
#107
Berbalas Pesan
Serapi apapun menyimpan buah durian apalagi yang sudah terkupas pasti akhirnya akan tercium juga.
Begitu halnya yang Diana alami saat ini. Mau tak mau ia akhirnya menceritakan kisahnya pada tiga sahabat keponya yang bahkan tidak mengizinkan Diana pulang sebelum menceritakan kisah lengkapnya.
Lengkap? Tentu saja tidak.
Hal-hal yang dirasa akan menjadi bahan ledekan seumur hidup bagi Diana akan ia simpan rapat seorang diri. Salah satunya yaitu bagian dirinya yang menangis sesenggukan karena mengira Mario akan mati.
Bilapun teman-temannya nanti tahu kisah itu, dapat dipastikan bukanlah dari mulut Diana.
"Awas saja kalau sampai cerita yang satu itu bocor ke orang lain." Batin Diana yang seolah memberi ancaman pada Mario melalui telepati.
Diana, sebenarnya sudah terlambat bila engkau mengutuki Mario saat ini, karena sepasang telinga sudah lebih dulu mendengarkan kisah itu. Abdul. Hanya tinggal menunggu waktu sampai telinga berikutnya juga akan tahu. Hera.
Diana merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hari ini benar-benar melelahkan. Benar-benar lelah fisik dan psikis.
"Capek?"
Diana menoleh menatap sumber suara. Ayahnya, Arman, sudah berdiri di ambang pintu memerhatikan putrinya yang membanting diri di atas kasur.
Arman berjalan mendekat dan duduk di pinggir ranjang sang putri sulung.
"Itulah kenapa Ayah tidak mengizinkan kamu ikut POR Prov waktu itu. Ayah takut kamu kecapekan yang malah nantinya mengganggu kesehatan kamu." Ucap Arman sambil membelai kepala putrinya.
"Gak apa Yah, meskipun capek tapi aku hepi kok. Aku seneng banget Ayah ngasih aku ijin buat ikut POR Prov nya. Aku janji gak akan lupa belajar juga Yah.."
"Harus dong, sekolah tetep nomor satu ya.."
Senang rasanya mendapat support total dari sang Ayah. Entah apa yang dikatakan Willy saat itu sehingga dapat melunakkan hati Ayahnya yang bahkan dia yang darah dagingnya sendiri begitu sulit melumerkan.
Ah, Willy. Mengingat nama itu membuat Diana kembali mengingat pula hutangnya pada Willy yang belum lunas. "Biar saja lah dulu. Mungkin dia masih sibuk cari tahu kencan yang sebenarnya itu seperti apa. Hahaha.." Batin Diana menertawai reaksi kocak Willy yang bingung mengenai kencan itu seperti apa?
"Ayah bisa gak nonton Diana tanding di POR Prov besok? Ayah ambil cuti dong.." Ucap Diana merengek pada sang Ayah.
"Yah, kamu info jadwalnya jangan dadakan. Biar nanti Ayah atur pengajuan cutinya." Ucap Arman yang membuat anak gadisnya itu sontak melompat memeluk kakinya seperti kebiasaannya ketika mendapatkan apa yang sangat diinginkannya saat kecil dulu.
"Ye.. Makasih Ayah.. Ayah memang terbaik. Jangan lupa bawa speaker buat teriakin nama Diana nanti.."
"Jangankan speaker, corong masjid sekalian muadzinnya Ayah bawa. Biar makin merdu dan syahdu manggil nama anak Ayah ini. Hahaha.." Arman membelai kepala putrinya yang bergetar karena juga tertawa oleh kekocakan sang Ayah.
Tak lama, mendadak Diana melepaskan pelukannya dan duduk tegak menghadap Arman sambil merengut.
"Kenapa lagi nih anak kok tiba-tiba merengut?" Batin Arman melihat pipi Diana sudah mengembung cemberut.
"Ayah kapan terakhir ganti sarung yang dipake?" Ucap Diana dengan wajah yang berubah kesal.
Ayah kemudian cengar cengir sambil bangkit dan membenarkan posisi sarungnya.
