
#130
Foto Tokek Nemplok
“Ciye yang habis kencan..” Ledek Hera pada Diana yang baru saja sampai di bangkunya.
Sesuai dugaan Diana, ia pasti akan diberondong berbagai pertanyaan oleh teman-temannya. Sejak kemarin saja ponselnya sudah sibuk dengan berbagai pesan dari teman-temannya itu. Ia bahkan lebih memilih mematikan ponselnya untuk menghindar.
“Kita cuma jalan-jalan saja.” Jawaban yang selalu sama ketika ada yang menyinggung tentang kencannya.
“Jalan-jalan kok pakai peluk-pelukan?” Celetuk Zahra sambil cekikikan.
Deg,
Diana tersentak kaget. “Bagaimana mereka bisa tau? Apa dari Mario? Tapi Mario sudah berjanji tidak akan bercerita pada siapapun. Bahkan gambar yang sempat ia posting juga sudah dihapus dari sosial medianya.” Batin Diana.
Diana berusaha menyembunyikan kepanikannya dan meyangkal apa yang dikatakan Zahra, hingga Zahra menunjukkan sebuah gambar yang ia unduh dari grub chat yang beranggotakan para penggemar Mario. Sebuah foto yang menampilkan seorang pemuda yang memeluk seorang gadis. Foto tersebut diambil dari jarak yang cukup jauh namun wajah Mario terlihat cukup jelas untuk dikenali. Sementara sang gadis hanya nampak dari belakang.
“Hah? Itu Mario kan? Dia pelukan sama siapa itu?” Ucap Diana pura-pura terkejut agar teman-temannya tidak mencurigai punggung itu adalah miliknya.
“Heh, kamu gak ada bakat jadi artis. Akting kamu jelek tauk!” Komentar Rida yang disusul tawa Hera dan Zahra.
Diana langsung tampak pucat. “Sial! Gak mempan.” Diana terus memaki dalam hati. Ia benar-benar tak menyangka ada paparazi di sana. Apa Mario sepopuler itu sampai-sampai kehidupan pribadinya harus disorot?
“Ada salah satu anak dari sekolah lain yang tergabung di grub ini. Dia yang mengirimi foto itu. Katanya dia mendengar ada suara seseorang yang berteriak dipuncak bukit. Ketika ia melihat dari mana arah suara itu, ia tahu kalau itu adalah Mario. Terus yang dia lihat selanjutnya...” Zahra menggoyang-goyangkan ponselnya yang menampakkan foto yang dimaksud untuk menggodai Diana.
“Itu gak sengaja. Waktu itu aku mau kepeleset terus dia bantuin aku. Jadi kelihatannya kayak pelukan, padahal enggak.” Diana masih terus berusaha berkelit.
“Di, kelihatan jelas kalau tangan Mario melingkar di punggung kamu. Apa dong kalau bukan pelukan namanya?” Ucap Zahra mempertegas gambar yang ada di ponselnya.
“Ya ampun, temen aku polos-polos gini udah peluk-pelukan ama cowok..” Lanjut Rida yang sontak membuat pipi Diana merona.
“Rasanya gimana Dia? Anget? Nyaman? So sweet banget deh..” Hera pun tak mau kalah untuk menggodai Diana.
Diana berharap guru mata pelajaran segera datang sehingga ia dapat terbebas dari mulut berisik teman-teman yang selalu menggodnya. Sayangnya, satu minggu setelah ujian akhir adalah minggu tenang dimana tidak ada kegiatan belajar-mengajar lagi.
Aaaarrrggghhh..
Diana merasa frustasi. Ia ingin kabur dan pulang saja rasanya.
*Panggilan kepada Diana Shandy kelas 3A dan Mario Anggara kelas 3C, ditunggu di ruang kepala sekolah sekarang.
Sekali lagi, panggilan kepada Diana Shandy kelas 3A dan Mario Anggara kelas 3C, ditunggu di ruang kepala sekolah sekarang.
Terimakasih.
Suasana mendadak hening ketika terdengar panggilan dari pengeras suara. Pemanggilan ke ruang kepsek atas nama Diana dan Mario?
“Di, kok kamu sama Mario dipanggil ke kantor kepsek? Ada apa ya?” Celetuk Hera ditengah kesunyian mereka.
Zahra tiba-tiba menutup mulutnya. “Apa karena foto ini Di?”
Deg,
“Masak sih foto ini bisa sampai ke Pak Jamal? Wah bahaya dong. Bisa-bisa orang tua kamu dipanggil.” Lanjut Rida yang memperkeruh keadaan.
