Titip Salam

Titip Salam
Kesengajaan



#36


Tangan itu terulur tepat di depan Diana.


"Selamat ya, Diana."


Diana mendongak menatap pemilik tangan tersebut. Dengan pasti Diana membalas menjabat tangan itu dan tersenyum.


"Terimakasih kak, ini semua juga berkat bimbingan kak Ari." Ucap Diana.


"Ehem," Rosa berdehem kecil.


Deheman Rosa bak dengungan nyamuk yang mengganggu, membuyarkan acara jabatan tangan yang berlangsung cukup menyita detik-detik waktu. Itu cukup lama untuk jabat tangan biasa.


"By the way, aku juga terpilih loh.. Apa aku gak diberi selamat juga?" Ucap Rosa kemudian.


"Tentu dong, selamat ya Ros.." Ucap kak Ari sambil mengulurkan tangan pada Rosa.


"Terimakasih kak." Ucap Rosa dengan senyum sumringah.


"Kalian jaga kesehatan. Percuma latihan keras tapi kalau pas hari H kalian tidak fit, pasti hasilnya tidak akan maksimal." Ucap kak Ari.


"Siap kak." Jawab Diana dan Rosa kompak.


Mereka mengobrol sebentar membahas singkat pengalaman sang pelatih tentang bagaimana jalannya perlombaan bela diri setiap tahunnya. Diana dan Rosa tampak serius mendengarkan. Sesekali mereka tertawa ketika ada bagian lucu dalam cerita.


Tiba-tiba sesuatu menghantam kaki kak Ari cukup keras. Sebuah bola sepak.


"Eh, maaf. Saya tidak sengaja." Ucap seseorang yang berlari kecil mendekati mereka.


Mario menyunggingkan senyum dan mengambil bola yang memantul setelah mengenai kaki kak Ari. Rosa tampak menggosok telapak tangannya. Wajahnya penuh semangat menunggu apa yang akan terjadi setelah ini. Pikirannya sudah berfantasi tak terkendali. Dia tahu betul ini antara Diana, Mario, dan kak Ari.


"Oke, gak masalah bro." Jawab kak Ari dengan membalas senyum.


Diana menatap Mario dengan prasangka.


"Bagaimana bisa bola itu tepat mengenai kaki kak Ari dengan cukup keras kalau tidak ditendang dengan sengaja." Batin Diana.


Mario balas menatap Diana seolah dapat membaca ada pikiran buruk dari tatapan Diana. Dia kembali tersenyum seolah mengartikan "Ya, aku memang sengaja."


Mario mendekat tepat di hadapan Diana. Dia mengulurkan tangan pada Diana.


"Selamat ya, Diana. Kamu berhasil terpilih menjadi salah satu perwakilan sekolah di kompetisi bela diri." Ucap Mario.


Lama Diana tidak merespon. Dia masih merasa kesal dengan lelaki ini. Tapi jika tidak dibalas akan sangat tidak sopan.


"Terimakasih." Jawab Diana sambil membalas singkat jabatan tangan Mario.


Mario terkekeh kecil mendapat perlakuan itu. Dia sadar betul Diana belum membuka hati bahkan hanya sekedar untuk sepenuhnya memaafkan dirinya.


"Aku gak di kasih selamat juga nih?" Celetuk Rosa.


"Ogah ah, Ros. Kamu kan gak penting buat aku." Jawab Mario sambil nyelonong pergi.


Deg,


Seketika Diana terhenyak. Raut wajahnya sangat terkejut mendengar pernyataan Mario. "Lalu? Apa artinya aku penting buat dia?" Batin Diana.


Entah mengapa rasanya seperti ada angin segar menerpa wajah Diana. Jujur dia sedikit tersentuh memikirkannya. Dia sekuat tenaga menahan diri untuk menahan senyuman tersungging. Gengsi!


Rosa dibuat cemberut kesal dengan kata-kata Mario. Matanya melirik pada pria di dekatnya. Wajah kak Ari.


