
#99
Tragedi di Warung Lesehan
Matahari mulai merambat ke arah Barat dengan panas teriknya yang masih begitu menyengat. Namun suasana Kota yang yang panas tak bersahabat itu tak menyurutkan kebahagiaan seorang pemuda yang sedang mengendarai kuda besi hitamnya mengarungi padatnya lalu lintas.
Kalian tahu kenapa?
Karena seorang gadis manis yang berada di balik punggung tegapnya yang juga turut berpanas-panasan bersamanya. Bila bersama sang pujaan hati seperti itu, bahkan tengah hari bolong di puncak kemarau pun tak akan sanggup membuat layu bunga-bunga yang bermekaran dihatinya.
"Kamu mau makan dimana Di?" Ucap Willy setengah berteriak karena suranya yang harus beradu dengan bisingnya jalanan.
"Hah? Apaaa?" Diana tak dapat mendengar dengan jelas.
"KAMU MAU MAKAN DIMANAAAA?" Ucap Willy menambah volume suaranya.
"Oh, gak usah Wil.. Langsung beli titipan Mama aja, terus pulang." Jawab Diana.
"Kata Mama aku gak boleh pulangin anak gadis orang kalau perutnya belum kenyang." Ucap Willy mengulangi perkataan sang Mama kala bertemu dengannya diparkiran rumah sakit saat mengantar kue tadi.
"HAAH? Kamu Ngomong APAAA?"
Willy menghela napasnya. Ini akan jadi perboncangan yang melelahkan.
"POKOKNYA KITA MAKAN DULU." Teriaknya.
"Ya udah terserah kamu AJAAA.." Jawab Diana.
"SUKA YANG PEDES-PEDES GAK?" Willy kembali bertanya.
"IYA BOLEEEH." Jawab Diana.
(Author's cuap : Kenapa gak berenti bentar, terus diskusi dulu gitu. Author bayanginnya aja ikut capek, hahahaha)
"AGAK JAUH DIKIT WARUNG MAKANNYA YA.. TAPI MASAKANNYA ENAK BANGET." Willy terus saja membuat topik pembicaraan yang menguras energi karena harus dengan volume suara yang tinggi.
"IYA BOLEEEH." Jawab Diana lagi.
"AKU TAMBAH KECEPATANNYA YA? BIAR CEPET NYAMPEEE" Ucap Willy meminta izin terlebih dahulu guna menghindari kekerasan yang membahayakan kepalanya dari tangan gesit sang peraih medali emas bela diri. Bahkan helm yang ia kenakan sungguh hanya meredam setengah dari efeknya. Nyut nyut sedap gitu..
"IYA.." Jawab Diana menurut saja.
"KOK JAWAB IYA IYA MULU SIH?"
"TERUS HARUS JAWAB GIMANAAA?"
Percakapan yang melelahkan seolah tak ingin Willy sudahi. Dia sangat senang. Dia menikmatinya sambil sesekali mengintip wajah Diana yang merem-merem terkena hembusan angin dari spion kirinya.
Namun bukan Willy namanya bila tak sesekali mengusili gadis itu. Perjalanannya akan terasa hambar bila tak ada sedikit bumbu-bumbu emosi yang menggemaskan. Pemuda itu selalu memiliki banyak akal.
"DIANA, KAMU SUKA SEAFOOD?"
"IYA.." Jawaban yang sama dari Diana. Meskipun Willy bicara dengan volume yang cukup tinggi namun suaranya beradu dengan deru angin, ditambah telinganya yang tersembunyi di balik helm membuat suara Willy masih terdengar samar-samar. Jawaban "Iya" akan menghemat energinya karena jujur saja perutnya memang sedang lapar. Ia bahkan belum sempat makan siang sepulang dari latihan tadi.
"DIANA, KAMU MAU JADI PACAR AKU??"
"IYA.."
Eh,
Diana terdiam sesaat.
"KAMU NGOMONG APA BARUSAN?" Tanya Diana yang merasa ragu dengan apa yang didengarnya tadi.
"GAK ADA SIARAN ULANG.." Willy tertawa lepas.
"Aaaawww.." Keluh Willy merasakan ada cubitan kecil di pinggangnya, lalu kemudian ia tertawa lagi ketika melihat wajah Diana sudah manyun sambil menjulurkan lidah kearahnya dari kaca spion yang sengaja di arahkan pada wajah gadis di belakangnya.
"YA UDAH PEGANGAAAN YANG ERAT YA.." Ucap Willy sambil perlahan menambah kecepatan.
"IYAAA.." Diana pun memperkuat cengkeraman tangannya di jaket Willy.
