
#58
Akhirnya Semua Tau
Kriing.. kriing.. kriiiiiing...
Pulang sekolaaaah..
Horeeee..
"Bentar lagi ada acara pensi (pentas seni) di sekolah. Kira-kira kelas kita bakal nampilin apa ya?" Ucap Rida pada teman-temannya.
"Wah, buk bendahara OSIS bakal sibuk nih.." Zahra menimpali yang dijawab anggukan oleh Rida.
"Drama? Nyanyi? Dance? Apa ya kira-kira yang menarik. Kan mayan tuh, ada hadiahnya kalau menang." Ucap Rida lagi.
"Gimana kalau Diana aja yang tampil, suruh atraksi dipanggung." Celetuk Hera.
"Atraksi apaan? Emangnya aku pemain sirkus? Gak mau, gak mau.." Sanggah Diana tidak setuju dengan mulut yang masih mengunyah jajanan favoritnya, pentol korea.
"Hihihi.." Hera terkekeh melihat reaksi Diana.
"Hera bener juga deh. Untuk saat ini, kamu tuh lagi hot alias sedang diperbincangkan banget Di. Secara peraih medali emas beladiri putri." Ucap Rida.
"Semakin hot lagi karena gosip-gosip kamu yang lagi deket sama Mario." Celetuk Zahra.
Deg,
Mendengar nama Mario disebut membuat Diana sedikit tersentak. Seperti ada semriwing hawa dingin meniup tengkuknya.
"Jadi, kamu sama Mario itu gimana sih Di?" Tanya Rida penasaran.
"Gimana apanya?"
"Yah, anggep aja mereka udah pacaran Rid, gampang kan?" Jawab Zahra sambil terkekeh.
"Zah, jangan mulai gosip aneh-aneh deh.." Diana memanyunkan bibirnya.
Siang ini tampak awan mendung yang menutupi pancaran sang surya. Empat sekawan itu semakin nyaman bercengkrama dalam perjalanan pulang. Berjalan santai tanpa khawatir kalau langit akan segera menumpahkan milyaran titik air menuju permukaan bumi.
"Diana.." Sebuah tepukan pada punggung Diana menghentikan gerakan empat gadis itu.
Diana memicingkan matanya berusaha mengenali siapa yang menyapanya barusan. Seorang siswa dari sekolah yang sama namun entah kelas berapa.
Memang benar kata Hera, Diana mendadak menjadi polpuler setelah namanya diumumkan telah memenangkan medali emas cabang beladiri putri. Salah satu buktinya, yah seseorang yang menyapa Diana saat ini. Tak seorang pun dari mereka berempat nampak familiar dengan wajah siswa tersebut.
"Iya? Ada apa ya?" Tanya Diana bingung.
"Ada titipan salam buat kamu." Ucap siswa itu.
"Hah? Titipan salam?" Diana semakin dibuat bingung. Rupanya dia hanyalah pengirim pesan.
"Iya, dari kakak itu.." Ucap siswa itu sambil menunjuk ke arah belakangnya.
Mata Diana dan teman lainnya mengikuti arah telunjuk sang pengirim pesan.
Deg,
Diana terbelalak kaget.
Wah, (Batin Zahra)
Disana, di sebuah area parkir ruko kosong, seseorang bertengger di atas motor besar warna merah mengkilat. Mario.
Sementara sang pengirim pesan tadi, sudah pergi entah kemana.
Mata itu berkedip, mengulas senyum, dan melambaikan tangan. Ekspresi yang begitu keren membuat gadis-gadis itu meleleh. Kecuali Diana.
Diana terpaku menatap sosok Mario disana. Pikirannya melayang pada kejadian di depan ruang kepsek tadi. Mario yang tampak marah mengacuhkannya.
Mario mengendarai motornya, melaju perlahan, mendekat ke arah Diana.
"Aduh, aku harus bagaimana?" Batin Diana.
"Aku pinjem Diana-nya ya?" Ucap Mario pada ketiga teman Diana yang masih menganga takjub.
"Ambil aja.." Ucap Zahra spontan.
Plak!
"Aw, sakit Di.." Ucap Zahra kemudian sambil menggosok lengannya.
Mario terkekeh melihat respon Diana yang tampak malu-malu dan salah tingkah.
"Udah sana ikut aja.." Ucap Rida sambil mendorong punggung Diana membuat Diana terjungkal.
"Apaan sih, Rid.." Diana mulai kesal. Bibirnya mengerucut, namum pipinnya bersemu merah.
"Ikut aja Di.. Kalian itu perlu ngobrol deh, biar gak kayak kucing ama tikus kalau ketemu." Timpal Zahra.
"Sekalian aja Mario anter pulang kayak yang waktu itu.." Lanjut Hera.
Diana sontak membekap mulut Hera. Dia sudah mewanti-wanti temannya itu untuk merahasiakan kalau dirinya pernah berboncengan dengan Mario. Yah, sepulang pertandingan final beladiri waktu itu, dimana hanya Hera dan Abdul yang merupakan saksi bahwa Diana pernah berboncengan dengan Mario.
"Oh, jadi gitu Di.." Rida melipat tangannya didadanya.
