
Author's cuap:
Gak bosen bosen aku ngucapin makasih banyaaak buat temen-temen pembaca yang masih setia ngikutin episode demi episode nya.
Pokoknya cintaaah ma kalian
Lanjooot...
- - -
11
Sial Pangkat Dua
(Masih Pov. Diana)
Senin!!!
Hampir tiga puluh menit aku berdiri celingukan menanti angkutan umum yang akan mengantarkanku ke sekolah guna menimba ilmu pengetahuan. Kakiku mulai terasa pegal. Panas matahari yang masih menyehatkan ini lambat laun mulai terik membuatku mulai berkeringat.
"Aduh, kok angkotnya penuh penuh terus.."
Aku mulai terserang panik. Semua angkutan umum yang lewat selalu saja penuh dengan penumpang.
"Pasti udah telat nih,"
I hate this Monday,
Mau balik ke rumah minta antar Ayah, jelas tidak mungkin. Ayahku sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali. Kalau Tania sih enak sudah ada langganan antar jemput becak bersama beberapa temannya yang kebetulan tetangga dekat. Sekolahnya pun tidak begitu jauh dari rumah.
Setelah cukup lama menunggu, poni sudah lepek, keringat sudah mulai bercucuran, akhirnya ada juga angkutan umum yang masih memberikan tempat untukku.
“Pak supir.. Ngebut ya..” Batinku.
Meskipun sudah mendapatkan angkot, aku tidak lantas dapat duduk tenang didalamnya. Kegelisahan masih menyelimutiku. Kecepatan angkot yang sebetulnya pada batas kewajaran terasa begitu lambat bagai siput yang merayap.
Aaarrrgggghhh..
Angkutan umum yang kunaiki tidak langsung berhenti di depan sekolah. Jalur yang dilewatinya hanya sampai pada persimpangan jalan. Aku masih harus berjuang berjalan beberapa ratus meter untuk mencapai sekolahku. Mencari ilmu benar-benar tidak mudah. Padahal ini di kota, bagaimana mereka yang berada di pelosok desa yang harus berangkat sekolah bahkan ketika langit masih gelap. Yah, tidak sepatutnya aku mengeluh.
Aku turun dari angkutan umum, membayar ongkosnya, kemudian mulai berjalan menuju arah sekolahku. Tidak! Saat ini bukan berjalan. Namun aku harus berlari. Berlari secepat mungkin karena kondisi jalanan menuju sekolah sudah nampak lengang. Tidak aku jumpai seragam putih biru yang lain saat ini. Pasti aku sudah benar-benar terlambat.
Napasku mulai tidak teratur dengan topi yang sudah basah akibat keringat yang membasahi dahiku.
“Ayolah kaki, lari yang cepat..” Batinku.
Ketika berlari melewati warung kopi dekat sekolah, sekilas aku melihat Mario. Dia sedang duduk santai menikmati kopi dan sarapannya. Bagaimana bisa saat aku cemas karena sudah kesiangan dan besar kemungkinan sudah terlambat, berlari sekuat tenaga berharap masih ada peluang gerbang sekolah belum tertutup rapat, seorang Mario yang notabene di posisi yang sama denganku dapat duduk tenang menikmati kopi? Apa aku harus standing applause untuknya atas pola pikir diluar nalar sehatku?
Mario memang terkenal badung dan tidak disiplin. Dia sering sekali datang terlambat. Bahkan bila Mario datang tepat waktu pun serasa hujan badai akan melanda sekolahku. Kejadian seperti itu bahkan dapat dihitung jari.
Mungkin guru BP sudah lelah memperingatkannya. Berkali-kali dia dihukum, dipanggil orang tuanya, dan pernah hampir di skors. Tapi semua itu tidak membuatnya jera.
Namun meskipun begitu, para guru tetap menyukainya karena prestasinya baik di akademik yang kategori memuaskan, maupun di non akademik yang membuatnya semakin cemerlang. Sepak terjangnya di olahraga sepak bola dan futsal benar-benar sudah diakui oleh semua masyarakat sekolah. Bahkan dia digadang-gadang akan mengikuti seleksi masuk timnas tahun ini.
Sekolah kami yang belum pernah menjuarai pertandingan bola dalam kompetisi besar, langsung menyabet juara pertama dua kali berturut-turut setelah Mario masuk dan memperkuat tim sekolah. Prestasi lainnya adalah di bidang musik. Keahliannya dalam bermusik, juga sering membawa nama sekolah dalam berbagai event pentas musik melalui bandnya. Keren gak tuh..
