Titip Salam

Titip Salam
Adu Kumbang



#89


Adu Kumbang


Liburan semester adalah saatnya mengubah kebiasaan jam tidur. Begitu menyenangkan saat Mama tidak akan marah-marah ketika anak-anaknya bangun siang. Namun entah mengapa Diana tidak dapat melakukannya.


Seolah sudah terbiasa bangun pagi-pagi, seperti ada yang membangunkannya meskipun alarm sudah dimatikan.


Seperti pagi ini, setelah bangun tidur, Diana yak langsung beranjak dari kasurnya. Diana hanya berguling-guling di kasur sambil bermain hapenya. Meskipun dia sudah bangun sepenuhnya dari tidur, namun karena ini libur sekolah dan tidak ada kegiatan apapun, Diana menunda mandinya sedikit agak siang.


"Eh, ada pesan masuk semalam." Ucap Diana yang menemukan pesan yang belum terbaca di hapenya.


Pesan tersebut dikirim hampir tengah malam saat Diana sudah tertidur. Pesan dari kontak atas nama Super Mario.


Di, bsok aq mau k rmh km


Mau ambil mp3 yg aku pinjemin kemarin


Bsok aku telpon kalau sdh dekat sana


Dandan yg cantik ya,


:-P


"Hah?"


Diana terlonjak dari tidurnya membaca sekali lagi pesan tersebut pelan-pelan.


Wajah Diana mulai tampak panik. Dia benar-benar tidak ingin ada kehebohan lagi dirumahnya kalau sampai Mario bertamu dan bertemu dengan Ayahnya.


Cepat-cepat Diana mengetik pesan agar Mario mengurungkan niatnya untuk bertamu ke rumahnya.


Aku mau pergi,


Lain kali aja ya..


Kirim..


Diana menggigiti kukunya sambil terus memandangi hapenya menunggu balasan. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, Diana mulai cemas.


"Apa dia belum bangun ya?"


"Atau malah sudah di jalan?"


Aaarrgghh..


"Oh Tuhan, kenapa aku gak bisa menikmati hari libur dengan tenang.."


Diana melompat dari kasurnya dan bergegas ke kamar mandi. Entah jadi datang atau tidak, yang penting dirinya persiapan saja dari pada tampak awut-awutan, pipi masih basah bekas iler, dan nafas bau naga ketika Mario benar-benar ke rumahnya. Bisa malu seumur hidup.


Ketika Diana kembali ke kamarnya, Diana melihat ada tiga panggilan tak terjawab dari Super Mario di hapenya.


"Ini kan masih jam 7 pagi, masak mau bertamu sepagi ini?"


"Telpon balik gak ya?"


Diana menimbang-nimbang dahulu apa yang akan ia lakukan, dan akhirnya diputuskan..


"Biar aja lah, dari pada buang-buang pulsa. Hehehe.."


Diana akhirnya merasa bodo amat dengan kunjungan Mario nantinya. Lebih baik dia sarapan dulu mengisi tenaga untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang menguras emosi nantinya.


-


"Di, mama ke pasar sebentar sama Tania. Warungnya Mama buka ya.." Ucap sang Mama yang sudah memasang helmnya.


"Iya Ma.. Jangan lama-lama ya.." Ucap Diana yang tak beranjak dari posisinya di depan tivi.


"Ayo Ma.. Cepetaaan.." Teriak Tania yang sudah bertengger di atas motor.


"Iya.. sebentaaar.."


Dan tinggallah Diana sendirian di rumah. Bermalas-malasan sambil menonton televisi.


Tok.. tok.. tok..


Diana terlonjak kaget ketika mendengar suara pintu diketuk. Dia berjalan mendekati pintu, mengintip siapa gerangan yang bertamu dari kaca jendela.


Diana membelalakkan matanya melihat siapa yang sedang berdiri dibalik pintu.


"Willy? Ngapain dia kesini?"


Diana membuka pintu dan menatap heran pada pemuda yang tersenyum padanya.


"Kamu ngapain ke sini? Cari siapa?" Ucap Diana yang masih berdiri di depan pintu.


"Aku mau ketemu Ayah kamu." Ucap Willy dengan senyum penuh makna.


"Hah? Ngapain?" Tanya Diana semakin heran.


"Mau ngadu kalau kamu udah gre pe - gre pe paha aku. Aaaw.."


Lengan Willy sontak tergeprek oleh telapak tangan panas Diana.


"Congek! Jangan aneh-aneh deh.. Aku kan gak sengaja." Pipi Diana langsung memerah bila diungkit kejadian memalukan itu.


Willy tak dapat menahan tawanya melihat wajah Diana yang sudah bersemu merah.


"Hai Diana.. Mamanya ada?" Sapa seorang perempuan yang muncul dari balik punggung Willy.


"Eh, tante Suster. Mama lagi ke pasar sama Tania. Mari masuk Tante.." Ucap Diana mempersilahkan.


"Aku gak disuruh masuk juga?" Goda Willy pada gadis itu.


"Gak boleh! Kamu nunggu di motor aja." Ucap Diana yang masih cemberut gara-gara Willy yang mengungkit kejadian memalukan itu.


"Ih, ngambek. Ya udah ayo masuk.." Mood Diana sudah kembali ceria lagi setelah berhasil membuat pemuda itu sempat cemberut.


