
#116
Bingkisan dan Bisikan
Mentari bersinar cerah pagi ini, secerah seorang gadis yang baru saja turun dari mobil yang mengantarnya sampai depan gerbang sekolah.
Banyak pasang mata yang menatap ke arahnya. Beberapa tampak sambil berbisik-bisik seolah sedang membicarakannya.
Espektasinya akan terlihat keren bila datang ke sekolah diantar menggunakan mobil pribadi. Ia seharusnya bisa berjalan dengan jumawa dan mengangkat tegak wajahnya. Namun rupanya semua terasa berbeda pada apa yang ia rasakan sekarang.
Diana merasa tidak nyaman dengan segala tatapan itu. Ini akan menjadi terakhir kalinya ia minta diantar menggunakan mobil oleh sang Ayah. Lebih baik ia naik angkutan umum seperti biasanya saja. Terlihat biasa-biasa saja ternyata jauh lebih menyenangkan menurutnya.
Sampai di kelas ia disambut meriah oleh beberapa teman-teman yang sudah hadir di sana. Ucapan selamat dan jabat tangan mengalir deras. Rupanya berita tentang prestasi Diana sudah menyebar di sekolah.
Tim berisik yang duduk di pojok kelas kini sudah komplit dengan kembalinya Diana. Hera, Rida, dan Zahra seolah sudah tidak sabar mendengar cerita Diana selama beberapa hari terakhir ia berlaga di luar kota.
"Masa ada magic magic nya gitu sih Di? Itu curang gak sih namanya?"
Diana hanya mengedikkan bahu untuk pertanyaan dari Rida.
"Belum terbukti kebenarannya sih, tapi kalau menurut aku emang dia hebat banget. Tatapan matanya tajam yang seketika bikin nyali ciut. Gerakannya cepat dan full power. Mungkin karena kemampuannya memang diatas rata-rata jadi semua berpikir ada bantuan bersifat magis di sana." Tutur Diana menjelaskan. Sepertinya kemampuan menganalisa dari Putri menular padanya.
"Tetep aja ngeri." Ucap Zahra sambil begidik memegangi tengkuknya.
"Tapi ada sisi positifnya beredar gosip ada main dukun di sana, aku jadi selalu berdoa dan menyebut nama Tuhan selama pertandingan."
"Bisa dibilang aku cukup beruntung bertemu peserta itu di semi final. Coba kalau pas dibabak penyisihan, pasti sudah gugur dari awal."
"Bagi kita, kamu tetep keren Di." Ucap Hera sambil menepuk-nepuk bahu Diana.
Diana meringis merasakan nyeri yang masih terasa akibat pertandingan kemarin. Sepertinya ia benar-benar perlu tangan ajaib dari ibu pijat urut.
Kegaduhan di deretan bangku pojok kelas harus segera berakhir ketika guru memasuki kelas untuk memulai proses belajar mengajar.
Diana mulai mengeluarkan buku dari dalam tasnya dan menyimpan kotak pensil di laci bangku seperti biasanya.
Tunggu!
"Apa ini?" Diana seperti menyentuh benda asing di dalam laci. Jemarinya mulai meraba dan berusaha menarik benda itu agar lebih mudah terlihat. Itu adalah sebuah paperbag dengan beberapa benda lain di dalamnya.
Diana melirik pada Hera yang tak memperhatikannya menandakan Hera juga mungkin tidak mengetahui tentang paperbag ini. Lebih baik ia simpan dulu dan melihatnya diam-diam nanti.
Ketika Diana mendorong perlahan paper bag itu kembali ke dalam laci, secarik kertas terjatuh dari dalam paper bag itu. Untuk yang satu itu ia tak kuasa menahan rasa penasaran untuk mengintip tulisan di atasnya.
*Dear Sayangku,
Selamat untuk prestasi kamu
Selamat juga untuk kamu yang sudah memenangkan hati aku
-Tukang Pipa Buncit Berkumis-
Diana mengernyitkan kening. "Tukang Pipa Buncit Berkumis?" Gumam Diana dalam hati.
Hmpft..
Tiba-tiba Diana menutup mulutnya berusaha menahan tawa.
"Apaan itu Di?" Tanya Hera yang tak sengaja melihat Diana sedang memperhatikan secarik kertas kecil.
"Oh, anu emmm.. ini sampah. Nanti aja buang ke tempat sampah." Jawab Diana yang spontan meremas kertas itu lalu mengantonginya sebelum Hera tau isinya.
"Oh," Pandangan Hera kembali terfokus memperhatikan papan tulis, begitupun dengan Diana agar tidak perlu memancing kecurigaan teman sebangkunya itu.
"Makasih Super Mario," Gumam Diana dalam hati.
...
Kriiing.. Kriiing..
Lorong koridor yang mendadak menjadi gaduh setelah bel berdering dua kali pertanda waktu istirahat. Siswa siswi bermunculan dari bibir kelas seperti kawanan semut yang keluar dari sarangnya. Ada yang berlarian, berjalan santai sambil bersenda gurau, dan ada yang memilih hanya berdiam di kelas.
Mario tak banyak bicara hari ini. Sedari pagi ia tampak tak bersemangat, padahal ia sudah datang begitu pagi ke sekolah. Apa yang membuatnya tampak murung hari ini?
