
#60
Es Krim Couple
Red Fire dengan joki tampannya yang sedang membawa sang tuan putri pujaan hati memasuki pelataran area parkir kedai kopi dan ice cream. Kedai itu bertema outdoor dimana banyak pohon-pohon rindang dengan bangku-bangku dan beberapa mini gazebo yang tampak nyaman sebagai tempat nongkrong anak muda.
"Ayo.." Ajak Mario setelah mereka turun.
Jujur, ini adalah pengalaman pertama Diana masuk ke tempat nongkrong anak muda. Diana tampak takjub dengan lokasi tersebut. Memasuki area itu berasa seperti benar-benar menjadi anak muda yang hits, keren, dan gaul.
"Eh, tapi beneran lima belas menit aja ya.. Aku belum ijin sama mamaku. Nanti mamaku nyariin." Ucap Diana mengingatkan.
"Apa perlu aku yang mintain ijin? Mau aku telponin?" Jawab Mario.
"Apaan sih kamu ini. Aku pulang aja deh kalau gitu."
Grep,
Tangan Mario spontan menarik pergelangan Diana ketika gadis itu mulai berbalik. Diana memandang tangannya yang digenggam erat oleh Mario. Gerakan Mario semakin cepat dan tepat seolah sudah mulai terbiasa dengan keadaan seperti itu.
"Eh, iya.. iya.. Ya udah buruan masuk." Mario langsung saya menyeret gadis itu masuk dan mengantri untuk memesan.
"Aduh, mahal gak ya? Duwit aku tinggal lima ribu." Batin Diana.
Diana menelan ludahnya ketika melihat keterangan harga pada papan menu yang dipasang dekat meja kasir.
"Aku traktir," Bisik Mario tepat ditelinga Diana.
Sontak Diana memundurkan wajahnya dan reflek mengangkat kepalan tangannya. Nampaknya dia masih trauma pada kecupan tiba-tiba dari Mario dulu. Yah, kecupan di kening yang membuatnya menangis kencang dan ketakutan karena mengira hal tersebut dapat membuatnya hamil. Dia takut kecolongan lagi.
"Aduh, so sweet banget sih.. Jadi ikutan meleleh deh.." Ucap seseorang dari balik meja kasir.
"Eh, mbak Santi kok disini? Mas Hendra mana?" Ucap Mario menyapa gadis yang berdiri di meja kasir tersebut.
"Ada, lagi ke toilet. Tadi mbak ada keperluan di sekolah. Sekalian mampir deh kesini." Ucap gadis yang bernama Santi tersebut.
Diana hanya mengerutkan keningnya melihat Mario yang tampak akrab dengan orang-orang di kedai tersebut. Lebih tepatnya dia merasa malu.
"Gawat! Mereka pasti mikir yang enggak-enggak tentang aku sama Mario." Batin Diana.
"Ice cream couple nya satu mbak?" Ucap Mario pada sang penjaga meja kasir.
"Hah? Ice cream couple? Apaan tu? Es krimnya sepasang dan samaan gitu? Masak aku gak boleh milih rasanya?" Batin Diana yang merasa aneh mendengar menu yang disebutkan Mario.
"Ciye.. mentang-mentang bawa ceweknya langsung deh pesennya ice cream couple. Manis banget sih kalian.." Ucap Santi menggodai dua bocah yang disangkanya sebagai pasangan.
"Eh, bukan mbak. Aku bukan ceweknya." Jawab Diana cepat-cepat.
Santi yang melihat ekspresi lucu salah tingkah Diana lantas terkekeh. Ditambah lagi Mario yang tampak kesal pada penuturan Diana yang spontan menampik pernyataan Santi secara terang-terangan.
"Huh.. Ya gak usah dijelasin juga kali Di.." Ucap Mario.
"Ya udah dong, gak usah berantem. Ntar jodoh lo.." Ledek Santi yang masih merasa lucu dengan dua bocah didepannya itu.
"Amin.." Jawab Mario spontan.
Plak,
"Aw, sakit Di.." Ucap Mario menggosok lengannya yang mendapat pukulan dari Diana.
"Hahaha..." Santi pun semakin terpingkal melihat drama pertikaian di depannya. "Udah ah, mau rasa apa aja ice creamnya?" Ucap Santi agar dua anak manusia di depannya itu segera menyudahi pertengkaran mereka.
"Buruan pilih.." Ucap Mario.
"Iya iya.. Gak usah ngegas gitu ngomongnya." Ucap Diana kesal.
Diana mulai celingukan melihat ice cream warna warni berbagai rasa dalam freezer kaca.
"Bisa pilih berapa rasa mbak?"