Lina hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua anak muda itu. Mereka sudah tidak ada sungkan saling ngambek padahal ada dirinya disitu.


"Kok sepi? Kamu sendirian di rumah?"


"Iya Tante. Ayah kerja, Mama sama Tania ke pasar. Ya udah deh aku jaga rumah jadinya."


"Mamanya sudah pergi dari tadi?" Tanya Lina setelah mereka duduk.dengan tenang di ruang tamu.


"Lumayan Tante, sudah hampir setengah jam. Tadi sih katanya cuma sebentar. Ditunggu aja Tante, aku buatkan minum ya.." Diana segera beranjak meracik minuman yang mana segala bahannya sudah tersedia di kios kecil sang Mama.


"Aduh, semoga aja gak lama. Coba di sms aja dulu deh Mbak Milanya."


"Silahkan Tante.." Tak lama Diana sudah membawa dua gelas jus alpukat dan setoples camilan.


Wah.. Willy tampak tersenyum senang Diana mengingat minuman kesukaannya. Dia tidak tahu saja padahal hanya tinggal itu stok buah yang tersisa di kios sang Mama. Biarlah Willy merasa senang dengan prasangkanya sendiri.


"Makasih ya Di, Tante minum ya.."


Diana mengangguk ramah mempersilahkan. Matanya beralih pada Willy yang hanya tersenyum memandang gelas miliknya.


"Kok gak diminum? Katanya suka banget sama jus alpukat?"


Willy seperti mendapat hembusan kesejukan embun pagi. "Nah, kan.. Dia sengaja bikinin jus alpukat karena dia ingat kalau aku suka banget jus alpukat." Batin Willy dengan wajah yang begitu ceria.


"Yah kan tadi cuma Mama yang dipersilahkan minum. Akunya belum." Ucap Willy sambil pura-pura cemberut.


"Willy gak usah mulai. Seneng banget sih godain anak orang." Ucap Lina menyentil lengan putranya itu.


"Iya tuh Tante, marahin aja anaknya. Suka banget isengin aku." Ucap Diana mengadu.'


"Ngadu deh.. Ngadu.." Ucap Willy.


"Hei, hei, sono ke teras rumah kalau berantem. Biar luas areanya." Ucap Lina menggodai dua remaja yang saling adu mulut itu.


"Mama nih, masak anaknya disuruh bertarung sama jagoan silat. Nanti muka ganteng aku bisa bonyok-bonyok." Ucap Willy yang langsung meneguk minuman yang sebetulnya sudah begitu tampak menggiurkan dimatanya.


Mama Lina dan Diana auto melengos mendengar perkataan narsis dari Willy.


"Permisi.." Seseorang nampak celingukan di teras rumah.


Deg,


Diana membelalakkan matanya melihat wajah yang begitu familiar dimatanya.


"Aduh, gawat! Mario jadi datang."


Suara pendatang baru tersebut juga turut membuat dua tamu Diana menoleh penasaran.


Wajah Willy langsung berubah masam mengetahui siapa yang datang.


"Sebentar ya Tante, aku tinggal dulu."


Diana buru-buru pergi keluar menghampiri pemuda yang baru saja datang itu.


"Katanya lagi pergi?" Ucap pemuda itu yang membuat Diana garuk-garuk kepala karena tertangkap basah sedang berbohong.


"Kamu tau dari mana alamat rumah aku?"


"Apa sih yang aku gak tau tentang kamu?" Ucap Mario menggodai gadis itu.


"Eh, kamu lagi ada tamu?" Ucap Mario yang celingukan mengintip ke dalam.


Sementara yang berada di dalam rumah sudah tampak seperti cacing kepanasan.


"Aku keluar sebentar ya Ma.." Ucap Willy hendak keluar menyusul Diana.


"Kamu mau ngapain?"


"Mau nyapa teman." Ucap Willy yang segera beranjak dari sana.


Mama Lina mulai merasa cemas. Dia tau putranya terlihat tidak baik-baik saja. Pikirannya sudah berprasangka kemana-mana.


"Apa itu pacarnya Diana ya? Apa gak masalah kalau Willy ikut nimbrung di sana?" Batin Mama Lina.


Memang itu adalah urusan anak muda. Namun Lina hanya khawatir kalau anaknya bertindak diluar batas.


"Hai, Mario." Wajah Willy muncul dari balik pintu.


Jeng.. jeng.. jeng..


Mario tampak sangat terkejut mengetahui siapa yang bertamu di rumah Diana sebelum dirinya. Ketegangan benar-benar terasa di sana.


"Oh, ada Congek juga di sini."


Diana mulai cemas melihat dua pemuda itu saling menatap dengan mengerikan. Sapaan mereka terdengar begitu hangat, namun mata mereka bagai dua bilah pedang yang begitu tajam sedang beradu.


"Aduh, kok kayaknya ini lebih serem dari pada salah satu dari mereka ketemu Ayah.."


...


Author's cuap:


Aduh panassss nih..


Panassnyaaa tuh disini... (Nunjuk rongga dada sebelah kiri)


Jemponya dong buat support author..


Komen juga, bikin akutuh ketawa ketiwi baca komen2 kaliaaan..


Terimakasih sudah membaca..