Titip Salam

Titip Salam
Freeze Minute, Ada Apa ini??



#137


Otak manusia merupakan pusat kontrol untuk segala motorik dalam satu kesatuan tubuh ini. Tubuh ini merupakan suatu sistem sempurna yang saling mendukung antara satu dengan yang lainnya.


Sebagai contoh, mata. Ketika mata menangkap ada suatu serangan yang akan mengenainya, dengam spontan motorik akan memberikan respon dengan kelopak mata yang akan tertutup untuk menghindari ancaman, dan semua itu diproses dalam otak.


Namun ada satu hal yang dapat mengalahkan kinerja otak, yaitu hati. Terkadang dua hal tersebut dapat bertolak belakang menjadikan salah satunya mengalah tak berdaya.


Seperti dalam suatu keadaan yang mengejutkan.


Ketika seseorang yang memiliki kontribusi besar dalam merajai ruang hati seorang lainnya sedang mengalami bahaya, maka tak lagi otak yang bekerja memberikan respon secara rasional, tapi dorongan hati yang akan memberikannya.


Diana, dengan luka dari kecelakaan yang dialaminya, melihat Mario yang tiba-tiba ambruk dihadapannya, tak lagi ia rasai perih luka itu.


"Mario!!" Diana sontak melompat turun dari ranjang melihat pemuda dihadapannya ambruk begitu saja. Diana bahkan betul-betul lupa dengan perih dari luka yang ia rasakan.


Teman-teman yang sedang berada di sana pun ikut heboh dengan situasi yang terjadi. Abdul yang baru saja datang dibuat panik dengan keadaan Mario yang terpejam di lantai UKS.


"Mario kenapa?" Tanya Abdul pada siapapun yang dapat menjelaskan keadaan di sana.


"Gak tau Dul, tiba-tiba aja langsung jatuh, terus pingsan." Jawab Hera.


"Dul, bantu angkat ke atas ranjang dong.." Ucap Diana sambil menepuk-nepuk pipi pemuda itu.


Suasana ruang UKS yang gaduh itu pun lantas mengundang perhatian siswa lain yang berada di dekat sana.


"Ada apa ini, kok ramai sekali?" Ucap Bu Nur, petugas UKS sedang membawa segelas teh hangat yang rencananya untuk diberikan pada Diana.


"Loh yang kecelakaan tadi katanya Diana? Kok Mario yang tiduran di ranjang?" Lanjut Bu Nur yang merasa keheranan dengan situasi yang terjadi.


"Mario pingsan bu," Jawab Abdul sambil menepuk-nepuk pipi Mario.


"Haduh.. Ada ada saja.. Kok pasiennya tiba-tiba dobel. Udah, semua bubar.. " Ucap Bu Nur membubarkan kerumunan siswa yang penasaran dengan kejadian di sana, menyisakan Hera yang menemani Diana dan Abdul yang menemani Mario.


"Kalau gitu Abdul, tolong bukaa dasi sama beberapa kancing bajunya. Biar napasnya longgar. Saya carikan minyak angin dulu." Ucap Bu Nur pada Abdul yang berada dekat dengan kepala Mario.


Tanpa diperinrah, Hera pun sudah mulai bergerak membantu melepaskan sepatu Mario dan meletakkannya di lantai dengan rapi.


"Diana, tolong bantu buka ikat pinggangnya ya.."


"Hah? Baik Bu,, " Ucap Diana spontan meraih ikat pinggang Mario, yang tak lama ia lepaskan lagi.


"Gak mau ah bu, Abdul aja.." Ucap Diana yang lantas mundur dengan wajah bersemu merah.


Xixixi..


Abdul dan Hera kompak terkekeh pelan.


"Betul Di, mending aku aja, area berbahaya. Xixixi.." Abdul mengambil alih pertolongan pada Mario. Abdul yang masih terkekeh pelan sontak membuat bibir gadis itu mengerucut. Apalagi, Hera rupanya benar-venar sati frekuensi dengan Abdul.


Tak lama kemudian, setelah berbagai usaha pertolongan, Mario tampak mengerjapkan matanya.


Diana yang juga sudah selesai dirawat lukanya bergerak mendekat pada pemuda yang terbaring di atas ranjang perawatan. Tak dipungkiri bahwa ia sangat cemas melihat Mario yang tiba-tiba tak sadarkan diri.


"Aku di mana?" Suara parau Mario terdengar sayup-sayup diiringi ucap syukur orang-orang yang berada di sana.


"Kamu sudah sadar?" Tanya Diana yang spontan menyentuh dahi pemuda itu guna menyeka keringat di sana.


Abdul dan Hera hanya menyaksikan dari samping sambil berbisik-bisik mengomentari sebuah drama dihadapan mereka.


