Titip Salam

Titip Salam
Janji Terakhir



#118


Janji Terakhir


Hmm hmm hmm..


Humming mengikuti irama lagu Michael Buble yang berjudul Everything samar-samar terdengar dari bibir Diana.


"Mbak Di ngapain sih mainan tanah?" Tanya Tania yang sedang berjongkok memandang heran apa yang dilakukan sang kakak perempuan.


"Siapa yang main tanah? Aku lagi menanam bunga." Jawab Diana yang melanjutkan berh hmm hmm ria.


"Tumben mbak Di menanam bunga segala? Biasanya disuruh nyiram tanaman aja males." Gumam Tania namun masih dapat didengar begitu jelas oleh Diana.


"Heh, berisik! Udah masuk rumah sana, gak usah usil." Gerutu Diana yang merasa terganggu dengan ocehan adiknya.


Tania menjulurkan lidahnya sebelum akhirnya berlari masuk rumah.


Gadis kecil itu memang tak salah menanyakannya. Ia pantas merasa heran pada apa yang dilakukan sang kakak perempuan. Jangankan untuk berkebun, hanya tinggal menyiram saja Diana merasa enggan karena malas.


Diana begitu menikmati mengaduk tanah yang dicampur pupuk, kemudian memasukkannya pada media tanam, menyematkan beberapa bibit tanaman disana, lalu menimbunnya lagi dengan tanah sebelum menyiraminya. Setidaknya itu yang hal yang harus ia lakukan menurut brosur panduan menanam bunga yang ia dapat dari paperbag yang ditinggalkan di laci bangkunya dari Tukang Pipa Buncit Berkumis alias Super Mario.


"Selesai." Ucap Diana setelah meletakkan beberapa gelas plastik berisi cikal bakal tanaman bunga mawar ke area yang teduh dan tidak terpapar langsung sinar matahari.


Sungguh, ini adalah bingkisan paling aneh sekaligus paling merepotkan namun Diana begitu menyukainya. Mubgkin bukan karena bingkisannya, melainkan karena sang pengirimnya.


Malam hari seusai belajar dan menyelesaikan semua tugas sekolahnya, Diana baru meraih hape yang sengaja ia pasang mode senyap agar tidak mengganggunya selama ia sedang belajar. Apalagi ia sudah tertinggal pelajaran selama beberapa hari karena harus berlaga di luar kota.


Begitu banyak pesan masuk baik dari grub maupun pesan pribadi. Diana mengabaikan semua pesan lain dan langsung menuju satu kontak bernama Super Mario. Yah, Diana sudah begitu penasaran ingin menanyakan perihal bingkisan misterius yang cukup merepotkan itu. Namun ia tak menjumpai pemuda itu sepulang sekolah tadi.


*Sayang, kamu sdh terima hadiahnya?


*Kok lama sih blsnya?


lgi blajar ya?


Y udah, slamat blajar ya sayang..


Diana berusaha menyembunyikan senyumnya membaca kata sayang sebagai kata ganti namanya pada pesan itu. Ada rasa geli, malu, dan senang bercampur menjadi satu.


Baru saja Diana akan mengetik balasan pesan itu, pesan baru sudah lebih dulu muncul di layar ponselnya.


*Udah selesai belajarnya?


Aku telpon ya..


Tak lama kemudian ponselnya bergetar dan nama kontak Super Mario muncul di sana. Panggilan pertama Diana sengaja menggeser tombol merah yang berarti ia menolak panggilan itu. Hingga pada panggilan ketiga akhirnya tombol hijaulah yang di pilih.


"Ha lo?" Ucap Diana begitu pelan dan malu-malu.


"Kenapa di riject sih?"


Diana spontan menjauhkan hapenya ketika suara di seberang sana tiba-tiba berteriak.


"Pelan-pelan ngomongnya.. Ada adek aku udah tidur." Ucap Diana sambil berbisik.


"Kamu ngomong apa? Suara kamu gak jelas." Ucap Mario masih dengan suara yang begitu keras padahal Diana sudah mengecilkan volumenya.


"Aduh.. Jangan keras-keras suaranya. Nanti adek aku bangun.. " Ucap Diana dengan menambah sedikit volume suaranya, namun Mario tetap belum bisa mendengar suara Diana dengan jelas.


"Suara kamu pelan banget Di. Apa signal kamu yang jelek?" Ucap Mario dari seberang sana.


