
"Nulis apaan sih? Kok sambil senyum-senyum?" Tanya om Rudi sambil berusaha mengintip buku yang dipegang oleh Willy.
Willy yang ternyata sedari tadi diperhatikan oleh om Rudi langsung menutup buku yang ia pegang. Apalagi om Rudi sudah mulai penasaran ngintip-ngintip apa yang ditulis oleh Willy.
"Apaan sih om. Mau tau aja deh.."
Om Rudi memberikan senyum masamnya.
"Kamu pasti lagi nulis surat cinta. Ya kaan... Om juga pernah muda Wil.."
Willy menjadi salah tingkah dibuatnya.
"Sok tau deh om Rudi nih. Emang mau jadi dukun pake nebak-nebak segala." Kata Willy dengan wajah bersemu merah.
"Kalo om Rudi jadi dukun, om bantu ilmu pelet, kasi jurus jaran goyang buat cewek yang kamu taksir. Biar klepek-klepek. Ahaaaay... Oke gak tuh.." Canda om Rudi memecah kecanggungan Willy.
"Wah, Om Rudi ngeraguin kegantengan aku nih. Masak pake ilmu begituan segala. Penghinaan ini om Rud.." Willy jadi terkekeh dibuatnya.
"Emang, cewek yang mana Wil, Kasih tau om.. Konsultasi sini sama om. Gini-gini om dulu mantannya banyaaak. Hahaha.."
Willy semakin terkekeh dengan gurauan omnya. Om Rudi memang sangat humoris. Dia selalu bisa membuat orang tertawa dengan celotehan lucunya.
Willy melirik jam dinding yang terpasang di bengkel itu. Dia mengambil sepeda yang terparkir di dalam sana. Sepeda gunung yang biasa ia gunakan untuk berangkat dari bengkel menuju sekolah.
"Mau kemana kamu?" Tanya om Rudi melihat ponakannya mengeluarkan sepedanya.
"Cari jajanan om. Mau nitip?" Jawab Willy berbohong.
"Nitip es aja. Nih, ambil aja kalo ada kembaliannya." Kata om Rudi menyerahkan pecahan sepuluh ribuan.
"Wah, makasi ya om ganteng, moga banyak rejekinya." Willy menerima uang itu dengan perasaan senang. Seperti anak kecil yang mendapat uang sisa kembalian dari ayahnya.
"Kalo ngasi duwit aja, baru jadi ganteng omnya."
Willy cekikikan dan berlalu sambil mengayuh sepedanya. Dia terus mengayuh hingga berhenti di gerobak pedagang bakso yang mangkal di pinggir jalan. Dia memarkirkan sepedanya sedikit menempel ke tembok seperti sengaja disembunyikan.
"Paklek, bakso lima ribu campur." Ucap Willy setelahnya.
Dia duduk di kursi plastik yang disediakan oleh tukang bakso di atas trotoar jalan.
Matanya terus mengawasi sebuah gerbang menjulang tinggi yang tak jauh di seberang jalan. Itu adalah gerbang SMPN 15.
Beberapa anak berseragam bela diri nampak keluar dari gerbang itu. Willy semakin menajamkan matanya mengamati tiap wajah yang muncul dari balik gerbang.
"Ini bakso nya mas.."
"Makasih paklek," Willy menyantap pelan-pelan semangkuk bakso dengan kuah yang masih mengepulkan asap dengan mata yang terus mengawasi.
Hingga bakso di mangkuknya telah habis setengah, tak ia lihat wajah yang sedang dia cari.
Gerbang pun sudah mulai nampak lengang. Willy sedikit kecewa. Mungkin yang dia cari memang tidak ada.
Padahal sudah beberapa minggu dia hilir mudik di depan gerbang sekolah itu. Namun sekalipun tak ia temukan yang ia cari.
Willy pernah sekali sekedar iseng menitipkan salam untuknya melalui temannya. Kabarnya sih salam itu sudah tersampaikan. Namun sayang salam itu tak berbalas. Willy pun merasa sungkan untuk menitipkan salam lagi padanya. Ternyata kegigihannya tak setangguh papanya dalam mengejar cinta. Mungkin karena memang Willy masih terlalu muda untuk berjuang lebih jauh. Belum saatnya.
