Titip Salam

Titip Salam
Perangkap Setan



#126


Perangkap Setan


"Ya udah gak usah cemberut gitu dong.."


Mario menopang dagunya sambil terus menatap Diana yang cemberut dihadapannya.


Gadis itu merasa sangat kesal pada pemuda tengil yang beberapa jam lalu telah berstatus menjadi pacarnya dalam kencan bayar hutang ini.


Agenda kencan pertama yaitu nonton bioskop. Diana begitu bersemangat mengetahui pacarnya itu mengajaknya nonton bioskop. Sudah lama sekali ia tidak pergi ke bioskop.


Diana begitu antusias melihat-lihat poster film yang sedang ditayangkan di bioskop itu. Ia berkeliling di setiap sudut bioskop sementara Mario mengantre membeli tiket dan minuman setelahnya.


"Filmnya masih lima belas menit lagi. Nih, minum buat kamu." Ucap Mario menyerahkan minuman cup pada Diana.


"Popcornnya kok cuma satu? Kamu gak beli buat aku?" Ucap Diana ketika melihat Mario hanya membawa satu box popcorn ditangannya.


"Kalau gitu aku beli dulu ya, masih keburu kan?" Diana mencari sudut menjual cemilan dan hendak menuju ke sana.


"Aku sengaja beli satu. Ini ukuran besar, kita bisa makan bareng yank.."


Diana mengerutkan kening mendengar kata terakhir yang diucapkan Mario.


"Kamu bilang apa tadi?"


"Aku bilang, aku sengaja beli satu popcorn ukuran besar biar kita bisa makan berdua sayang.." Mario memperjelas kalimatnya.


"Sa-sayang?" Diana mengulanginya sambil berbisik. Pipinya bersemu kala mengatakannya. Dengan suara sepelan itu saja ia merasa begitu gugup mengatakannya, bagaimana bisa pemuda itu dapat memanggilnya sayang dengan santainya seolah sudah begitu terbiasa.


"Iya, kenapa? Ada yang salah?"


"Ini kan tempat umum Mar," Ucap Diana sambil berbisik. Ia merasa malu namun ada perasaan senang bercampur menjadi satu kala pemuda itu memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Kita kan pacaran. Jadi boleh dong panggil sayang. Kamu juga harusnya manggil aku juga kayak gitu. Jangan Mar-Mar-Mar." Gerutu Mario.


Diana terdiam berpikir sejenak. "Emangnya kalau pacaran harus manggil sayang ke pacarnya? Atau ini akal-akalan Mario aja ya?" Pikir Diana dalam hati.


"Ayo dong, aku pingin dengar kamu manggil aku sayang. Atau kamu mau kalau kencan hari ini aku anggap tidak sah dan harus diulang lagi besok." Mario menyimpan tawa kemenangannya dalam hati ketika melihat pipi gadis itu kian merona dengan segala perkataannya.


"Eh, gak bisa gitu dong. Kita udah hampir setengah jalan. Masa harus diulang besok. Gak mau!" Diana menggerutu kesal. Ini bukanlah kencan yang manis seperti yang ia bayangkan ketika melihat gambar-gambar bahagia dari laman pencarian tadi. Ini lebih kepada penyiksaan untuk dirinya.


"Ya udah aku mau denger sekarang."


Diana menelan ludah membasahi kerongkongannya. Lidahnya begitu sulit untuk mengabulkan permintaan sederhana Mario.


"Sayang," Ucap Diana begitu cepat dengan suara berbisik.


"Hah? Kamu ngomong apa? Aku gak dengar apa-apa."


Huh,


Diana menghela nafas berat. Ingin ia mencabik-cabik pemuda dihadapannya itu.


"Eh, pintunya udah dibuka tuh. Ayo masuk.." Diana tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur dari suasana yang mengancam urat malunya.


Mario mendengus kesal dan berjalan mengekor di belakang Diana yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya. Tidak akan semudah itu meruntuhkan ketangguhan pendirian gadis itu.


Semakin mendekati pintu teater, Mario menyeringai penuh arti. Ia mempercepat langkahnya hingga berjalan di samping Diana.


"Gak mau gandeng tangan pacarnya nih?" Mario masih saja mengambil kesempatan menggodai gadis itu.


