Titip Salam

Titip Salam
Kecelakaan Kecil



#136


Cahaya putih


Mario mengerjapkan matanya perlahan. Pandangannya berkeliling menyapu setiap kabut yang perlahan menipis, menampakkan ruangan putih yang tidak begitu luas.


"Aku di mana?" Ucap Mario dengan suara parau yang begitu lemah. Kepalanya masih terasa pening membuatnya belum sanggup untuk bangkit.


"Kamu sudah sadar?" Sayup sayup terdengar suara seseorang.


Mario menggerakkan kepalanya mencafi sumber suara itu. Senyumnya lantas terbit setelahnya.


"Diana..."


90 menit sebelumnya..


Kukuruyuuuk...


"Telat kau ayam.. Aku sudah bangun duluan.."


Semangat sang jago menyambut mentari pagi ini, rupanya dapat terkalahkan oleh seorang pemuda yang sudah rapi di depan cermin sembari menyisir rambutnya. Bahkan saja, ia sudah bersiap jauh lebih dulu dibandingkan sang surya menampakkan dirinya.


Sudah menjadi kebiasannya belakangan ini untuk berangkat bersamaan dengan datangnya cahaya surya. Sejak ia mulai menanti seorang gadis untuk lewat pada jalur keberangkatannya setiap pagi. Jauh lebih pagi dari kebiasaan pemuda itu dulu.


Mulanya ia hanya sekedar menanti untuk menatap, berlanjut pada menguntit dari belakang, hingga akhirnya kini, dirinya bisa beriringan tiap pagi untuk berjalan menuju gerbang sekolah.


Namun pagi ini berbeda. Pagi ini adalah hari spesial yang sangat dinantikan olehnya. Hari yang akan menjadi titik tumpu kemanakah roda kehidupannya akan ditentukan.


Yah, pagi ini adalah hari pengumuman kelulusan.


"Tuhan, berikanlah aku nasib baik hari ini.." Ucapnya dalam hati sebelum melangkah keluar rumah, menghampiri kuda besi merah kesayangannya, dan mulai menyusuri jalan kota yang masih lengang.


Seperti yang kalian tahu, beberapa waktu lalu, Mario dan Diana telah membuat kesepakatan mengenai sebuah pertaruhan yang menunjukkan kemampuan terbaik dalam belajar di sekolah.


Nilai ujian.


Jika Mario menang, pemuda itu telah benar-benar meruntuhkan dinding ego seorang gadis keras kepala, Diana dengan prinsip hidup yang ia pegang dan tak tergoyahkan.


Sementara jika Mario kalah, entah apa yang akan diminta gadis itu sebagai bayarannya.


Jujur saja, Mario tidak begitu percaya diri. Tapi ia berharap kerja kerasnya akan membuahkan hasil, ditambah keberuntungan dari Tuhan, ia berharap banyak untuk kemenangannya.


"Kopi satu bu, kayak biasa.." Ucap Mario yang sudah duduk nyaman di warung kopi tempatnya biasa menitipkan motor sembari menunggui sang pujaan hati melintas.


Lembar demi lembar halaman koran pagi, bahkan kopinya hanya meninggalkan ampas, sosok yang ia tunggu tak kunjung datang.


Mario menatap jam yang meli gkar di pergelangan tangannya. Ini sudah terlalu terlambat untuk seorang Diana.


Mario mulai cemas.


"Kemana Dia?" Batinnya.


"Aduh.. Alarm pakai mati pula.. Pasti Tania yang matiin" Diana segera melompat dari ranjangnya, meraih handuk dan bergegas mandi.


Diana hanya tinggal bertiga bersama Ayah dan adiknya hari itu. Sang Mama sudah dari kemarin pergi ke kampung karena ada hajatan yang mengharuskan sang Mama untuk berangkat lebih dulu ke sana.


Sebetulnya Diana sudah terbangun tadi pagi, namun ia sengaja menambah durasi tidurnya beberapa menit karena hari ini sekolahnya akan masuk sedikit lebih siang karena sesungguhnya tidak ada lagi jadwal belajar mengajar, hanya persiapan untuk acara perpisahan sekolah, dan pengumuman kelulusan.


Ah, pengumuman kelulusan. Hari ini sangat mendebarkan.


Diana cepat-cepat berganti baju, bersepatu, dan bergegas mengunci pintu sebelum berangkat meninggalkan rumah.


Tak ada Mama di rumah, tak ada sarapan.


Ayah sengaja memberikan uang jajan lebih untuknya membeli sarapan di luar.


Diana berjalan cepat menyusuri jalanan sembari menunggu angkutan umum yang melintas.


Sialnya, tak satupun nampak angkutan umum yang ia nantikan. Ia harus terus berjalan sembari menghemat waktu apabila ia benar tidak mendapatkan angkutan umum.


Ia terus berjalan dengan langkah yang cepat, melintasi beberapa persimpangan yang tidak begitu sibuk dengan arus lalu lintasnya.


Namun ketika ia hendak menyebrang di sebuah persimpangan besar,


Ciiittt... (suara rem berdecit memekakkan telinga)


Seketika beberapa orang berkerumun.


"Aduh..." Diana mengeluh sakit.


"Adek gak apa-apa?" Tanya seseorang sambil membantu Diana bangkit untuk mendapatkan posisi duduk yang lebih nyaman.


