
#48
Drum besar ditabuh mengiringi sorakan para supporter kian menambah sensasi ketegangan pertandingan final sepak bola tingkat kabupaten antar SMP.
Semua mata fokus pada bola yang menggelinding kesana kemari terpantul seiring berganti-gantinya kaki yang menyentuhnya.
Namun tidak untuk dua orang yang sedang ketawa ketiwi dalam dunia mereka sendiri. Diana dan Willy.
"Kalau dari wajah kamu yang sumringah banget, pasti kamu berhasil menang kemarin, ya kan?" Ucap Diana yang sudah mengobrol renyah seolah sudah begitu akrab dengan laki-laki di sampingnya itu.
"Kelihatan banget ya kalau aku lagi hepi?" Ucap Willy sambil terus tersenyum riang.
Willy sekilas melirik tangan kiri gadis itu. Ada jam tangan yang sama persis dengan miliknya namun memiliki ukuran yang lebih kecil melingkar di sana, menambah rasa bahagia yang menyelimuti hatinya sedari tadi.
"Sebenarnya, aku hepi bukan cuma karena kemarin berhasil menangin pertandingan."
Willy menatap lekat gadis di sampingnya. Terasa ada debaran entah apa. Yang jelas debaran itu membuatnya bahagia saat ini.
"Karena ketemu kamu di sini." Lanjut Willy.
Diana menoleh dan mendapati Willy sedang tersenyum menatapnya. Mata mereka beradu pandang.
"Hehehe.. Bisa aja kamu." Diana buru-buru mengalihkan pandangannya. Dia merasa tersipu dipandang begitu dekat oleh lawan jenis seperti itu. Rasanya ada sesuatu yang mendesir di dadanya ketika itu.
Sementara itu di medan perang, sang jagoan yang beberapa kali melirik seorang gadis yang duduk sendiri. Seharusnya gadis itu tidak duduk sendiri. Tadinya ada seorang lagi disampingnya. Diana, yang tidak ada di tempatnya. Fokusnya mulai buyar.
Sedari tadi Mario memang kedapatan mencuri-curi pandang pada titik itu. Titik dimana Diana yang sedang duduk bersama Hera. Namun gadis itu menghilang beberapa menut yang lalu meninggalkan Hera seorang diri.
"Kemana dia? Masak udah pulang?" Gumam Mario dalam hati.
Mario sedang menguasai bola dengan pikiran yang mulai bercabang. Dari sisi lapangan tampak sang pelatih berteriak-teriak mengarahkan langkah para muridnya apabila dirasa akan menyimpang dari strategi yang telah di diskusikan.
"Fokus Mario.." Kumis sang pelatih bergetar tatkala meneriakkannya.
Seorang lawan datang berusaha merebut bola dari kaki Mario. Mario yang nampak terkejut karena pikirannya tidak dapat membaca situasi.
Priiiit..
Wasit meniupkan peluit pertanda ada pelanggaran sedang terjadi. Penonton yang semula kondusif mulai gempat melihat yang terjadi. Sang pelatih tampak menggaruk-garuk kepalanya frustasi.
Diana dan Willy yang tidak memerhatikan jalannya pertandingan pun ikut terpancing mencari tahu apa yang terjadi.
Dari tempatnya duduk, Diana dapat melihat kerumunan peserta mulai longgar. Namun matanya terbelalak ketika melihat Mario berjalan dengan dipapah oleh peserta yang lainnya ke pinggir lapangan.
"Itu Mario?" Tanya Willy.
"Iya kayaknya. Aku balik ke bawah lagi ya Wil.." Ucap Diana kemudian pamit kembali ke tempat duduknya semula.
"Iya," Jawab Willy setengah hati.
...
Pertandingan berlangsung sengit. Skor babak pertama masih seri 1-1. Kedua kubu tampak bertanding habis-habisan. Tim lawan sangat berjuang keras ingin menumbangkan gelar juara bertahan tim SMP 15.
Babak kedua nanti akan ada tamu spesial yang datang. Bapak Bupati dan wakilnya melenggang masuk dan menempati area VVIP yang telah disterilkan. Hanya beberapa yang masih boleh bertahan duduk disana, yakni mereka yang berkedudukan misalnya kepala sekolah dan panitia utama saja.
Diana dan Hera yang notabene hanya rakyat jelata pun harus terusir dari sana.
