Titip Salam

Titip Salam
Sang Hera Murka



#96


Sang Hera Murka


Sehari sebelumnya,


"Mar, kamu nyadar gak sih kalau mood kamu berimbas ke permainan kamu?"


Mario menyeka keringatnya dengan handuk kecil di tangannya.


"Mood apaan sih Dul? Aku tuh lagi kecapekan aja. Selama dua minggu hidup di lapangan mulu. Sampe item dekil hilang aura ganteng aku." Jawab Mario.


Abdul terpingkal mendengar jawaban sahabatnya itu. Tangannya menoyor pelan pundak Mario yang juga tertawa dengan apa yang ia ucapkan.


"Pede banget sih jadi orang. Baru juga dua minggu. Padahal belum berjalan kontrak sesungguhnya. Bisa-bisa sungguhan luntur kegantengan kamu. Fans fanatik kamu bisa pindah ngefans aku semua dong?"


"Ambil Dul, ambil.."


Mereka pun tertawa dengan kehaluan masing-masing.


Ekskul bola memang sudah berakhir lima belas menit yang lalu. Namun kedua pemuda itu seolah masih ingin duduk berlama-lama di sana. Saat-saat seperti inilah biasanya dua pemuda itu saling berbagi kisah tentang kehidupan mereka alias sesi curhat. Inilah quality time mereka. Bahkan acap kali mereka baru keluar gerbang ketika hampir senja.


"Jadi kamu belum cerita ke dia?" Tanya Abdul sambil menyelonjorkan kakinya.


"Ngapain Dul? Kayaknya gak perlu. Mungkin itu bukan hal yang penting buat dia." Jawab Mario sambil memainkan kerikil-kerikil kecil di pinggir lapangan.


"Kenapa kamu mikir gitu?"


Mario hanya mengangkat kedua bahunya.


Selama dua minggu kemarin Mario memang hilang dari peredaran. Dia sedang mengikuti semacam program orientasi sebuah club bola terbesar di ibukota.


Beberapa bulan yang lalu dia telah menandatangani kesempatan kontrak kerja dengan club bola impiannya setelah dinyatakan lulus seleksi. Yah, Mario sudah memantapkan hatinya akan pindah ke ibukota selepas pendidikan menengah pertamanya. Ini adalah salah satu mimpi besarnya.


Namun tak selang berapa lama ujian baru menerpanya. Dia dihadapkan pada sebuah kebimbangan besar manakala ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Sesuatu yang dinamakan falling in love.


Antara mengejar mimpi atau ingin berada terus didekatnya?


Hal tersebut sempat membuat Mario tidak fokus pada mimpinya lagi. Dia lebih menikmati proses mengejar sesuatu yang lebih menantang menurutnya. Satu hal yang ia lupakan, ia tidak akan bisa menjadi serakah dengan memiliki keduanya.


Hidup adalah pilihan. Seolah mendapat tepukan untuk terbangun dari buaian perasaan bahagianya, ia akhirnya memilih untuk kembali fokus pada mimpinya, namun sungguh hatinya selalu berontak.


"Saran aku sih, coba kalian ngobrol. Feeling aku nih, doi ada rasa juga sama kamu."


Mario menghembuskan nafas beratnya. Dia tidak yakin dengan apa yang dikatakan Abdul.


"Her, tungguin!" Terdengar suara keributan dari kejauhan yang membuat kedua pemuda itu menoleh pada sumbernya.


Seorang gadis sedang berjalan tergesah-gesah berusaha mengejar langkah gadis satu lagi yang berjarak dua meter didepannya.


"Hera? Mau ngapain dia?" Gumam Abdul mendapati Hera melangkah tergesah-gesah dengan wajah merah padam penuh amarah.


Hera berjalan semakin dekat dan langung mencengkeram kerah kaos jersey Mario yang terasa masih lembab oleh keringat.


Mario yang posisi duduk di lapangan sontak terkejut dan mendongak bingung.


"Heh, Mario! Maksud kamu apa, hah?" Ucap Hera penuh murka.


"Maksud apanya sih Her?" Tanya Mario bingung tanpa ada perlawanan.


"Sabar Her, semua bisa diomongin baik-baik." Ucap Abdul.


Mata Hera beralih melotot pada Abdul yang sontak membuat pemuda itu. Hera sesungguhnya adalah sosok yang ceria dan tidak banyak tingkah. Namun saat ini aura gelap penuh amarah seoalah begitu kuat membuat setiap yang berada di sekitarnya auto menciut.


