
#142
Perpisahan - Kehadiran Ayah (Part 1)
"Hey, Man!!"
Arman menyipitkan matanya ketika seseorang pria yang sebaya dengannya tiba-tiba menepuk bahunya.
"Wah, lupa dengan pria tertampan jaman SMA dulu?" Ucapnya.
Arman mulai menemukan memori seorang kawan lamanya. Seorang kawan lama yang dikenal badung dan playboy, yang selalu beralasan "Aku gak mungkin nolak cewek yang nembak aku, karena aku gak sanggup melihat tetes air matanya kalau aku menolaknya" setiap ada gadis yang menyatakan perasaan padanya.
"Jefri? Wah, apa kabar?"
Lantas Arman memeluk dan menepuk-nepuk punggung pria itu. Salam hangat antar lelaki.
"Kabar baik,.." Jawab pria yang rupanya bernama Jefri itu.
"Anak sekolah di sini juga? Kok kita gak pernah ketemu sebelumnya?" Lanjutnya.
"Biasanya mamanya yang ambil rapor. Kebetulan mamanya lagi ada acara di kampung, jadi aku yang datang ke sini." Jawab Arman menjelaskan.
"Tak menyangka anak kita seumuran ya.. Ayo kita cari tempat duduk. Bagaimana kalau di ujung sebelah sana?" Jefri menunjuk kursi di tepi dengan jarak pandang ke panggung yang cukup nyaman.
"Oke!" Arman pun menyanggupinya. Akhirnya ia dapat mengenali seseorang di sana. Sebelumnya ia membayangkan acara wali murid seperti ini akan membuatnya bosan karena tak mengenal siapapun. Kini ia merasa lebih nyaman karena beberapa jam ke depan, sudah dipastikan ia tidak membisu kebosanan. Kawan lamanya ini memanglah satu frekuensi mengenai selera humor dengannya. Ah, pasti seru pembicaraan dua orang Ayah ini
"Istri sudah berapa?"
"Satu lah! Kau pikir aku berani punya istri berapa? Hahaha.."
Yah, candaan khas bapak bapak.
Sebuah acara perpisahan para siswa yang justru menjadi pertemuan sekaligus reuni bagi dua kawan lama. Atau mungkin mereka hanyalah salah satu dari sekian banyak pertemuan baru.
Sementara di belakang panggung Diana tampak berkali-kali menghembuskan nafas panjang untuk mengurangi ketegangan demam panggung yang sedang menyerangnya.
"Gak usah nervous, anggap saja seperti kamu kalau mau tanding biasa.." Celetuk Mario yang rupanya diam-diam memandangi gadis itu sejak tadi.
Gadis itu terlihat sangat berbeda dengan riasan tipis, perona pipi, dan bibir lipstik warna peach yang menggemaskan.
Ah, bibir itu. Mario tak bisa mengontrol otaknya untuk tidak memikirkan mimpi indah yang nyaris sempurna itu.
"Beda lah! Aku kan belum pernah nyanyi di hadapan orang banyak sebelumnya." Diana tampak masih dilanda kepanikan.
"Kan sudah pernah waktu pensi kemarin?"
Pensi? Diana bahkan tak sadar bila ditonton banyak orang karena pandangannya banyak terfokus pada teman duet disebelahnya kala itu.
Diana masih terus mengatur nafas untuk meredam pacu jantungnya.
"Seperti pensi kemarin, pandangi aja wajah aku, kamu pasti akan menemukan ketenangan." Lanjut pemuda itu sambil menaik turunkan alisnya menggodai Diana.
Bukannya memperbaiki situasi, perbincangan ini justru menambah tingkat adrenalin bercampur emosi.
Kalau diingat kembali, Diana masih merasa kesal dan malu pada momen dimana ia harus terjebak di atas panggung kala itu. Tapi untuk saat ini, rasanya sudah tidak ada daya meladeni pemuda tengil dihadapannya itu.
Mario yang merasa tidak ada respon amarah seperti biasanya dari gadis itu, menunjukkan bahwa gadis itu sungguh dalam perasaan yang tidak baik-baik saja.
"Kalau kamu gak bisa tenang, penampilan kamu nanti juga jadi gak maksimal. Percuma dong kamu latihan slama ini.. Ayolah Di, tinggalkan kesan yang indah buat perpisahan sekolah kita.." Ucap Mario dengan nada suara yang begitu lembut.
"Ada Ayah Mar.. Aku takut bikin malu.. Atau kamu tampil sendirian aja deh.." Diana mencoba menawar.
"Ya gak mungkin lah Di, kita ntar nyanyi lagu duet. Gak lucu dong kalau aku nyanyi sendiri.." Kini Mario yang mulai dibuat kesal.
"Di, gimana kalau kita berdoa bersama. Biar hati kita juga lebih tenang." Ucap Mario yang kemudian mengulurkan tangannya.
Tak langsung membalas uluran tangan itu, Diana menatap beberapa saat telapak tangan yang sudah menunggu ia sambut.
"Benar kata Mario, dengan berdoa aku akan lebih tenang." Batin Diana yang kemudian meletakkan telapak tangannya tanpa ragu pada telapak tangan Mario.
