Titip Salam

Titip Salam
Mengungkapkannya



#74


Mengungkapkannya


Gelisah, itulah yang tengah dirasa oleh Diana saat ini. Fisik dan pikirannya sudah begitu lelah, namun dirinya msih belum dapat menemukan kenyamanan untuk menuju dunia mimpi.


Bayang-bayang kejadian sejak tadi pagi hingga beberapa jam yang lalu seolah benar-benar mengganggu pikirannya.


Pagi yang penuh kejutan dapat berboncengan dengan joki tampan Willy si Congek, dilanjutkan kejutan dari Mario dengan menyanyikan lagu yang berjudulkan namanya, Diana di depan umum, kemudian Willy dengan lagu cinta untuk sang bunga musim semi yang ia yakini adalah dirinya.


Sepulangnya Willy yang mengantarkan Diana ke rumah Eyang, Diana langsung diinterogasi oleh sang Mama.


"Kamu beneran pacaran sama Willy?" Tanya Mama tanpa basa basi.


"Enggak Ma, Diana gak pacaran." Sanggah Diana.


"Tania cerita kalau malam Minggu kemarin kamu ketemuan sama dia. Pakai pegangan tangan pula."


Diana sudah cemberut kesal karena kesalah pahaman itu lagi yang dibahas. "Dasar Tania ember bocor. Gak tau kebenarannya main nyebarin berita yang gak bener." Batin Diana.


"Diana gak sengaja ketemu dia di sana waktu jalan-jalan sama Ayah dan Tania. Terus yang pegangan tangan itu, gak kayak gitu ceritanya. Itu tangan Diana gak sengaja kepegang waktu dia mau lihat hape di tangan Diana."


Mila, Mama Diana memicingkan matanya, mencari kebenaran pada raut wajah anak gadisnya.


"Beneran?" Tanya Mama memastikan sekali lagi.


"Iya ma, Diana gak bohong." Ucap Diana berusaha meyakinkan.


Sang Mama menghembuskan nafas beratnya. Diana mengerti yang dilakukan Mama semata-mata karena mengkhawatirkan dirinya.


Diana tidak merasa kesal pada Mamanya yang bertindak seolah mengekangnya. Mamanya pernah mengatakan, "Semua aturan dan nasihat dari Mama, itu semua untuk melindungi anak-anak Mama, karena Mama sayang kalian."


"Di, Mama tau kamu sudah besar. Mama juga pernah merasakan menjadi remaja seusia kamu. Mama cuma gak mau sekolah kamu terganggu karena urusan yang belum waktunya kamu pikirkan." Ucap Mama sambil mengusap bahu Diana.


"Iya Ma," Jawab Diana.


Tak berakhir sampai disana, ketika Diana pulang ke rumah, Arman, sang Ayah yang ternyata sudah pulang dari aktivitas hobinya, seolah menunggu kedatangannya.


"Apa lagi ini?" Batin Diana.


Ayah yang sedang memoles alat pancingnya mendadak langsung meletakkannya dan menghampiri Diana yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Di, hape kamu mana?"


Deg,


Diana begitu terkejut dan bertanya-tanya mengapa sang Ayah menanyakan hape miliknya.


"Ada di kamar. Kenapa Yah?" Tanya Diana bingung.


"Cepat ambil, bawa kesini." Perintah Ayah.


Diana yang tidak mengerti ada maksud apakah sang Ayah meminta hapenya memilih untuk menurut saja, dan segera melakukan peruntah Ayahnya.


"Ini Yah," Ucapnya setelah mengambil hape miliknya.


"Besok kan kamu ujian, sesuai perjanjian hape Ayah pegang dulu sampai ujian kamu selesai. Biar bisa fokus." Ucap Ayah yang langsung merenggut hape Diana.


"Oh ya? Kapan ada perjanjian gitu?" Diana berusaha mengingatnya, nihil.