Ada perubahan pada raut wajah tampan kak Ari. Wajah yang lembut dan dipenuhi senyum ramah seketika tampak berkerut dan sulit diartikan. Rosa melihatnya.


...


Di sudut dinding seorang pemuda sedang tersenyum dengan buku dan pensil ditangannya. Tangannya menggesekkan pensil itu pada secarik kertas putih membentuk sebuah mahakarya hitam putih.


"Wil, jangan senyum-senyum sendiri. Nanti pelanggan om kabur semua. Dikira ada orang gak waras." Ledek om Rudi pada ponakan laki-lakinya itu.


"Jahat banget sih om. Ponakan sendiri dikatain gila." Jawab Willy.


"Eh, om aja ngeri liatnya. Kirain kesambet apa ya? Apa perlu om taburin garam ya?" Lanjut om Rudi.


"Terusin aja om.. Tadi gila sekarang kesurupan. Sekalian bakar kemenyan di depan nih.."


"Hahaha, sabar anak muda.."


Willy melengos kesal namun akhirnya tertawa juga. Senyum itu hadir dengan sendirinya. Willy pun tidak menyadari kalau bunga-bunga dihatinya sampai mencuat pada raut wajahnya.


"Kalau naksir bilang. Jangan ditahan. Ntar jadi jerawat." Goda om Rudi masih berlanjut.


"Udah om gak usah ngeledek terus. Tuh, bautnya kemana-mana."


"Hahaha.. Dibilangin kok sewot. Ntar kburu ditikung orang loh. Patah hati sebelum berjuang. Ahaaay.. Hahahaa"


Tawa om Rudi terus berlanjut, namun kata-kata terakhirnya seolah menggema ditelinga Willy.


"..Ntar kburu ditikung orang loh.."


"..ditikung orang loh.."


"..loh.."


Wajah Willy seperti ditampar dari lamunan dan kembali pada kenyataan. Wajahnya nampak merenung.


"Betul juga kata om Rudi." Batinnya.


Pikiran Willy melayang pada peristiwa sore itu. Dimana Mario dengan lantang mengatakan.


"Aku suka dia."


Senyum sumringah seorang pemuda yang tengah merasakan kasmaran seketika lenyap. Wajah itu berubah lesu.


"Wil, bantuin bapak itu dulu dong.." Ucap om Rudi.


Willy tidak memberikan respon apapun. Matanya tampak kosong. Dia melamun. Hingga tepukan dibahunya membuatnya terlonjak.


"Hei,"


"Eh," Willy terlonjak.


"Anak muda jangan banyak bengong. Tuh, bantuin om dulu. Bapaknya mau isi angin." Ucap Om Rudi.


"Hehe.. Iya om." Willy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia sedang malu.


"Lagi ngelamunin pacarnya ya.." Canda bapak-bapak itu.


"Enggak om, anu- itu- mikirin pr sekolah, susah banget. Hehehe.." Balas Willy cengengesan.


"Masak sih? Om dulu juga pernah muda loh.." Lanjut bapak-bapak itu.


Willy mendekati motor bapak itu. Dia tampak familiar dengan motor ini.


"Isi angin yang mana om? Depan atau bela..-" Perkataan Willy terpotong.


Belum sempat Willy melanjutkan pertanyaannya, lidahnya terasa kelu menatap seseorang yang sedang tersenyum di belakang bapak-bapak itu.


"Isi aja dua duanya."


Suara ngebass bapak itu mengagetkan Willy. Willy sedikit tersentak dibuatnya.


"Eh, iya om." Ucap Willy.


Mata Willy kemudian.beralih menatap gadis dibelakang bapak itu. Dia membalas senyumnya.


"Hei, Diana. Apa kabar?" Ucapnya.


"Hei Willy, kabar baik." Jawab Diana.


Willy tersenyum kemudian mulai bergerak mengisi angin ban motor milik bapak tersebut.


Benar-benar Tuhan telah menggariskan karena sepertinya tidak ada kata kebetulan. Ini adalah kesengajaan dari Tuhan. Motor itu adalah milik Arman, ayah Diana.


