
#85
Aku Sungguh Jatuh Cinta kah?
Yah, bukan istilah blushing lagi untuk menggambarkan pipi semerah tomat itu. Rasa malu bercampur kesal membaur menjadi sajian raut wajah yang benar-benar ingin Diana sembunyikan.
"Gak usah mulai deh. Aku lagi kesel nih!" Ucap Diana begitu galak.
Sementara yang diberikan peringatan malah cekikikan senang.
"Bawang putih kebanjiran? Kok kainnya diangkat sampai lutut gitu?" Mario belum puas juga menggodai gadis itu.
"Ntar keliatan kalau betisnya berotot kayak abang becak, hahaha..." Lanjut Mario sambil tertawa senang melihat Diana semakin cemberut kesal.
Diana yang geregetan membuat gerakan seperti ingin mencakar cakar wajah pemuda menyebalkan itu.
"Ini es coklatnya.." Suara bu Ida yang memberikan dua gelas es coklat ke arah Diana dan Mario yang membuat pertikaian dua anak manusia itu terjeda.
"Loh Bu, kok di gelas? Di pindah plastik aja boleh?" Ucap Diana tak lantas meraih segelas minuman dingin yang ia pesan tadi. Dia benar-benar tak ingin berlama-lama di sana.
Namun Mario langsung meraih dua gelas es yang disodorkan oleh penjaga kios kantin tanpa menunggu persetujuan dari Diana.
"Gak usah bawel, mau gelas mau plastik sama aja." Ucap Mario sambil berlalu menuju tempat duduk dekat sana sambil membawa dua gelas es coklat ditangannya.
"Mario, itu es aku satu!" Ucap Diana sambil kesusahan mengangkan kainnya tinggi-tinggi agar dapat berjalan cepat menyusul langkah Mario. Kakinya menghentak menunjukkan dirinya yang tengah kesal dengan keisengan pemuda itu.
Mario tak menghiraukan Diana yang berteriak memanggilnya. Dia dengan santai duduk manis menyeruput es coklat segar miliknya.
Diana yang sudah berdiri di hadapan Mario lantas merebut es miliknya dan segera berbalik hendak menjauh dari sana.
"Congek ke rumah kamu kemarin?" Ucap Mario yang membuat langkah Diana terhenti.
Huh,
Diana menghela nafasnya. "Pasti Hera yang cerita ke Abdul nih, terus nyambung deh kekuping Mario.." Batin Diana.
"Bukan kemarin, tapi hari Minggu." Jawab Diana masih dalam mode juteknya.
"Ngapain?" Tanya Mario lagi. Wajah itu terlihat datar tanpa ekspresi, hanya menunduk menatap segelas minuman segar didepannya sambil sesekali menyeruputnya. Namun jujur terselip emosi karena cemburu dalam hatinya.
Diana tak lantas menjawabnya. Dia mengambil duduk di depan Mario sembari mengamati pemuda tengil yang tadi tertawa mengerjainya kini tiba-tiba tertunduk cemberut.
Mario sontak mengangkat wajahnya ketika merasa ada pergerakan dari gadis di depannya. Dia benar-benar terkejut melihat Diana mencondongkan wajahnya begitu dekat dengannya. Matanya terbelalak lebar ketika mendapati wajah gadis itu tiba-tiba berada begitu dekat dengan wajahnya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Jantungnya berdegup kencang tak terkontrol dan keringat dingin mulai mengembun di dahinya.
Bibir Diana bergerak membisikkan sesuatu, "Rahasia! Mau tau aja!" Bisik Diana sambil menjulurkan lidah, lalu pergi dari sana membawa serta gelas minumannya.
"Sebentar-sebentar usil, sebentar-sebentar marah, sebentar-sebentar manyun, gak jelas banget." Gerutu Diana dalam hati.
"Bu, saya pinjam sebentar gelasnya. Nanti saya balikin." Ucap Diana pada penjaga kios kantin sebelum pergi dari sana.
Mario menghela nafas berkali-kali sambil memegangi dadanya sebelah kiri. "Sial! Apa-apa-an ini?" Gumamnya yang tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.
Lama dia masih terpaku di tempat duduknya sambil mengatur nafas.
"Kak Mario, kok sendirian aja? Ke depan yuk, sebentar lagi giliran aku mewakili kelas 2B tampil. Nonton yuk," Seorang gadis cantik dengan rambut sebahu itu lantas duduk menghampiri Mario yang tampak terbengong seorang diri. Stefi.
Mario menatap gadis yang tersenyum manis dihadapannya. Gaya rambut sama, namun orang yang berbeda.
Mario kembali memegangi dadanya yang mulai berdegup normal dan masih tetap normal.
"Huh, Ternyata yang bermasalah bukan jantung aku. Tapi gara-gara kamu," Batin Mario sambil tersenyum menertawai dirinya sendiri.
"Kak Mario kok senyum-senyum sendiri?" Ucap Stefi yang merasa heran.
"Mau tau aja sih! Ya udah ya, aku mau balik ke kelas." Ucap Mario sambil menyeruput habis es dalam gelasnya, sebelum pergi meninggalkan Stefi yang cemberut terabaikan.
...
"..Sebelum pengumuman pemenang PENSI tahun ini dibacakan, kita ada satu hadiah buat kalian semua." Ucap Rida begitu ceria selaku host acara PENSI tahun ini.
"Benar banget, kita ada satu Band kebanggan sekolah kita, yang sudah manggung kesana sini, bahkan sampai event besar di luar kota, siapa lagi kalau bukan..."
"Fire Freeze Band..." Ucap kedua host itu bersamaan dengan riuh penonton yang bertepuk tangan mendekat ke panggung meskipun panas matahari sudah begitu menyengat di ubun-ubun.
