Titip Salam

Titip Salam
Kecemburuan Ayah



#66


Kecemburuan Ayah


Malam minggu memang belum berakhir, tapi cerita malam minggu kakak beradik itu sebaiknya segera diakhiri.


Ayah Arman mengemudikan motornya dengan muka masam. Bayang-bayang seorang pemuda yang ketahuan membonceng putri sulungnya tempo hari, kemudian pemuda lain lagi yang kedapatan menggenggam tangan putri sulungnya itu, hingga seorang bocah kecil yang dengan lantang mengaku sebagai pacar dari putri bungsunya.


Seketika Ayah Arman merasa dirinya semakin tua. Perasaannya belum lama ia mengajari putri sulungnya itu bersepeda, atau baru kemarin pula dirinya menimang putri bungsunya yang yang masih merah, tapi kini putri-putri kecilnya sudah mengenal laki-laki lain selain dirinya.


Bagaimana bisa ada laki-laki lain yang menyukai putrinya selain dirinya? Bagaimana bisa ada laki-laki lain yang membuat putrinya tersenyum selain dirinya?


Hatinya masih begitu tidak rela bila harus segera melepas putrinya untuk laki-laki pilihan mereka. Ayah Arman benar-benar tidak rela.


"Astaga! Mikir apa aku ini? Putri-putriku kan masih sekolah? Yang satu masih SMP apalagi yang satu lagi masih SD? Kenapa aku bisa berpikir seolah mereka akan menikah besok?" Batin Ayah Arman.


Yah, seorang Ayah akan selalu menjadi cinta pertama putri-putrinya. Seorang Ayah sejatinya adalah satu-satunya laki-laki yang bahkan memberikan nyawa untuk melindungi putri-putrinya.


Ayah Arman benar-benar merasa cemburu ketika ada laki-laki lain yang memperhatikan putri-putrinya. Dirinya bahkan berharap Tuhan memberikan wktu lebih lama untuk terus bersama putri-putrinya, membimbing mereka, mrlindungi mereka, membahagikan mereka, dan melihat putri-putrinya menjadi sukses nantinya.


"Tuhan, biarkan putri-putri ku tetap menjadi putri kecilku. Jangan cepat-cepat menjadikan mereka dewasa Ya Tuhan. Aku masih ingin bermain bersama mereka." Batin Ayah.


"Ayah, kenapa tadi Faisal gak boleh main ke rumah?" Tanya Tania yang duduk dibagian depan sang Ayah, masih merasa kesal ketika ayahnya dengan tegas mengatakan "Tidak boleh," ketika Tania mengajak Faisal untuk mampir ke rumahnya.


"Udah malam. Nanti orang tuanya nyariin." Jawab Ayah sambil terus fokus menyetir.


"Tania nih, tampang Ayah udah mendadak serem gitu, masih aja bahas Faisal." Batin Diana yang sedari tadi hanya diam di belakang ayahnya.


"Hmm, berarti kalau lain kali boleh ya Yah?" Tanya Tania yang masih berusaha.


"Hmm.." Hanya itu jawaban Ayah Arman.


"Yah, pacar Tania ganteng ya? Dia baik, pinter pula. Faisal sering dapat ranking satu loh Yah.." Ucap Tania yang nampak masih sangat antusias menceritakan kekagumannya pada sosok Faisal tanpa menyadari wajah Ayahnya benar-benar sudah semakin merah padam menyeramkan.


Diana yang mendengar Tania terus mengoceh serasa ingin menguncir bibir adiknya itu agar diam dan tidak semakin membuat suasana menjadi semakin tegang. Namun apalah daya, dia lebih baik cari aman dengan diam saja. Diana tidak mau memperkeruh suasana hati ayahnya bila ikut membuka suara. Takut!


"Yah, kok diem aja sih? Ayah gak suka ya sama pacarku?"


"Tania, kamu masih kecil. Gak boleh pacar-pacaran." Ucap Ayah Arman yang sudah tidak tahan mendengar nama laki-laki lain terus menerus diagung-agungkan oleh putri kecilnya itu. Padahal laki-laki lain yang dipikiran Ayah hanyalah seorang bocah yang sama polosnya dengan putri kecilnya itu.