"Paklek, es kelapanya bungkus satu ya.." Tak lupa Willy memesankan es pesanan omnya.
Tunggu! itu dia.
Willy semakin menajamkan matanya menatap dua gadis berseragam bela diri baru saja keluar dari gerbang. Tiba-tiba jantungnya berdegup lebih cepat.
Benar, itu Diana bersama temannya.
"Ini es nya mas."
Willy menerima sebungkus es dalam plastik dan memberikan lembaran sepuluh ribuan sebagai gantinya. Dia menunggu uang kembalian sambil celingukan menatap dua gadis itu dari kejauhan. Mereka berjalan pelan dan semakin menjauh dari tempat dimana Willy mengintai.
"Kenapa dia? Kenapa jalannya picang? Apa dia terluka?" Gumam Willy dalam hati.
Setelah memperoleh uang kembalian, Dia mengambil sepeda yang terparkir di sudut dinding, berjalan pelan menuntunnya ke arah dimana dua gadis tersebut berjalan.
Dia menghentikan langkahnya dan sedikit menepi sambil menyembunyikan sepedanya di belakang pohon tatkala ada seseorang lagi keluar dari gerbang dengan menggunakan motor.
Seorang laki-laki berseragam bela diri yang sama. Namun usianya tampak sedikit di atas Willy. Dia memandang sendu kepergian dua gadis yang keluar dari gerbang itu sebelumnya.
"Siapa dia? Kenapa terus memandang ke arah Diana?"
Willy melihat laki-laki itu mematung sesaat sebelum akhirnya memacu motornya ke arah berlawanan dengan dua gadis itu dan melewati Willy yang sedang menempel bak bunglon di dahan pohon.
"Ngapain aku ngumpet ya?" Willy terkekeh dengan tingkah lakunya sendiri.
Dia menengok kembali ke arah dua gadis itu, dan betapa terkejutnya seorang gadis yang berjalan terseok tadi menoleh ke belakang. Itu adalah Diana.
Ups,
Buru-buru Willy menyembunyikan lagi dirinya di balik pohon. Dia menghembuskan napas dengan kasar. Dadanya benar-benar bergemuruh hingga keringat dingin menetes dari pelipisnya.
Hampir saja.
Setelah dirasa cukup aman dia kembali menengokkan kepalanya.
"Sial! Kenapa ada dia.." Gerutu Willy melihat pemandangan di balik pohon.
Ternyata disana telah berdiri seorang anak laki-laki yang seusia dengan Willy sedang menyapa gadis itu. Anak laki-laki yang sangat Willy kenal. Bagaimana tidak, anak laki-laki itulah yang pernah membuat wajahnya babak belur. Dia adalah Mario.
Willy benar-benar penasaran tentang apa yang mereka perbincangkan. Ada rasa panas kemarahan yang dia rasakan. Dia tidak mengerti mengapa dia harus merasa marah? Yang jelas dia merasa tidak suka bila Mario sampai mengusik hidup seorang Diana.
Willy melihat mereka bertiga tertawa bersama. Meskipun mereka sedang bertiga, dari tempatnya berdiri, Willy bisa melihat arah pandang Mario lebih banyak terfokus pada Diana.
"Ada hubungan apa mereka? Apa mereka sangat dekat?" Tanya Willy dalam hati. Tangannya mengepal dan wajahnya mengeras menunjukkan guratan amarah.
Terlintas dalam pikiran Willy "Apakah aku berhak marah?".
Otot-ototnya kembali melunak. Dia merasakan ada sedikit kehancuran dalam dinding pertahanannya.
Keping-keping bunga musim semi itu berguguran satu demi satu. Menimbulkan kegersangan yang kerontang dalam hati yang semula sejuk bak embun pagi.
Willy berbalik, menenteng seplastik es kelapa, mulai menaiki sepedanya. Kakinya hendak mengayuh menjauhi rasa perih akibat sayatan namun tak berdarah.
Tapi tunggu!
Willy kembali berbalik menoleh kembali ke arah tiga manusia yang sedang bercengkrama itu. Wajah pilunya seketika berubah penuh kecemasan.
"Apa Mario sudah tau apa yang telah Diana lakukan padanya?"
...
Author's cuap:
Aduh, bang Willy.. puk puk ya..
Belum apa-apa udah jealous ajah..