"Kamu gak usah belain teman kamu satu ini!" Ucap Hera.


Zahra mendekat dan menyentuh pundak Hera sambil berkata "Sab-"


"Kamu juga jangan belain dia. Diana itu teman kita. Kamu harusnya lebih peduli sama dia."


"Diana? Kenapa Diana?" Mario menjadi cemas mendengar nama gadis itu disebut.


"Kenapa kamu bilang?" Hera berkacak pinggang. Tak ada yang bersuara meski hanya sekedar untuk meredam emosi Hera.


"Gara-gara kamu Diana sering melamun dan murung. Dia memang gak mau cerita masalahnya apa. Tapi aku yakin penyebabnya adalah kamu!"


"A-ku?" Mario benar-benar masih tidak mengerti kemana alur pembicaraan Hera.


"Kamu jungkir balik ngejar-ngejar teman aku, terus setelah kamu berhasil bikin dia suka sama kamu, kamu menghilang gitu aja?"


Deg,


Mario terkejut mendengar tiap kata-kata yang keluar dari mulut Hera. Keningnya terlipat semakin dalam dengan mulut menganga lebar.


"Kamu pikir perasaan teman aku kayak layangan main tarik ulur aja?"


"Aku pikir kamu orang yang baik. Tapi ternyata kamu itu cuma cowok breng sek, playboy, suka mainin perasaan cewek yang polos kayak Diana."


"Aku tuh heran, kok bisa cowok ba jin gan kayak kamu dieluh-eluhkan banyak orang. Mereka udah ditipu oleh muka sok manis sok ramah padahal busuk!"


Mario hanya diam menerima setiap cacian dari Hera. Ada rasa bersalah yang begitu besar mengguncang dadanya.


"Udah Her, ayo balik Her.." Zahra berkata lirih sambil merangkul lengan Hera.


"Bentar Zah, aku belum puas memaki si kampret satu ini." Ucap Hera sambil menunjuk-nunjuk hidung Mario.


"Dengar ya Mario, jangan pernah kamu ganggu Diana lagi. Kalau sampai kamu berani ganggu Diana dan nyakitin Diana lagi, aku akan jadi yang terdepan membela teman aku." Ucap Hera sambil menoyor pundak Mario dengan penuh penekanan sebelum akhirnya berlalu dari sana.


Sepeninggal Hera, Mario dan Abdul saling berpandangan.


"Kamu dengar apa yang dibilang Hera tadi?" Mario bertanya seolah membutuhkan penegasan lebih dari Abdul yang juga menyaksikan kejadian tadi.


"Dia suka sama aku?" Lanjut Mario sambil menunjuk hidungnya sendiri.


Abdul men desah pelan "Seperti yang aku bilang sebelumnya. Aku aja bisa lihat. Kamu aja yang buta." Ucap Abdul.


Mario merenung. Dia merasa sangat bersalah telah berusaha menjauh dan mengabaikan pesan-pesan gadis itu. Terbesit sesal karena telah mebuat gadis itu akhirnya luluh dan menyukainya kalau akhirnya sebentar lagi ia akan meninggalkannya. Namun tentu ada setitik rasa bahagia yang menyeruak menghangatkan hatinya.


Rupanya perjuangannya berhasil meskipun ia tak menyadarinya. Entah gadis itu yang begitu rapi menyembunyikan perasaannya, atau memang Mario yang tidak peka.


"Terus aku kudu gimana Dul?" Tanya Mario yang merasa pikirannya buntu tak tahu harus bertindak apa.


"Kamu pikir aja sendiri ya? Kalau aku sih mending buruan cabut, ngejar si Hera. Siapa tau dia belum dapat angkot. Hehe.."


Abdul membereskan barang-barangnya dan segera berpamitan undur diri "Aku balik duluan ya.." Ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak Mario.


Mario menghela nafas berat. Dia merenung sendirian disana.


"Aku harus ngomong sama dia." Ucapnya mantap penuh keyakinan.


...


Author's cuap:


Ngomong dong bang,


jangan dipendam doang..


Ntar jadi jerawat jerawat cinta lho..


Xixixixi


Kalian juga yg udah selesai baca,


Jempolnya gak usah ditahan-tahan buat klik Like dan ketik komennya yaaaaa


Terimakasih