
Author's cuap:
Gak bosen-bosen aku ngucapin makasih bangeeet untuk temen-temen yang selalu nungguin next episode karyaku..
Pokoknya aku cintaaah kaliaaaan
Ntar di bawah jangan lupa klik jempolnya yaaaah..
8
Dunia Seakan Jadi Sempit
(Pov. Diana)
Minggu yang cerah adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh mereka yang ingin melepas penat setelah beberapa hari berkutat dengan rutinitas yang melelahkan. Ada yang pergi liburan, jalan-jalan, menikmati hobi, melakukan beberapa pekerjaan rumah, atau bahkan saat terbaik untuk bisa bangun siang.
Kalau aku sih, boro-boro bangun siang. Pagi-pagi aku harus berangkat ekskul bela diri di sekolah. Dari tujuh hari dalam satu minggu kenapa harus hari Minggu yang merupakan satu-satunya hari libur yang dipilih untuk kegiatan ekskul? Sudah begitu jadwalnya musti pagi pula? Huft, pantas saja setiap kali latihan tidak pernah dalam keadaan lengkap. Ada saja satu dua yang tidak hadir saat latihan. Begitu pun aku. Hehehe…
Masuk dalam keanggotaan ekskul beladiri adalah pilihanku sendiri. Oleh karena itu, aku harus bertanggung jawab untuk aktif mengikutinya. Apalagi seragam bela diri sudah dibayar lunas oleh mamaku. Kalau sampai aku putus latihan di tengah jalan, siap siap saja membangunkan ratu singa yang sedang tertidur. (Maafkan anakmu ya ma, masak mamanya dikatain Ratu Singa, Roaarrr).
Aku tergabung di ekskul ini memang dari sejak awal memilih yakni sejak kelas satu SMP. Awalnya hanya ikut-ikutan teman sekelasku dulu. Sekalian biar terlihat keren. Bahkan aku bisa membuat teman laki-lakiku segan tidak berani mengusiliku. “Wah, anak cewek tapi jago beladiri.” Meskipun begitu penampilanku tetap perempuan yang kadang
kemayu dan tidak ada kesan tomboy. Hanya saja aku ingin menunjukkan bahwa aku tidak lemah.
Aku bukanlahanggota yang aktif. Pada beberapa seleksi untuk mengikuti kompetisi beladiri, aku kerap kali tidak serius da asal-asalan. Padahal pelatih yang selama ini membimbingku merasa yakin aku memiliki potensi. Tahun kemarin aku berhasil lolos masuk ke kompetisi beladiri tingkat SMP se-kabupaten. Mungkin karena aku yang tidak serius, aku bahkan sudah tumbang di babak penyisihan awal. Tidak apa, masih ada tahun ini buakan?
Sering aku merasa malas karena hari Minggu masih harus ke sekolah. Rasanya bosan setiap pagi harus sarapan senyum Pak Supri, satpam sekolah. (Maaf pak, perumpamaan saja karena saking bosannya setiap hari setor muka, bahkan di hari libur. Peace..)
Tapi setelah aku mengalami kejadian semalam, dimana aku menggunakan sedikit skill bela diriku untuk menolong orang lain, membuatku jadi sangat antusias dan merasa pilihanku ini sangat tepat. Aku merasa bela diri ini sangat bermanfaat untukku sebagai upaya perlindungan diri disaat yang genting seperti kemarin. Apalagi aku merasa diriku sangat bermanfaat pula karena dapat menolong orang lain. Boleh lah bangga pada diri sendiri.
Sepulangnya dari latihan, aku berdiri di depan gerbang untuk menunggu mamaku datang. Beliau berjanji menjemputku ketika pulang. Jadi aku bisa mengalokasikan jatah ongkos naik angkutan umum menjadi jajan pinggir jalan kesukaanku menjadi dua porsi. Horee..
Tapi sudah hampir setengah jam mamaku tidak muncul juga. Apa mamaku lupa ya?
Gawat! Uang jajan sudah raib untuk dua porsi pentol korea yang tinggal potongan terakhir. Masak sih harus pulang jalan kaki? Nasib..
"Diana, kok belum pulang?" Sapa seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
"Eh kak Ari. Iya belum, masih menunggu dijemput." Jawabku.
"Emmm.. Kalo gak ngerepotin bisa minta satu sms untuk ke mama saya?" Tanyaku padanya dengan sedikit malu-malu kareana tidak enak merepotkannya.
Kak Ari adalah salah satu pelatih bela diri di sekolahku. Dia adalah siswa kelas 2 di SMA N 7 Gresik, sangat ramah, pintar, tampan, postur tubuhnya tinggi dan bagus, juga kharismatik. Ditambah jago bela diri. Cewek mama gak klepek-klepek merasa aman dan nyaman didekatnya. Jangan ditanya lagi berapa banyak fansnya.
