
Author's cuap:
Gak nyangka udah sampai episode ke-50 aja..
Buat para pembaca setia novel "Titip Salam" ini, aku ucapin makasih banget..
Salam sayang cintah untuk kalian semua..
#50
Final Show – Momen Mendebarkan
Pertandingan final telah usai beberapa menit yang lalu. Selebrasi kemenangan, saling berpelukan, bertukar kaos jersey ala ala pemain bola internasional, dan bersalaman sebagai bentuk sportifias pun mewarnai lapangan bola yang beberapa menit sebelumnya terasa panas oleh sengitnya pertandingan.
Mario kini menjadi salah satu incaran para pemburu berita. Dirinya benar-benar disorot kemanapun langkahnya. Sebagai bintang lapangan tahun ini, fotonya akan tercetak begitu besar di surat kabar kota. Ini merupakan suatu kebanggaan bagi sekolah tercinta. Beberapa orang lainnya yang tengah sibuk pula meladeni para awak media adalah para tamu terhormat yakni Bapak Bupati, Bapak Kepsek, dan tentunya para pelatih.
Setelah sesi wawancara usai, beberapa pemain tampak duduk-duduk selonjoran di pinggir lapangan. Sementara para panitia sedang mempersiapkan panggung kecil dengan podium di atasnya untuk persiapan upacara penutupan. Pertandingan final bola ini merupakan puncak dari kegiatan kompetisi olahraga tingkat kabupaten tahun ini. Upacara penutupan sekaligus penyerahan tropi kebanggaan akan dimulai sekitar tiga puluh menit lagi.
Sekelompok muda mudi yang turun dari tribun atas sedang berjalan mendekati Mario. Mereka adalah para penggemar yang sedari tadi setia menonton sang idola berlaga. Mereka bergerak mendekat bermaksud menyampaikan ucapan selamat secara langsung pada idolanya tersebut.
“Mario selamat ya..”
“Mario hebat banget..”
“Mario keren banget..”
Begitulah pujian-pujian terus mengalun dengan bunga-bunga yang satu per satu berpindah tangan dari para penggemar ke tangan Mario.
“Terimakasih banyak ya, sudah nonton sampai akhir..” Ucap Mario dengan senyum yang hangat.
Di bagian belakang, Zahra terus menggenggam tangan Diana. Dia tidak akan melepaskan tangan gadis itu sebentar saja.
“Gak usah dipegangin juga dong Zah, aku gak bakal kabur.” Ucap Diana kesal diperlakukan seperti tawanan.
“Jaga-jaga aja Di. Aku takut kamu hilang nanti. Ini kan ramai banget.” Jawab Zahra sambil cekikikan.
“Memangnya aku anak kecil bisa hilang keselip-keselip di keramaian.” Diana mulai mengumpat dalam hati.
Mereka sedang menunggu giliran untuk bersalaman dengan Mario. Tentu saja sekaligus aksi pernyataan suka oleh Diana pada Mario. Mohon diralat, terpaksa menyatakan suka lebih tepatnya. Hera, Rida, Rosa, dan Silvi pun turut berada di sana. Kehadiran mereka bukan untuk bersalaman dengan Mario, tetapi lebih untuk menyaksikan hukuman kalah taruhan antara Diana dan Zahra. Sayang sekali bila harus dilewatkan.
“Aku kesana sebentar ya..” Ucap Hera yang kemudian berlalu pergi.
“Mau kemana tuh anak?” Tanya Rosa dengan mata yang mengikuti arah kepergian Hera.
Semua hanya ber-ooh ketika seorang laki-laki yang tidak asing menjadi arah tujuan Hera melangkah. Siapa lagi kalau bukan Abdul.
“Beneran jadian ya mereka?” Tanya Silvi.
“Cocok sih, sama-sama pinter.” Sahut Rida.
“Bentar lagi yang sama-sama juara nyusul jadian juga.” Celetuk Zahra.
Diana menoleh dengan mata melotot tajam pada Zahra. Tangan yang digunakannya menggenggam buket bunga ia kibaskan pada kepala Zahra sebagai ungkapan rasa kesalnya.
“Aw, aw, jangan gitu Di, nanti bunganya rusak.” Keluh Zahra yang kuwalahan menghalau serangan Diana. Sementara yang lainnya hanya cekikikan melihat pergulatan dua gadis itu.