"Udah seminggu atau dua minggu ya? Hahaha.. Ayah lupa.
"Isshhh, jorok bnget Ayah.." Diana reflek mengusap rambut dan pipinya yang tadi sempat menempel bahkan menggusel-gusel kaki sang Ayah yang tertutup sarung yang lama-kelamaan memunculkan aroma yang apek-apek syedap pada indera penciuman Diana.
"Justru ini yang bikin sakti. Kalau Ayah ganti sarung bisa hujan badai, hahaha..." Arman terus saja tertawa melihat putrinya yang mulai terlihat lebih sensitif pada kebersihan.
"Ganti dulu sana.. hmmmpphh" Ucap Diana sambil menciumi rambutnya takut kalau tercemar oleh aroma sarung dua minggu belum dicuci milik sang Ayah.
"Iya, Ini juga Ayah mau mandi terus ganti sarung baru. Udah mulai bawel kamu, kayak Mama. Hihi.." Ucap Arman sambil melangkah keluar dari kamar putrinya.
"MAH... Kata Ayah, Mama baweeel.." Teriak Diana yang sengaja untuk menggodai Ayahnya.
Brak!
Ayah spontan menutup pintu kamar untuk meredam suara teriakan Diana.
"Apa?" Samar-samar terdengar suara sang Mama berteriak.
"Bohong Mah.. Mama kan paling lemah lembut, jangan melotot gitu dong sayang.."
Diana cekikikan dalam kamar mendengar keributan penuh cinta diluar. Ah, keluarganya benar-benar hangat dan penuh keseruan. Bahkan sang Ayah tak pernah sungkan menggodai istrinya dengan panggilan sayang di depan kedua putrinya. Sangat romantis.
"Sayang?"
Diana kembali teringat pada pemuda menyebalkan yang pernah ia kenal seumur hidupnya. Seorang pemuda yang membuat hatinya kebat kebit dalam perasaan yang membuat hidupnya rumit.
Diana mencari hapenya yang ia simpan di laci belajarnya, kemudian kembali terbaring di kasur sambil menunggu mode "on" hapenya.
Ada beberapa notifikasi pesan yang masuk setelah hape itu benar-benar mulai bekerja.
Pesan dari kontak Willy si Congek Cakep
*Hai Di,
Kapan bayar hutang?(emoticon tertawa)
Gimana klo stelah POR Prov aja,
Biar km bsa fokus latihannya.
Mkan teratur, minum vitamin biar gak gmpang sakit.
Nanti aq tanya Mama vitamin yang bagus apaan,
Sehat terus ya,
Diana tersenyum membaca tiap kata yang sarat akan perhatian dari pemuda itu.
*Makasih ya Wil,
km emang yg terbaik,
Utangnya gk bsa ditawar? Hehehe
Bingung gmana bilang ke Ayah..
Aq gnti trktir pentol korea aja ya.. (emoticon senyum)
Kirim
"Hmm.. kencan? Jadi pacar sehari? Huft.." Diana mendengus pelan kala mengingat hutang yang harus ia bayar sebagai terimakasih pada Willy. Kembali lagi permasalahan barunya adalah ijin keluar bersama pemuda itu pada Ayah.
Cling,
*Aku yg atur!
Km fokus POR Prov aja.
Skolah jg lgi padat,
Diana membalas jempol berderet banyak untuk menutup pesannya.
Notifikasi pesan lain yang belum terbaca, kali ini dari kontak yang bernama Super Mario.
*Di, jgn marah ya..
Swear deh td cma becanda
Diana seperti terpikir sesuatu yang jahat. "Lihat saja siapa yang gak bisa tidur nanti. Hahaha.." Diana mengetik sesutu dengan seringai jahatnya.
*Oh, jd semuanya cma bcanda?
Hahaha lucu sekali (emoticon marah)
"Hihihi.. Rasain!"
Kirim
Mario yang baru saja memejamkan matanya sampai gelagapan ketika hapenya bergetar.