Mereka duduk dengan nyaman di kursi yang sudah di pesan. Berbagi popcorn sambil berbincang ringan perihal rencana apa selanjutnya setelah nonton Bioskop. Mario begitu pintar memilih kursi yang memberikan posisi jarak pandang terbaik dari layar lebar.


Lampu mulai meredup. Layar lebar mulai menggelap dan musik soundtrak film mulai menggema. It's show time.


"Mar, kita nonton film apa sih? Kok musiknya serem." Bisik Diana pada Mario yang sudah fokus pada layar lebar dihadapannya.


"Lihat aja nanti. Biasanya anak muda kalau nonton sama pacarnya nonton film yang kayak gini. Seru!"


"Seru? Oh, film action ya?" Gumam Diana menyimpulkan.


Diana mencoba lebih tenang dan berusaha menikmati film yang diputar. Suara dentuman musik, ada teriakan-teriakan yang mengiringi perkenalan nama-nama pemain, hingga muncul judul film yang merupakan sebuah nama jenis demit lokal yang begitu familiar dan menjadi urban legend.


"Mar, i-ni fi-lm hor-ror?"


Mario menoleh menatap gadis yang tampak tegang di sampingnya.


"Iya, kenapa? Kamu takut yank?" Ucap Mario memasang mimik wajah penuh kecemasan.


"Takut? Enggak lah.. Ini kan cuma film." Bibir itu berucap namun tak sejalan dengan wajah panik Diana. Sekali lagi, gengsinya terlalu mahal untuk ditawar.


Mario berusaha menahan senyum kemenangannya.


"Lihat saja wajah paniknya. Menggemaskan sekali." Batin Mario.


Diana adalah gadis pemberani namun tidak untuk sesuatu yang menyeramkan. Mario menyadarinya ketika tragedi toilet perempuan terjadi, yang mana Diana meringkuk ketakutan dan meminta ampun sambil menyebut deretan nama-nama demit lokal. Inilah salah satu titik lemah gadis itu.


Diana berusaha mengatur nafas berkali-kali untuk mengurangi rasa takut sepanjang film diputar. Berkali-kali ia memejamkan mata saat adegan menyeramkan yang menampilkan sosok mengerikan itu di layar lebar.


"Aaaa.." Diana berteriak cukup keras. Meskipun ia tak berteriak seorang diri karrna beberapa pengunjung lain pun spontan berteriak kala tokok hantu itu muncul, tapi suara Diana seolah begitu dominan dan menggema saking kerasnya.


"Kenapa yank? Kamu ketakutan?" Ucap Mario sambil meraba telapak tangan Diana yang mencengkeram pegangan kursi. Telapak tangan itu terasa begitu dingin.


"Owh, enggak kok. Aku cuma kaget. Hantunya munculnya ngagetin." Ucap Diana sambil menarik napas dalam.


Beberapa menit kemudian, adegan menyeramkan semakin intens muncul karena film yang diputar sudah mencapai puncak cerita.


Diana tak lagi bertetiak. Ia berusaha menahan teriakannya. Suara dentuman musik, suara parau dari tokoh hantu, dan suara teriakan dari film itu membuat Diana spontan menarik lengan Mario dan menyembunyikan wajahnya di sana. Ia benar-benar takut.


Mario tersenyum senang. Ia menepuk-nepuk telapak tangan Diana yang mencengkeram kuat lengannya dengan tangannya yang lain. Bahkan sesekali ia mengambil kesempatan mencium puncak kepala gadis itu dengan berjuta kebahagian dalam hati.


Ketika cengkeraman Diana mengendur, Mario sengaja berteriak kaget seolah-olah adegan menyeramkan terulang kembali membuat Diana terus mencengkeram kuat lengan Mario tanpa berniat membuka mata untuk sekedar mengintip apa yang ditampilkan di layar lebar itu.


Dua jam yang seperti neraka bagi Diana, namun menjadi surga kebahagiaan untuk Mario.


.


.


Author's cuap:


Waduh..


Modus lu Mar...


Belajar dimana tuh? Udah pinter aja modusin cewek.


Sabar ya Di, lain kali cek dulu lah nonton apaan. Kamu tetlalu bersemangat sih.. Kena deh ama perangkap kucing garong. Hahaha...