
#45
"Ayo,"
Diana menghela napas panjang. Hari ini Tuhan menghadiahinya sebuah kemenangan hasil kerja kerasnya selama ini. Dia banyak mengucap terimakasih dan rasa syukur. Namun tak sampai selang sehari, ungkapan syukur itu menguap berganti ungkapan mengeluh dan mengaduh.
Diana berjalan mendekati motor merah mengkilat milik Mario sambil mengerucutkan bibirnya dan hati yang terus mengumpat. Mungkin bila cewek lain berada diposisi Diana, mereka akan tersenyum kegirangan bisa dibonceng motor keren dengan pengemudi yang sekeren motornya. Normalnya sih seperti itu.
"Sampe perempatan aja!" Ucap Diana dengan ketus.
"Aku tuh mau bantuin kamu loh, kok masih digalakin aja sih?" Mario mulai memutar kunci motornya.
"Ya udah, kalau gak ikhlas." Merasa diledek oleh Mario, Diana yang sudah dekat malah berbalik akan pergi.
Hap,
Sontak tangan Mario dengan cepat meraih lengan Diana. Diana yang terkejut spontan menghentakkan tangannya agar terlepas dari jemari Mario yang mampu mencengkeram lengannya.
"Gak usah pegang-pegang." Bentak Diana.
"Iya iya Diana, maaf. Gak usah pake acara ngambek gitu dong.. Aku ikhlas kok ngasi tumpangannya. Gak usah pakai ongkos. Udah buruan naik."
Mario memilih mengalah dengan melembutkan suaranya. Dia tidak mengira gadis ini masih menyimpan rasa kesal dengannya. Tapi entah mengapa hal tersebut malah membuat Mario semakin penasaran dengan Diana.
"Siapa juga yang ngambek. Gak usah ngasih tumpangan kalau cuma terpaksa."
"Enggak terpaksa kok Di, swear.. Udah naik, ntar malah kesorean kamu susah dapat angkot." Bujuk Mario.
Diana menggerutu dengan bibir komat kamit. Tak dipungkiri bahwa Diana masih menyisakan rasa kesal pada Mario. Bahakan kalau bisa, dia merasa enggan untuk berurusan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Mario. Tapi Tuhan seolah membuat Diana selalu dalam lingkaran yang terhubung dengan orang yang selalu menjengkelkan bagi Diana ini. Misalnya yah kejadian seperti ini. Siapa yang menyangka dia akhirnya harus naik motor berboncengan dengan Mario.
Tapi benar kata Mario. Hari sudah semakin sore. Bisa-bisa Diana akan sulit mendapat angkot bila terlalu lama sampai ke perempatan jalan. Dia akhirnya menerima tumpangan Mario dari pada harus berjalan kaki sendirian.
Diana benar-benar terkesan jual mahal dan keras kepala. Kalau sampai hal ini tercium oleh para cewek-cewek fans berat Mario, bisa dibayangkan caci maki bahkan isi kebun binatang akan keluar dari mulut mereka untuk Diana.
"Dasar cewek, maunya dirayu-rayu dulu. Tinggal naik motor aja ribet banget" Batin Mario.
Diana naik ke atas motor dan memosisikan duduknya benar-benar mepet ke belakang seolah punggung Mario terdapat duri-duri landak yang begitu tajam sehingga mengancam nyawa Diana apabila sampai tersentuh. Sungguh itu posisi yang tidak akur.
Motor mulai melaju perlahan dan benar-benar perlahan saja. Kuda besi berjulukan red fire itu seolah kehilangan jati dirinya yang biasa melaju bak kobaran api di arena. Mungkin karena saat ini sedang duduk di atasnya seorang tuan putri pujaan sang joki yang harus dijaga kenyamanan dan keamanannya.
Hanya suara angin dan deru mesin motor yang terdengar. Tidak ada percakapan diantara mereka. Keduanya membisu dan saling bergulat dengan pikiran masing-masing.
Keheningan yang tercipta seolah mereka tidak saling kenal. Seolah tidak ada apapun untuk dibicarakan. Padahal sesungguhnya banyak hal yang masih menggantung dan perlu penjelasasan. Semuanya begitu sulit memulai kata. Seperti ada jurang pemisah diantara mereka, namun pada kenyataannya jarak mereka hanya terpisah bungkusan kantong plastik barang-barang bawaan Diana.