"Ternyata Diana banyak main rahasia-rahasiaan yah sama kita.." Ucap Zahra sambil berkacak pinggang.
"Bukan gitu, menurutku itu bukan hal yang penting juga, Hehehe.." Diana memaksakan bibirnya tertawa.
"Resek banget Hera! Mulutnya rem blong banget sih. Jadi tau deh semuanya. Males banget kalau harus diciye-ciye-in sama temen-temen. Kan malu banget.." Batin Diana.
"Jangan-jangan kalian juga gak tau kalau aku udah dikenalin ke ayah Diana?" Lanjut Mario.
Jleb,
"What?" Ucap Hera, Rida, dan Zahra kompak.
Diana mengerutkan alisnya menampakkan ekspresi marah pada Mario. Bibirnya komat kamit mengumpati pemuda tengil yang kini sedang menahan tawanya.
Senang. Benar-benar senang kau Mario..
"Gak! Bukan dikenalin. Tapi gak sengaja ketemu." Jawab Diana panik.
(Tercyduk sang ayah lebih tepatnya).
"Awas kau Mario." Batin Diana.
Diana nampak makin tersudut ketika mendapat tatapan tajam dari teman-temannya.
"Kenapa? Masak kalian gak percaya sih sama aku?" Kening Diana mulai mengembun.
"Udah, udah. Gak selesai-selesai kalau debat mulu. Buruan naik Di!" Ucap Mario memberi perintah.
"Gak mau!" Jawab Diana.
Mario menghembuskan nafasnya. Diana benar-benar keras kepala. Hanya ingin mengajaknya ngobrol saja rasanya tidak akan mudah.
"Sebentar aja Di, cuma di kedai es krim deket sini." Mario merendahkan intonasi suaranya.
"Kamu gak liat aku pakai rok? Gimana bisa aku naik motor kamu yang tinggi kayak gitu? Aku tuh gak bisa duduk miring kalau naik motor. Ntar kalau rok aku robek gimana?" Ucap Diana dengan nada tinggi terkesan mengomel marah-marah.
Mario terkejut mendapat respon Diana yang seperti itu. Untuk pertama kalinya, dia dibentak-bentak oleh seorang perempuan, apalagi di depan banyak orang.
"Kamu kan selalu pakai celana pendek dibalik rok kamu itu Di. Harusnya gak masalah dong?" Ucap Hera yang tahu betul kebiasaan Diana itu.
"Di, gak usah ribet. Ikut aja sama Mario. Kita balik duluan ya.." Ucap Rida lantas menggandeng tangan Hera dan Zahra agar segera pergi menjauh.
"Rid, tunggu.." Ucap Diana kelabakan. Dia segera mengambil langkah akan menyusul teman-temannya.
Hap,
Tangan Mario spontan meraih pergelangan tangan kiri Diana. Menggenggam erat pergelangan yang berhiaskan jam tangan mungil itu.
Diana berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman itu benar-benar kuat. Dia menatap wajah Mario yang tampak memohon.
"Kamu mau ngomong apa sih? Ngomong aja disini." Ucap Diana ketus.
"Lima belas menit aja temenin aku makan es krim, please.." Ucap Mario.
"Huh, ya udah lepasin tangan aku." Diana akhirnya mengalah. Sesyngguhnya dia pun penasaran apa yang diinginkan Mario.
Diana yang memakai rok seragam sekolahnya mengalami sedikit kesulitan menaiki motor Mario yang cukup tinggi. Dia harus sedikit mengangkat roknya, memperlihatkan celana pendek ketat warna hitam selutut yang tersembunyi di baliknya.
Motor melaju pelan. Mario tersenyum senang dari balik helmnya. Sementara Diana menekuk dalam menyembunyikan wajahnya, berharap tidak dapat dikenali oleh siapapun yang mungkin akan memergokinya.
"Kok diem aja sih Di? Kalau ngantuk nyandar aja di punggung aku. Punggung aku nyaman kok." Ucap Mario menggodai Diana sedari tadi tak bersuara.
"Ngarep banget sih. Udah nyetir aja yang bener. Lima belas menit kamu udah mau abis." Ucap Diana ketus.
"Ya elah Di, jadi kamu hitungin beneran?"
Dan candaan yang hanya menguntungkan sepihak itu terus berlanjut, diiringi angin semilir, dan langit yang teduh akibat mendung. Tanpa mereka sadari alam telah mendukung terciptanya suasana romantis. Namun yang terjadi tak ada kesan manis dalam kata-kata yang keluar dari bibir mereka.
Mario sedikit memperlambat laju motornya. Dia membuka kaca helmnya, sedikit melirik ke sisi kanan jalan ketika motornya melaju melewati sebuah bengkel yang tidak begitu besar.
Motornya Mario yang besar dan warna mentereng tentu menarik perhatian setiap mata untuk menoleh. Tak terkecuali setiap orang yang berada di bengkel tersebut.
Yah, semua berjalan sesuai dengan apa yang ia harapkan.
...
Author's cuap :
Swear deh, author kok ikutan baper nulis cerita ttg Mario ini..
hehhehe
Jangan cuma like ya.. tapi dibaca juga..
Jangan cuma dibaca, tapi di support juga ya..
Like comment vote nya yaaa