
#43
Pekan olahraga, seni, dan budaya sudah berlangsung selama beberapa hari. Putra putri terpilih telah berkompetisi selama beberapa hari terakhir. Tersisa beberapa yang masih bertahan menuju babak selanjutnya dan sebagian besar sudah tumbang dalam babak penyisihan.
Diana harus berjuang sendiri mewakili sekolahnya pada cabang beladiri putri pada semifinal. Rosa dan Novi harus menyerah kalah pada lima belas besar dan delapan besar.
"Semangat Diana. Jangan terlalu memikirkan hasil akhir. Yang penting fokus dan berikan yang terbaik saat itu. Kemenangan hanya bonus." Ucap kak Ari yang menyemangatinya.
"Terimakasih kak," Ucap Diana sebelum masuk ke arena bertanding.
Suasana riuh dengan sorak sorai para supporter meneriakkan nama jagoan mereka. Tentu sesuai rencana, teman-teman Diana datang membawa pom-pom, terompet, dan spanduk yang cukup besar dengan foto Diana disana.
Norak? Yes. Tapi Diana menjadi tersentuh dan bersemangat agar usaha teman-temannya tidak sia-sia. Spanduk itu terus direntangkan, tangan mereka juga harus pegal karena mengangkat spanduk itu sampai babak final. Sepakat!
Pertandingan berlangsung cukup alot. Maklum karena ini sudah mencapai penghujung kompetisi. Diana terus berjuang hingga akhir. Latihan dan kerja kerasnya selama ini akan diuji saat ini.
Berhasil!
Semua bersorak dan melompat kegirangan setelah diputuskan Diana sebagai pemenang dan lolos ke babak final.
Diana kembali duduk. Dia menghembuskan nafas penuh kelegaan.
"Selangkah lagi Diana.."
...
Waktu istirahat tiga puluh menit hampir habis. Diana berpamitan pada teman-temannya yang duduk di tribun untuk segera turun ke arena.
"Doain ya temen-temen.. Aku deg-degan banget." Ucap Diana.
"Pasti!" Sahut seseorang tepat dibelakang Diana.
Diana pun menoleh.
Mario disana, tersenyum pada Diana dan segera mengambil duduk diantara teman-teman yang lain.
Supporter Diana yang semula kondusif menjadi sedikit kacau karena beberapa berebut duduk di dekat Mario. Termasuk Zahra.
Diana mendengus pelan. Dia tak mau ambil pusing dengan kedatangan Mario bak gula-gula yang langsung dikerumuni semut. Lebih baik dia fokus pada pertandingan akhir yang sebentar lagi akan dimulai. Lawannya kebetulan juara tahun kemarin. Tentu akan semakin tidak mudah.
...
Rosa dan Novi sontak melompat kegirangan. Diana turun dari gelanggang dan berhambur memeluk dua orang temannya yang berada di bench peserta.
Kak Ari selaku pelatih pun tampak histeris bahagia. Reflek Diana pun memeluk kakak pelatih tampan itu. Hanya sebentar karena saking girangnya.
"Selamat Diana. Kakak gak nyangka pertama kali kamu turun ke arena langsung bisa sejauh ini. Kamu benar-benar hebat." Ucap Kak Ari menepuk bahu Diana.
"Terimakasih kak, semua berkat bimbingan kakak juga." Balas Diana.
"Diana..." Teriak teman-teman Diana dari tribun penonton.
Diana pun bergegas kesana dan mendapat pelukan dari teman-temannya. Suasana benar-benar pecah. Tidak sia-sia tangan mereka serasa mati rasa mengangkat spanduk mendukung Diana.
"Eh, Mario kemana?" Bisik Zahra menyadari keberadaan Mario yang tiba-tiba menghilang.
Beberapa orang yang mendengar Zahra berbisik ikut celingukan mencari keberadaan Mario, tidak ada.
Aneh.
"Kalian nungguin aku sampai naik podium kan?" Tanya Diana pada teman-temannya yang hadir disana.
"Pasti dong.. kita pengen banget lihat kamu dikalungin medali emas." Ucap Hera.
"Trrimakasih ya temen-temen. Kalian emang the best pokoknya. Kalau gitu aku turun lagi ya.." Diana melambaikan tangan pada teman-temannya.
"Diana.." Teriak seseorang dari bench peserta.
Diana mencari sumber suara hingga matanya menemukan seseorang yang berlari mendekat dengan buket bunga dan boneka di tangannya.
"Willy?"
"Selamat ya atas kemenangan kamu. Kamu emang hebat banget. Pantes aja Mario langsung keok sama tendangan kamu. Hahaha.." Ucap Willy sambil berbisik di bagian belakang kalimatnya.
"Ngaco kamu. Makasih ya, Congek." Ucap Diana menerima hadiah dari Willy.