"Di.." Mario tersenyum mendapati wajah khawatir gadis di sampingnya itu.


"Minum dulu Mar, udah agak dingin teh-nya." Ucap Diana sambil menyerahkan segelas teh hangat yang mulanya diberikan untuknya oleh Bu Nur. Bahkan Diana pun dengan telaten membantu Mario duduk, dan perlahan meminum teh hangat yang dibantu pula oleh Diana.


Mario memegang kepalanya yang masih terasa pening.


"Iya Di, masih agak pusing. Trimakasih ya.. Aku seneng banget kamu perhatian sama aku.."


"Aduh.. Sinetron banget gak sih?" Bisik Hera sambil senyum-senyum.


"Tauk nih..udah kayak adegan-adegan di tipi. Baper nih.." Sahut Abdul yang juga sambil berbisik.


"Heh, kalian berdua!!"


Suara Diana yang bagai petir menyambar sontak membuat Hera dan Abdul terlonjak kaget. Begitupun Mario yang turut terkejut sampai ia harus merabai jantungnya karena saking kagetnya.


Tak hanya itu, tatapan pedas yang sangat mengintimidasi dari Diana lantas membungkam mulut Hera dan Abdul.


"Her, kabur yuk.. Temen kamu udah mode reog nih.." Bisik Abdul yang langsung menarik tangan Hera untuk keluar dari ruang UKS yang mulai terasa panas.


"Kabuuur..."


"Loh kok kalian pergi sih.." Diana yang melihat dua temannya pergi pun berusaha menyusul, namun ada sesuatu menahan tangannya.


"Kok kamu mau ninggalin aku sih.." Ucap Mario dengan suara yang masih terdengar lemah.


Diana berusaha memutar otak agar tak lama-lama terjebak berdua dengan Mario di sana. Pasalnya, pemuda itu terus saja menabur kata-kata yang sarat kadar gula tinggi membuat jantung Diana semakin dag dig dug berdetak tak beraturan.


"Aku gak ninggalin kamu Mario, aku cuma..."


Belum sempat Diana melanjutkan kalimatnya..


"Janji, gak akan ninggalin aku?"


Ah, tatapan dan senyum simpul itu membuat Diana membeku beberapa saat. Kakinya terasa dingin namun dadanya bergemuruh hebat memberikan sensasi hangat yang memancar dari semburat merah di pipi Diana. Tubuh itu bak dispenser yang memiliki suhu tak beraturan.


"Iya," Hanya kata itu yang mampu Diana ucapkan untuk saat ini.


"A.. Aku mau panggil Bu Nur sebentar, mmmm.. Mau ngabarin kalau kamu sudah siuman.." Ucap Diana dengan penuh perjuangan untuk menguasai dirinya kembali.


Melihat Diana yang sudah salah tingkah, Mario tak tega untuk menahan gadis itu lebih lama lagi. Sudah cukup ia menikmati momen yang begitu manis. Ia mengendurkan genggamannya, membiarkan gadis itu pergi.


Jawaban "iya.." dari gadis itu begitu singkat namun bermakna begitu dalam yang dapat disimpulkan oleh Mario.


Diana berlari kecil dan melupakan perih luka dibalik perban di lututnya. Ia bersandar di dinding setelah beberapa meter berhasil keluar dari ruang UKS. Ia berusaha mengatur nafasnya sambil memegangi dadanya yang perlahan mulai tenang.


"Astaga.. Ada apa ini?" Bisiknya pada dirinya sendiri.


Diana merasa bingung pada apa yang terjadi pada dirinya. Tak selang lama, perlahan senyum nya terbit. Senyum yang berusaha ia tahan, namun sungguh tak dapat ia sembunyikan.


Ia kembali melangkah stelah dirasa emosinya mulai stabil. Seiring kesadarannya normal kembali, rasa perih di kakinya pun mulai terasa. Sesaat tanpa sadar ia bisa berlari, namun kini ia kembali mengernyit dan berjalan tertatih.


Sementara Mario, ia merebahkan tubuhnya kembali dengan senyum yang terus merekah di bibirnya. Bayangan wajah Diana yang membeku menatapnya, rona merah di pipinya, ekspresi salah tingkahnya, Ah.. Rasanya melayang ke langit. Indah sekali.


Mario, kamu akan mengenang beberarapa menit yang singkat itu, selamanya.


...


Lama gak nulis, baca lagi dari awal, dan tetap merasa jatuh cinta lagi.


Bisa menulis kelanjutannya kembali membuat aku sebagai author bahagia sekali..


Dan, membaca kembali novel ini sungguh membuat debaran falling in love itu bergetar terus dan terus.


Ikut Baper, senyum senyum..


Semoga getaran itu juga bisa nyampe ke kalian..