"Di, sebelum naik ke tribun atas, kita ke bawah dulu yuk.. Aku mau ngasih tau Abdul dulu posisi kita dimana. Takutnya dia nyari ntar." Ajak Hera.
"Hmm.. Udah harus saling laporan ya sekarang?" Goda Diana.
Hera mencubit lengan sahabatnya itu sambil tersipu malu. Diana mengikuti saja apa maunya Hera itu. Sekalian dia pun penasaran ingin tahu keadaan Mario pasca keluar lapangan tadi.
Diskusi strategi dari sang pelatih nampaknya telah usai. Hadir pula pak Samsul guru olahraga SMP 15 yang pastinya tidak akan melewatkan pertandingan sepak bola yang menjadi favoritnya.
"Kamu yang namanya Diana kan? Selamat ya.. Kamu sudah menyumbangkan medali emas untuk sekolah kita." Ucap Pak Samsul menyapa Diana.
"Terimakasih pak." Sahut Diana dengan hormat.
Sontak Diana mengernyitkan alis mendengar pertanyaan guru olahraganya itu.
"What? Ngapain pak Samsul nanya gitu? Maksudnya apaan coba?" Batin Diana.
"Engga-" Belum sempat menjawab, pak Samsul sudah berinisiatif menunjuk seseorang yang sedang melakukan pemanasan ringan di pinggir lapangan.
"WOY, MARIO.. ADA YANG NYARI" Teriak pak Samsul yang membuat banyak orang disana beralih fokus menatap ke arahnya dan Diana sambil cekikikan.
Diana pun mengkerut berusaha sembunyi tapi tak mampu. Hera yang tadi disampingnya pun entah kemana.
"Tuh, udah bapak panggil orangnya. Bapak balik ke atas dulu ya.." Ucap Pak Samsul sambil tersenyum senyum menggodai Diana yang tampak sangat malu.
"Haduh.. anak muda.." Gumamnya sambil berlalu menuju bangku penonton dekat Pak Jamal, kepsek SMP 15.
"Apa-apa-an sih pak Samsul ini?" Batin Diana.
"Kirain kamu udah pulang. Ada apa?" Tanya Mario ketika sudah sampai di depan Diana.
"Hah?" Diana yang tidak ada maksud untuk menemui Mario tampak dungu.
"Pak Samsul nih gara-gara" Gumam Diana.
"Kamu ada apa nyari aku? Kuatir ya liat aku cidera tadi?" Tanya Mario dengan senyum percaya diri.
"Pede amat sih, aku cuma ngantar Hera. Katanya mau nemuin Abdul sebelum kita pindah ke bangku atas." Terang Diana.
"Haish, bisa aja kamu ngelesnya." Ucap Mario dengan mimik yang terus-terusan menggoda Diana.
"Siapa yang ngeles sih?" Sahut Diana menunjukkan ekspresi risih melihat wajah sengak laki-laki yang sangat menyebalkan baginya.
Prit, prit,
Wasit pun meniup mustika saktinya di lapangan, sebuah peluit, memberi aba-aba bahwa pertandingan babak kedua akan segera dilangsungkan.
Mario meraih kedua tangan Diana dan menggenggamnya erat. Diana terlonjak kaget membuatnya mematung tak memberikan perlawanan.
"Jangan pulang dulu ya, nonton sampai habis. Doakan aku menang. Aku akan persembahkan tiga goal untuk kamu." Ucap Mario sebelum akhirnya berlari memasuki lapangan.
Diana masih mematung berusaha mencerna apa yang menimpanya barusan. Kata-kata manis dari Mario membuatnya meleleh.
"Mempersembahkan goal?" Batin Diana mengulangi perkataan Mario barusan.
Banyak mata menyaksikan kejadian itu meski tak ada yang tau apa yang dikatakan Mario untuk Diana tadi.
Mata pak kepsek, mata para guru, mata sang pelatih, mata para peserta dan lawan, mata teman-temannya, mata Willy.
Stop!
Diana menoleh ke atas tempat dimana Willy duduk. Namun Diana tidak menemukannya. Willy sudah tidak ada di sana.
...
Author's cuap:
Diana, minggir dari situ.. kamu menghalangi pandangan author nonton bang Mario tauk,,
(Ups, ketahuan kalau nonton bola fokusnya sama pemainnya yang ganteng, bukan bola nya.. hahahaha)
Author mah gitu orangnya.. Wkk
Kalian punya bunga? Author minta dong bwt kasi ke bang Mario..
Boleh ya..
Sip, jempolnya dulu dong..