"Abang ojek dengan penumpangnya juga tidak secanggung ini kayaknya." Batin Mario.
"Di, aku tadi belum sempet ngucapin selamat ke kamu. Maaf ya.. Soalnya tadi buru-buru balik ke stadion. Tiba-tiba pelatih nelpon suruh nyamperin beliau ke stadion lagi." Mario berinisiatif membuka percakapan.
"Hmm.. Iya gak apa-apa." Jawab Diana singkat. "Ngapain juga mesti repot-repot menjelaskan." Batin Diana.
"Mungkin penjelasan aku gak penting ya buat kamu. Aku takut kamu salah paham. Aku gak mau kamu mikir aku gak suka sama keberhasilan kamu gara-gara aku cabut tanpa kasih selamat dulu. Aku ikut seneng banget atas kemenangan kamu." Tutur Mario panjang lebar.
"Iya, makasih." Jawab Diana sekenanya.
Dari jarak pandang Mario, dia bisa melihat lampu lalu lintas di depan menunjukkan nyala warna hijau. Mario bukannya menancap gas agar tidak terjebak lampu merah, malah memperlambat laju motornya seolah sengaja mengulur waktu agar bisa sedikit berlama-lama dengan Diana. Modus!
"Aku turun sini aja." Ucap Diana ketika motor Mario berhenti tepat setelah lampu merah menyala.
Plak!
Mario mengaduh ketika helmnya di bagian belakang mendapat pukulan tiba-tiba dari tangan sang penumpang.
"Pasangan apanya? Mulut gak udah ngaco kalau ngomong." Ucap Diana masih dengan mode juteknya.
"Becanda Di, galak banget sih! Ntar turun depan sono tuh. Biar gampang nyari angkotnya. Sekalian nyebrang juga." Jawab Mario sambil menunjuk sisi jalan di seberang.
"Kayaknya si Abdul nganter Hera sampe rumah deh. Mereka udah gak kelihatan lagi tuh di depan. Apa gak mendingan aku antar sampai rumah aja sekalian dari pada naik angkot sendiri."
Plak!
Serangan kedua dari arah belakang mendarat dengan mulus mengenai helm bagian belakang Mario untuk kedua kalinya. Meskipun pukulan itu mengenai helm, namun getarannya tetap cukup terasa mengenai kulit kepala Mario. Mungkin karena euforia semangat pertandingan tadi masih terasa.
"Udah gak usah banyak omong. Turunin di depan atau aku turun sekarang aja kalau kamu masih nyerocos aja?"
"Kamu kok KDRT sih Di. Gak usah galak gitu kali Di.. Ati-ati ntar malah jadi naksir loh.. Hehehe.."
Plak, Plak!
"Iya aku diem." Ucap Mario akhirnya. Namun bibir itu mengulas senyum dibalik helmnya.
Waktu sepersekian detik menanti lampu lalu lintas itu berubah warna terasa begitu lama. Apalagi ada bumbu-bumbu pertikaian diatas motor. Tapi kelihatannya Mario benar-benar menikmati keseruan momen itu.
Acara senyum-senyum yang tersembunyi dibalik helm seketika buyar tatkala sebuah motor dari belakang tiba-tiba menghimpit motor Mario di sisi kanan sambil mengklakson dua kali.
Mario menaikkan sebelah alisnya mencoba mengenali wajah pengendara itu dari kaca spion. Pengendara itu seperti berusaha menyapanya. "Siapa sih? Berisik banget." Batin Mario.
"Eh, ternyata benar kamu, Diana."
Diana menatap sumber suara. Matanya langsung melotot seperti mau keluar dari kelopaknya. Bibirnya yang sedari tadi manyun menggerutu komat kamit tiba-tiba menganga terkejut.
"A-Ayah.."
"Hah? Ayah?"
Jeng, jeng, jeng..
...
Author's cuap:
Tercyduklah kau Di..
Hahahaha...
Siapa yang dulu pernah sembunyi-sembunyi boncengan ama pasangan terus ketahuan ama ortu hayo...
Ngaku..
Komen di bawah ya..
Sambil ngopi-ngopi asik kayaknya..