Titip Salam

Titip Salam
Antara Kagum dan Obsesi



#27


"Kamu yang namanya Diana?" Kata seorang gadis dengan sorot mata yang tidak bersahabat.


"Heh, mulut gak ada sopan santunnya ya.. Dia ini senior kamu. Panggil dengan sopan!" Sahut Zahra dengan nada tinggi.


Gadis itu tampak tersenyum remeh mendengar kata-kata Zahra. Mata Zahra semakin tajam melirik pada gadis itu. Sepertinya Zahra mengenal gadis itu dan tau betul bagaimana tabiatnya.


"Oke.. Kakak yang namanya Diana?" Ulang gadis itu dengan nada kesal.


Diana yang disebut namun Zahra yang tampak tersulut emosi. Sementara Diana sendiri menanggapinya dengan santai. Dia mengusap punggung temannya agar tidak terpancing keadaan.


"Iya. Aku Diana. Kamu siapa ya? Ada urusan apa?" Jawab Diana dengan tenang.


Hera memandang Zahra, dan Zahra pun balik memandang Hera. Hera nampak membisikkan sesuatu di telinga Zahra.


"Itu cewek yang waktu itu sama Mario kan?" Bisik Hera begitu pelan yang hanya dijawab anggukan.kecil oleh Zahra.


Benar, itu adalah Stefi.


Zahra benar-benar induk elang yang siap menerkam bila musuhnya ini mulai menyerang. Matanya selalu waspada dengan gadis di depannya itu.


Bila memang dia berniat keroyokan, tentu saja mereka kalah jumlah. Mereka hanya bertiga sementara Zahra dan kawan-kawannya berempat. Ditambah lagi ada Diana yang merupakan salah satu jagoan bela diri sekolahnya. Sudah dipastikan, mereka tidak akan berani berbuat lebih selain hanya menggertak.


"Apa hubungan kakak sama kak Mario?" Bukannya menjawab pertanyaan Diana, Stefi malah mengajukan pertanyaan lagi.


Diana merasa jengah dengan situasi seperti ini. Dia tidak suka meributkan sesuatu apalagi ini hanya masalah cowok. Benar-benar membuang waktu dan energi.


Diana menarik nafas dalam sebelum mulai menjawab pertanyaan yang sebetulnya sangat tidak penting baginya. Namun belum sempat sepatah kata pun keluar dari mulutnya, Zahra sudah memotongnya.


"Bukan urusan kamu!" Jawab Zahra dengan begitu ketusnya.


Reflek teman Stefi yang berada di hadapan Zahra langsung menoyor pundak Zahra dengan cukup keras.


"Heh, kak, gak usah ikut campur! Ini urusan Stefi sama Diana." Ucap teman Stefi tersebut memperingatkan Zahra.


Zahra yang sedari tadi sudah memasang kuda-kuda, ketika mendapat serangan fisik seperti itu sontak tangannya berusaha membalas. Dengan sigap Hera yang berada di samping Zahra langsung memegangi temannya itu.


Diana dan Rida pun ikut memegangi Zahra yang hampir kalap.


"Lepasin! Jangan cegah aku! Mereka yang kurang ajar duluan." Kata Zahra yang nampak terbakar amarah.


Stefi dan temannya yang lain pun nampak memegangi gadis yang menyerang Zahra tadi takut kalau sampai dia menyerang lagi.


"Udah dong Zah, gak usah pakai emosi. Nanti malah kamu yang kena masalah." Ucap Rida menenangkan.


Setelah dirasa keduanya mulai tenang, barulah adegan saling memegangi itu berakhir. Namun suasana panas seolah masih sangat terasa.


"Maaf ya kak Diana, suasana jadi gak enak gini." Kata Stefi dengan nada yang lebih lembut.


"Kamu tuh yang bikin suasana gak enak." Timpal Zahra lagi.


Hera dan Rida pun langsung siaga memegangi Zahra yang dibalas pelototan tajam oleh Zahra agar mereka tidak perlu melakukan hal itu.


"Trus, ngapain kamu sama teman-teman kamu datang nyamperin aku?" Tanya Diana yang masih dengan nada santai.


"Aku cuma mau ngasi tau sama kak Diana. Aku sudah ngejar kak Mario dari lama banget. Hubungan kita sebentar lagi akan berhasil. Jadi kalau kak Diana ada maksud lain dengan kak Mario aku sarankan untuk mundur. Karena semua itu hanya sia-sia." Ucap Stefi dengan penuh percaya diri.


"Begini ya dek.. Untuk urusan kamu yang sedang berusaha ke Mario, sedikitpun aku gak peduli. Aku sama Mario gak ada apa-apa. Aku juga gak pernah mengusik hidup kamu. Jadi tolong, gak usah ganggu aku lagi untuk hal yang gak penting kayak gini." Jawab Diana dengan tegas.


