
#54
Jangan Menyerah!
Hari Senin yang dimulai dengan upacara bendera seolah menguras habis energi para pesertanya. Meskipun sebelumnya telah menyuplai energi dengan sarapan pagi, saat jam istirahat pertama asupan energi itu seolah menguap lenyap tak bersisa. Tak heran, pada saat seperti itu, titik terpadat di area sekolah adalah kantin.
Di sudut kantin sekolah, sekelompok murid tengah duduk menikmati kudapannya masing-masing. Termasuk Willy.
Suapan yang penuh dengan syarat isian dalam piring saji itupun sedikit demi sedikit telah berpindah menuju lambung konsumennya. Lezat dan mengenyangkan.
"Bro.."
"Uhuk.. uhuk.." Willy terbatuk ketika mendapat tepukan dipunggungnya secara tiba-tiba. Tangannya dengan cepat meraih minum dan menenggaknya.
"Sialan kamu Lim! Kebiasaan datang ngagetin orang. Sampe keselek kan aku jadinya." Ucapnya setelah meletakkan gelas kosong di meja.
"Hahaha.. Sorry Ngek, sengaja.. Hahaha.." Salim tertawa tanpa ada penyesalan dan rasa bersalah. Dirinya pun dengan tak tahu malunya berusaha menggeser seseorang yang tengah duduk di samping Willy agar mendapatkan tempat di samping temannya itu.
"Resek kamu!" Umpat Willy kesal.
"Ya elah Ngek, jangan galak-galak, ntar gak ada yang mau loh. Hahaha.." Gurau Salim
"Tabiat kamu tuh, bubuhi akhlak terpuji dikit kenapa sih?" Willy mendengus kesal sambil terus menyendokkan sisa makanan yang ada dipiringnya.
"Aduh.. dapat siraman rohani pagi-pagi."
"Biar setan setan yang nempel di tubuh kamu itu panas. Apa sekalian mau aku taburin garam?" Ucap Willy sambil menjumput garam dalam mangkuk yang disediakan di meja kantin tersebut.
"Eits, jangan dong.. Entar setannya keasinan. Hahaha.."
"Bagi minum Lim.. Minum aku udah abis tadi." Ucap Willy langsung meraih minuman dalam kemasan plastik milik Salim tanpa menunggu persetujuan dari pemiliknya.
"Pak ustadz ngatain orang gak ada akhlak, dia sendiri gak ada sopan satun. Maen nyosor aja minuman orang." Kini berganti Salim yang mengumpat kelakuan temannya itu.
"Udah deh.. ini gantinya kamu bikin aku keselek tadi. Jadi impas." Ucap Willy sambil mengembalikan minuman Salim yang sudah tinggal setengahnya.
"Ya elaaah Ngek, kamu minta apa haus ini?" Salim pun menggerutu melihat minuman yang bahkan belum dia cicipi sudah tinggal setengahnya.
"Sama temen perhitungan amat Lim.." Willy hanya senyum menahan tawa karena berhasil membuat kesal temannya yang paling usil tengil tersebut.
"Huh.. Iye iye.. Ikhlas. Eh, ngomong-ngomong gimana ama cewek SMP sebelah? Ada kemajuan?"
Willy yang paham betul cewek SMP sebelah yang dimaksud adalah Diana, dia hanya mengedikkan bahunya yang berarti "Tauk ah,"
"Jangan menyerah dong Ngek. Aku tau banget cewek itu udah kayak spiritbooster buat kamu."
"Spiritbooster gimana?" Willy hanya tersenyum mendengar temannya itu mengoceh dengan gaya sok taunya.
"Seumur-umur main kita basket bareng, kompetisi bareng, aku gak pernah lihat kamu main kayak kemarin pas final setelah tuh cewek nengok sebentar. Cuma nyetor muka doang, gak nonton sampai habis. Tapi bener-bener bikin kamu kayak kesurupan atlet NBA. Parrraaah gilaaa bangeet.." Ucap Salim sambil sesekali menyeruput es nya.
"Gak usah berlebihan gitu.." Willy pun sebenarnya turut meng-iyakan dalam hati. Entah mengapa hatinya yang berbunga-bunga kala itu membuat fokusnya berlipat ganda, lelahnya tak terasa, dan ambisi untuk menang semakin memuncak.
"Swear Ngek.. Masak kamu gak ngerasa sih kalau final kemarin bener-bener menjadi permainan terbaik kamu."
Willy hanya tersenyum pahit ketika kembali mengingat Mario yang menggenggam tangan Diana di depan ribuan pasang mata pada final pertandingan sepak bola kemarin. Dia tau bagaimana sosok Mario yang populer, tampan, memiliki banyak fans, mana mungkin cewek tidak dibuat klepek-klepek olehnya.