Ia bahkan datang paling awal hanya untuk meletakkan sesuatu dalam laci bangku di pojok belakang kelas 3A. Setelah itu ia kembali keluar menuju warung kopi dekat persimpangan tempat biasa ia menitipkan motor sekaligus untuk menikmati sarapan pagi sambil menunggu waktu mendekati bel masuk sekolah.
Ah, sebenarnya tidak hanya seperti itu. Beberapa minggu terakhir ia selalu melakukan hal yang sama karena sebuah alasan lain. Yah, seorang gadis yang biasa melewati persimpangan itu tiap berangkat ke sekolah. Diana.
Ia suka sekali melihat wajah bersemangat gadis itu setiap pagi. Langkahnya begitu cepat dengan pandangannya selalu lurus ke depan.
Sesekali Mario mengisenginya dengan mengagetkan gadis itu dari belakang, atau hanya sekedar berjalan mengekor di belakangnya.
Beberapa hari belakangan Mario tau gadis itu tak akan muncul di hadapannya karena sedang berlaga di luar kota. Pagi ini ia begitu yakin gadis itu akan muncul disana. Namun ternyata hingga mendekati jam masuk sekolah, bayangannya pun tak ada.
Mario ingin memastikannya sekali lagi. Ia ingin mengintip dari jendela kelas gadis itu saat jam istirahat tiba.
Dan di sinilah ia sekarang dengan rasa kecewa karena bangku itu nampak masih kosong. Lalu apa kabar bingkisan yang ia letakkan diam-diam tadi pagi? Biarlah bingkisan itu menunggu hingga pemiliknya datang.
Mario berjalan gontai melewati kelas 3A lalu menuju kantin. Lebih baik ia memesan minuman dingin dan merilekskan kekalutan karena kecewa sebab angan-angan sekedar melihat wajah ceria yang ia rindukan itu tak tersampaikan.
"Bu, es coklat satu, diplastik aja bu." Ucapnya.
Selagi menunggu pesanannya dibuatkan, ia memilih-milih beberapa snack lain yang akan ia bungkus serta dan menikmatinya di kelas saja.
"Makasih sayang,"
Seperti sebuah hembusan angin yang berbisik tepat di belakangnya. Bisikan itu terdengar samar-samar namun ia yakin tak salah mendengarnya.
Ia berbalik mencari sumber suara berbisik itu namun tak ada apapun di belakangnya. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah berharap menemukan sumber suara berbisik tersebut.
"Apa halusinasi aja ya?" Batinnya.
"Mas, ini es nya." Ucap sang penjaga kios kantin dengan es coklat dalam plastik ditangannya.
"Oh iya bu, sama jajannya yang ini. Jadi berapa?" Jawab Mario menerima es coklat pesanannya yang dilanjutkan dengan transaksi jual beli secara tunai. (Iya lah, dikantin sekolah semua transaksi tunai. Kalau non tunai namanya ngutang ya bukan pakai kartu, hahaha).
Mario berjalan meninggalkan kantin kembali menuju kelas. Sesekali ia menyeruput es yang ia genggam dan mencomot snack ditangannya sambil berjalan sendirian.
Melewati kelas 3A, ia kembali mengintip ke deretan bangku dipojok kelas dari jendela kaca kelas. Meskipun bangku itu kosong ia selalu saja menoleh memandang ke sudut sana setiap melewati lorong kelas itu.
Eh, tunggu!
Ia memundurkan langkah dan termenung membeku beberapa saat.
"Ada!"
Indera penglihatannya menangkap sosok yang ia harapkan ada di sana, benar-benar nyata di sana.
Gadis itu menoleh dan menemukan Mario menatapnya dari balik jendela.
Pandangan mereka bertemu.
Diana tersenyum sesaat lalu mengalihkan pandangannya kembali pada teman-temannya yang sedang bersenda gurau.
Beberapa detik kemudian ekor matanya seolah masih manangkap bayangan pemuda itu belum beranjak dari tempatnya berdiri.
Rasa penasarannya membuat urat lehernya kembali menengok ke arah luar guna memastikan bayangan semu dari sudut penglihatannya.
Semburat merah di pipinya mulai nampak ketika bayangan semu itu ternyata adalah bentuk fisik yang nyata. Mario masih berada di posisinya.
Tak ada yang bisa ia lakukan melainkan hanya sekali lagi melempar senyum lalu kembali mengalihkan pandangannya pada teman-temannya, dan tak berani lagi menoleh keluar meskipun rasa penasaran menguasai pikirannya. Diana terlalu malu melakukannya.
"Apa benar kamu yang berbisik tadi Diana?" Gumam Mario dalam hati.
Mario melanjutkan langkahnya kembali sambil memegangi dadanya. Jantungnya berdetak kencang seolah barusaja melakukan pemanasan berlarian mengelilingi lapangan bola.
Entah ia sadar atau tidak, bibir itu terus tersenyum sepanjang jalan. Ada rasa lega dan bahagia luar biasa yang kini ia rasakan.
"Mario, apa kamu sudah gila?" Batinnya.
...
Author's cuap:
Ehem, lirik-lirikan aja udah hepi bangeeet rasanya ya..
Aduh, jadi inget jaman SMP waktu naksir-naksir cowok dulu..
Malu malu tapi kangen..
Hahaha..
Jempolnya jangan malu-malu dong..
Kalo poinnya numpuk, bunga kopinya bole lah ya...
Terimakasih sudah membaca