Kegaduhan yang mereka timbulkan sayup-sayup dapat didengar oleh Mario yang berada diantara kegaduhan penggemarnya. Para penggemar yang sedari tadi mengitarinya, mengajaknya berjabat tangan, dan bertanya hal-hal remeh berusaha akrab.
“Sebentar ya..” Ucap Mario dengan sopan berusaha menyingkir dari kerumunan itu.
“Zah, ini masih rame banget. Gimana kalau kita batalin aja ya..” Tawar Diana yang mulai gelisah.
“Gak bisa dong Di. Kamu harus tepatin kesepakatan, itu baru namanya gentleman.” Jawab Zahra.
“Aku bukan *gentleman *Zah, aku kan cewek.” Ucap Diana lagi sambil memasang wajah memelasnya.
“Yah, pokoknya itu istilahnya deh..”
“Bener juga sih Zah, ini rame banget. Kasian juga Diana. Dia pasti malu banget.” Ucap Rida yang mulai luluh dengan wajah memelas Diana.
“Aduh, kok kesannya jadi aku yang sadis banget sih..” Zahra pun mulai luluh. Diana semakin memanyunkan bibirnya seolah memohon untuk segera pergi saja dari tempat itu.
“Ya udah, tapi besok sepulang sekolah aja kalau gitu, gimana? Jangan ditawar lagi dong Di, hukuman tetep hukuman. Toh kalau seandainya aku yang kalah aku juga pasti bakal traktir kalian sesuai kesepakatan.” Zahra akhirnya sedikit mengalah.
“Kamu ada dendam ya sama aku Zah? Yang lain hukumannya traktir kamu makan doang. Udah gitu patungan pula ber-empat. Tapi kok khusus aku disuruh ngelakuin hal kayak gini sih? Mending aku tuh traktir kamu bakso seminggu deh.” Keluh Diana.
“Ah, gak asik deh. Kesannya aku jadi jahat banget. Padahal tadi kalian semua ketawa aja pas deal-deal-an sama Diana.” Zahra jadi ikut merasa kesal mrnunjuk wajah teman-temannya yang seolah kompak mengatainya kejam.
“Iya sebetulnya gak susah juga sih Di.. Datang, kasih bunga, trus bilang kalau suka sama Mario. Beres! Segampang itu Di..” Ucap Silvi menengahi sambil cengengesan.
“Lagian Mario pasti gak ambil hati, karena banyak cewek-cewek yang terang-terangan bilang suka bahkan bilang cinta. Semuanya hanya disenyumin dan terimakasih. Seriusan deh, ekspresi Mario itu biasa aja. Itu udah jadi tontonan yang biasa aja dikelas. Udah gak heboh lagi karena saking seringnya.” Sahut Rosa menambahkan.
Wajah Diana benar-benar tersentak menerima fakta yang diungkapkan Rosa. “..karena saking seringnya.” Kata-kata itu diulang dengan penebalan oleh Diana. Diana antara takjub namun heran. Pasti Mario menolak semua penggemar perempuannya itu karena memang telah mengincar seseorang.
Terlepas dari semua praduga yang Diana yakini sendiri, dia melupakan fakta lain bahwa kedua laki-laki itu selama ini bersikap cukup manis padanya. Yah, selama ini Diana berpikir bahwa sikap manis Willy adalah bentuk terimakasih atas pertolongannya malam itu, sementara sikap manis Mario hanyalah sebuah jebakan untuk membalas perlakuan Diana yang mencampuri urusan pribadinya, bahkan berani melawannya.
“Mereka yang bilang suka sama Mario karena memang mereka suka dan akan merasa lega setelah berhasil mengungkapkannya. Tapi kamu tau kan posisi aku kan berbeda Ros, aku gak bisa bilang suka sama Mario kayak cewek-cewek itu.” Terang Diana kesal karena mulai kehilangan dukungan teman-temannya.
“Kenapa gak bisa? Kan tinggal bilang aja.” Seseorang tiba-tiba bersuara dari belakang mereka.
Melihat siapa pemilik suara itu membuat Zahra, Rosa, Silvi, dan Rida mendadak bungkam saling melirik pada satu sama lain. Mario yang tanpa mereka sadari kehadirannya telah berdiri di sana. Diana? Dapat kalian bayangkan bagaimana wajah nya kini?
“Mau ngomong apa Di?” Tanya Mario dengan senyumnya yang hangat.