Bagaimana dengan Diana? Sungguh, dalam hati kecilnya dia meragukan kalau Diana tidak ada hati pada Mario. Tidak, sesungguhnya dia tidak percaya diri lebih tepatnya.
"Temen aku bilang Diana ada yang naksir di sekolahnya. Cowok populer di sekolahnya." Ucap Salim.
Willy hanya terdiam mendengarkan Salim berbicara "Yah, aku sudah tau. Bahkan cowok itu dengan terang-terangan siap mengibarkan bendera perang denganku untuk hati Diana." Batin Willy.
"Siapa ya kira-kira? Apa Mario? Ganteng, populer, motornya keren. Wah, kalau sampai beneran itu Mario, tuh cewek pasti keren banget sampe bisa bikin Mario naksir." Salim melirik Willy yang tertunduk lesu setelah dirinya berbicara memuji-muji Mario yang mungkin memang benar dia yang menjadi rival cinta temannya.
"Eh, Kamu jangan menyerah dulu, kamu tuh ganteng, populer juga, pasti gak kalah kok sama cowok yang naksir tuh doi. Apalagi ada aku, sahabat sejati kamu, yang akan selalu membantu Congek dalam mengejar cintanya." Ucap Salim sambil bertingkah bak penyair dalam drama kolosal.
"Hehehe.. Yah, habis kebiasaan manggil Congek. Tapi serius akutuh bantuin kamu total. Tiap aku ketemu Silvi temennya cewek kamu itu, aku selalu titip salam atas nama kamu buat doi."
"Hah? Maksudnya kamu sering bilang kalau aku titip salam padahal aku gak ada nyuruh gitu?"
Salim mengangguk dengan tersenyum bangga.
Plak!
"Aw, sakit Ngek," Salim mengusap lengannya yang pasti memerah akibat tamparan tangan Willy.
"Kamu kreatifnya keterlaluan tau gak? Kalo Diana malah ilfeel gimana?" Willy tampak sedikit cemas dengan inisiatif yang Salim tunjukkan.
"Iya juga ya? Ah, gak mungkin lah ilfeel. Doi pasti seneng. Kamu kan sering cerita kalau doi ramah banget sama kamu."
"Iya sih, tapi gak udah kayak gitu lah Lim. Kalau keseringan titip salam doang juga malu-malui. Mending samperin langsung, ngajak ngobrol. Gitu kesannya lebih laki."
Salim pun manggut-manggut mengerti. "Hmm.. tapi yang kemarin udah terlanjur. Hehehe.."
"Udah, gak usah diulangi lagi."
"Iye,"
...
Sementara di sudut kantin SMP sebelah, Diana dan teman-teman sudah mengakhiri sesi makan baksonya. Mereka pun duduk santai menghabiskan minuman sembari menunggu jam istirahat usai.
"Kok mata aku cedutan yah? Gak nyaman banget rasanya." Ucap Diana sambil mengucek-ucek matanya.
"Tandanya ada yang lagi ngomongin kamu tuh.." Timpal Rida.
"Apa Mario ya? Masak tadi udah sering ketemu masih aja ngomongin kamu. Hihihi.." Celetuk Hera.
"Apa jangan-jangan si Congek ya? Soalnya kata temenku kemarin, dia titip salam lagi buat kamu. Emangnya kamu sama Congek gimana sih Di?"
Deg,
Pertanyaan yang lolos begitu saja dari bibir Silvi membuat Diana kembali teringat pada peristiwa kemarin. Willy yang tiba-tiba menghilang ketika babak kedua akan dimulai. Lebih tepatnya setelah Mario yang kedapatan menggenggam tangannya sebelum masuk ke lapangan.
"Apa Willy lihat, terus dia pulang?" Batin Diana.
"Di, jangan kebanyakan bengong." Ucap Zahra menepuk pelan pundak Diana.
"Eh, iya. Siapa yang bengong?" Elak Diana.
"Aduh, banyak yang naksir jadi linglung kamus sekarang." Balas Zahra.
Diana hanya senyum-senyum menanggapinya. Mungkin yang dikatakan Zahra ada benarnya. Dirinya memang acapkali terlalu banyak memikirkan hal-hal yang selama ini diluar jangkauannya. Masalah Mario, Stefi, dan Willy, yang sebelum kejadian malam pengeroyokan itu bahkan untuk mengenal pun rasanya tidak mungkin. Yah benar, semua keruwetan ini memang berawal dari peristiwa malam itu.
...
Author's cuap:
Buat pembaca setia Titip Salam,
ter love love love..
Makasih banyak..
Jangan.lupa dukungannya terus ya..
Like Comment Vote bagi-bagi bunga juga yaaaa
Terharu akutuh kalau kalian menikmati karya aku..