Diana tampak semakin pucat mendengar perkataan Zahra dan Rida. “Tapi seandainya memang karena foto itu, kenapa harus menemui kepsek? Bukan guru BP? Apa kasus ini separah itu? Matilah aku kalau sampai Ayah tau!” Gumam Diana dalam hati.
“Kalau sampai orang tua kalian dipanggil, bisa-bisa setelah terima ijazah kalian langsung dinikahin.” Celetuk Zahra yang didukung oleh Rida.
“No! No! Gak mau...” Diana tampak merinding ketakutan.
“Hush.. Zah, Rid, kalian ngomong apa sih? Jangan bikin Diana takut dong..” Hera berusaha menenangkan Diana yang terlihat begitu tegang.
“Di foto itu kan gak kelihatan wajah kamu Di, cuma terlihat punggung aja. Pak Jamal gak punya bukti kuat kalau mau menuduh kamu.”
“Mending kamu minum dulu, tenangin diri, baru kesana. Aku yakin gak ada apa-apa kok..”
Diana segera membukan botol minumnya dan mengenggak habis minumnya seperti nasihat Hera.
“Aduh Her, bukannya tenang sekarang aku malah kebelet pipis..” Diana tampak masih panik.
“Ya udah ke kamar mandi dulu yuk, aku temenin.” Hera segera bangkit dan mengantar Diana ke toilet.
Beberapa menit sebelumnya,
Mario dan Abdul yang sedang menikmati semangkuk bakso di kantin juga sedang membicarakan topik yang sama. Kencan.
“Berarti makan-makan dong.. Pajak jadian..” Ucab Abdul penuh semangat.
“Gak ada! Ngapain harus ada pajak jadian kalau hari itu juga kita putus.” Jawab Mario yang kemudian melahap satu bakso bulat-bulat.
“Hah? Ngapain putus?”
“Ini keputusan dia.” Jawab Mario dengan perasaan kesal dan kecewa. Meskipun ia selalu berusaha biasa-biasa saja, namun akhirnya ia butuh teman untuk berbagi keresahannya. Abdul.
“Haish.. gengsinya gede tuh cewek. Udah, cari yang lain aja!” Saran Abdul tanpa pikir panjang.
“Ngomong sih gampang Dul! Tapi gak tau kenapa aku jadi makin penasaran dan tertantang jadinya. Aku jadi makin suka sama dia.”
Abdul hanya bisa menggelengkan kepalaya. “Suka-suka kamu aja Mar. Main aja layangan tuh.. Tarik ulur tarik ulur..”
“Dipanggil tuh,” Ucap Abdul.
Terbitlah sebuah busur manis di bibir Mario. “Tuhan, apa doaku kemarin lang terkabulkan? Thank God..”
Mario cepat-cepat menghabiskan sisa bakso yang masih tersisa di mangkuknya lalu menenggak habis minuman dinginnya dengan cepat-cepat. Ia memiliki prasangka baik pada panggilan. Akhirnya ia kembali bersemangat.
Ketika hendak berdiri ia melihat Diana bersama Hera yang sedang berjalan cepat menuju toilet. Hera dapat menemukan keberadaan Mario dan Abdul yang sontak membuatnya berbelok menuju ke arah dua pemuda itu dan membiarkan Diana berjalan sendiri menuju toilet.
“Ciye yang habis kencan..” Sapaan yang berbeda ditujukan pada Mario.
“Kita Cuma jalan Her..” Ucap Mario yang masih dalam posisi duduknya. Ia berpikir mungkin sebaiknya ia sekalian menunggu Diana saja dari toilet dan bersama-sama ke ruang kepsek.
“Kompak banget sih jawabnya..” Lanjut Hera yang masih terus menggodai Mario. Sampai-sampai ia berusah menggeser Abdul dari duduknya agar lebih puas menggodai Mario tepat dari hadapannya.
“Gak usah ngeledekin! Kayak kamu gak pernah jalan bareng aja sama Abdul.” Mario berusaha membalik keadaan.
“Kalau kita jalan-jalan yah jalan-jalan aja, ya kak Dul?” Ucap Hera sambil menyenggol bahu Abdul.
“Lah, jalan-jalan ya jalan aja. Emang mau ngapain lagi?” Sahut Abdul yang tidak mengetahui secara lengkap peristiwa yang terjadi.
“Jangan bilang kamu gak tau kalau kemarin pas mereka kencan ada tragedi yang menggemparkan?”
