Titip Salam

Titip Salam
Abdul dan Hera



#41


Gosok gigi, cuci muka, cuci tangan, dan kaki menjadi ritual wajib sebelum menuju tempat tidur. Latihan tambahan yang begitu padat membuat Diana menambahkan satu ritual tambahan yaitu mengoleskan balsem di beberapa persendian yang terasa laki atau nyeri agar ketika bangun pagi tubuhnya sudah fit kembali. Terutama persendian kaki yang sempat cidera.


Tubuhnya begitu lelah namun entah mengapa matanya belum mengantuk. Diana pun teringat novel pemberian Mario kala itu. Sepertinya benda itu bisa menjadi pengantar tidur.


Diana bermaksud mengembalikan saja pemberian Mario itu. Hanya saja belum menemukan waktu yang tepat. Dia merasa tidak perlu menerima apapun dari Mario. Hal itu bisa membuat Mario besar kepala nanti.


"Tapi kalau pinjam sebentar, gak apa-apa kayaknya."


Diana mulai membaca. Halaman demi halaman dia lewati. Kadang dia tertawa cekikikan pelan ketika menemukan alur cerita lucu dan terharu meneteskan air mata ketika ada alur cerita yang sedih. Diana mulai menikmati dan terhanyut dalam cerita didalamnya.


Diana menahan isakannya. Rupanya dia sedang membaca kisah yang sedih. Air matanya meleleh dengan sendirinya. Diana begitu sensitif.


*Vallery menangis di sudut lorong. Marvin melihatnya dari sudut yang lain. Hatinya ikut hancur mendengar isakan gadis yang begitu ia sayangi. Dia berjalan mendekat dan mengusap kepala Vallery dengan hangat.


"Maaf," Marvin memandang Vallery dengan penuh penyesalan.


Marvin mencoba menenangkan Vallery. Dia merengkuh gadis itu dalam pelukannya kemudian mencium keningnya*.


Bluph..


"The end" Begitu ucap Diana.


Buku itu tertutup seketika. Padahal dia baru membaca tiga bab awal. Diana langsung melemparkannya kesembarang arah dan memeluk gulingnya.


"Sialan, baca buku itu malah bikib aku tambah bete sama Mario."


Peristiwa sore itu kembali membayangi Diana. Mambuat Diana lagi-lagi mengusap kasar keningnya dengan perasaan kesal.


"Mbak ngapain sih, berisik banget." Ucap seseorang dari ranjang atas. Tania


"Gak kenapa-kenapa udah tidur lagi sono.." Jawab Diana dengan ketus.


Tania biasanya akan tidak terima dengan sikap kakaknya yang tiba-tiba uring-uringan tidak jelas. Namun matanya tidak bisa kompromi. Tania memilih melanjutkan tidur saja. Begitu pula dengan Diana yang mulai lelah setelah energinya terkuras akibat permainan emosi dari novel yang ia baca. Terutama emosi pada alur cerita yang mengingatkannya untuk terus merasa kesal pada Mario.


...


"Hera," Seseorang tiba-tiba sudah berdiri di sisi bangku empat gadis yang sedang riuh bersenda gurau. Semua mata menoleh menatap sumber suara.


"Eh, ada Abdul." Ucap Rida menyapa.


"Hei Rid, aku ada perlu sama Hera" Ucapnya membalas sapaan Rida.


"Oh, silahkan.. Apa lerlu kita semua pergi biar kalian ada ruang privasi." Lanjut Rida sambil terkekeh.


Zahra dan Diana pun tak tahan untuk tidak tertawa dengan candaan Rida. Hera nampak merona malu karena Rida telah berhasil menggodanya.


"Rida apaan sih.." Ucap Hera sambil melotot tajam.


Hera menjadi salah tingkah. Dia tampak gelisah dan berkali-kali membenarkan posisi duduknya. Abdul pun ikut terkekeh juga akhirnya.


"Gak usah Rid, santai aja. Aku cuma mau ngasih ini aja kok ke Hera." Abdul menyerahkan sebuah flashdisk yang langsung diterima oleh Hera


"Ciye.. Hera.." Ledek Zahra yang membuat wajah Hera semakin merah padam.


"Apaan tuh isinya?" Celetuk Diana yang ikutan meledek.


"Hmm Abdul pinter banget ya, nembaknya gak pake surat. Jadi kita gak bisa ikutan liat deh. Tapi so sweet banget deh.. Aww, sakit Her." Rida mengusap lengannya yang mendapat cubitan dari Hera.


"Kamu sih, jadi orang julid banget." Hera menjulurkan lidahnya.


"Udah dong, kok malah berantem sendiri." Ucap Abdul yang mengembalikan fokus Hera kembali padanya.


"Maaf ya, temen-temen aku emang resek."


