
#59
Aku Melihatmu
"Willy," Suara seorang gadis menghentikan gerakan Willy.
Gadis itu berlari menghampiri Willy yang sedang menuntun sepedanya keluar dari area parkir.
"Apakah yang dikatakan Salim tadi benar?"
Willy menghembuskan napasnya. "Ternyata masih bahas yang tadi." Batinnya.
"Emang kenapa sih La? Apa itu penting?" Tanya Willy yang mulai jengah bila harus mengikuti alur cerita bohong Salim tadi.
"Yah jelas penting buat aku. Aku harus tau kebenarannya." Ucap Lala terus mendesak Willy.
"Okeh, Salim emang bohong kalau aku sudah punya pacar." Ucap Willy yang membuat senyum di wajah ayu gadis itu mulai terbit.
"Tapi jujur, aku emang lagi suka sama seseorang, dan dia bukan murid sekolah ini." Lanjut Willy
Jleb,
Raut wajah Lala langsung berubah sendu. Guratan kesedihan nampak pada senyumnya yang mendadak lenyap.
"Kenapa Wil? Kenapa bukan aku?" Ucap Lala berterus terang tentang apa yang ia rasakan.
Willy sempat terkejut dengan kejujuran Lala. Dia bingung harus menjawab apa. Dia merasa sangat tidak enak. Dia berpikir lebih baik Lala tau yang sebenarnya agak tidak semakin menyakiti gadis itu.
"Maaf ya La." Hanya itu yang mampu Willy ucap.
"Kamu jahat banget Wil." Ucap Lala kemudian pergi meninggalkan Willy dengan perasaan bersalah telah membuat gadis itu bersedih.
Willy menuntun sepedanya hingga gerbang sekolah. Langkahnya terkesan malas-malas tanpa tenaga. Dia benar-benar merasa tidak enak.
Langit yang tampak kelabu seolah seirama dengan mendung dihatinya.
Bagi Willy, Lala adalah teman yang baik. Seringnya interaksi mereka di ekskul membuat pertemanan mereka tak lagi murni.
Yah, Lala mulai kagum pada Willy. Awalnya dia hanya diam-diam menyimpan rasa untuk dirinya sendiri. Namun lambat laun, dari perhatian berlebih yang ua berikan akhirnya Willy menyadarinya.
Hal tersebut membuat Willy mulai menjaga jarak dengan maksud agar tidak semakin menyakiti hati gadis itu nantinya. Namun kini, gadis itu benar-benar terluka.
Sebetulnya memang ini bukan kesalahan Willy semata. Willy hanya merasa turut sedih karena dia pasti akan kehilangan sosok Lala sebagai teman nantinya. Pertemanan mereka tidak akan sama seperti sebelumnya.
"Pulang sekolah kok lemes banget. Laper cung?" Sapa om Rudi melihat keponakan laki-lakinya itu datang dengan wajah yang ditekuk.
Willy memarkirkan sepedanya di tempat biasa, lalu duduk selonjoran menyandarkan punggungnya pada dinding di bangku panjang sisi kanan teras bengkel tersebut.
"Ada air dingin gak Om?" Tanya Willy.
"Ada es kelapa muda." Jawab om Rudi tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaan di depannya.
"Mana?" Willy mulai bangkit hendak mencari minuman segar yang dimaksud om Rudi.
"Noh, di dagang bakso depan." Ucap om Rudi menunjuk gerobak bakso seberang jalan dengan dagunya.
"Yeey, om Rudi nih. Bikin kesel aja." Gerutu Willy sambil kembali duduk pada posisinya semula.
"Lah emang bener kan? Hahaha.." Tawa om Rudi pecah setelah berhasil mengerjai ponakannya tersebut.
"Kenapa kok datang-datang muka ditekuk gitu?"
"Gak apa-apa. Cuma capek aja kok."
"Jangan bohong kamu. Dimarahin guru ya? Atau diputusin pacar?" Lanjut Om Rudi yang terus menggodai Willy.
"Apaan sih Om. Kapan-kapan aja deh aku ceritain. Sekarang lagi gak mood." Ucap Willy sambil celingukan. Matanya menemukan pisang goreng yang sudah dingin dalam kotak bekal makan milik Omnya. Tanpa meminta ijin tangannya langsung mencomot satu dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Gak mood sih, gak mood. Tapi mulut langsung main ngunyah aja. Itu pisang goreng udah tiga hari yang lalu." Ucap Om Rudi ketika melirik ponakannya itu mencomot bekal dari istrinya.
"Hah?" Willy berhenti mengunyah dan terkejut
Ketika dirinya akan memunthkan pisang goreng yang terlanjur terkunyah lembut di dalam mulut, "Hehee.. Bohong, bohong. Itu batu dibikin tadi pagi kok. Hahaha.." Ucap Om Rudi dengan santainya.
