Titip Salam

Titip Salam
Tragedi Jendela Kelas



#120


Tragedi Jendela Kelas


"Jujur, saya tidak menyangka bisa sampai sejauh ini. Ini adalah prestasi paling luar biasa yang pernah saya capai." Diana tersenyum malu-malu ketika mengatakannya.


Kini dia sedang berdiri disamping pak Kepsek dengan membawa mic, namun bukan karena hukuman sosial akibat terlambat melainkan ia diminta untuk mengucapkan sepatah kata setelah namanya dipanggil untuk menerima penghargaan dari sekolah perihal prestasi bela diri yang ia capai.


"Yang penting adalah usaha dan kerja keras dulu. Kemenangan adalah bonus." Lanjut Diana yang disambut dengan tepuk tangan riuh dari seluruh warga sekolah yang sedang berdiri di lapangan utama seusai upacara bendera. Terutama seorang siswa yang tiba-tiba muncul di barisan paling depan yang padahal sebelumnya ia berteduh di barisan paling belakang.


Mario bertepuk tangan paling kencang dan sangat bersemangat. Sontak hal itu membuat Diana semakin merona ketika tak sengaja sekilas menemukan sosoknya di barisan paling depan. Hanya sekilas, Diana tak sanggup bila terus bertatap wajah dengannya.


"Terimakasih Diana, jangan malu-malu dong. Kenapa? Jangan-jangan malu karena dilihatin pacarnya ya?" Gurau pak Jamal yang sudah memegang kendali mic-nya lagi.


Sebuah telapak tangan mendorong Mario sampai terjungkal beberapa langkah ke depan ketika sorak ciye ciye akibat gurauan pak Jamal sang kepsek bergemuruh. Tawa pun semakin meledak melihat tingkah konyol Mario yang seolah mendukung gurauan pak Jamal.


Abdul langsung meringsek mundur sambil terkekeh ketika Mario terlihat kesal dan memaki ke arahnya. Ah, ulah dia rupanya!


"Hei, hei, apa itu kok berisik sekali? Kamu ngapain kok maju-maju keluar barisan?" Semua perhatian pun mengarah pada Mario yang cengengesan sambil menggaruk kepalanya.


Diana hanya menggelengkan kepala menyaksikan betapa konyolnya wajah Mario yang terkena keusilan teman-temannya.


Mario yang menyadari perhatian Diana mengarah padanya malah menyunggingkan senyum lalu mengedipkan matanya.


Eh,


Entah ada yang memperhatikan atau tidak kedipan mata itu, yang jelas hal itu membuat Diana langsung mengedarkan pandangannya ke arah lain. Ia berusaha tidak salah tingkah di depan umum seperti ini.


Pagi ini, benar-benar dimulai dengan debaran yang luar biasa akibat kedipan mata yang bahkan berlangsung kurang dari satu derik itu.


...


Jam istirahat adalah saat yang sangat ditunggu-tunggu saat ini. Perut Diana sudah melilit kelaparan karena ia tak sempat sarapan tadi pagi.


Sebetulnya tidak sepenuhnya begitu. Diana sempat melahap satu pisang goreng namun itu tidak terhitung sarapan karena bukan sepiring nasi. Yah, hanya sepiring nasi yang dapat dihitung sebagai sarapan pagi. Jika itu kue, bubur, mie, gorengan, susu, atau apapun itu hanyalah kudapan pengganjal perut.


"Bu, es coklat satu." Ucap Diana sambil celingukan memilih jajanan yang beraneka ragam didepannya sambil berjubel bersama pembeli lainnya.


"Setelah ini beli bakso pedas, hmm.. " Diana sampai menelan ludah membayangkannya.


Puk,


Sebuah telapak tangan menepuknya dari belakang.


"Eh, Rosa. Kenapa?" Ucap Diana yang sudah menerima es coklatnya dan menyerahkan uang pada sang penjaga kios.


"Ada titipan salam." Ucap Rosa sambil menggiring Diana menjauh dari kerumunan.


"Titipan salam? Dari siapa?" Diana mengernyit heran kali. Siapa yang menitipkan salam melalui Rosa? Willy? Sepertinya bukan.