"Kok aku juga kena sih Her." Sanggah Diana pada temnnya yang masih tampak merona itu.


Hera memang sangat ahli untuk urusan akademik. Namun dia benar-benar tak pandai dalam menyembunyikan perasaannya. Tingkahnya yang seperti ini tentu membuat semua orang yang melihatnya akan menyadari bahwa dia memiliki perasaan pada laki-laki yang sedang berdiri disampingnya itu. Bahkan Abdul pasti juga dapat melihatnya.


"Udah, udah. Kok malah tambah ribut gitu. Oh ya Her, hari Minggu agak sore aja ya aku ke rumah kamu. Soalnya aku ada latihan paginya."


"Wah, langsung dikenalin camer dong." Celetuk Rida.


"Harus banget dong. Dengan restu dari ibunya Hera pasti hubungan mereka bisa langgeng." Lanjut Zahra.


"Amin.." dan ditutup oleh Diana.


"Iya, Amin.." Tiba-tiba Abdul menimpali, dan kemudian dia tertawa.


Eh,


Semua mata spontan menatap Abdul. Hera yang uring-uringan dengab ledekan teman-temannya pun terkejut mendengar perkataan Abdul.


"Ciye.." dan berlanjut lagi.


"Udah ah, aku balik ya. Jangan lupa dibaca-baca dulu ya Her. Biar nanti Minggunya langsung mulai bisa nyusun. Okeh.." Abdul mengedipkan matanya kemudian berbalik dan menghilang melalui pintu kelas.


"Itu tadi kedip-kedip apaan Her?" Tanya Diana menggoda Hera yang masih mematung dengan wajah bak kepiting rebus.


"Kalian ini kalo udah ciye-ciye-in orang kompak banget. Aku kan jadi gak enak sama Abdul." Ucap Hera yang nampak berusaha mengendalikan debaran jantungnya agar kembali normal.


"Kalian tau gak kenapa hari itu Hera kekeuh gak mau kita tungguin dan nyuruh kita balik duluan? Karena dia janjian sama Abdul. Udah lah Her, gak usah sembunyi-sembunyi sama kita." Ucap Rida.


"Enggak gitu. Aku emang dipanggil bu Rahayu waktu itu."


"Masak sih? Aku mergokin kamu duduk berdua sama Abdul di selasar ruang guru. Gak usah ngeles deh Hera. Aku tau karena aku balik lagi ke sekolah wktu itu." Ungkap Rida pada Hera sambil cekikikan.


"Kamu kok ngintipin aku sih Rid. Udah kayak paparazi aja."


"Dih, ge-er deh. Akutuh balik lagi karena lupa disuruh ngambil proposal di kantor OSIS. Eh, taunya dapet pemandangan pasangan tersensasional lagi ngobrol berdua di selasar nan teduh dengan angin sepoi-sepoi."


"Drama banget sih, kamu jangan bikin gosip ya. Akutuh emang dipanggil bu Rahayu. Aku juga baru tau kalau Abdul ternyata dipanggil beliau waktu itu." Terang Hera yang berlanjut menceritakan kronologi yang sebenarnya.


"Wah, itu tandanya kalian jodoh Her. Tuhan ngasi jalan kalian buat makin deket melalui lomba ini." Sahut Zahra.


"Kayaknya perasaan kamu gak bertepuk sebelah tangan deh Her.." Lanjut Diana.


"Maksudnya?" Hera mulai tertarik dengan alur perkataan Diana.


"Cara Abdul ngeliat kamu tuh beda. Kayaknya dia juga suka sama kamu." Terang Diana.


"Iya, kayak Mario kalau ngeliat Diana." Celetuk Zahra kemudian tertawa.


"Kok jadi bawa-bawa aku segala sih?" Ganti Diana yang sewot.


"Eh, betewe nih, Abdul bilang kalau hari Senin ada latihan. Kamu mau ikut nonton gak Her? Aku temenin deh ntar.." Ajak Zahra pada Hera.


"Modus kamu Zah. Bilang aja kamu pingin lihat Mario latihan." Jawab Hera senewen.


"Emang. Hehe.."


Semua tertawa-tawa saling bergurau, kecuali Diana. Mendadak wajah Diana menjadi masam.


"Kalau Abdul latihan hari Minggu pagi, berarti latihannya barengan sama latihan bela diri. Pasti ada Mario juga disana. Aduh, males banget jadinya." Keluh Diana dalam hati.


Diana merasa tidak bersemangat. Tapi mau tidak mau dia harus hadir dalam latihan itu mengingat kompetisi yang semakin dekat.


...


Author's cuap:


Ati ati loh Diana,


Awalnya kesel, lama-lama sayang.


Eaaak..


Tapi kalau readers jangan pake kesel ya.. syang terus sama karya aku..