Hanya sela beberapa menit sudah dua kali dia dikerjai Omnya itu. Willy hanya mendesah pelan. Meskipun sudah sering dia dijahili oleh Omnya itu, tapi dia tetap saja kena lagi dan kena lagi.
"Aku balik aja deh Om kalau gitu." Ucap Willy sambil cemberut.
"Jangan ngambek gitu dong.. Om traktir es kelapa ya.." Bujuk Om Rudi.
"JOKO, ES KELAPA DUA YA.." Teriak Om Rudi pada pedagang bakso gerobak di seberang jalan.
"Siyaaaaaap.." Balas pedagang bakso yang dipanggil Joko tersebut.
"Dah, jangan manyun. Bentar lagi es nya datang."
Willy pun meringis senang. "Gitu dong Om.." Ucapnya.
Sembari menunggu es kelapa muda itu diantar, Willy tampak termenung menatap hiruk pikuk jalanan. Pikirannya masih melayang terngiang wajah sedih Lala di parkiran sekolah tadi.
"Aku bener-bener ngerasa bersalah jadinya." Batin Willy.
Sedang kalut dengan pikirannya, mata samar-samar itu menangkap sesuatu yang begitu ia kenal. Motor merah besar yang begitu familiar tampak dari kejauhan. Itu adalah red fire milik Mario.
Willy terus mengawasinya. Motor itu berjalan lambat semakin mendekat.
Matanya membulat sempurna ketika benar-benar melihat motor itu dari jarak dekat.
Mario yang tampak sengaja mengangkat kaca helmnya dan menoleh ke arahnya. Willy melihat mata Mario menyipit seolah sedang tersenyum puas disana.
Sebetulnya, Willy tidak hanya terkejut akan kehadiran Mario yang sedang melintas didepnnya. Namun, seseorang yang berada di belakang Mario lah alasannya.
Meskipun seseorang itu tampak menekuk kepalanya, membuat wajahnya tak terlihat, namun Willy benar-benar dapat mengenalinya.
Itu adalah seorang gadis yang menjadi alasannya menyakiti hati temannya, Lala. Seorang gadis yang ia yakini telah merebut hatinya. Itu Diana.
Mata Willy melebar sempurna mengikuti pergerakan motor itu hingga tak terlihat lagi punggung gadis yang begitu ia sukai itu. Bayang-bayang pnggung Diana yang menjauh dan pergi dibawa oleh Mario.
Sakit?
Willy memegang dadanya yang berdenyut. Ada sesak yang mendadak menyeruak disana.
"Diana sama Mario?" Gumam Willy.
"Siapa? Temen kamu?" Ucap Om Rudi yang tiba-tiba sudah duduk disamping Willy. Tangannya menyodorkan segelas es kelapa muda pada keponakannya yang tampak melamun memandang kepergian sebuah motor.
"Eh, iya. Makasih Om." Ucap Willy menerima es kelapa muda itu.
Willy meneguk es itu berharap dinginnya dapat meredam rasa panas didadanya.
"Uhuk, uhuk.." Karena minum dengan terburu-buru dan perasaan yang sedang emosi, tersedak pun tidak dapat dihindari.
"Pelan-pelan cung.." Ucap Om Rudi sambil menepuk-nepuk punggung keponakannya itu.
"Kamu lagi mikirin apa sih? Jangan dipendem swndiri. Cerita sama Om."
"Udah-udah, gak kenapa kok Om." Ucap Willy, lalu segera menghabiskan es kelapa mudanya sampai benar-benar bersisa es batu di dalam gelasnya.
"Masih ya Om buat es-nya. Aku mau pulang aja ya.. Mau istirahat. Capek."
Willy pun segera bangkit, mencari kunci motornya di laci tempat biasa ia menyimpan kunci motornya. Setelah bersalaman dan pamit pada omnya, dirinya segera melajukan si item motor kesayangannya.
Om Rudi hanya menggelengkan kepalanya menatap kepergian seorang anak muda yang tampak gundah gulana.
"Item, kita cari angin sebentar ya.." Ucap Willy pada kuda besi hitam miliknya itu.
Willy memakai jaket kulitnya. Memutar kunci dan mulai memacu kuda besinya, membelah jalanan kota, mencari angin segar berharap mengurangi segala beban dipikirannya.
Sekejap permasalahannya tentang Lala pun terlupakan, berganti sesuatu yang lebih menyesakkan. Yah, bayang-bayang Diana yang meringkuk diatas motor Mario masih terus terngiang dipikirannya.
"Apa sudah tidak ada harapan?" Gumamnya putus asa.
...
Author's cuap:
Babang Willy sabar ya..
Sini, sini sandaran di pundak akuuh...
Jangan lupa,,
Dibaca dulu, baru like comment vote yaaa