"Tuh, " Rosa menunjuk seseorang di sebuah bangku panjang yang sedang melahap semangkuk bakso. Mario


"Mario?" Tanya Diana meyakinkan arah penglihatannya.


"Iya!" Ucap Rosa dengan tegas.


"Ngapain sih pakai titip salam segala? Padahal ngomong langsung aja bisa." Gerutu Rosa.


"Itu juga yang mau aku tanyain. Lagian kamu ngapain juga mau maunya dititipin salam sama Mario?"


"Ya namanya juga amanah, jadi harus disampaikan." Jawab Rosa.


"MARIO UDAH AKU SAMPEIN SALAM KAMU" Teriak Rosa diantara padatnya suasana kantin sambil menunjuk-nunjuk Diana yang sontak salah tingkah di sampingnya.


"Ros, gak usah teriak-teriak juga kali. Pada nengok semua tuh.. " Ucap Diana sambil berkali-kali mengatur nafasnya.


Teriakan Rosa benar-benar memancing perhatian. Banyak mata memandang pada mereka sambil tertawa dan bisik-bisik. Ah, malunya.


Mario yang semula tak menyadari keberadaan mereka karena asik makan otomatis menoleh pada sumber suara.


"IYA, MAKASIH YA ROS" Ucapnya setelah menelan makanan dimulutnya. Mario melemparkan senyum sekilas lalu melanjutkan kembali makannya.


"Sial! Aku deg deg an banget." Batin Diana.


"Udah ah, aku balik kelas duluan!" Ucap Diana dengan pipi merona. Niat hati ingin membeli bakso pedas atau beberapa jajanan kantin sudah lupa menguap begitu saja. Semoga es coklat ini cukup mengisi perut kosong Diana.


"Di, katanya mau makan bakso. Ayo, aku juga laper." Ajak Hera yang datang entah dari mana.


Diana kembali melirik kios bakso Bu Ida di mana Mario masih menikmati makanannya di sana.


"Enggak Her, aku balik ke kelas aja." Diana langsung berlalu pergi sebelum Hera kembali mencegahnya.


"Eh, Di.."


"Tadi katanya laper belum sarapan. Malah aku ditinggalin sekarang. Kenapa sih tu anak?" Gerutu Hera melihat tingkah Diana.


"Gara-gara Mario tuh. Salting kali dia." Jawab Rosa yang sudah menghampiri Hera.


"Makan bareng aku aja yuk, aku juga mau beli bakso. Laper."


"Yuk lah, "


Diana meringkuk cemberut di bangkunya. Ternyata es coklat tadi hanya lewat begitu saja. Perutnya masih lapar.


"Gara-gara Mario nih," Gerutu Diana yang mulai menyalahkan orang lain. Padahal semua itu karena ulahnya sendiri.


"Ngapain tadi kok kabur?"


Diana menoleh pada jendela yang terbuka di sampingnya. Betapa terkejutnya dia melihat Mario yang sudah menopang dagu di sana.


.


Jendela kelas itu hanya beberapa senti lebih tinggi dari meja bangkunya, namun itu cukup tinggi bila dijangkau dari sisi luar yang merupakan parkiran sepeda siswa yang memiliki elevasi lantai lebih rendah lebih dari setengah meter dibandingkan elevasi lantai kelas Diana.


"Kamu kok bisa nengok ke sini?" Ucap Diana sambil berbisik kemudian mengedarkan pandangan ke seisi kelas yang hanya berisi beberapa murid. Sepertinya teman-temannya belum kembali dari kantin.


"Aku kan spiderman." Jawab Mario sambil menyibak rambut cepaknya ke belakang.


Alih-alih terpesona dengan tingkah sok cool Mario, Diana malah merasa geli menahan tawa.


"Nih, dimakan ya."


Sekantong plastik kue diletakkan di atas bangku.


"Kata Hera kamu tadi gak sempat sarapan. Tapi kenapa kamu gak gabung bareng Hera dan Rosa makan bakso di kantin?" Mario berpura-pura menanyakannya. Ia sudah tahu alasannya dari mulut Rosa yang bercerita tanpa filter.