"Sekarang pejamkan mata, dan kita berdoa dalam hati, semoga penampilan kita nanti diberi kelancaran. Berdoa, mulai.." Ucap Mario sembari menggenggam lembut telapak tangan Diana yang terasa begitu dingin.
Diana mulai terpejam dan memanjatkan doa di dalam hati "Ya Tuhan, berikan aku ketenangan agar penampilanku hari ini lancar, dan membanggakan Ayah.. Amin.."
Bagaimana dengan doa Mario? Apakah ia memanjatkan doa yang sama? Tentu saja doa Mario jauh lebih banyak yang ia minta pada Tuhan.
Dasar Mario, bisa saja dia menemukan kesempatan.
Diana menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, sebelum akhirnya ia membuka mata. Ia masih melihat pemuda itu terpejam dan tampak khusyu berdoa. Ia jadi tak tega mengganggu dan biarlah telapak tangannya terus di genggam pemuda itu sampai doanya selesai.
Diana memandangi wajah yang begitu tenang itu sambil merasai energi positif yang mulai mengalir melalui telapak tangan yang ia genggam. Terasa hangat dan nyaman.
Detik berjalan.. Berganti menit..
"Ni anak doa apa ketiduran?" Batin Diana mendapati pemuda itu masih terpejam dengan khusyu.
"Mar, belum selesai doanya?"
"Ciye..." Suara gemuruh sontak mengagetkan Diana dan Mario.
"Dicariin dari tadi taunya mojok berdua disini.." Cecar Abdul yang tiba-tiba sudah berada di sana.
"Siapa yang mojok? Kita lagi berdoa bersama buat kelancaran perform kita nanti." Jawab Diana.
"Oh.. Berdoa.. Terus sudah selesai belum doanya?" Ucap Abdul yang masih menggodai dua temannya itu.
"Udah kok," Jawab Diana singkat yang mulai terpancing untuk cemberut kesal.
"Kalau doanya udah, genggaman tangannya mau lanjut sampai pelaminan nih?"
Diana membelalakkan matanya pada Abdul, kemudian beralih pada telapak tangannya yang masih tertaut pada telapak tangan pemuda itu.
Hahaha....
Abdul tertawa lepas melihat ekspresi panik Diana yang langsung menarik tangannya.
"Sialan kau Dul, dateng-dateng cuma bikin rusuh aja. Udah pergi sana.." Usir Mario yang merasa kesal karena harus menyudahi momen indahnya.
"Ya elaaah Mar, gak usah pakai emosi dong.. Silahkan dilanjut doanya kalau begitu.. Xixixi..." Abdul pun buru-buru kabur mendapati tatapan mengusir dari Mario.
"Kalau gitu, aku juga mau ngumpul bareng teman-teman yang lain juga deh.." Diana pun gerak cepat menyusul Abdul sebelum mulut Abdul mulai menggosip yang aneh-aneh.
Acara pun dimulai dengan pembukaan dan sambutan-sambutan.
Mario dan Diana mulai bersiap pada posisi mereka di tepi panggung. Suara mereka berdua akan mengiringi pemutaran video dokumenter yang diputar pada layar lebar di tengah panggung.
Semua Tentang Kita - Peterpan (mode on)
"Diana? Putriku bisa nyanyi?"
Arman terkejut mendapati suara merdu putrinya menggema di segala penjuru ruangan. Hatinya terasa teriris dan merasa sangat buruk sebagai seorang ayah karena tak mengetahui apapun tentang putrinya.
Lagu yang begitu sendu dengan cahaya lampu yang meredup menambah suasana hati yang semakin haru pada laki-laki berbadan tegap itu. Setetes air matanya luruh yang langsung ia hapus.
"Man, kamu tau anak laki-laki yang menyanyi itu? Namanya Mario, putraku. Keren kan suaranya?"
Arman menoleh pada sumber suara. Jefri, teman lamanya itu, sedang tersenyum sambil terus membanggakan anaknya.
"Ah, ternyata si Super Mario itu anaknya Jefri. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Batin Arman yang hanya ber-hmm hmm menanggapi Jefri yang begitu bersemangat.
"Anakku sering cerita kalau dia itu naksir sama teman duetnya itu. Tapi ceweknya galak. Pernah anakku ditonjok sampai mimisan. Aku jadi penasaran, anaknya aja galak apalagi bapaknya? Hehehe.. Anak sekarang semakin rumit ya.."
Arman berdehem pelan mendengar kawannya itu terus bercerita dan mulai menyenggol nama putrinya.
"Diana nonjok bicah itu sampai mimisan? Ah, setangguh itu rupanya putriku?" Batin Arman.
"Memangnya anakmu berbuat apa? Kok bisa ditonjok sampai mimisan?" Arman semakin dibuat penasaran. Sepertinya Mario sangat terbuka pada ayahnya.
Jefri tertawa kecil mendengar pertanyaan Arman. Ia melambaikan tangan memberi isyarat agar Arman sedikit mendekat.
Ketika Jefri membisikkan sesuatu, Arman benar-benar dibuatnya terkejut. Mata itu terbelalak lebar, kumis tipis itu bahkan sampai bergetar.
"Apa?"
....
Apa??? Ayah Arman dibisikin apa???