Tapi yang dia lihat, Diana seolah benar-benar tidak memedulikan hal tersebut. Dia mulai berpikir Diana hanya jual mahal saja. Siapa yang tidak akan suka bila mendapat perhatian khusus dari Mario, sang idola sekolah?


Dia benar-benar keliru. Karena tidak semua perempuan berpendapat sama dengannya.


"Ayo, jalan." Diana mengajak teman-temannya untuk segera pergi dan melanjutkan perjalanan.


Sebelum pergi, Zahra sempat berbisik pada Stefi.


"Heh, mending kamu tanya langsung aja sama Mario. Sebenarnya siapa yang dia suka?" Zahra sedikit terkekeh sebelum akhirnya pergi mengikuti teman-temannya. Meninggalkan Stefi dan gengnya dengan perasaan menang dan lega.


Zahra bukannya tidak suka pada Stefi karena jealous akan kedekatannya dengan Mario. Zahra secara objektif tidak suka pada kepribadian Stefi. Zahra merasa jijik melihat Stefi yang sok manis dan kegenitan demi mendapat perhatian Mario. Namun di belakang Mario kelakuannya seperti barusan tadi.


Zahra akan sangat bahagia bila benar Mario menyukai temannya yaitu Diana dari pada harus bersama Stefi yang bermuka dua.


"Stef, kamu yakin Mario bakal suka sama cewek kayak gitu? Apa hebatnya? Dari tampang juga menang kamu kemana-mana." Ujar teman Stefi selepas kepergian Diana dan kawan-kawan.


"Aku juga lagi cari tau. Apa yang membuat Mario ngasi perhatian khusus ke dia dibanding dengan aku." Stefi menggenggam erat tangannya. Dia benar-benar tidak habis pikir bahwa gadis biasa seperti Diana bisa menarik perhatian Mario gebetannya.


Sementara disana, Zahra masih berbicara panjang lebar meluapkan emosinya.


"Kalian harusnya gak usah pegangin aku tadi. Biar aku jambak aku cabik-cabik mereka bertiga." Zahra benar-benar masih merasa kesal.


"Itu tadi siapa sih Zah? Pacarnya Mario?" Tanya Rida penasaran.


"Bukan. Dia Stefi anak 2D. Dia tuh ngebet banget pengen jadi pacarnya Mario. Sok cantik, sok manis, kegenitan, kelakuan kayak iblis." Umpat Zahra dengan emosi yang masih meledak-ledak.


"Hush, gak baik bilang gitu Zah.." Ucap Hera menimpali.


"Kamu kan pernah lihat sendiri Her, gimana usaha dia deketin Mario. Padahal sudah ditolak mentah-mentah. Dasar muka tembok." Zahra masih terus saja mengumpat.


"Zahra, sudah. Gak usah buang-buang tenaga buat hal yang gak penting." Diana menimpali.


"Tapi Zah, kok bisa Stefi tau kalau Mario ada perhatian ke Diana?" Rida merasa heran bagaimana kabar tentang Diana dan Mario bisa secepat itu terendus oleh fans Mario.


"Gak mungkin deh kalau Rosa yang cerita." Ucap Diana.


"Aku juga gak nyangka bisa secepat itu kabarnya tersebar. Padahal belum lewat satu hari. Lagi pula ini kan pertama kalinya juga Mario titip salam ke kamu Di, iya kan?" Hera menimpali.


"Kalian gak tau aja. Fans Mario itu punya jaringan khusus. Mereka seolah saling bertukar informasi. Mungkin salah satu teman sekelas Mario itu masuk dalam jaringan fans garis keras itu. Makanya gampang banget tersebar selama itu dalam lingkup sekolah." Jawab Zahra dengan panjang lebar.


"Kamu masuk tim jaringan fans nya Mario itu gak Zah?" Tanya Rida. Dia tau betul kalau Zahra termasuk salah satu penggemar Mario.


"Gak lah, ngapain buang waktu. Aku tuh ngefans sama bakat dan prestasinya. Gak pernah obsesi sama orangnya. Yah, tapi kalau Marionya naksir gak nolak juga sih.. Hehehe.." Jawab Zahra sambil cengengesan.


"Dasar kamu banyak modus.."


Dan mereka kembali tertawa. Kejadian yang mereka alami hari ini seolah menunjukkan betapa kuatnya hubungan pertemanan mereka. Mereka yang begitu kompak dan saling mendukung antara satu dengan yang lainnya. Indah bukan?


...


Author's cuap:


Buat para readers sayang nih..


Kagum boleh, tapi jangan obsesi ya..


Karena sesuatu yang berlebihan hanya akan menyakiti diri sendiri..