Banyak sekali siswi-siswi yang memilih ekskul bela diri hanya untuk berjuang mendekati pelatih muda ini. Pesonanya benar-benar luar biasa.
Namun dalam tempo satu atau dua bulan banyak diantara mereka yang tumbang karena merasa tidak sanggup dengan kerasnya latihan. Dan, alasan paling menyakitkan penyebab cukup banyak peserta yang didominasi perempuan mulai berguguran adalah karena tidak mendapat respon dari kak Ari. Patah hati sebelum menyatakan. Kocak sekali.
Beliau mulai mengambil alih tanggung jawab melatih tim putri sejak tahun lalu. Secara tidak langsung, akupun mulai semangat berlatih beladiri semenjak kehadirannya. Rentang usia yang tidak begitu jauh membuat kami para anggota ekskul merasa sesi latihan terkesan asik dan tidak kaku. Ditambah pemandangan sejuk wajah tampan itu. It’s normal right?
"Boleh, pake aja. Pake telpon juga gak apa kok." Jawabnya sambil menyerahkan hapenya.
"Makasih ya kak, sms aja udah cukup."
Aku segera mengetik pesan untuk mamaku.
Ma ni hp pelatih diana
Mama jd jmput g?
klo g aq jln kaki aj
blz cpt
Send
"Halo, ma.. Jadi jemput gak?" Sapaku pada si penelepon.
"Iya, tapi ban motor mama bocor. Ini mama dibengkel dekat sekolah kamu. Itu lho yang di seberang halte, di sebelah rel kereta. Kamu jalan kesini aja kalo disana udah sepi."
"Yah mama. Emangnya masih lama?"
"Ya gak tau, makanya kesini aja kamu. Kan deket, gak terlalu jauh."
"Iya deh, aku kesana aja."
"Oke mama tunggu sini ya.."
Aku menyudahi panggilan dan mengembalikan hape tersebut kepada pemiliknya.
"Makasi ya kak, maaf ngerepotin."
"Iya santai aja. Emang gak jadi dijemput? Mau bareng gak?" Ajak kak Ari.
Waduh ini orang berbahaya juga. Kalau dibiarkan terlalu baik begini terus-terusan bisa luluh kepincut juga aku. Tampan, ramah, baik hati. Ah, meleleh juga aku.
"Terimakasih tawarannya kak. Mamaku lagi di bengkel dekat sini kok, aku mau kesana aja."
"Oh gitu, ya sudah. Hati-hati ya,"
Aku mengangguk sopan dan segera berjalan kaki menuju bengkel yang dimaksud oleh mamaku. Sebetulnya aku tidak begitu paham dimana letak bengkel yang dimaksud mamaku. Meskipun lokasinya tidak begitu jauh dari sekolahku, aku jarang sekali melewati daerah itu. Seperti yang disampaikan mana tadi, aku cukup menemukan halte dekat rel kereta api untuk menemukan bengkel itu.
Sepanjang jalan aku menggerutu. Perut yang terasa sedikit terisi oleh jajanan tadi kini sudah terasa lapar lagi.
Sekitar lima menit aku berjalan hingga melihat bengkel yang dimaksud mamaku. Dengan mudah aku mengenali motor mamaku yang sedang di utak atik di depan bengkel.
Tampaknya proses tambal bannya sudah hampir selesai. Mamaku tampak meniki motornya hendak menyalakan mesin.
"Loh loh loh, kok aku mau ditinggal."
Cepat-cepat aku berlari menghampiri beliau.
"Tungguin ma..” Teriakku sambil berlari ke arahnya.
“Emangnya udah selesai tambal bannya?" Ucapku sambil terengah-engah.
"Udah kok, ayo pulang." Jawab mamaku sambil mulai menyalakan motornya.
Mamaku mengalihkan pandangannya pada seorang pemuda yang sepertinya adalah montir di bengkel itu. Beliau menganggukkan kepala dan berpamitan seraya mengucapkan terimakasih pada orang itu.
Mamaku memang orang yang cerewet, bawel, namun sangat ramah, dan menjunjung tinggi sopan santun. Beliau mengajarkan pada anak-anaknya agar jangan menunjukkan sikap angkuh, salah satunya dengan suka menyapa, tersenyum, dan jangan lupa berpamitan ketika hendak pergi.
Akupun turut mengangguk dan tersenyum menunjukkan rasa hormat dan terimakasih yang sama atas bantuan orang tersebut untuk mamaku.
Deg,
Tapi tunggu!
...
Bersambung..
Author's cuap:
Jangan lupa jempolnya ya,
Support terus karya aku ya teman-teman..
baca terus terus
Terimakasih,