"Lagi gak pingin bakso." Jawab Diana sekenanya. Padahal ia sudah membayangkan bakso panas dan pedas meleleh dimulutnya. Ah, membayangkannya membuatnya semakin lapar. Dia pun mulai membuka satu bungkus kue dan mulai melahapnya perlahan.


"Emangnya kamu lagi pingin apa?"


Diana memosisikan duduknya menghadap pada Mario yang tampak nyaman menyandarkan dagu di lipatan tangannya melalui celah jendela.


"Emm.. Aku pingin.. kamu. "


"Hah?" Mario yang terkejut sontak mengangkat kepalanya.


Gubrak


"Aw, " Mario menggosok-gosok kepalanya yang cenat cenut karena terbentur daun jendela.


Diana tak sanggup menahan tawanya. Ia tertawa terpingkal.


"Aw," Kini berganti Diana yang merintih sakit karena mendapat cubitan pedas di pipinya.


"Itu balasan karena godain aku." Ucap Mario bersungut kesal, namun setelah itu ia kembali tersenyum.


"Ciye ciye ternyata mojok di sini." Ledek Zahra yang baru kembali dari kantin bersama Rida dan Hera.


"Ketahuan ya.. " Lanjut Rida.


"Pantes aja gak mau diajak makan bakso bareng-bareng. Taunya janjian disini." Hera pun ikut menimpali.


"Siapa yang janjian sih?"


Masih dalam rangka saling meledek, tiba-tiba muncul kepala plontos yang hanya terlihat sebatas dahi disamping Mario.


Puk, puk,


"Kamu ngapain?"


Mario menengok ke sampingnya. Diana dan teman-temannya pun ikut berdiri menengok siapa gerangan pemilik kepala plontos mengilat itu.


"Eh pak Samsul. Rambut baru pak?" Mario sontak membekap mulutnya sendiri ketika sanv pemilik kepala plontos semakin melotot ketika diungkit masalah rambut.


"Kamu nyindir?"


"Eh, bercanda pak. Jangan melotot gitu lah, serem. Nanti gantengnya berkurang." Ucap Mario berusaha memperbaiki suasana. Sementara Diana dan teman-temannya berusaha keras menahan tawa mereka.


"Gak usah cengengesan kamu! Ngapain manjat-manjat di situ?"


"Saya tadi balikin pulpen pak, ya kan Di?" Ucap Mario sambil memberi kode agar Diana mandukung perkataannya.


"Bohong pak, dia tadi ngintipin Diana terus godain Diana." Celetuk Zahra sambil berusaha menahan tawanya sebelum Diana sempat memberi bantuan pada Mario.


"Eh enggak gitu. Iya godain dikit tapi sumpah saya nengok langsung gak pakai ngintip." Mario semakin terdesak melihat pak Samsul yang semakin melotot.


"Turun!" Ucap pak Samsul sambil mulai menggunakan telunjuk saktinya. Beliau mengarahkan telunjuknya ke arah bawah sebagai kode agar Mario segera turun.


"Kembalikan batako itu ke tempatnya lagi" Kini telunjuk sakti itu diarahkan pada sekumpulan batako yang berada di pinggir parkiran.


Mario pasrah dan menurutinya. Ia mengembalikan beberapa batako yang sengaja ia susun sebagai pijakannya tadi.


"Kembali ke kelas!" Ucap pak Samsul sambil mengarahkan telunjuknya jauh-jauh mengisyaratkan pengusiran pada Mario.


Diana dan teman-temannya benar-benar puas tertawa melihat drama komedi live dihadapan mereka.


Tapi seorang Mario seolah tak merasa jera. Sebelum ia pergi, ia sempat melambaikan tangannya sekilas ke arah Diana membuat pak Samsul semakin melotot ke arahnya. Ah, pemuda itu benar-benar menarik. Bagaimana Diana bisa tidak menyukainya?


...


Author's cuap:


Gini nih kalo naksir cwe beda kelas. Ribet kan?