Mario mengernyit bingung pada arah pembicaraan Hera. Diana sudah memberi peringatan agar tidak perlu banyak bercerita tentang kencan mereka pada orang lain. Biarlah menjadi kenangan yang hanya mereka dan Tuhan yang tau. Tapi kenapa Hera terlihat seperti tau banyak hal?
“Emang ada tragedi apa?” Abdul mulai tampak antusias.
“Tragedi tokek ketangkep basah lagi nemplok di tembok.” Jawab Hera yang tidak menjelaskan dengan sebuah kiasan.
Mario yang berusaha menelaah maksud Hera tampak berpikir keras. Namun ketika ia memahaminya, matanya sontak membulat.
“Loh, katanya Cuma jalan ke bukit jamur, kok jadi ke taman reptil?” Ucap Abdul yang sontak membuat Hera tampak kesal.
“Dul, kok jadi taman reptil sih? Maksud aku tuh, mereka pel-“
“Stop! Gak usah dilanjutin!” Potong Mario ketika Hera akan menjelaskan maksud dari kalimat perumpamaannya tadi.
“Apa sih?” Abdul masih bingung tak mengerti.
Ketika Hera hendak menjelaskannya sekali lagi, Mario berusaha menghentikannya sekali lagi hingga beberapa kali.
“Owh.. aku paham sekarang..” Abdul akhirnya mulai mengerti setelah berusaha mencerna sendiri kalimat Hera ditambah Mario ekspresi Mario yang tampak kesal dan berusaha menutupi ketika Hera bermaksud menjelaskan.
“Wah, gak nyangka Mario gede juga nyalinya.”
“Ditonjok sampai mimisan lagi gak? Xixixi..” Abdul terus saja meledek pemuda yang sudah menciut dengan wajah memerah.
Mario meraup wajahnya, mengusapnya dengan kasar. Ia tidak menyangka kalau Diana akan bercerita pada teman-temannya. Sebenarnya bukanlah masalah besar, ia justru senang karena artinya Diana tidak merahasiakan kedekatannya. Tapi tentu merasa diledek seperti ini tetap saja memalukan.
“Habis main tokek nemplok tembok, trus lanjut patok patok ayam gak?”
“Heh Abdul kampret! Tolong mulut dikondisikan. Kalau sampai patok-patok ayam udah masuk UGD dari kemarin.” Umpat Mario yang disambut tawa cekikikan Abdul dan Hera dengan kompak.
Diana celingukan mencari sosok Hera yang tadi seharusnya berada di belakangnya. Namun ternyata hera rupanya tidak mengikutinya. Diana memutar pandangan ke seluruh penjuru dan menemukan Hera yang sedang tertawa bersama dua pemuda lainnya. “Ah, sial! Ada Mario.”
Tanpa ada niatan untuk menyapa mereka, atau bahkan hanya menghampiri Hera di sana, Diana segera berlalu sebelum kehadirannya disadari oleh Mario. Ia sedang kalut kali ini. Entahlah, apa ia harus menyalahkan Mario untuk situasi saat ini.
“Aku cabut aja deh, lama-lama disini bisa tercemar otak aku yang masih polos ini..” Mario segera bangkit ketika melihat Diana sudah keluar dari toilet dan berjalan cepat untuk menuju ruang kepala sekolah.
“Huuu... Polos apanya? Polos main tokek tokek-an” Seloroh Hera yang tak terima dengan ucapan Mario.
Hera mengikuti arah kepergian Mario yang tampak menghampiri Diana. “Kayaknya aku gak perlu nyusul deh..” Gumam Hera.
Dari pemandangan dua anak muda yang sedang menjadi perbincangan hangat akibat foto yang menghebohkan, Hera beralih pada pemuda yang sedang menyeruput habis minuman dinginnya sambil menatapnya.
“Apa?” Tanya Hera yang merasa berdebar dan salah tingkah dipandang terus-menerus oleh pemuda di sampingnya itu.
“Main tokek tokek-an yuk?”
Plak,
Aw,
Lalu hera segera pergi dengan dada bergemuruh, perasaan kesal, dan pipi merona meninggalkan Abdul yang sedang mengernyit kesakitan mengusap lengannya yang terasa panas.
.
.
Author’s cuap:
Mereka bahas apaan sih?
Author tuh gak ngerti deh,,
Tokek nemplok tembok? Patok patok ayam?
Otak polos semurni tetesan embun pagi kayak author gini, suka gak nangkep ama yang begituan..