“Sial! Kenapa aku yang meleleh..” Gumam Zahra namun samar-samar masih dapat didengar oleh mereka ketika disuguhi senyuman idolanya itu.
Sementara dimata Diana tetap saja, tidak ada rupa malaikat diwajah Mario. Kesan pertamanya pada Mario benar-benar telah terpatri kuat membentuk karakter antagonis permanen dipikiran Diana.
Diana menghela napas panjang berusaha setenang mungkin agar tidak tampak gugup. “Baiklah Diana, hanya bilang suka. Tidak akan berarti apa-apa.” Batin Diana menyemangati dirinya sendiri.
Diana mengumpulkan keberaniannya, menyerahkan buket bunga dari Zahra yang sedari tadi ia genggam pada Mario.
“Selamat atas kemenangan kamu Mario.” Hanya kalimat itu yang mampu Diana ucapkan.
Mario tampak tersipu menatap tangan mungil itu dengan buket bunga sederhana, namun anehnya terasa begitu menyentuh hatinya. Mario begitu senang. Hatinya benar-benar melompat kegirangan namun sekuat tenaga dia redam agar yang Nampak tetaplah ekspresi wajah yang tenang dan santai.
“Terimakasih..” Ucapnya singkat dengan jantung yang sudah berdetak kencang.
Mario menyentuh dadanya sembari bertanya pada dirinya sendiri ini “Apa ini?”
“Ya udah, kita balik duluan ya..” Ucap Diana langsung menutup perjumpaan dan buru-buru berbalik untuk pergi. Lebih baik semua ini segera diakhiri.
Zahra dan teman-teman yang lain nampak sedikit kecewa karena ternyata nyali Diana hanya sebatas itu. Mereka hanya bisa memakluminya, turut tersenyum melambaika tangan pada Mario, dan berbalik mengikuti Diana.
“Tunggu!” Ucapan Mario sontak menghentikan langkah Diana dan teman-temannya.
Bukan Mario namanya bila dia tidak bisa meninggalkan kesan balik pada lawan bicaranya. Mario mengangkat buket bunga yang telah berpindah ke tangannya itu sambil berkata. “Hanya ini balasan untuk tiga *goal *yang aku persembahkan buat kamu?”
Jedyaaarrrr
Seolah petir menyambar tepat ditelinga Diana. Ditambah lagi teman-teman Diana yang memandang takjub padanya. Itu sangat manis. Simbol ungkapan hati tidak langsung yang ditunjukkan oleh Mario pada Diana.
“Maksud kamu, tiga goal di babak kedua tadi khusus untuk Diana?” Tanya Zahra mengulang pertanyaan Mario. Zahra memandang Diana dan Mario bergantian seolah mencari pembenaran dari salah satunya.
“Mungkin kalian perlu ngobrol berdua?” Ucap Rida yang memandang keseriusan pada wajah Mario.
Sontak Diana menatap kesal pada Rida. Rida hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya agar Diana mengerti maksud baik Rida. Yah, semua teman-teman Diana memang menyetujui bahwa antara Diana dengan Mario memang ada sesuatu. Bukan sekedar sikap antagonis Mario dengan segala prasangka buruk yang selama ini menjadi hipotesa Diana.
“Kok pada tegang sih?” Hera kembali dengan wajahnya yang ceria.
“Gimana? Diana udah bilang kalau suka sama Mario?” Lanjut Hera dengan begitu renyahnya.
Dwaaarr…
Semua mata berbalik menyerang Hera yang tiba-tiba datang dan berkicau sesuka hati.
“Apa? Bisa kamu ulangi lagi Hera?” Tanya Mario yang sebetulnya telah mendengar dengan jelas kata-kata Hera barusan. Namun ia seolah perlu sekali lagi diyakinkan dengan penuh debar yang luar biasa.
…
Author’s cuap:
Hera nih ya..
Dateng dateng maen nyamber aja..
Gak tau apa kalau situasinya udah lagi deg deg ser..
Kalo punya temen model ginian enaknya diapain ya??
Hahaha..
Dikasih bunga aja kali ya..
Buat para readers sayang, Kalau bisa jangan cuma boom like ya..
Please, baca isinya..
Kesediaan kamu membaca merupakan penghargaan terbesar bagi author..
(Yah, royalti nomer 2 deh..)
Hahahahaaa