Diana yang dijemput ayahnya sepulang dari latihan bela diri, diajak mampir ke bengkel dekat sana untuk menambah angin di ban motor ayahnya itu. Tentu saja bengkel itu ternyata bengkel milik om Rudi, dengan Willy yang sedang ada disana.


"Loh, kalian kenal toh?" Ucap pak Arman, ayah Diana.


"Iya om." Jawab Willy singkat sambil tangannya terus bekerja.


"Kamu pake baju basket SMP 10. Berarti gak satu sekolah sama anak saya ya? Temen SD dulu?" Tanya pak Arman.


"Bukan om." Jawab Willy.


"Loh, terus kok bisa saling kenal?" Pak Arman mulai merasa heran.


"Itu.." Willy tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan dari ayah Diana sambil menengok ke arah Diana seolah memohon bantuan.


"Ayah kebiasan kepo aja." Celetuk Diana yang memahami sinyal dari Willy.


"Loh, ya kenapa emangnya kalo ayah pingin tahu. Anak sekarang kalau ditanya orang tua jawabnya ayah kepo ah," Ucap pak Arman dengan suara yang dibuat cempreng diakhir kalimatnya untuk menirukan aksen Diana.


Diana jadi terkekeh melihat tingkah lucu ayahnya.


"Sudah beres om." Ucap Willy yang kemudian berdiri dan membereskan selang-selang yang terhubung pada pompa kompresor.


"Terimakasih ya dek." Ucap pak Arman sambil menyerahkan selembar rupiah sebagai biaya isi angin bannya.


"Terimakasih kembali om.."


"Loh, jangan dibalikin dong terimakasihnya. Harus diterima. Hehe.. Jangan banyak bengong ya.." Canda pak Arman sambil menyalakan mesin motornya.


"Duluan ya Wil.." Salam Diana.


Motor itu mulai berjalan perlahan pergi dari hadapan Willy. Lagi dan lagi Willy terhipnotis menatap punggung itu menjauh. Dan lagi lagi wajah itu menoleh ke arah Willy, tersenyum dari jauh.


"Cakep ya?" Suara berbisik itu tepat ditelinga Willy.


"Iya, manis." Begitu tanggapan spontan dari Willy dengan mata yang masih memandang ke arah kepergian punggung itu.


"Mirip kayak di kertas ini." Suara bisikan itu lagi.


"Eh,"


Willy terkesiap. Sontak dia menoleh ke belakang. Om Rudi sedang memegang buku yang tadi Willy tinggalkan di atas bangku begitu saja.


"Ooh.. Bunga musim semi ku.." Ucap om Rudi membaca catatan kecil di pojok bawah kertas.


"Apaan sih om." Ucap Willy sambil meraih bukunya.


Om Rudi tertawa sejadinya melihat Willy yang salah tingkah dan buru-buru menyimpan bukunya dalam tas.


"Hahaha.. Siapa tadi namanya? Diana?" Ledek om Rudi berkepanjangan.


Lagi-lagi Willy terjebak dalam kekonyolannya sendiri. Benar-benar malu rasanya. Dia memutuskan segera mengambil sepeda gunung miliknya dan mengayuhnya untuk melarikan diri menyembunyikan rona merah di pipinya.


"Mau kemana?" Teriak om Rudi.


"Berangkat latihan."


Dan sepeda itu melesat menjauh meninggalkan hembusan angin.


Om Rudi menatap jam dinding yang menempel di tembok bengkelnya.


"Tumben jam segini sudah berangkat."


...


Author's cuap:


Berasa ikut jatuh cinta deh mas Willy..


Hehehe..


Temen2 pembaca tersayaaang


Jangan lupa dukungan bwt author ya..


Like, Vote, Bunga Kopi nya jangan lupa dong..


๐Ÿ‘๐Ÿผโค๏ธ๐ŸŽŸ๏ธ๐ŸŒนโ˜•


Komen juga ya..


๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป


Follow author juga biar bisa ngobrol chat chat an.. Okeey..