Willy tertawa mendengar panggilan Congek dari Diana. Akhirnya Diana sekarang sudah tau siapakah dalang si pengirim salam dan hadiah-hadiah yang menyebut dirinya Congek.
Benar, paper bag sore itu berisi bingkisan jam tangan (couple) yang ditolak oleh Diana karena berharap orang yang disebut Congek itu bisa muncul dan memberikannya sendiri. So, bertemulah Willy dengannya ketika itu.
Willy memang tidak mengatakannya secara langsung. Dia menuliskan catatan kecil di dalam bingkisannya yang berisikan..
*Hai Diana,
Terimakasih atas bantuanmu malam itu.
Sejak saat itu aku merasa,
kamu benar-benar seperti jelmaan malaikat
menjadi surganya bunga musim semi yang bermekaran.
Diana, bisakah kita menjadi teman?
Namaku Willy
atau sering juga dipanggil sebagai
Congek..*
"Oh ya Di, maaf aku gak bisa lama-lama. Setengah jam lagi aku tanding di lapangan basket outdoor sebelah kanan tribun ini. Kalau kamu ada waktu nonton ya.. Ini final loh.."
"Wah, selamat ya.. Semoga tim kamu bisa menang juga. Aku gak janji, tapi aku usahain nanti nonton."
Mereka pun berpisah. Diana kembali pada kelompok beladiri sekolahnya karena sudah menunggu wartawan yang akan mewawancarainya sebelum apel penutup sekaligus pembagian hadiah pada para juara.
Willy berjalan santai menuju lapangan tempatnya bertanding. Teman-temannya tampak sudah mulai melakukan pemanasan.
"Willy, kamu dari mana aja? Dicariin pelatih tadi." Ucap Lala yang langsung menyeret tangan Willy agar bergegas menuju lapangan.
"Udah kayak truk aja pakai gandengan segala. Pantesan tiba-tiba ngilang." Cibir Salim ketika Lala dan Willy masuk ke lapangan.
Seketika Willy segera menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Lala menghindari ledekan lain yang nanti bermunculan.
"Apaan sih kamu Lim, kamu kan tau aku tadi kemana." Ucap Willy sedikit kesal.
"Iya iya Ngek, gak usah pake emosi dong. Habis kalian dateng-dateng gandengan tangan. Kan mulut aku jadi gatel pengen ngeledekin."
"******! Mulut kalo gatel digaruk sonoh.." Ucap Willy sambil menoyor pelan pundak temannya itu.
"Udah ketemu penyemangat hati kamu kan tadi?" Salim menaik turunkan alisnya menggodai Willy.
"Udah dong." Jawab Willy sambil tersenyum renyah kemudian beranjak pergi menemui pelatih yang melambaikan tangan ke arahnya.
Salim pun berbalik dan beranjak mengikuti Wlly.
"Tunggu Lim." Ucap Lala menahan lengan Salim.
"Ih, Lala. Cari kesempatan deh ya pegang-pegang abang." Ujar Salim yang sontak membuat Lala melepaskan pegangan tangannya.
"Apaan sih Lim. Jijik tau abang abang.." Lala mendengus kesal.
"Tadi penyemangat hati, maksudnya siapa sih?" Tanya Lala yang penasaran mendengar percakapan Willy dan Salim barusan.
"Owh, yang itu. Penasaran ya?" Tanya Salim dengan tampang tengilnya.
Lala mengangguk dengan antusias. Salim melambai kecil memberi kode agar Lala mendekatkan telinganya.
"Rahasia.." Bisik Salim yang langsung ambil langkah seribu sambil tertawa terbahak-bahak.
"SALIIIIIM.."
Lala menghentakkan kakinya dengan kesal. Pikirannya melayang pada seorang gadis yang sedang berbincang dengan Willy dekat pedagang batagor depan sekolahnya. Seseorang yang membuat Willy meninggalkan lapangan saat pertandingan latihan sedang berlangsung dan menghiraukan peluit pelatih yang menjerit-jerit sampai kumisnya pun ikut bergetar.
"Apa cewek itu yang dimaksud?"
...
Author's cuap:
Aroma-aromanya nambah rival nih buat Diana.
Diana : "Eits tapi siapa sih yang berani macem-macem sama peraih medali emas bela diri tingkat Kabupaten tahun ini? Author aja pasti ciut ama aku.. Hahaha.."
Author : "Sombong lu Di, tapi bener sih.. haha"
Author : "Jangan sombong-sombong kamu Di, apalagi bikin Author kesel. Ntar Author edit nih, biar gak jadi dapet medali emasnya nih.." (ketawa setan)
Diana : " Ampun Thor.. Jangan ngambeg dong.. Author kan cantik ya.."
Ya udah deh, Author maafkan..
(Murah ya Thor.. modal dipuji cantik doang hahhaa..)
Buat para readers sayang,, murah murah dukungan juga ya..
Like
Comment
Vote
Bunga Kopi juga doyan kok Author..
Terimakasih..