
#121
Examp Challenge
Pekan ujian akhir sedang berlangsung. Ponsel Diana sudah harus diserahkan pada sang Ayah sehari sebelum ujian berlangsung. Hal itu dapat diharapkan membuat Diana lebih fokus dalam mengikuti ujiannya.
"Nilai aku nanti pasti lebih bagus dari pada nilai kamu." Ucap Mario sepulang sekolah dipekan akhir sebelum ujian.
"Hahaha.. gak mungkin lah.. Anak badung macam kamu paling nilainya standar-standar aja. Kalau nilainya bagus pasti hasil nyontek." Cibir Diana tak mau kalah.
"Eh, jangan sepelekan otak aku ya.. Meskipun badung gini, aku selalu masuk peringkat lima besar." Mario pun tak mau kalah dengan menyombongkan prestasi akademiknya.
"Masa sih? Hasil otak sendiri apa nyontek tuh?"
"Kamu kok gak percaya sih? Gimana kalau kita taruhan." Sebuah tantangan dilayangkan.
"Kalau nilai aku lebih tinggi alias aku menang, kamu harus jadi pacar aku."
Diana mengernyitkan dahinya mendengar tantangan dari Mario.
"Modus apa lagi nih?" Batin Diana.
"Kalau kamu yang menang, aku yang harus jadi pacar kamu." Lanjut Mario.
Kening Diana terlipat semakin dalam.
"Deal?"
Mario dengan percaya diri mengulurkan telapak tangan mengajak untuk berjabat tanda kesepakatan.
Diana menampik tangan itu sambil berdecak kesal.
"Taruhan macam apa itu?"
Mario terkekeh ketika gadis itu ternyata begitu jeli mendengarkan kata-katanya yang begitu cepat. Menjebak gadis cerdas dalam sebuah kesepakan itu tidaklah mudah.
"Oke, kamu mau hadiah apa kalau menang?"
Melihat Diana yang tampaknya sedang berpikir membuat Mario sangat bersemangat. Itu artinya gadis itu akan menerima tantangan ini.
"Mario, kamu harus nenang!" Batin Mario.
"Kamu ingat pernah berjanji memberikan aku satu permintaan? Kalau aku menang berarti akan memiliki dua permintaan." Diana menyeringai senang.
Ah, gadis ini memiliki memori otak yang lebih kuat dibanding Mario. Mario bahkan tampak bingung dan berusaha mengingat kapan Diana memiliki satu permintaan khusus yang harus ia kabulkan?
"Kamu lupa ya? Dasar tukang ngintipin toilet cewek." Ucap Diana ketika melihat raut wajah Mario yang terlihat berpikir keras mengingat janjinya kala itu.
"Oh, yang itu! Aku gak ngintip Di, aku cuma numpang buang air doang. Lagian itu udah jam pulang sekolah kan, jadi udah sepi gak bakal ada juga yang pakai toilet.
Diana terkekeh geli melihat wajah bersungut kesal Mario. Alis itu menyatu, pipi mengembung, dan bibir yang mengerucut. Benar-benar seperti anak kecil yang merajuk.
"Dua permintaan, deal?" Kini giliran Diana yang mengulurkan tangan.
"Kalau aku yang menang, kamu gak boleh pakai satu permintaan yang kamu punya untuk membatalkan taruhan ini." Mario meraih telapak tangan itu dan menghentakkannya dengan mantap.
"Loh, gak bisa gitu dong. Suka-suka aku mau pakai permintaan itu untuk apa."
Mario sangat pintar membaca cara pikir Diana kali ini.
"Kita udah salaman lho, berarti udah sepakat. Atau bilang aja kalau kamu takut kalah dan mengakui kalau otak aku lebih encer dari pada otak kamu." Ucap Mario sambil menoyor pelan dahi Diana dengan telunjuknya.
"Heh, siapa yang takut? Tantangan diterima. Aku akan buktikan kalau otak aku berfungsi jauh lebih maksimal dari pada otak kamu." Jawab Diana sambil balas menoyor dahi Mario dengan telunjuknya.
Pertarungan pun dimulai.
Mario benar-benar serius dengan tantangan yang ia layangkan pada Diana. Dia menghapus kebiasaannya keluar malam untuk nongkrong bersama teman-teman club motornya karena serius belajar. Ini adalah taruhan yang sangat menguntungkan dan penuh dengan manfaat.
Hingga akhirnya ini adalah hari terakhir ujian. Wajah-wajah lelah namun penuh dengan kelegaan keluar dari kelas.
"Diana, ada titipan buat kamu." Seorang siswa laki-laki yang berbeda kelas dengan Diana tiba-tiba datang menghampiri. Ia menyerahkan lipatan kertas seperti sebuah surat tanpa amplopnya.
"Dari siapa?"
"Kamu buka aja sendiri. Anaknya gak mau disebutin namanya."
"Makasih ya," Ucap Diana menerima kertas itu.
"Ciye, buka dong Di.." Ucap Hera yang langsung mendekat. Zahra dan Rida pun turut berkerumun penasaran dengan isi secarik kertas itu.
