir-pikir seraya ikut melihat perubahan yang dimaksud Pak Wirya. "Terakhir Mima umur tiga tahun kayanya."


Semua furniture di restoran itu terbuat dari kayu yang berat. Terdiri dari kursi-kursi bersandarkan melengkung yang menyatu dengan pegangan tangan. Pak Wirya duduk menghadapi meja bulat kecil dan mengusap-usap pegangan kursi itu. "Belum ada yang mengalahkan waktu dalam menguji kualitas," pandangannya kembali pada Bara. "Jadi, mau ngomongin apa?" todong Pak Wirya langsung.


"Sambil makan aja. Ayah pasti belum makan, kan? Jarang-jarang makan berdua." Bara menyodorkan menu yang di desain dengan kertas-kertas lama berwarna cokelat. Seakan semakin ingin menegaskan bahwa restoran itu masih mengusung konsep tempo dulu yang belum mereka tinggalkan.


Pelayan berbaju batik datang dan mencatatkan pesanan mereka. Bara dan Pak Wirya sepakat untuk memesan menu yang biasa mereka makan di restoran itu. Sop buntut.


"Kayanya aku salah restoran. Ibu udah wanti-wanti buat ngingetin Ayah soal kolesterol," kata Bara.


"Belakangan Ayah sudah batasi konsumsi makanan tinggi kolesterol. Jadi, Ayah rasa hari ini enggak apa-apa kalau nyobain yang berbau kolesterol." Pak Wirya mengangkat alisnya pada Bara.


"Kalau gitu dua minggu ke depan Ayah enggak bisa konsumsi beginian lagi." Bara merasa sedikit bersalah karena mengkhianati ibunya yang sudah mati-matian menjaga pola makan sang ayah.


"Jadi ... mau ngomongin apa? Dul atau kolesterol Ayah?"


"Oh, iya. Sebentar...." Bara membuka ransel yang diletakkannya di kursi sebelah. "Setelah drama ribut-ribut kemarin, aku buka berkas administrasi Dul buat daftarin SMP. Aku ngeliat ini." Bara menyodorkan akte kelahiran Dul.


Pak Wirya membenarkan letak kacamata dan meraih akte kelahiran dan membacanya dengan seksama. "Mmmm...Abdullah. Satu kata. Nama yang bagus. Dalam hal ini Ayah harus mengakui kalau Dijah sangat cerdas memberi nama putranya. Abdullah ternyata anak ibu. Sebenarnya cukup mengherankan kalau Dijah dan mantan suaminya menikah secara hukum tapi anak hasil pernikahan itu hanya mencantumkan nama ibu sebagai orang tuanya. Kesimpulannya, berarti Bapak Dul saat itu tidak memikirkan soal ini sama sekali."


"Setelah pernikahannya dengan Fredy...Dijah...."


"Enggak apa-apa kalau memang Ayah mau dengar. Tapi ... aku harap ini memang sebagai pertimbangan profesional Ayah," kata Bara sedikit ragu. "Kalau bisa Ibu jangan sampai tau. Kasian Dijah. Aku cuma mau mengurutkan kejadiannya biar Ayah paham langkah apa yang bisa diambil. Aku...mau berbuat sesuatu untuk Dul," ucap Bara.


"Silakan. Ayah dengar sambil menikmati sop buntut ini. Kamu santai aja. Ayah anggap ini sebagai bagian dari pekerjaan. Ayah dibayar profesional dengan makan sup buntut dan kamu enggak mengadukan soal ini ke Ibu. Gimana? Sudah cukup adil?" Pak Wirya memundurkan tubuhnya karena pelayan datang dengan nampan besar dan menyusun pesanan mereka ke meja.


"Cukup adil," sahut Bara. "Dijah menceritakan semua ke aku enggak sekaligus, Yah. Sepotong-sepotong, dan enggak setiap hari. Dan mendengar cerita Dijah pun, aku harus sabar. Kaya yang Ayah pernah bilang ke aku bahwa Dijah akan membuka diri kalau dia nyaman dan ketemu dengan orang yang dipercaya."


Pak Wirya mengangguk-angguk dan membubuhkan dua sendok kecil sambal rawit ke mangkuk supnya. "Benar. Setelah Fredy di penjara dan Dijah berada di rumah aman, Dijah cuma bercerita soal merasa malu ke kamu. Dalam artian, pada saat itu dia memang malu saat kamu mendapatinya tengah disiksa Fredy di pabrik narkoba itu. Katanya saat itu ... dia malu karena kamu selalu terlalu sering melihat dia dipukuli oleh Fredy. Malu, Ra."


Melihat ayahnya memulai prosesi menyantap sup buntut yang merupakan signature menu di restoran itu, Bara ikut melakukan hal yang sama.


"Dijah katanya tidak tahu kalau bakal dinikahkan dengan Fredy secepat itu. Selama dia masih duduk di bangku kelas dua SMA, bapaknya memang beberapa kali ngomong soal Fredy yang mau melamar dan langsung mengadakan resepsi. Bapaknya juga bilang soal segala resepsi pesta akan ditanggung oleh pihak Fredy. Dijah menganggap hal itu enggak serius. Sampai tiba-tiba akhir minggu...dia langsung dinikahi. Katanya kayak mimpi," ucap Bara pelan.


"Ayo, langsung dilanjut. Kamu sekarang sebagai pasien, lho. Ayah harus membuat kamu agar tetap mau bicara." Pak Wirya terkekeh pelan.


"Malam itu...Dijah mengalami kekerasan fisik pertama kalinya. Dijah...Dijah...." Bara meletakkan sendoknya. "Enggak sadar beberapa hari dan sewaktu sadar, Dijah dirawat cukup lama di rumah sakit karena terguncang. Dijah enggak mau pulang karena merasa enggak aman. Dijah melapor ke polisi dengan bantuan tenaga sukarelawan. Dijah depresi berat karena menyadari bahwa dia udah di...mmm....sewaktu enggak sadar karena ditampar pertama kali sama Fredy. Dijah semakin depresi sewaktu tau sedang hamil Dul."


Pak Wirya menghentikan gerakannya mengaduk kuah sup dan menghela napas berat. "Masa lalu yang memang sangat mengguncang kepribadian. Di usia yang sangat muda," ucap Pak Wirya setengah menerawang.


"Dijah ke sana kemari meminta bantuan untuk membantu proses perceraiannya dengan Fredy. Dijah bilang...dia pernah melakukan percobaan bunuh diri lebih dari lima kali. Dijah enggak pernah inget kenangan bagaimana hamil dan melahirkan Dul. Padahal hamil itu sembilan bulan, Yah. Cukup lama. Tapi kenangan Dijah mengandung Dul enggak pernah ada." Bara menunduk.


"Itu sebabnya Dijah enggak mau ada nama Fredy dalam akte kelahiran Dul," ucap pak Wirya.


"Benar. Itu alasannya."


To Be Continued