Willy merasa begitu berbunga-bunga. "Yah, kok gak dipeluk sih?" Batin Willy sedikit kecewa karena jemari Diana hanya mencengkeram kuat pada jaket yang ia kenakan.
"DIANA, YANG TADI SAH YA?"
"IYA.." Jawaban itu lagi yang keluar dari mulut Diana. "Di-iya-in aja lah biar cepet kelar." Batin Diana yang sudah merasa cacing diperutnya demo minta makan.
Willy terus saja sumringah. Jalan aspal bagaikan karpet merah yang terhampar penuh bunga-bunga warna warni.
"Terserah deh sah atau enggak, yang penting aku seneng. Hahaha.." Batin Willy dengan hati yang jimprak-jimprak kegirangan.
"Masnya mau mancing dulu atau langsung makan?" Tanya seorang yang berjaga di belakang meja kayu yang difungsikan sebagai meja kasir sekaligus.
"Langsung makan saja bu," Jawab Willy.
"Kamu mau pesan apa Di?" Tanya Willy beralih pada gadis yang mengekor di belakangnya.
"Apa aja deh, kamu aja yang pilih. Yang paling cepet aja." Jawab Diana dengan perut yang semakin keroncongan karena aroma-aroma sedap sudah menyeruak tanpa permisi pada indera penciumannya sejak masuk di area parkir tadi.
" Emm, Bandeng bakar satu, udang saos tiramnya satu, sate kerang satu, tumis kangkung satu, nasi putih yang bakul kecil, air mineral dua botol, es teh manis dua. Ekstra sambal matah kalau ada."
Diana melotot mendengar Willy memesan cukup banyak menu. Namun mendengar menu-menu yang disebutkan tadi, Diana sudah menelan ludah beberapa kali.
Setelah memesan, mereka menuju sebuah meja dan duduk tenang memandang hamparan kolam.pemancingan dan persawahan sembari menunggu pesanan.
"Wil, kamu pesen makanannya banyak banget tadi. Emang bakal habis?"
"Habis lah.. Sebetulnya makan aku emang banyak Di, apalagi menunya sambal, hmm.. Eh, kamu jangan kaget ya, hehehe.." Willy cengar cengir tanpa ada rasa jaim.
Diana tersenyum menanggapi ucapan Willy yang berkata jujur tanpa rasa canggung. Dia merasa nyaman pada sosok Willy yang selalu apa adanya seperti ini.
"Eh, kita foto yuk," Ajak Willy.
Willy bergerak merapat dan mulai mengatur kamera hapenya.
"Senyum dong.."
Cekrek..
Cekrek..
"Aw," Diana mengeluh sakit ketika pipinya dicubit oleh Willy.
Cekrek..
"Hei, muka aku lagi cemberut kok di foto sih.. Hapus hapus.." Diana berusaha meraih hape Willy.
"Gak mau," Willy menarik tangannya menjauh.
Terjadilah pergulatan sengit yang mana Diana berusaha meraih hape Willy, sedangkan tangan Willy pun begitu lincah menjauhkan hapenya dari jangkauan Diana, hingga akhirnya sebuah tragedi terjadi..
Cup,
Eh,
Willy terkejut menoleh ke arah Diana sambil menyentuh pipinya. Diana sontak melotot dan menutup mulutnya.
"Di.." Ucap Willy yang masih dalam keterkejutannya.
Diana menggeser duduknya dan tertunduk malu. Pipinya benar-benar merona karena malu.
"Ma-af.." Ucapnya lirih.
"Iya, gak apa-apa Di.." Ucap Willy menyembunyikan senyumnya. Dia merasakan pipinya menghangat. Rasanya menyenangkan bagai melayang diatas awan. Ah, Willy pun merona dibuatnya.
Mereka terdiam dalam keheningan. Willy yang tersenyum sumringah, namun Diana tampak panik memainkan kuku kuku jemarinya.
"Aduh, kok bisa kecium pipinya Willy sih?" Batinnya yang masih tertunduk malu. Dia bahkan tak berani menegakkan wajahnya.
"Sebetulnya, diulang lagi juga gak apa apa kok."
Diana terperanjat menoleh pada pemuda yang cengar-cengir sumringah di dekatnya.
"Atau, aku boleh balas gak?"
Diana menunjukkan kepalan tangan tepat beberapa senti dari hidung Willy.
"Hehe, bercanda.."
Puas sekali Willy telah membuat gadis itu tampak cemberut merona dan begitu menggemaskan.
...
Author's cuap:
Bungkus Wil,
Bungkuuus...