"Adek, gak apa-apa? Maaf ya, saya gak lihat adek nyebrang tadi.." Ucap seorang perempuan paruh baya yang tampak begitu panik.


"Ibu kalau naik motor jangan ngebut bu.." Sahut orang lain yang berada di sana.


"Iya maaf, saya tidak sengaja. Saya pasti tanggung jawab. Adek saya antar pulang ya.." Ucap perempuan paruh baya itu tulus penuh sesal.


"Tidak apa bu, saya mau ke sekolah." Diana berusaha berdiri. Ia menatap lutut dan telapak tangan yang terasa perih. Ada darah mengalir di sana.


"Lukanya di obati dulu di puskesmas ya.. Setelah itu ibu antar ke sekolah."


"Tidak usah bu, saya sudah terlambat. Lukanya biar nanti diobati di uks sekolah saja sudah cukup." Diana mencoba melangkahkan kakinya. Ada nyeri dan rasa perih yang ia berusaha tahan.


Melihat Diana yang terkesan tak mengalami cidera parah, kerumunan mulai membubarkan diri.


Ibu sang penabrak pun tetap bertanggung jawab dengan memaksa Diana untuk menerima beberapa lembar rupiah sekedar untuk permohonan maaf, juga memberikan ongkos naik becak untuk Diana untuk mengantarnya ke sekolah.


Mau tak mau Diana menerima saja agar tidak perlu berdebat panjang yang malah membuat ibu tersebut merasa semakin tidak enak.


Berangkatlah Diana dengan becak yang berjalan perlahan seirama dengan perputaran kayuh kaki sang pilot, abang becak. Ah, sudah lama sekali Diana tak menaiki kendaraan ramah lingkungan ini. Ia begitu menikmati duduk nyaman sambil mengangkat kaki (eh, gak bisa, kakinya sakit).


"Loh, Mbak Diana kenapa?" Tanya pak Supri yang dengan sigap membuka gerbang menyapa Diana yang berjalan tertatih.


"Kecelakaan kecil pak, keserempet motor tadi waktu nyebrang jalan." Jawab Diana.


"Makanya lain kali hati-hati. Lukanya parah gak? Mending diobati dulu di uks."


"Iya pak, terimakasih.."


"Ada hikmahnya juga keserempet motor. Jadi tidak diomeli pak Supri." Batin Diana.


Suasana gerbang begitu lengang. Diana betul-betul sangat terlambat hari ini, mungkin dia adalah siswa dengan kedatangan terakhir hari itu.


Lengangnya suasana gerbang kala itu, berbeda dengan keadaan ruangan yang beberapa meter lebih tinggi elevasinya.


Sepasang mata tengah memperhatikan gadis itu dari balik jendela.


"Mar, cewek kamu baru lewat gerbang." Ucap Abdul yang tidak mendapat respon dari pemuda disampingnya.


"Gak mempan lagi dul. Kamu kira aku bakal ketipu lagi?" Jawab Mario yang tidak melepas pandangannya dari game ponselnya. Sudah tiga kali Abdul mengatakan hal yang serupa. Dan kini Mario sudah tidak mau terperangkap dalam prank receh yang membuatnya menjadi bahan ledekan temannya satu itu.


"Swear Mar, kali ini sungguhan." Ucap Abdul yang terus berusaha mempengaruhi Mario, namun bahkan Mario tak bergeming sedikitpun.


"Kok jalannya pincang-pincang. Kenapa ya?"


"Pincang? Mana?" Hanya sebatas itu pertahanan Mario.


Mario membelalakkan matanya melihat gadis itu berjalan tertatih di bawah sana. Perasaan kalut dan khawatir yang sedari tadi ia berusaha redam terjawab sudah. Ternyata gadis itu sedang tidak baik-baik saja.


Mario berjalan cepat keluar kelas. Dari koridor tempatnya berdiri, ia bisa melihat beberapa teman menghampiri gadis itu, dan mungkin membantunya menuju ruang UKS.


Mario berlari menuruni tangga guna menyusul gadis itu. Ia ingin melihat sendiri lebih dekat, apa yang terjadi pada Diana?


Setibanya di depan pintu ruang UKS, dengan nafas tersengal ia menyusuri tiap wajah yang juga sedang memandanginya.


"Diana, kamu kenapa?" Dia berlari mendekat pada gadis yaang sedang duduk di atas ranjang perawatan dengan kaki terjuntai.


Mario memperhatikan tiap inchi dari gadis itu, baju yang kotor, dan pandangannya berhenti pada lutut gadis itu. Ada luka yang masih basah dengan darah yang mengalir perlahan.


"Ciye... Yang langsung panik. Tenang aja, Diana gak apa-apa kok" Jawab Hera yang juga ada di sana.


"Gak apa-apa kok Mar, cuma kecelakaan kecil." Jawab Diana menimpali.


Namun ekspresi yang ditunjukkan Mario untuk keadaan Diana rupanya sangat berlebihan. Wajah Mario mulai pucat dengan keringat yang mulai mengembun di dahi nya.


"Di.. Ada darah.."


Dan semua tiba-tiba gelap.


Bluk!!


Mario!!!


...


Hai guys,


Lady Athena come back..