Tetapi bagiku gak keren lagi setelah kejadian pengeroyokan itu. Bagiku pengeroyokan itu tindakan pengecut. Kesan itu membuat Mario menjadi sosok antagonis dipikiranku.
Aku berlari melewatinya begitu saja. Tidak mengenal dan tidak perlu bertegur sapa seperti biasanya. Yah, sepertinya keberadaanku memang benar-benar tidak menarik perhatiannya.
Baguslah. Itu tandanya dia tidak mengenaliku. Jadi tidak ada yang perlu dicemaskan. Peristiwa malam itu telah berlalu. Dan sebaiknya biarlah berlalu begitu saja tanpa berbekas. Mungkin Mario juga sudah tidak mempermasalahkannya dan melupakannya begitu saja. Yah, semoga saja begitu..
Sesaampainya di depan gerbang aku mendapat senyum sumringah dari Pak Supri, satpam sekolah. Senyumnya secerah mentari pagi. Kumis tebal itu pun bergerak naik turun bergelombang mengikuti irama keramahan senyumannya. Senyum penuh kiasan yang seolah mengatakan.
"Wah.. Ini dia para ikan asin yang sebentar lagi dijemur di tengah lapangan. Hwehehehe…"
Hiks,
Itu bukanlah senyum. Itu menertawai dalam hati.
Gerbang sudah tertutup rapat tidak ada celah untuk kami yang terlambat menerobos masuk, karena Pak Supri senantiasa bersiaga di singgasananya yang teduh dengan kipas angin yang meniupkan angin segar menggerakkan helai-helai rambut tipisnya.
Huh, Hanya perkara angin saja aku sudah merasa iri hati. Sungguh, keringat akibat lari pagi tadi membuatku begitu menginginkan sedikit tiupan angin itu.
Upacara bendera rutin tiap Senin pagi tampaknya sudah dimulai sejak tadi. Sayup-sayup terdengar lagu Indonesia Raya dari regu choir dilantunkan pertanda Sang Saka Merah Putih sedang dalam proses menuju puncak tiang tertinggi.
“Loh, kamu bukannya anak silat? Kayaknya kamu tidak pernah terlambat sebelumnya..” Ucap pak Supri padaku.
“Hehehe.. iya pak..” Jawabku cengengesan, dan beliau nampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
Memang benar baru kali ini aku mengikuti upacara dari luar gerbang. Padahal aku tidak merasa berangkat kesiangan. Ini murni gara-gara angkutan umum yang lewat full terus. Huh, memang nasib sedang sial saja. Senin depan aku harus berangkat lebih pagi.
Sebetulnya aku tidak sendirian. Ada beberapa siswa yang bernasib sama sepertiku. Kami saling pandang dan menertawai diri sendiri. Tawa yang seolah berkata "Teman-teman, mari bersama-sama saling memberi semangat dan berjuang untuk hukuman yang masih panjang."
Hehehe...
Sayup-sayup terdengar doa penutup dilantunkan pertanda upacara bendera hampir selesai.
Sampai disini saja kakiku sudah terasa pegal. Padahal dihukum saja belum. Bagaimana tidak pegal, aku sudah lama berdiri menunggu angkot, kemudian lari pagi dari persimpangan jalan menuju gerbang sekolah, dan sekarang masih harus berdiri lagi sampai upacara selesai. Aku yakin, setelah ini pun tidak ada kesempatan untuk duduk barang sebentar. Karena sesi selanjutnya adalah hukuman.
Duduk? Aku kembali teringat pada Mario yang beberapa menit lalu masih tampak duduk tenang menyesap secangkir kopinya di warkop dekat persimpangan. Mungkin situasi ini yang membuatnya lebih memilih menghabiskan waktu di warkop sementara, dari pada berpanas-panasan berdiri di luar gerbang begini. Aku tidak membenarkan tindakan itu, tapi sebetulnya sekali lagi aku iri.
Ekor mataku menangkap sosok yang
mendekat. Seseorang dengan langkah gontai tiba-tiba berdiri di sampingku.
Deg,
Sial,!!!
Mario..
Dari sekian banyak barisan kenapa dia harus memilih berdiri di sampingku?
...
Bersambung..
Author's cuap:
Kalau suka, Bagi jempolnya dong..
Author kalo dapet banyak jempol tuh ya inspirasi nulis langsung ngalir dereeees gitu..
So,, jangan lupa support yaaa
Makasih 🙏🏻😘
Salam baca baca baca..