Ayah benar-benar sangat protektif pada putrinya seolah bocah laki-laki itu merupakan ancaman besar bagi putri kecilnya.


"Kenapa Yah? Kan enak punya pacar. Jadi ada yang bisa disuruh-suruh." Jawab Tania sama persis ketika Diana mengatakan larangan pacaran padanya.


"Iya kan kamu bisa temenan aja." Ucap sang Ayah tidak mau mengalah.


"Beda Yah! Aku sama Faisal itu akrab sekali. Jadi lebih dari teman Yah.." Jawab Tania begitu polosnya.


"Ya udah, sahabatan aja kalau gitu.." Lanjut Atah yang masih berpegang teguh pada pendiriannya.


Diana sudah merasa sangat gemas ingin ikut menyahut. Tapi feelingnya benar-benar tidak enak karena dirinya yang tidak sengaja ketahuan sang Ayah berpegangan tangan dengan Willy tadi. Meskipun sebetulnya itu hanya salah paham, tapi dia merasa ketika sampai rumah dirinya akan disidang oleh sang Ayah.


"Yah, sahabat sama pacar itu beda. Masak Ayah gitu aja gak ngerti!" Ucap Tania.


"Beda gimana maksud kamu?" Tanya Ayah penasaran.


"Dipikiran kamu, pacaran itu apa sih nak?" Batin Ayah Arman.


"Beda lah! Kalau sahabatan itu perempuan sama perempuan, laki-laki sama laki-laki. Nah, kalau laki-laki sama perempuan itu namanya pacaran. Kayak Faisal sama Tania itu namanya pacaran Yah..." Ucap Tania dengan percaya diri menjelaskan konsep letak perbedaan sahabat dan pacar versi dirinya.


Gubrak!


Hahaha


Tak sanggup lagi Diana menahan gejolak diperutnya untuk tertawa.


"Hmm.." Ayah Arman menggeram yang membuat Diana kembali menciut.


Sang Ayah pun tampak tak dapat berkata apa-apa lagi. Ingin berusaha meluruskan tapi takut anaknya belum siap menerima.


Huh, ada kelegaan tersendiri bagi Ayah Arman bahwa ternyata putrinya memang benar tidak memahami konsep pacar sesungguhnya. Mungkin ini pengaruh media juga.


"Iya, sama aja sahabatan berarti ya dek.." Ucap Ayah Arman akhirnya.


"Iya beda, tapi mirip-mirip lah.." Lanjut Tania.


...


Motor telah terparkir sempurna di halaman rumah. Beberapa orang yang sedang berbelanja di toko mama pun tak bisa menahan penasaran untuk menoleh mendengar deru suara motor berhenti di dekat mereka.


"Wah habis jalan-jalan ya?" Sapa sang pengunjung toko sekedar basa-basi melihat para prnumpang motor bergerak masuk ke dalam rumah.


"Iya tante, habis malam mingguan dong.." Jawab Tania dengan ceria.


Tania segera masuk ke dalam kamar mandi untuk cuci kaki dan tangannya.


Diana yabg hendak menyusul adiknya tiba-tiba harus menghentikan langkahbya ketika mendengar sang Ayah bertitah.


"Diana, duduk dulu."


Deg,


"Siapa tadi?" Tanya Ayah Arman to the point.


"Willy Yah," Ucap Diana lesu.


"Ayah gak nanya namanya!" Ucap Ayah dengan intonasi biasa namun dengan sedikit penekanan menimbulkan kesan tegas.


Selembut apapun suara sang Ayah saat ini, tetap saja membuat bulu kuduk Diana begidik ngeri.


"Teman Yah," Jawab Diana lagi tanpa berani memandang Ayahnya.


"Yakin cuma teman biasa?"


Diana mengangguk pelan meng-iyakan perkataan ayahnya.


"Kalau yang bonceng kamu tempo hari?"


Diana terdiam sesaat berusaha mencari jawaban Ayahnya dalam memori otaknya.