"Khusus buat kalian aku kasih bonus satu scoope. Jadi bisa pilib empat." Ucap Santi ramah.
"Waaah.. kalau gitu aku mau rasa coklat, oreo, taro, sama durian." Jawab Diana bersemangat.
"Selain durian ya Di.. Aku gak bisa makan Durian." Ucap Mario cepat-cepat sebelum Santi menyendok es krim rasa durian itu kedalam mangkuk.
"Yah ini kan bukan durian. Ini Es krim!" Jawab Diana.
"Kalau gak suka, ya udah pilih aja rasa yang lain. Ngapain ngerecokin es krim aku." Ucap Diana.
Santi yang menyaksikan dua anak manusia yang kembali berdebat itu hanya mampu menggelengkan kepala.
Mario menghela napas berusaha meredam emosi. "Diana sayang, es krim couple itu konsepnya dalam satu mangkuk besar yang dimakan berdua. Jadi, sebaiknya gak ada rasa durian ya.. Karena aku gak bisa makan durian."
Diana hanya ber "ooh" panjang. Menelaah tiap kata yang diucapkan Mario barusan. Namun seketika keningnya terlipat dan..
Plak,
"Aw, sakit Di. Kamu kok jadi sering KDRT gini sih?"
"Kamu manggil aku apa tadi?" Diana mulai berkacak pinggang.
"Apaan? sayang maksudnya?" Jawab Mario yang membuat Diana menunjukkan kepalan tangannya di depan wajah Mario.
"Mbak, ganti sama rasa durian semuanya." Ucap Diana tanpa menoleh ke arah Santi.
"Di, jangan kejam gitu dong.." Protes Mario.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Ucap seorang pria yang muncul dari belakang.
"Weeey.. Mario. Lama gak kesini." Ucapnya kemudian setelah melihat siapa yang membuat keributan di depan meja kasir.
"Iya nih, adek kamu ribut mulu sama ceweknya." Jawab Santi sambil terkekeh pelan.
Deg,
"Hah? Adek?" Batin Diana.
Diana langsung terdiam.
"Sorry mas, agak berisik. Hehe.." Mario menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Gile.. Mario si bocah tengil udah gede.. Udah berani bawa cewek." Ledek pria tersebut yang membuat wajah Diana bersemu merah.
Diana mengibas-ngibaskan tangannya menunjukkan ungkapan tidak setuju pada pernyataan pria tersebut.
"Bukan kak, aku bukan ceweknya.." Ucap Diana berusaha menjelaskan.
"Ya elah Di, kan aku udah bilang. Gak usah dijelasin. Mereka gak bakal percaya.." Ucap Mario enteng.
"Terserah deh," Ucap Diana kesal sekaligus malu, dirinya memilih segera berlalu dari meja kasir menuju bangku dibawah pohon yang letaknya paling ujung.
"Parah kamu Mar, tuh cewek sampe ngambek. Hahaha..
"Mas Hendra sama mbak Santi sih, ngeledekin mulu." Mario jadi ikut kesal yang berujung menyalahkan orang lain.
"Iya deh, maaf.. Jadi gimana nih es krimnya?" Ucap Santi mengalah.
"Ya udah kasi aja rasa durian. Tapi taruk di paling ujung ya mbak" Jawab Mario.
"Nah, gitu dong. Sedikit berkorban biar ceweknya seneng. Kalau ngalah dari tadi kan enak. Gak usah pake berantem jadinya." Ucap Santi yang kemudian menyerahkan semangkuk besar es krim dengan dua sendoknya, yang memiliki varian rasa seperti yang diinginkan Diana.
"Gak seru dong mbak jadinya. Hehehe.." Mario menerima semangkuk eskrim tersebut dan menyerahkan lembaran rupiah pada pria di.belakang mesin kasir yang dipanggilnya Mas Hendra.
"Mas traktir deh, buat keberanian kamu bawa cewek galak kesini. Hihihi.."
"Makasih mas.." Mario menyimpan kembali uangnya dan segera menuju tempat dimana Diana duduk sambil memandang ke arah jalan raya tak berani untuk sekedar hanya melirik ke arah kasir. Malu!
"Hen, aku kok kayak familiar sama ceweknya Mario ya? Kayak pernah lihat dimana gitu.." Ucap Santi pada Hendra.
"Masak sih? Mungkin kamu pernah gak sengaja ketemu dijalan." Ucap Hendra yang tidak begitu menanggapi ucapan Santi.
"Iya mungkin ya.."
...
Author's cuap:
Hahahaha.. mendadak bengkak berotot lengan Mario saking seringnya dapat cap tangan gesit Diana..
Ada yang inget gak sama Santi? Siapa hayo?