"Mulai sekarang!" Ucap Ayah begitu ringan tanpa dosa.


"Iiish, Ayah ini!"


Diana memanyunkan bibirnya. Bisa-bisanya sang Ayah membuat peraturan semena-mena seperti itu.


"Cuma seminggu kan, sampai ujian selesai." Ucap Ayah tampak mulai mengutak atik hape itu.


Diana menelan salivanya ketika.melihat wajah Ayahnya begitu serius memperhatikan hape miliknya.


"Ayah nyari apa di hape aku?" Ucap Diana takut-takut.


"Kenapa? Emang kamu nyembunyikan apa di hape kamu?" Ucap Ayah tanpa mengalihkan pandangan dari layar hape tersebut.


"Gak ada apa-apa kok, periksa aja kalau gak percaya." Ucap Diana berusaha mengintip apa yang dilihat Ayahnya.


Sang Ayah yang melihat tingkah putrinya itu lantas membalikkan layar hape yang ia pegang agar dapat dilihat oleh putrinya itu.


"Ayah cuma main game." Ucap Ayah.


"Udah sana belajar." Lanjut Ayah sambil mengibas-ngibaskan tangan mengusir Diana dari sana.


Diana memanyunkan bibirnya karena merasa dikerjai oleh Ayahnya. Dia akhirnya segera masuk kamar untuk belajar persiapan ujian semester esok hari.


Ketegangan berlanjut seusai makan malam. Ketika itu Diana memilih melanjutkan belajar di ruang tengah bersama Tania. Fokus belajar Diana mendadak terganggu dengan percakapan antara Mama dan Ayahnya yang juga sedang duduk santai di sana.


"Mancingnya dapat banyak gak Yah?" Tanya Mama membuka pembicaraan.


"Ya cuma yang di kulkas itu dapatnya. Ikannya sudah kenyang kayaknya." Jawab Ayah.


"Ayah sih, mancing kok di Danau Industri. Mending ke kolam pancing atau di tambak punya Mbak Ifah." Ucap Mama.


Deg,


Diana tersentak. "Danau Industri?" Batinnya sambil melirik Ayahnya.


Kala itu Diana yang begitu penasaran dengan Willy yang mengungkit istilah bunga musim semi sebelum memulai lagunya, mengapa istilah itu juga sering ia tulis pada sepucuk surat yang sering Diana dapat dari Silvi?


"Wil," Lidah Diana seolah kelu. Dirinya terlalu malu untuk mempertanyakannya.


"Apa?" Ucap Willy yang terus mengunyah.


"Gak jadi. Hehehe.." Diana takut bila dirinya terlihat terlalu percaya diri dengan meyakini kalau istilah itu adalah sebutan untuk dirinya.


"Kenapa? Ngomong aja." Ucap Willy.


"Emmm, Lala itu siapa sih? pacar kamu?" Yah, Diana merubah topik pertanyaannya. Sebetulnya Hal tersebut malah membuat dirinya seolah sedang mencemburui gadis bernama Lala itu.


Willy tersenyum mendapat pertanyaan itu.


"Bukan, cuma teman kok." Ucap Willy berusaha menyimpan senyumnya.


"Beneran? Cuma teman?" Tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.


Willy menatap gadis yang sedang duduk disampingnya itu.


"Kenapa? Kamu cemburu?" Tanya Willy yang sontak membuat Diana salah tingkah.


"Bu-bukan gitu. Aku cuma gak mau kalau sampai ada salah paham nantinya." Ucap Diana menjelaskan.


Willy menelisik semakin dalam.wajah gadis yang tampak merona itu. "Masak sih?" Ucapnya menggodai Diana.


"Serius.." Ucap Diana sambil mendoring wajah Willy agar menjauh.


Bukan apa-apa, karena mata Willy yang memandang wajah Diana seperti itu membuat dada Diana terasa sesak karena berdebar kencang.