"Oh, Mario Yah," Jawab Diana singkat.


"Ayah gak nanya nama."


"Teman juga kok Yah," Diana tampak cemberut dalam kelesuannya.


"Huh," Ayah nampak mendengus pelan.


"Kamu sudah besar nak, kamu harus sudah bisa membedakan mana yang baik dan yang harus dihindari." Ayah menjeda kalimatnya.


"Ayah tidak masalah kalau kamu dekat dengan siapa saja. Ayah cuma minta jaga sikap kamu, perilaku kamu, dan ingat tugas utama kamu adalah belajar."


"Kamu adalah seorang kakak. Kamu harus bisa menjadi contoh yang baik untuk adik kamu. Kalau adikmu keliru, kamu juga sebaiknya bisa membantu Ayah dan mama membimbing dan menuntun adikmu."


Diana semakin menekuk dalam wajahnya. Pemandangan telapak kakinya di lantai seolah pemandangan terindah dari pada sekitarnya.


"Ayah gak marah. Tapi jujur ayah kaget sekali ketika melihat ada laki-laki yang pegang tangan kamu. Apalagi ada bocah kecil yang mengaku pacar adik kamu. Ya meskipun adikmu masih belum tau pacar itu apa."


"Tadi itu gak sengaja Ayah. Willy mau lihat hape Diana, jadinya gak sengaja kepegang tangan Diana." Tutur Diana berusaha menjelaskan.


"Iya, iya, Ayah percaya sama kamu." Ucap Ayah.


"Bohong sekali Ayah ini. Pasti Ayah masih ragu sama penjelasanku." Batin Diana akhirnya memberanikan diri menatap ekspresi wajah Ayahnya.


"Sini, mendekat ke Ayah." Ucap Ayah Arman sambil menepuk bantalan sofa di sebelahnya, meminta Diana agar duduk di sana.


Diana berjalan ragu untuk duduk di samping ayahnya. Dia merasa tidak melakukan kesalahan, tapi tidak tau mengapa dirinya merasa takut yang luar biasa.


Ayah merengkuh bahu putri sulungnya itu, membelai kepala putrinya, dan menyandarkannya di bahunya.


"Ayah gak marah, kenapa kamu tegang sekali?"


"Ayah serem" Ucap Diana jujur.


"Hahaha.." Tawa Arman menggema di ruangan itu.


"Ayah tidak melarang kamu dekat dan bergaul dengan siapa saja. Yang terpenting kamu tau kewajiban kamu dan kamu tau batasan kamu, ngerti kan maksud Ayah?"


Diana mengangguk dalam diamnya.


"Berarti Ayah gak marah kalau Tania punya pacar?" Suara cempreng itu muncul dari balik dinding pemisah ruangan. Tania di sana tampak mengintip malu-malu.


"Sini kamu!" Perintah Ayah agar Tania mendekat dan duduk di pangkuan Ayah.


Tania bergerak malu-malu. Dia pun merasa takut melihat kakak perempuannya nampak meringkuk dengan banyak pertanyaan dari Ayahnya tadi.


"Kalau pacar Tania bisa menang main catur dengan Ayah, baru boleh jadi pacar Tania." Ucap sang Ayah pura-pura galak.


"Bener ya? Besok Senin aku sampein ke Faisal biar dia belajar main catur." Ucap Tania dengan segala kepolosannya.


"Hi.. Tania ini.." Diana pun tak kuasa menahan rasa gemas dengan mencubit lengan adiknya.


"Aw, sakit mbak.." Gerutu Tania.


Hahaha..


Ayah Arman tertawa saja dan memeluk kedua putrinya itu. Sungguh, dia ingin terus dan terus dapat memeluk kedua putrinya itu.


...


Author's cuap:


Akutuh ikut emesh ama Tania..


Tapi bner juga loh,, banyak yg gk percaya kalau kedekatan laki-laki dan perempuan bisa murni sampai persahabatan aja.


Salah satu diantaranya pasti ada yg menyimpan rasa..


Bener gak sih?


Tapi untuk kasus Tania, kamu emang masih benar-benar polos. Hahahaha