Titip Salam

Titip Salam
Dating - Informasi Tentang Apa itu Kencan? (part3)



#124


Dating - Informasi Tentang Apa itu Kencan? (part3)


Kecanggungan tercipta ketika suara deru motor Willy kian menjauh dan menghilang meninggalkan Diana dan Mario yang masih dalam diam.


"Kamu masih merasa gak enak sama Congek?" Mario membuka suara sementara Diana masih terdiam sambil mengedarkan pandangan pada pemandangan di depannya.


"Aku terkejut ketika Congek memberikan tiket emasnya untuk sebuah kencan dengan kamu."


Diana beralih menatap Mario. Dia sempat berpikir Mario bertindak buruk pada Willy yang membuat Willy akhirnya melakukan semua ini. Namun reaksi Willy yang terlihat sangat tulus dan terlihat tanpa tekanan sama sekali, seketika menghapus pikiran buruk itu. Bahkan Mario dan Willy tertawa dan bergurau seolah mereka adalah kawan baik. Yah, semoga mereka kini telah berkawan baik.


"Kamu tau apa yang dia katakan?"


"Aku masih punya banyak waktu untuk berkencan dengan Diana nanti. Sementara kamu akan pergi jauh, bisa jadi ini adalah kencan yang akan sulit kamu dapatkan lagi nantinya." Ucap Mario sambil menirukan gaya Willy berbicara.


"Sialan bukan? Dia memberi kesempatan sekaligus ancaman."


Diana terkekeh pelan mendengar penuturan Mario.


"Dan lihat sekarang, dia bahkan mengejutkanku dengan kencan yang tanpa persiapan."


Diana memandang Mario dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia belum pernah melihat tampilan yang begitu santai dari pemuda itu. Diana tak sanggup menahan tawanya.


"Jangan menertawaiku!" Mario bersungut kesal yang sontak membuat Diana tertawa semakin keras.


"Yaudah gak usah cemberut. Terus sekarang gimana? Kalau batal juga gak apa-apa kok." Ucap Diana setelah puas tertawa.


"Apa? Batal? Kamu gak dengar aku tadi bicara apa? Kencan ini adalah kencan yang akan sulit aku dapatkan lagi nantinya."


Mario mengulurkan tangannya. Ia menarik nafas dalam sebelum berucap "Diana, kamu mau kan, kencan sama aku?"


Mario mengulangi lagi pertanyaannya.


Diana mere mas jemarinya sebelum akhirnya menyambut uluran tangan itu dengan senyum tipisnya.


"Kamu juga mau kan, jadi pacar aku?"


"Hah?" Diana terkejut ketika pemuda itu mengatakannya langsung pada intinya, tanpa basa basi, tanpa rayuan.


"Kamu gak bisa nolak kali ini. Itu juga termasuk dalam perjanjian kamu dengan Congek kan? Jadi pacar satu hari."


Mario dapat merasakan telapak tangan Diana begitu dingin dengan pipinya yang merona. Tangan ini sedingin telapak tangan Diana saat Mario mengungkapkan perasaannya di siang itu.


"Kamu gak romantis."


Disinilah, di titik tertinggi kota Gresik, dua anak manusia ini tersenyum bersama dalam sebuah tautan hubungan baru yang lebih spesial. Seolah seluruh penjuru Kota menjadi saksi bisu sebuah hal baru yang akan mereka mulai.


"Eh, tunggu, tunggu!" Wajah Mario tampak serius.


"Kenapa?"


"Kencan atau pacaran itu ngapain aja sih?"


Gubrak!


Diana menepuk jidatnya kala mendengar pertanyaan konyol Mario. Mimik wajah Mario yang begitu serius sempat membuatnya cemas tadi.


Mario menggaruk kepalanya merasa begitu bodoh kali ini. Kenapa ia tak mencari tau dan merancang kencannya sejak jauh-jauh hari. Otaknya benar-benar kosong saat ini.


"Mana aku tau! Aku kan gak pernah kencan. Apalagi pacaran." Jawab Diana.


"Aku juga gak pernah." Lanjut Mario.


Mereka saling berpandangan kemudian tertawa. Semua alur ini terdengar seperti lelucon.


"Setidaknya ayo buat hari ini berkesan."


Mario duduk mengeluarkan ponselnya. Ia membuka peramban dan mengetik sesuatu di laman pencarian.


Diana pun ikut duduk di samping Mario, mendekatkan kepalanya guna turut mengintip apa yang ditampilkan pada layar ponsel Mario. Bahkan telunjuknya dengan lancang menggeser-geser layar ponsel itu. Diana pun terlihat antusias mencari tau.


Dari jarak yang begitu dekat, Mario dapat mencium aroma harum shampo dari rambut gadis itu. Hal tersebut membuat dadanya berdebar hebat. Ia sudah tidak fokus lagi pada layar ponselnya.