*Aku pasti menang, sayang
Diana sampai membelalakkan matanya membaca tulisan itu. Cepat-cepat ia melipat kartu itu dan memasukkannya dalam kantong baju.
"Ciye.. Sayang.. uwh uwh uwh.. " Celetuk Zahra.
Terlambat. Diana sangat menyesal membuka kertas itu dihadapan teman-temannya.
"Katanya gak jadian, tapi sayang-sayangan?" Lanjut Rida.
Diana tak dapat berkata. Pipinya sudah merona karena malu.
"Kalian berisik banget sih? Aku mau pulang ah, capek!" Diana berjalan cepat meninggalkan teman-teman yang tiada henti meledeknya.
"Gara-gara Mario nih! Ngapain sih pake ngirim beginian segala?" Diana menggerutu kesal sambil terus melangkah cepat.
Sampai di dekat halte, tepatnya di dekat gerobak penjual pentol korea langganan Diana, seorang pemuda sedang berdiri membelakanginya sedang mengantre pesanannya dibuatkan. Diana pun berlari kecil untuk menghampirinya.
"Hei Wil,"
Pemuda itu menengok suara yang menyapa dari balik punggungnya.
"Hei Di, udah mau pulang?"
"Enggak, mau jajan dulu." Ucap Diana lalu beralih pada penjual jajanan favoritnya.
"Lima ribu pedes buangeeet pak,"
"Jangan terlalu pedes pak," Ralat Willy tanpa kompromi.
"Eh, kok kamu main ganti-ganti aja pesenan aku?" Gerutu Diana.
"Udah gak usah debat. Dari pada perut kamu sakit."
Bibir itu mengerucut kesal.
"Gak usah cemberut, jelek!" Ucap Willy sambil mencubit pipi yang mengembung itu.
"Aw, sakit!" Diana mengusap pipinya. Entah mengapa kini pipinya itu sering sekali mendapat cubitan baik dari Willy maupun Mario. Mungkin ini karma karena tangannya yang sering memukuli mereka dulu.
"Eh ada Congek." Sapa Zahra yang sudah sampai menghampiri Diana.
"Hush, Congek Congek. Namanya Willy." Sahut Rida yang membenarkan cara Zahra menyapa Willy.
"Tauk nih Zahra, kebiasaan sok akrab. Gak sopan tau.. " Lanjut Hera.
"Gak apa apa kok. Santai aja. Udah biasa juga dipanggil Congek." Ucap Willy sambil tersenyum ramah.
"Tuh, yang dipanggil aja gak keberatan. Udah cakep ramah pula." Ucap Zahra sambil senyum-senyum tanpa rasa malu.
"Zah, please deh.. " Rida menepuk jidatnya melihat kelakuan temannya satu itu.
"Ini mas, udah jadi pesenannya."
Willy menerima jajanan pesanannya dan menyerahkan uang untuk membayarnya.
"Makasih," Ucapnya.
"Di, aku duluan ya.. Semuanya, aku balik duluan. " Lanjut Willy yang berpamitan kemudian berlalu.
"Da.." Ucap Diana dan yang lainnya saling bersahutan.
Ketika dirasa Willy sudah cukup jauh, Hera menarik tangan Diana dan membisikkan sesuatu.
"Di, aku kok merasa kalau Willy jaga jarak sama kamu? Atau karena ada kita-kita ya?" Tanya Hera sedikit berbisik.
"Kalau dipikir-pikir, bener juga kata Hera. Biasanya dia betah berlama-lama deket kamu, dan gak pernah tuh ngacir duluan kayak tadi." Lanjut Rida.
"Kalian lagi marahan?"
Diana terkekeh mendengar spekulasi teman-temannya. Dia saja merasa biasa-biasa saja dengan sikap Willy, tapi mengapa teman-temannya sampai berpikir demikian?
"Marahan apanya? Hahaha.. Gak lah.. Kalian terlalu sensitif aja mikirnya. Besok aja kita mau jalan bareng, dibilang marahan dimananya? Hahaha.." Jawab Diana.
"Jalan bareng?" Ulang Hera.
"Sama Willy?" Lanjut Rida.
Ups, Diana mengatupkan mulutnya yang sudah terlalu banyak bicara.
"Jadi kamu selingkuhin Mario?" Kali ini Zahra yang berhipotesa dengan suara lantangnya.
"Eh, bukan gitu.. Siapa yang selingkuh?" Diana tampak tak terima dengan tuduhan Zahra.
"Ini mbak pesanannya." Suara penjual pentol korea itu membuyarkan sesaat ketegangan yang tercipta.
Diana menerimanya dan segera membayarnya, kemudian mengambil langkah seribu sebelum teman-temannya sempat memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
"Eh, Di.. TUNGGU!"
Dan mereka berempat pun berolah raga di teriknya matahari.
Ah, Diana.. Untuk urusan lari, tentu kamu akan selalu lebih unggul dari ketiga temanmu itu.
...
Author's cuap:
Ya elah Di.. Makan dulu kek pentol koreanya.
Kalo dingin mah enaknya berkurang..