Matanya langsung terbelalak ketika melihat siapa yang mengirim pesan. Dan matanya semakin terbelalak lebar ketika pandangannya terfokus pada emoticon berwarna merah dibagian akhir pesan itu.
Cling,
*Bukan smuanya Di,
yg td doang, yg d dket lorong toilet.
Km kliatan marah bgt td
Aq cma brmksd godain km td itu..
Jgn marah ya,
Diana terpingkal berguling-guling di atas kasur. Mario sepertinya benar-benar percaya Diana marah. Senangnya hati Diana membayangkan Mario yang kelimpungan karena merasa bersalah.
Entah sejak kapan ego yang begitu besar untuk tidak mau kalah dari Mario mulai tumbuh pada diri Diana. Ada rasa puas karena pemuda itu terkesan begitu cemas ketika Diana ngambek bahkan marah. Diana merasa dirinya semakin istimewa dan berharga bagi pemuda itu.
Tapi ingatlah Diana, yang kamu hadapi bukanlah pemuda bodoh yang mudah diperbudak olehmu. Dia adalah Mario dengan ego yang sama ia junjung tinggi seperti dirimu. Ah, hubungan kalian pasti akan sangatlah berwarna.
Cling,
*Blz dong Di,
Maafin aku ya..
Aku gak pernah bcanda kalo aku suka sama km
Aku sayang km Di,
"Sayang?" Gumam Diana merasai seperti ada gelayar aneh yang membuatnya merinding ketika membaca kata itu. Geli, malu, tapi menyenangkan.
Mario mengacak-acak rambutnya karena kesal dan frustasi. Pesannya tak kunjung dibalas yang padahal tanda terbaca sudah menyala di sana.
"Aha!"
Mendadak senyumnya terbit ketika mendapatkan sebuah ide cemerlang. Seperti ada bohlam yang menyala di atas ubun-ubunnya.
Dia cukup mengenal gadis itu. Sedikit banyak ia mulai memahami karakter Diana yang lebih suka tantangan dari pada sesuatu yang terlalu lemah.
Diana akan langsung terpancing untuk setuju pada sebuah tantangan dari pada permohonan yang terlalu dibuat-buat.
*Oke, klo km gak mau maafin aku,
Sekalian saja aku cium kamu nanti,
*Biar sekalian juga ngambek dan marahnya*.
Kirim
Mario menggosok-gosok tangannya merasa tidak sabar menunggu balasan Diana. Dia cekikikan sendiri membayangkan reaksi Diana yang pasti sangat kesal.
Benar saja, Diana sampai menggigit gulingnya membaca pesan balasan dari Mario.
Cling,
*Iya, iya aq maafin
Jgn coba2 km Mario
(emoticon tangan berotot berjajar banyak)
Kini giliran Mario yang tertawa lepas.
"Hahaha, beneran kan kamu pasti kena dengan cara ancaman. Dasar cewek aneh." Gumam Mario yang merasa kedudukannya kini berbalik.
Cling,
*Terimakasih sayang,
:-* (emoticon kepala botak kuning yang memonyongkan bibirnya pertanda memberi kecupan berjajar banyak)
Aaarrrggghhh...
Diana melemoar hapenya di kasur dan membenamkan kepalanya di bantal. Ia merasa kesal sekali dengan pemuda satu ini.
Idenya yang ingin mengerjai Mario malah menjadi bomerang yang menyerang dirinya sendiri.
Yah, Diana benar-benar kesal sekarang. Tapi entah mengapa motoriknya malah memberikan respon untuk meraih kembali hapenya, dan malah membuatnya membaca ulang semua percakapannya dengan pemuda itu sejak semalam.
Ah, rupanya Diana sudah lupa dengan rasa kesalnya, karena kini dia sedang senyum-senyum ketika membaca ulang semua pesan dari pemuda itu.
...
Author's cuap:
Terseraaah kamu dah Di!
Ini antara virus cinta ama sinting beda tipis.
Hahaha..
Jangan lupa yg udah baca
kasi jempol bunga kopi vote berderet yaaaa
Terimakasih