"Kan udah resmi jadi pacar ya?" Gumam Mario dalam hati.


"Kalau udah jadi pacar, dicium boleh gak sih?"


Memori otak Mario memutar kembali kejadian dimana ia tiba-tiba mencium kening gadis itu, yang akhirnya dihadiahi sebuah tonjokan telak tepat di hidungnya.


"Ntar aja deh, kayaknya masih kepagian kalau harus mimisan sekarang." Batin Mario.


Status mereka memang pacar, tapi untuk kontak fisik yang lebih jauh, bukan hal yang tidak mungkin gadis itu tidak bisa menerimanya.


Mario harus berhati-hati dalam bertindak. Salah-salah gadis itu akan membencinya seumur hidup. Apalagi bila ditambah hadiah dari tangan sakti Diana. Inilah resiko bila berpacaran dengan seorang pendekar.


Diana tampak antusias melihat banyak hal menyenangkan yang biasa dilakukan oleh pasangan muda dari gambar-gambar yang ditampilkan pada peramban ponsel Mario.


"Wah, nonton bioskop. Aku hanya sekali bersama Ayah wktu kecil dulu. Kami nonton film petualangan." Diana spontan bercerita tanpa beban.


"Wah makan bareng. Kita udah pernah kan.." Ucap Diana tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel yang masih dipegang Mario namun dia yang memegang kendali.


"Jalan-jalan ke pasar malam? Tapi ini masih pagi. Okeh skip!"


"Foto-foto, benar juga ya.. Kita harus mengabadikan momen-momen yang berkesan."


Diana terus menggeser semakin ke bawah. Ia melihat gambar-gambar penuh bunga, bongkisan, coklat, balon, dan pasangan yang tersenyum berdua. Mereka yang digambar itu terlihat begitu bahagia membuat Diana turut menyunggingkan senyum turut merasakan kebahagiaan mereka.


Semakin kebawah, senyum Diana kian meredup. Penglihatannya telah sampai pada area berbahaya.


Mulanya gambar jemari yang saling bertaut. Gambar lain memperlihatkan pasangan yang saling berpelukan. Gambar yang lain lagi memperlihatkan pasangan yang saling menempelkan kening dengan senyum bahagia, namun reaksi Diana sudah tak lagi tersenyum mengiringi gambar tersebut seperti reaksinya pada gambar-gambar di atas.


Hingga sampai pada gambar-gambar yang menunjukkan kontak fisik yang lebih intim, ia seorang pemuda yang mencium kening pasangannya, gambar berikutnya seorang gadis memegang bunga sambil mencium pipi pasangannya, dan gambar terakhir yang membuat Diana tak melanjutkan pencariannya ketika melihat gambar pasangan yang sedang berciuman.


Reaksi berbeda dari Mario, matanya justru terlihat berbinar bahkan semakin mendekatkan layar ponselnya.


"Wah keren Di, kita musti coba nih. Gimana ya rasanya?" Ucap Mario sambil cekikikan. Namun ketika ia menoleh pada gadis itu, nyalinya langsung ciut ketika mendapat pelototan dengan wajah bersengut kesal.


"Jangan coba-coba ya Mario!" Diana menunjukkan kepalan tangannya sampai beberapa urat halus nampak di permukaan kulitnya.


"Hehehe.. Bercanda.." Mario bahkan nampak pucat sebelum ia sempat membayangkannya.


Ini sangat menegangkan bukan? Punya pacar seorang pendekar lebih memacu adrenalin dari pada bertanding bola dengan skor imbang dimenit terakhir final.


"Jangan pasang wajah seram gitu dong Di.." Mario bahkan tak berani memanggilnya dengan sebutan sayang seperti yang sering ia lakukan setiap kalo menggodai gadis itu.


"Gimana kalau sekarang kita nonton bioskop?" Ucap Mario berusaha memperbaiki keadaan.


"Setuju!" Mood Diana akhirnya kembali lagi dengan mudahnya. Benar-benar pilihan yang tepat. Diana memang begitu terlihat antusias ketika bercerita tentang bioskop tadi.


Mario dapat bernapas lega. Bibirnya menyunggingkan senyum senang melihat gadis itu sudah berjalan mendahuluinya menuju motor.


Mario ingat satu hal tentang salah satu kelemahan gadis itu. Senyumnya kini berganti sebuah seringai yang penuh arti. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Semoga itu adalah sesuatu yang baik. Namun, ketika sekali lagi mengingat setangguh apa gadis yang kini menyandang sebagai pacarnya itu, ia pasti tau batasannya atau keselamatannya sendiri taruhannya.


Mario Diana semoga harimu menyenangkan.


...


Author's cuap:


Yaelaaah Mario,


Baru ngadepin anaknya udah ciut aja..


Belum ngadepin bapaknya tuh..


Hahaha