Satu per satu personil Band yang digawangi oleh Mario itu menaiki panggung.
Meskipun kostum yang mereka pakai adalah seragam olahraga yang menjadi dresscode hari itu, namun rasanya tak mengurangi aura bintang yang mereka miliki. Terutama sang bintang dari semua bintang di sana, Mario.
Padahal mereka setiap hari dapat berjumpa di sekolah, namun keriuhan dan kehebohan yang terjadi seolah mereka tidak pernah bisa berjumpa sebelumnya.
"Gila ya! Mereka histeris kayak kedatangan artis ibukota aja. Padahal tiap hari juga kelihatan di sekolah." Cibir Diana yang merasa heran melihat kerumunan manusia di depan panggung.
Diana dan Hera yang gelagapan pun terseret sampai ke tengah lapangan.
"Apaan sih Za? Gak mau ah, panas tauk!" Ucap Diana yang berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Zahra.
"Yah, gak asik ah! Kalau gitu aku sama Hera aja deh. Ayok Her," Ajak Zahra yang begitu ingin bergabung dengan penonton lain di depan panggung, berdesakan, sambil berpanas-panas ria.
"Ayok! Ini tahun terakhir kita di SMP. So, ayo seru-seruan sampai akhir.." Hera pun turut antusias.
Diana kembali ke pinggir, memilih duduk berteduh di dekat rimbunnya pohon. Diam-diam bibirnya tersenyum mengagumi sang penampil yang menyapa para penontonnya.
"Meskipun dari samping, tetep keren banget ya?" Batinnya.
"..Happy Birthday sekolah kita tercinta.." Ucap Mario yang dilanjutkan dengan intro musik Lagu Selamat Ulang Tahun yang dipopulerkan oleh Jamrud.
Semua penonton pun bersorak-sorai menyanyikan bersama lagu yang memang begitu populer itu. Mereka saling berjimprak ria menikmati musik yang berdentum penuh energi kebahagiaan.
Begitupun Diana yang turut bergumam menyanyi di tepian yang jauh dari keramaian. Diana yang tak menyadari bibirnya terus tersenyum menatap sang vokalis yang begitu menghipnotis dengan suara dan penampilannya di panggung.
Ada rasa bangga yang membuat hatinya berdesir mengingat dia dapat mengenal cukup dekat sang bintang. Yah, dia pastikan banyak yang merasa iri mengenai kedekatannya dengan Mario saat ini.
Diana sendiri masih tak habis pikir tentang rencana Tuhan yang dapat membuatnya sedekat ini dengan Mario. Padahal dua tahun lebih mereka di sekolah yang sama, tak seujung kuku pun mereka saling mengenal. Mungkin Diana masih tahu tentang Mario karena memang pemuda itu sudah populer sejak kehadirannya dibsekolah itu. Namun sedangkan bagi Mario sendiri, Diana bahkan seperti tak pernah ada dihadapannya.
Musik yang enerjik berlanjut tanpa terputus namun berganti dengan musik yang lebih lembut pertanda lagu kedua akan dimulai.
Diana sangat familiar dengan intro lagu ini. Yah, ini lagu yang ada di dalam salah satu playlist yang Mario berikan padanya, dan Diana sudah menghafalnya.
Awalnya Diana mungkin terpaksa menghafalkannya, namun semakin ia mendengarkan tiap lagunya, ia semakin menikmatinya hingga dapat menghafal lebih dari sepuluh lagu yang dipilihkan Mario untuknya.
Dari tempatnya duduk, Diana dapat melihat Mario tampak memejamkan mata mendalami musik yang lembut mengalun sebelum mengambil suara..
...Bila aku jatuh cinta...
...Aku mendengar nyanyian...
...1000 dewa dewi cinta...
...Menggema dunia.....
...Bila aku jatuh cinta...
...Aku melihat matahari...
...Kan datang padaku...
...Dan memelukku dengan.....
Mario menoleh ke titik di mana Diana duduk di pinggir lapangan, di bawah rindangnya pohon, seorang diri, sedang tersenyum menatapnya. Mario membalas senyuman itu sebelum melanjutkan bait lagunya...
...sayang......
Pipi Diana terasa menghangat. Rona merah itu samar-samar menampakkan diri seolah lagu itu dinyanyikan Mario khusus untuknya.
Dadanya berdegup merasakan desiran angin sejuk menerpa pipi hangatnya.
Mario, kamu memang sangat pandai membuat gadis itu tersipu dengan perasaan yang membumbung tinggi karena merasa istimewa.
Diana, lagu itu dinyanyikan dengan begitu penghayatan yang mendalam oleh Mario karena begitulah ia menikmati perasaannya yang tertuang dalam tiap lirik lagu itu.
Diana, kamulah yang membuat lagu itu saat ini begitu terasa dalam maknanya bagi para pendengarnya. Karena kamulah yang sedang dibayangkan oleh Mario dalam tiap bait yang Mario ucapkan.
Bila Aku Jatuh Cinta - Nidji
...
Author's cuap:
Pingin dinyanyiin lagu romantis juga dongzzz
Aduh, tulung dongzzz author baper...
(maap ye.. author nulisnya lagu lagu yang mana mungkin lagu-lagu itu keluaran lama.
Abisnya, suka-suka author lah ya yang mana yang menurut author paling mengena dihati author,
dan semoga pilihan author bisa mengena juga di hati kalian ya..
Buat yang gk tau lagunya, bisa coba dengerin dan rasain feel nya juga..
Hei, jadi ketahuan ya, era-nya author tahun berapa tuh.. Hahahah..