Willy terkekeh dengan respon Diana yang semakin salah tingkah. Hal tersebut membuatnya merasa semakin bersemangat ingin terus mengusili gadis itu.


"Lala kelihatannya suka sama kamu. Dia kelihatan kesal tau kamu bareng sama aku." Ucap Diana lantad melahap pentol korea yang berada ditangannya.


"Iya, aku tahu." Ucap Willy enteng.


Diana terkejut mendengar kata-kata itu lolos dengan mudahnya dari bibir pemuda di sampingnya.


"Dia pernah bilang suka ke aku. Tapi aku cuma bisa menganggap dia teman aku. Gak lebih." Lanjut Willy.


"Kenapa?" Tanya Diana penasaran sambil melahap butir demi butir pentol korea miliknya.


Willy menghela napasnya. Matanya beralih kembali memandang Diana sesaat, kemudian membuangnya lagi menatap pemandangan di depan.


"Aku juga gak tau Di. Bahkan itu sudah sangat lama. Tapi perasaanku tetap sama. Aku cuma bisa menyukainya sebagai teman biasa." Tutur Willy.


Diana melirik sekilas wajah tenang pemuda di sampingnya. Diana tidak mengerti serumit apa hubungan Willy dan Lala, namun yang ia tahu sebuah perasaan memang tidak bisa dipaksakan.


Willy menatap kembali gadis di sampingnya itu. "Apalagi sekarang, hati aku sudah terlanjur terisi oleh seseorang." Lanjut Willy.


Diana menoleh dan menemukan Mata itu tengah menatapnya dan memberinya senyuman.


"Kamu, bunga musim semi ku."


Deg deg,


Dada Diana bergemuruh hebat. Dia tidak tau harus berkomentar apa atas kalimat yang baru saja ia dengar.


Seolah tahu keterkejutan Diana, "Gak apa Diana. Biarkan hanya aku yang menyukai kamu. Kamu gak perlu melakukan apapun. Cukup jangan berubah setelah kamu tau kenyataannya. Aku mohon jangan berubah." Ucap Willy dengan segenap ketulusan.


Diana hanya tersenyum lalu menundukkan kepalanya. Dia benar-benar tersipu malu. Ini adalah kali pertama ada seorang pemuda yang mengaku menyukainya.


Diana tidak tahu harus berbuat apa. Dia masih bingung pada keadaan. Antara senang, takut, dan berbagai emosi yang bercampur menjadi satu. Namun tak dipungkiri hatinya tengah berbunga-bunga saat ini.


"Kamu juga pasti tahu Di, akan sangat sulit membuat aku dan Mario berdamai." Ucap Willy melanjutkan kalimatnya.


"Karena kita menyukai orang yang sama." Lanju Willy.


Diana hanya mampu mendengarkan tanpa memberikan sepatah kata pun. Dia terlalu gugup untuk berbicara. Dia lebih memilih sibuk mengunyah guna mengalihkan rasa gugup dan rasa deg-deg-an yabg menguasainya.


Willy tampak memejamkan matanya. Dia merasa benar-benar lega. Akhirnya Diana tau rasa yang ia miliki untuknya.


Di hamparan rumput hijau pinggir jalan dengan pemandangan sebuah danau luas yang tenang dan teduh dikelilingi oleh pepohonan rindang, Willy telah mengungkapkan perasaan yang begitu menyiksanya.


Yah, disana. Di pinggir Danau Industri.


Diana hanya membatin dalam hati sambil melirik sang Ayah. "Apa Ayah lihat aku sama Willy di sana?"


Sang Ayah yang menyadari dirinya tengah dilirik sang putri lantas balik melirik putri sulungnya itu.


"Kenapa Di?" Ucap Ayah mengagetkan Diana.


"Eh, engak apa-apa." Ucap Diana terbata.


...


Author's cuap:


Aroma-aromanya nih Diana tercyduk lagi oleh sang Ayah.


Wakakakakaa.. (auto ngakak)