Belum sempat Diana menjawab lagi, ia sudah dikagetkan oleh sebuah kepala yang tiba-tiba menengok dari atas.


"Mbak Di ngomong sama siapa?"


"Tania!" Diana berteriak karena saking terkejutnya.


"Mbak Di telponan sama pacarnya ya?" Ledek Tania dengan suara yang sudah serak-serak karena baru terbangun dari tidurnya.


"Enggak! Aku lagi nyanyi-nyanyi dengerin lagu dari hape." Bohong Diana.


"Aku gak percaya. Aku dengar kok tadi mbak Di ngomong bisik-bisik. Takut aku nguping ya?" Seperti biasa, Tania memang selalu dianugerahi rasa penasaran yang begitu tinggi.


"Udah tidur lagi sana bawel!" Diana bergerak memunggungi Tania. Sementara Tania yang sudah puas menggodai kakak perempuannya itu kembali menyamankan posisi dan melanjutkan tidurnya.


Diana merasa kesal karena pemuda di seberang panggilan justru terkekeh semakin keras. Ingin sekali ia mencaci maki saat ini, namun ia sudah tidak punya keberanian untuk mengeluarkan suara.


Tut.. tut.. tut..


*Kok ditutup sih?


Aku masih pengen denger suara km.


Pesan itu masuk tak lama setelah Diana memutus panggilan.


*Aku mau tidur


Jawab Diana singkat yang menandakan gadis itu sedang dirundung kesal.


Mario semakin terpingkal dibuatnya. Dirinya sudah tidak sabar ingin bisa menculik gadis itu seharian dengan bantuan sang penolong yang sudah meminta mahar dibayar lunas di depan yakni tabung NOS selama satu bulan.


Ah, Willy.. Apa yang kamu lakukan saat rival yang kini menjadi teman sedang berkirim pesan dengan gadis yang kau suka? Bahkan Willy belum mengucapkan selamat pada Diana untuk kemenangan yang Diana dapatkan.


Willy mengusap tiap inci si item, kuda besi kesayangannya. Ia membelai sayang body mulus hitam legam itu hingga mengilat tak ada debu setitik pun.


Kala tangannya sampai pada tabung biru mungil yang menggelayut diantara organ vi tal motornya, hembusan nafas kasar terdengar di sana.


Willy beranjak menuju kamar mencari hape yang ia tinggalkan begitu saja di kasur.


Ia melihat ada notifikasi pada laman sosmednya. Sebuah komentar pada sebuah postingan di laman sosmed Ari yang turut menandai dirinya.


*Miss_Dshantiq : @Wills_Ard Gak usah ngaku2 hak milik! Bayar hutang dulu ya.. hehehe


Sebuah akun baru yang bahkan belum ada foto di sana telah mengikuti sosmednya, menyukai beberapa foto di berandanya, dan menandai dirinya dalam sebuah komentar?


"Apa ini Diana?" Gumam Willy.


Dari laman sosmednya ia beralih ke halaman pesan pribadi. Berkali-kali ia mengetik pesan lalu menghapusnya lagi. Dia seolah benar-benar berpikir keras hanya untuk mengirim sebuah pesan? Sungguh tidak seperti biasanya.


*Di, selamat buat perunggunya


Kamu mau hadiah apa?


Canggung sekali rasanya. Benar-benar tidak seperti Willy yang biasanya. Kata-kata Mario untuk memberinya kelonggaran sebentar seolah membuatnya lebih berhati-berhati untuk bersikap pada gadis itu.


Sebelumnya ia tak pernah kehabisan akal untuk memberikan kejutan. Namun kali ini bahkan untuk memikirkannya saja ia sangat lelah.


*Bandeng bakar seperti janji kamu (emoticon menjulurkan lidah)


Willy tersenyum membaca balasan dari gadis itu. Gadis itu yang meminta sendiri hadiahnya. Bagaimana Willy bisa menolaknya?


"Sorry ya Mar, aku sudah terlanjur janji padanya lebih dulu." Gumam Willy dalam senyumnya.


"Terakhir, " Batinnya.


*Oke,


hari Minggu setelah antar kue mama ya..


...


Author's cuap:


Iya mas Congek, aku tunggu yaaaah


ntar aku dandan cantiq deh..


Willy : Bukan elu thor,,,